
Hari berikutnya. Hari ini menurut jadwal pembelajaran sekolah, saat ini sudah memasuki pergantian jam pelajaran ke-4. Di kelas 12 F kali ini untuk jam pembelajaran ke-4 dan ke-5 adalah fisika, tetapi jatah mengajar kali ini bukan guru pengampu, melainkan Ricky.
Para siswi sangat menantikan kedatangan Ricky ke kelas mereka, mereka berkali-kali lipat jauh lebih bersemangat ketika Ricky yang mengajar, apalagi kali ini 2 jam pembelajaran.
"Selamat pagi!" sapa Ricky sambil melangkah masuk ke dalam kelas.
"Selamat pagi, Kak Ricky!" seru para siswi dengan penuh semangat. Ya benar, hanya para siswi yang menjawab sapaan dari Ricky. Karena siswa lain lebih memilih untuk diam, kecuali Amien seorang.
Setelah meletakkan buku yang dia bawa di meja guru, Ricky kemudian berdiri di depan papan tulis. Dia melihat sekelompok ruangan kelas tersebut, dan dia menyadari ada seseorang yang kurang. Yaitu ketidakhadiran Nisa.
Ricky punya firasat buruk hingga dia mengernyit. "Apa hari ini ada yang tidak masuk?"
"Masuk semua kok, Kak." jawab Amira sang ketua kelas.
"Tapi sepertinya jumlah kalian ada yang berkurang, di mana orang yang duduk di pojokan?" tanya Ricky dengan sorot maka yang tajam.
"Emm ... pojokan, ada kok! Itu Amin ada!" jawab Amira sambil menunjuk ke arah Amien, yang kemudian mendapat respons senyuman canggung dari Amien.
Ricky berekspresi dingin, dia tahu kalau Nisa menanamkan rasa ketakutan yang besar terhadap teman-teman satu kelasnya. Ricky menghela napas panjang lalu kembali menatap Amira hingga menimbulkan kesan aura mencekam. Kemudian dia berkata, "Ke mana Nisa membolos?"
"..." Amira hanya diam, di satu sisi dia tidak kuat jika terus ditatap seperti itu oleh Ricky, sedangkan di sisi lain dia juga takut jika Nisa nantinya akan perhitungan dengannya.
"Ayo katakan!" ucap Ricky penuh penekanan.
"Anu ... dia biasanya pergi membolos ke warnet, tapi kali ini tas nya masih dia tinggal, kemungkinan besar dia membolos ke tempat lain." jawab Amira dengan kepala yang tertunduk.
"Di mana tempat itu?"
"Di belakang gedung sekolah ..."
Ricky langsung merasa puas, mendadak dia berbalik menghadap ke arah papan tulis. Ricky mengambil spidol, lalu menuliskan 3 buah soal fisika di papan tulis putih tersebut.
"Nah, aku sudah menuliskan 3 buah soal mengenai dinamika garis lurus. Hukum Newton dan gaya gesek! Kalian coba kerjakan soal ini, nanti akan kita bahas saat aku kembali! Pokoknya tidak ada yang boleh membolos saat di kelasku!"
Dengan penuh kekesalan Ricky kemudian memutuskan untuk meninggalkan kelas demi menyusul Nisa. Sesampainya Ricky di belakang gedung sekolah, alangkah terkejutnya dia begitu melihat Nisa yang sedang berjongkok sambil merokok. Tetapi bukan cuma Nisa yang berada di sana, Ivan dan David juga turut menemani Nisa merokok.
"Kalian ...!!" teriak Ricky yang kemudian mendekati ketiga orang itu. "Apa-apaan kalian?! Kalian merokok di area sekolah, bahkan pada saat jam pelajaran! Apa kalian nggak sadar kalau kalian ini melanggar peraturan?!"
"Cih," Nisa berdecih kesal, dia menjatuhkan rokoknya yang memang sudah pendek kemudian menginjaknya. Nisa lalu berdiri dan berkacak pinggang menghadap ke arah Ricky.
Hal tersebut juga diikuti oleh Ivan dan David, bagi mereka berdua ini merupakan pertemuan pertama mereka dengan Ricky. Tiba-tiba Ivan berkata, "Jadi orang ini yang sering menyusahkanmu, bos?"
"Iya, lihat sendiri, kan? Benar-benar menyusahkan." ucap Nisa sambil melotot kepada Ricky.
"Hemm ... kalau menyusahkan, bukannya tinggal dibereskan saja? Toh kalau dilihat-lihat ... dia seperti cowok lembek." ejek David.
"Memangnya kenapa? Biarpun kalian anggap aku lembek, tapi setidaknya pernapasanku jauh lebih baik dari kalian!" sindir Ricky sambil mengipasi asap rokok yang terbang ke arahnya.
"Brengsek! Serius mau menantangku?!" tanya David seakan tidak terima.
"Aku bukan menantang, tapi aku bicara kenyataan. Padahal rokok itu jelas-jelas hanya membawa pengaruh buruk bagi kesehatan, tapi kalian yang masih pelajar justru mengabaikan! Nikotin yang terkandung dalam rokok pasti sudah membuat kalian kecanduan! Apalagi efek yang paling berbahaya adalah kanker paru-paru! Kalian sama saja cari mati." Ricky bersikeras.
"Heh, padahal cuma mahasiswa yang sementara di sini. Tapi tingkahmu ini melebihi guru BK. Toh apa hubungannya denganmu kami mati atau enggak? Merokok mati, nggak merokok juga bakal mati. Mending mati tapi merokok!" ucap Ivan yang mulai kesal.
"Terserah apa pilihan kalian, cepat kembali ke kelas! Atau aku laporkan kalian semua ke guru!" teriak Ricky.
__ADS_1
"Cih, dikira bakal takut apa? Tapi berdebat dengan orang sepertimu itu nggak akan ada habisnya! Van, yuk pergi!" ajak David pada Ivan. Mereka berdua langsung pergi dari sana, tapi bukannya kembali ke kelas, mereka justru ke arah lain dan melompati pagar lalu pergi dari area sekolah.
Ricky yang tak habis pikir dengan kelakuan mereka berdua mendadak mencengkeram tangan Nisa. "Jangan ikut-ikutan mereka! Ayo kembali ke kelas!"
"Apa sih? Lepas!" berontak Nisa yang kemudian menepis tangan Ricky.
"Jadi kamu nggak mau kembali ke kelas?" tanya Ricky dengan tatapan sinis.
"Nggak! Aku masih mau di sini, aku cuma akan kembali kalau rokokku sudah habis!" seru Nisa sambil bersedekap.
Ricky mengulurkan tangannya. "Kemarikan rokokmu! Rokokmu aku sita!"
"Sita?" Nisa terkekeh kemudian dia berkacak pinggang dengan percaya diri, dia membusungkan dada, memperlihat sebungkus rokok yang dia taruh di saku sebelah kiri seragamnya. "Kalau berani ambil sendiri!"
"Apa?!" Ricky terkesiap.
"Heh, ayo sini~ Tadi katanya mau sita~" ejek Nisa dengan senyuman remeh.
Aku tebak pasti nggak akan berani, dia itu kan orang yang sok suci. Pasti menganggap menggeledah lawan jenis itu tindakan yang kurang pantas. Hehe, rokokku aman.
Ricky masih berdiam diri, dia masih ragu meskipun sangat ingin mengambil rokok itu dari saku kemeja Nisa. Tetapi Ricky telah bertekad, tangannya maju untuk meraih rokok itu meskipun dia harus membuang keraguannya dengan cara menutup mata.
"Kyaaaa!!" Nisa berteriak histeris. "Apa yang kau sentuh sialan?!"
"Eh?!" seketika Ricky membuka matanya. Dia baru sadar bahwa dia menyentuh benda lembut nan empuk milik Nisa. Dia panik dan segera menarik tangannya kembali.
Ricky masih sulit mempercayai apa yang barusan terjadi, dia terus menatap tangannya yang telah berhasil mendapatkan sebungkus rokok, tangan yang sekaligus telah berhasil menyentuh aset berharga milik Nisa. "Lembut," gumamnya.
"Apa katamuuuu?!!" wajah Nisa memerah, baru pertama kali dia mengalami hal seperti ini. Tangannya mengepal sekuat mungkin hingga gemetar. "Aku kira Senpai itu orang baik! Ternyata berani melakukan pelecehan!"
"Bukan apanya?! Padahal tadi bilang kalau punyaku lembut! Pasti sengaja, kan?!" Tiba-tiba saja Nisa melangkah maju, lalu menarik kerah baju Ricky. "Tanggung jawab! Pokoknya nikahi aku!"
"Apa?!" Ricky syok. Baru kali ini otaknya memproses suatu hal begitu lama, dia bisa memecahkan soal dan teori, tetapi kata-kata Nisa yang satu ini sulit dimengerti olehnya. "Nikah ...?"
"Iya, nikahi aku! Sudah sentuh maka harus bayar tuntas! Nikahi aku!" Nisa semakin mencengkeram erat.
"Memangnya aku melakukan apa? Aku cuma menyentuh dadamu, toh kamu nggak akan hamil anakku juga! Kenapa harus menikah?"
"Biar impas! Atau mau aku laporkan tindakan pelecehanmu ini?!"
"Jangan lapor!" Ricky lalu membebaskan diri dari cengkeraman tangan Nisa, tetapi setelahnya dia menarik kedua tangan Nisa lalu menaruhnya di dadanya.
"Nah, sekarang impas! Sentuh dadaku! Sentuh saja sepuasnya! Dengan begini kita nggak perlu menikah!"
"Ini nggak sama! Dadamu rata! Beda dengan punyaku, mana bisa dibilang impas?!" Nisa tidak terima.
"Tentu saja rata! Aku cowok tulen! Kamu mau nikah itu jangan-jangan mau modus ya biar bisa sentuh bagian yang mana saja sesukamu! Kamu mesum!" teriak Ricky.
"Idihhh, mesum teriak mesum! Kalau bukan menikah denganmu maka aku harus menikah dengan siapa?! Aku sudah ternodai olehmu, pokoknya tanggung jawab!"
"Kamu pikir dadaku juga bisa disentuh seenaknya? Aku punya tubuh yang nggak murah! Aku punya otot, aku rajin pergi ke gym!"
"Persetan! Aku nggak percaya! Lihat dulu baru percaya! Buka bajumu!"
"Oke, fine! Siapa takut?!"
__ADS_1
KLONTANG!
Suara benda jatuh mendadak terdengar, seketika Ricky dan Nisa menoleh ke asal suara tersebut. Dan ternyata ada seorang petugas kebersihan sekolah yang menjatuhkan sapu dan cikrak, petugas kebersihan itu melongo saat melihat kelakuan Ricky dan Nisa.
Seketika Nisa dan Ricky saling melangkah mundur dan menjaga jarak. Mereka juga merapikan pakaian masing-masing. Tetapi setelah itu Nisa melotot ke arah petugas kebersihan itu. "Pergi sana! Lupakan semua yang barusan! Awas kalau berani cerita ke orang-orang!"
"B-baik," Petugas kebersihan itu sangat mengenal Nisa yang sudah sering membuat masalah. Dia mengambil peralatan yang terjatuh kemudian segera pergi dari sana.
Setelah kepergian petugas kebersihan, mendadak Ricky berkata. "Kalau saja kamu menurut kembali ke kelas, ini semua nggak akan terjadi!"
"Huh! Kembalikan rokokku!"
"Mana bisa~ Rokok ini jadi barang bukti, akan aku laporkan ke guru kalau kamu merokok! Ikut aku kembali ke kelas kalau nggak ingin aku laporkan!" Ricky tersenyum licik lalu berjalan pergi dari sana.
"Apa?! Sialan, tunggu! Aku ikut kembali ke kelas!" Nisa langsung berlari untuk menyusul Ricky.
Bahaya, aku bukannya takut ke guru, tapi nanti pasti guru sialan itu akan lapor ke ayah. Aku nggak suka kalau ayah sampai tahu.
***
Sesampainya Ricky dan Nisa di kelas. Murid-murid lain merasa heran dan takjub karena Ricky berhasil membawa Nisa kembali sebelum jam pelajaran berakhir. Sesuai yang dikatakan Ricky sebelum pergi tadi, kali ini mereka akan membahas soal yang berada di papan tulis.
"Nah, bagi yang sudah bisa silakan maju dan tulis jawaban kalian di papan tulis!"
Tidak ada yang bersuara ataupun yang mengangkat tangan.
"Ayo maju, jangan malu! Akan ada nilai plus bagi kalian yang maju!" Ricky bertanya-tanya di dalam hati kenapa tak satu pun dari mereka meresponsnya.
"Apa soal ini sulit bagi kalian?" tanya Ricky.
"Iya, Kak ... soalnya sulit." ucap salah seorang murid.
"Sangat sulit, cari di internet pun nggak ada." imbuh salah satu murid lagi yang langsung mendapat respons tatapan tidak enak dari Ricky.
"Dilarang main hp saat pelajaran! Jangan diulangi lagi, karena itu melanggar peraturan!"
"Baik, Kak ..."
"Huft ... kalau begitu akan aku jelaskan caranya, dan kalian ..." sejenak Ricky terdiam. Kemudian dia beralih menatap Nisa. "Nisa, bagaimana denganmu?"
"Soalnya sulit," jawab Nisa yang bahkan tidak memandang ke arah papan tulis. Dia memandang ke arah luar jendela.
Ricky menyeringai, dia terpikirkan cara untuk membuat Nisa maju. "Hmm ... sedikit mengecewakan. Padahal kamu adalah kandidat lomba Olimpiade yang akan mewakili bidang Fisika. Tapi bahkan kamu tidak bisa. Ckck, sepertinya percuma jika sekolah berharap kepadamu."
Seketika Nisa menoleh dan emosinya pun tersulut. "Siapa bilang nggak bisa?! Aku cuma bilang kalau soalnya sulit! Aku bisa jawab, perhatikan ini!"
Nisa lalu maju dan mengambil spidol, sejenak dia termenung begitu sampai di depan papan tulis. Dia membaca soal tersebut lalu berkata, "Ini gampang!" Nisa dengan cepat menyelesaikan soal pertama, dengan langkah penyelesaian yang sedikit berbeda dari buku panduan belajar.
"Nah, sudah selesai!"
"Eitss, soal yang lain juga sekalian kerjakan. Kamu bisa, kan?" tanya Ricky seakan meragukan kemampuan Nisa.
"Cih, jangan meremehkan aku!" Nisa lalu melanjutkan untuk mengerjakan soal yang lain.
Di sisi lain Ricky yang melihat hal itu diam-diam merasa puas, tetapi dia bisa menyembunyikan ekspresi kepuasannya itu.
__ADS_1
Hehe, ternyata begini toh cara untuk mengendalikanmu. Asalkan aku membuat emosimu tersulut, dan mengejek soal ketidakmampuanmu, maka kamu akan secara suka rela menunjukkan kemampuanmu sesuai keinginanku.