Trouble Lady (Project Of Love)

Trouble Lady (Project Of Love)
Bab 9. Manusia Baperan


__ADS_3

Hari libur sekolah SMA Langit Biru adalah Sabtu dan Minggu. Jika di hari Sabtu masih ada siswa yang masuk sekolah, berarti siswa tersebut mengikuti kegiatan ekstrakurikuler atau organisasi sekolah. Sedangkan di sekolah elite seperti SMA Langit Biru, terdapat banyak ekstrakurikuler yang berguna untuk menyalurkan bakat dan minat.


Kegiatan ekstrakurikuler tersebut meliputi berbagai bidang. Bidang olahraga seperti basket, renang, futsal dan atletik. Bidang seni seperti band, paduan suara, tari baik tarian tradisional ataupun modern, marching band dan teater. Bidang bela negara seperti paskibra, pramuka dan PMR. Bidang IT seperti komputer dan fotografi, serta bidang-bidang lain seperti kebahasaan dan lingkungan hidup.


Banyak siswa-siswa yang berminat, entah tujuannya memang untuk menyalurkan bakat, ikut-ikutan karena ada seseorang yang disukai, atau sekedar menambah hubungan pertemanan dan bersenang-senang. Tetapi ada seorang siswa yang sama sekali tidak berminat dan malah menganggap bahwa semuanya itu cuma hal konyol, siapa lagi kalau bukan Nisa.


Di hari Sabtu yang cerah ini, Nisa sama sekali tidak punya kegiatan alias kurang kerjaan. Dia bangun pagi karena dibangunkan paksa oleh ibunya. Gadis pemalas yang tidak punya agenda apa pun untuk dikerjakan itu mulai merasa jenuh di rumah.


Nisa yang saat ini duduk di sofa depan televisi bersama ibunya mendadak bangkit.


"Mau ke mana?" tanya Rika penasaran.


"Keluar, cari angin. Malas aku di rumah cuma nonton drama poligami sama perebutan harta kesukaan ibu. Kalau misalnya dapat karma, ayah poligami beneran nanti nangesss!"


"Awas ya, keluar dari rumah jangan buat masalah! Motor mu masih dalam masa penyitaan! Ibu capek mendengar keluhan dari mulut tetangga!"


"Kalau nggak mau dengar sumbat saja telinga ibu pakai headset! Nanti setel lagu metal!"


"Cepat pergi sana, dasar bocah bandel!"


"Iyaaa kanjeng mommy!"


Nisa yang bingung ingin pergi ke mana akhirnya memutuskan untuk pergi ke taman kota, taman yang menjadi langganannya saat bolos sekolah, Racy Park. Nisa menuju ke sana dengan skuter listrik miliknya karena motornya sedang disita.


Sesampainya dia di taman, dia tak lupa untuk membeli minuman serta camilan berupa kentang goreng. Dia duduk di sebuah bangku dan memainkan ponselnya.


Karena hari ini hari Sabtu, suasana taman tak begitu ramai seperti saat hari minggu ketika ada acara car free day. Sekarang cuma sebagian orang yang terlihat beraktivitas seperti jalan santai, joging, bermain sepatu roda, skate board dan para lansia yang bersenam.


Ketika Nisa tengah asyik bermain ponsel, dia terkejut karena ada sesuatu yang bergerak di semak-semak yang berada di sebelah.


"Hmmm ..." Nisa menyimpan ponselnya lalu mengamati semak-semak itu, lagi-lagi ada pergerakan.


"Aku cek ahh!" Nisa beranjak dari bangku lalu menghampiri semak-semak itu. Dia berjongkok dan menyibakkan dedaunan hijau yang menghalangi sesuatu yang sedari tadi bergerak.


Meoww ... Meoow ...


Nisa menemukan seekor kucing. Kucing berjenis Persia yang berbulu lebat berwarna putih, bertelinga kecil, mata bulat yang berwarna cerah.


"Uwahhh! Gembul tersesat!" Nisa tersenyum semringah dan langsung memungut kucing itu. Kucing itu sama sekali tidak terlihat ingin kabur dan menurut saja ketika Nisa kembali duduk di bangku dan memangkunya.


Nisa membersihkan dedaunan yang menempel di tubuh kucing itu, dia melihat di leher kucing itu terdapat kalung dengan lonceng kecil dan bertuliskan nama. "Elizabeth," gumamnya.


"Jadi betina toh, kukira jantan karena ukuranmu besar!"


Meow meow!


"Gemesss! Pengen aku culik! Tapi ada kalungnya, pemilikmu siapa?"


Meoww ...


"Aihhh, aku mana paham bahasa kucing. Tapi lupakan! Yuk main dulu sama aku!"


Nisa terus mencoba untuk berkomunikasi dengan Elizabeth, baik itu dengan memperhatikan bahasa tubuh seperti ekor, tatapan mata, bahkan nada saat mengeong. Tetapi kucing jenis Persia memang cenderung tidak banyak mengeong dan lebih tenang.


Ketika Nisa tengah asyik bermain dengan Elizabeth, tiba-tiba dari kejauhan ada seseorang yang berteriak. "Elizabeth! Ratu! Elizabeth di mana kamu?! Yang Mulia Ratu!"


Meow meow!

__ADS_1


Nisa lalu menatap Elizabeth lekat-lekat. "Sepertinya itu pemilikmu, yuk datangi dia!"


Nisa menggendong Elizabeth dan berjalan menghampiri asal suara. Yang berteriak-teriak memanggil Elizabeth adalah seorang pemuda, dia berpenampilan modis dan tampak lebih dewasa dibanding dengan Nisa. Pemuda itu tidak lain adalah Aslan.


Nisa berjalan semakin mendekat. "Permisi, apa ini kucingmu?"


Seketika Aslan meraih Elizabeth dari tangan Nisa. "Ah iya, terima kasih!" Setelah mengalihkan perhatiannya dari Elizabeth, Aslan terkejut saat menatap wajah Nisa.


Karena proyek penelitian ayahnya, yaitu Profesor Arman. Aslan sendiri menyadari bahwa orang yang bersama dengan kucingnya adalah Nisa, tetapi dia juga terkejut dengan rambut Nisa yang berwarna merah.


Mendadak Nisa mencondongkan badan lalu mencolek hidung mungil Elizabeth.


Meoow ...


"Haha, kita berpisah di sini ya! Dasar gembul!" Nisa lalu berbalik dan berjalan pergi.


Ketika baru beberapa langkah mendadak Aslan berteriak. "Tunggu!" Aslan lalu berlari dan mencegat Nisa.


"Ada apa?" tanya Nisa.


"Emm ... sebagai rasa terima kasih, aku traktir!"


"Nggak usah, bye!" Nisa melangkah ke samping namun lagi-lagi Aslan mencegatnya. "Kenapa sih?"


"Aku serius, aku mau traktir!" ucap Aslan antusias.


"Kok maksa sih?" tanya Nisa dengan tatapan curiga.


"Nggak kok, cuma ... Elizabeth masih belum mau pisah sama kamu! Iya kan, Eli?" tanya Aslan dengan senyuman palsu dan tatapan sinis ke kucing nya.


Meoww meow!


"Oke kalau mau traktir, aku mau ice cream cokelat!"


"Iya, siap!"


Hehe, kena kamu! Sekarang aku bisa mengorek informasi lebih banyak tentangmu secara langsung, ini termasuk membantu penelitian ayah dan Ricky.


Nisa bersama Elizabeth kembali duduk di bangku mereka yang semula. Tak lama kemudian Aslan datang dengan membawa dua buah ice cream cokelat, satu untuk Nisa dan satunya lagi untuk dia makan sendiri.


Aslan menggendong kembali Elizabeth, namun mendadak Elizabeth melompat dan meringkuk di pangkuan Nisa. Elizabeth tampak begitu nyaman di sana.


Meow ...


"Haha, sepertinya Eli sangat menyukaimu." ucap Aslan.


"Ya ... baguslah," ucap Nisa sambil mengusap bulu Elizabeth yang lembut.


"Ngomong-ngomong ... kita belum kenalan," Aslan lalu menyodorkan tangannya dan mengajak Nisa untuk berjabat tangan. "Aku Aslan, kalau kamu?"


"Nisa Sania," ucap Nisa yang seketika menarik tangannya kembali. Dia melanjutkan menikmati ice cream dan mengelus Elizabeth, sama sekali tidak menggubris Aslan.


"Salam kenal haha ..." Aslan tersenyum canggung.


Astaga, pantas saja Ricky suka mengeluh. Ricky bahkan sifatnya dingin begitu, ditambah Nisa sendiri ternyata juga begini. Semoga Ricky diberi ketabahan.


"Eumm Nisa, apa kamu suka kucing?" tanya Aslan.

__ADS_1


"Suka, sangat suka!"


"Kalau begitu di mana kucingmu? Nggak kamu ajak ke taman?"


"Aku nggak punya, orang rumah nggak kasih izin."


"Kenapa?" tanya Aslan penasaran.


"Karena ibuku punya alergi, kalau aku nekat pelihara kucing, aku bakal diusir dari rumah. Jadi ya terpaksa aku nggak pelihara meskipun aku suka, karena aku nggak mau jadi gembel."


"Malah kebalikan dari aku. Kalau aku orang tuaku malah juga suka kucing. Elizabeth ke-5 merupakan kucing kesayangan kami."


"Elizabeth ke-5? Kucingmu ada lima kamu namai Elizabeth semua?" tanya Nisa terheran-heran.


"Bukan haha, Elizabeth pertama sampai keempat sudah mati. Kucingku sekarang tinggal satu."


"O-ohh begitu ya."


Mendadak Aslan melihat arloji di tangan kirinya. "Sepertinya aku harus segera pergi."


"Eh, sekarang?" tanya Nisa dengan tatapan tidak rela. Dia tidak rela karena harus berpisah dengan Elizabeth sekarang.


Aslan menyadari tatapan mata Nisa, kemudian dia berkata. "Nisa, apa kamu sering ke taman ini?"


"Cukup sering," jawab Nisa sambil menatap ke arah lain.


Meskipun cuma untuk bolos sekolah.


"Kalau begitu ... Bagaimana kalau kita bertemu di taman ini setiap Sabtu atau Minggu saat kamu libur? Aku akan ajak Eli bersamaku! Jadi kamu bisa main dengan Eli lagi!"


"Boleh, boleh!" Nisa tersenyum semringah lalu menciumi kepala Elizabeth. "Dengar itu gembul?! Kita bisa bertemu dan main lagi!"


Meow meow meoww!


Setelah dirasa cukup puas menciumi Elizabeth, Nisa lalu menyerahkan Elizabeth kembali kepada Aslan. Mendadak Nisa beranjak dari bangku lalu mengambil skuter listrik miliknya yang berada di dekat sana.


"Dadah gembul! Sampai bertemu lagi! Aku duluan ya!"


"Iya, dadah~" ucap Aslan dengan nada imut sambil melambai-lambaikan sebelah kaki depan Elizabeth.


Setelah Nisa sudah cukup jauh, Aslan kemudian mengangkat Elizabeth dan tersenyum kepadanya.


"Kucing pintar! Terima kasih sudah membuat pertemuan pertamaku dengan subjek penelitian berjalan alami! Ada wiskas tambahan untukmu!"


Meoww~♡


"Tapi awas ya, tubuhmu sekarang kotor! Pokoknya nanti harus mandi lagi!"


Meooww ...


"Eli, apa menurutmu Nisa cantik?"


Meow!


"Hehe, kita berpikiran sama! Tapi aku iri kepadamu, yang dapat ciuman kamu, padahal aku yang belikan ice cream untuknya. Yang dapat salam cuma kamu, sedangkan aku cuma dianggap angin."


Meow meow meow meow ... (translate: kasihan dasar manusia baperan)

__ADS_1


•••


Halo kepada semua pembaca yang membaca cerita ini👋 Jika suka jangan lupa like nya ya😉 komentar apa pun boleh! Titik gitu doang juga boleh. Intinya mohon tinggalkan jejak apa pun. Mohon dukungannya ya, karena karya ini sedang mengikuti lomba Yang Muda Yang Bercinta


__ADS_2