
"Hemm hmm ..." Nisa bersenandung sembari berjalan di koridor sekolah.
Bel pulang sekolah telah berbunyi sejak tadi, seperti biasa saat ini Nisa menuju ke ruang musik untuk belajar bersama dengan Ricky. Sesampainya di sana, ternyata Nisa menjumpai sesuatu yang berbeda dari biasanya, Ricky tak ada di sana.
"Eh?! Tumben nggak ada, Senpai ke mana?"
Apa mungkin hari ini libur? Kalau iya justru bagus dong! Aku bisa langsung main ke warnet! Hehe, hari ini pasti asik~
Nisa berbalik dan bergegas pergi dari ruang musik, baru selangkah dia melangkah keluar, tiba-tiba dirinya menabrak seseorang.
BUGH!
Nisa mendongak, ternyata yang dia tabrak tidak lain adalah Ricky. Nisa memasang senyum canggung, sedangkan Ricky kemudian berkacak pinggang sambil berkata, "Mau ke mana? Mau bolos lagi? Apa belum cukup bolos waktu jam pelajaran?"
"Enggak, kok! Tapi tumben saja tadi Senpai nggak ada, jadi aku pikir kalau bimbingan belajar hari ini ditiadakan."
"Oh, sekarang kamu sudah di sini, kalau begitu ikut aku! Aku ajak ke suatu tempat!" Ricky berbalik badan dan mulai berjalan yang kemudian diikuti oleh Nisa di belakangnya.
"Mau ke mana? Kalau ke akhirat aku nggak mau!"
"Memangnya siapa juga yang mau sehidup semati denganmu?! Aku juga nggak ajak kamu buat mati! Aku ajak kamu buat ke perpustakaan!"
"Perpustakaan?" seketika langkah kaki Nisa terhenti. "Nggak mau ah, di sana pasti ada Alina jahat!"
"Bukan ke perpustakaan sekolah, tapi perpustakaan umum! Sudahlah diam saja, ayo cepat jalan dan menurut!"
Nisa lalu kembali berjalan dengan pasrah. "Tapi kenapa harus ke perpustakaan umum?"
"Buku-buku di perpustakaan umum lebih lengkap dibanding perpustakaan sekolah. Kali ini kita akan belajar bidang astronomi, tentang mekanika benda langit! Oh iya, kita akan naik bus untuk ke sana."
"Bus? Jadi ... Senpai setiap hari datang ke sekolah naik bus? Mobilmu yang sempat digunakan untuk menyerempetku ke mana?" tanya Nisa.
"Masih di tempat servis. Nanti malam baru akan aku ambil. Dan berhentilah mengungkit soal kejadian itu!"
"Ihh, kan cuma mau tanya. Pasti mobilnya rusak gara-gara dapat karma!"
"Sembarangan! Mobilku diservis bukan karena rusak, tapi memang servis berkala tiap bulan. Aku cuma malas saja, makanya nanti malam baru akan aku ambil!"
"Wah ... manusia sepertimu bisa malas juga ternyata~" Nisa terkekeh.
"Terserah!"
Mereka berdua pun menuju ke sebuah halte bus terdekat. Sebelum bus mereka tiba, Nisa berinisiatif untuk menepi mendekati sebuah vending machine. Dia membeli banyak camilan dan minuman dingin yang kemudian dia simpan di tas ranselnya.
Ricky yang menyadari hal itu langsung berkata, "Kenapa beli banyak? Kita mau ke perpustakaan, bukan mau piknik!"
"Aku tahu, tapi kan lebih enak kalau belajar sambil ngemil."
"Di perpustakaan nggak boleh makan! Itu melanggar peraturan!"
"Huh, tinggal makan diam-diam kan bisa! Toh Aku beli pakai uangku sendiri, bukan uangmu! Jadi jangan melarangku melakukan ini itu!" bantah Nisa yang kemudian berjalan melewati Ricky.
Nisa dan Ricky menyadari bahwa bus yang mereka tunggu-tunggu telah tiba. Mereka berdua naik bersamaan dengan penumpang lain. Bahkan mereka juga duduk di kursi yang bersebelahan di dalam bus.
Tak lama kemudian akhirnya mereka tiba di halte pemberhentian. Mereka turun dari bus dan berjalan menuju ke perpustakaan yang berada di pusat kota. Suasana di perpustakaan itu penuh dengan ketenangan meskipun ramai dikunjungi oleh orang.
Ada banyak anak sekolahan yang masih memakai seragam sekolah mereka selayaknya seperti Nisa, ada juga para mahasiswa lain yang terlihat sedang mengerjakan tugas mereka. Kali ini agar tidak terlihat mencolok, Ricky sengaja tidak memakai almamater dari universitasnya. Ricky melakukannya untuk menghindari jika seandainya ada mahasiswa dari universitas yang sama akan mengenalinya sebagai mahasiswa Fakultas Kedokteran, tentu saja jika itu sampai terjadi maka identitasnya yang disembunyikan dari Nisa akan terbongkar.
__ADS_1
Nisa dan Ricky kemudian menuju ke ruang baca, ruang baca yang mereka pilih adalah ruang baca yang tak terlalu banyak ditempati orang, ruang baca nomor 2.
"Nah, sekarang ayo cari buku tentang astronomi!" pinta Ricky yang malah mendapat respons tatapan heran dari Nisa. "Ayo cari! Kenapa malah menatapku begitu?"
"Cari sendiri dong! Pembimbingnya siapa? Ya harus pembimbing yang cari, tugasku kan tinggal memahami materi."
"Ayolah Nisa ... bisa nggak sih kamu itu ambil inisiatif sendiri? Yang mau maju lomba itu kamu! Kalau menang yang dapat hadiah kamu! Yang akan dapat sertifikat penghargaan juga kamu! Jadi ayo cari bersama, kamu cari di rak buku bagian kiri, aku kanan! Ini untuk mempersingkat waktu!"
"Iya deh," jawab Nisa dengan nada malas.
Nisa dan Ricky lalu berpencar untuk mencari buku yang sekiranya sesuai dengan materi yang mereka cari. Nisa memperhatikan satu per satu tulisan sampul buku yang tertata rapi di rak, beberapa saat berlalu tapi belum dia temukan juga.
"Huh, kenapa sih harus ke perpustakaan? Cari di internet kan bisa, tapi pasti manusia perfeksionis itu akan bilang kurang lengkap, kurang valid, sumber kurang terpercaya! Dasar menyusahkan," gumam Nisa yang tak sampai tiga detik kemudian dirinya melotot.
Nisa telah menemukan buku yang dia cari-cari, ketika dia hendak meraih buku itu ternyata tangannya tak sampai, dia lalu berjinjit dan masih belum bisa menggapainya, usaha terakhir yaitu melompat bahkan tidak kunjung dapat.
"Huh, kenapa harus di taruh di rak yang paling tinggi sih?" Nisa mulai merasa geram karena tak bisa mengambil buku itu.
Apa aku minta tolong ke Senpai saja? Eh jangan deh, nanti dia pasti akan mengejekku kalau aku pendek. Kalau aku tumpuk buku buat pijakan, pasti nanti aku akan didenda oleh pustakawan. Menyebalkan!
Mendadak Nisa mendongak, dia melihat sebuah tangan yang sedang mengambil buku yang dia inginkan. Begitu Nisa berbalik ternyata orang itu tidak lain adalah Ricky.
"Kenapa nggak bilang kalau nggak bisa ambil bukunya? Kan aku bisa bantu ambil kalau kamu nggak sampai." ucap Ricky dengan ekspresi sedikit kesal.
"Kok bisa tahu kalau bukunya sudah ketemu?" tanya Nisa terheran-heran.
"Telingaku masih normal, aku bisa dengan suara kakimu yang melompat-lompat. Kamu itu terlalu berisik."
"Sini bukunya!" ucap Nisa sambil merampas buku tersebut dari tangan Ricky dengan wajahnya yang memerah.
Baik juga orang ini, ternyata aku salah perhitungan. Kukira dia akan mengejekku pendek atau kerdil.
Sontak saja Nisa dan Ricky menoleh ke arah orang yang baru saja bicara tersebut. Orang itu memakai seragam sekolah yang berasal dari sekolah SMA elite lain. Penampilan siswa tersebut rapi, model rambut juga rapi, memakai kacamata dan dia terlihat sangat tidak suka melihat keberadaan Nisa.
Abimana namanya, siswa yang berasal dari keluarga kaya, rival abadi Nisa dalam Olimpiade. Setiap kali Abimana ikut Olimpiade jenjang SMA sederajat, dia selalu mendapatkan peringkat tepat di bawah Nisa.
"Kamu kenal dia?" tanya Ricky.
"Nggak, dia cuma kecoak." jawab Nisa tanpa ekspresi.
"Hei, kurang ajar! Begitu ya caramu menyapaku!" ucap Abimana seakan tidak terima.
"Emm ... Nisa, apa dia sepupumu?" tanya Ricky lagi.
"Dih, najis!" bantah Nisa secara spontan.
"Orang sepertiku mana bisa dibandingkan dengan anak kampungan macam dia?! Aku ini Abimana, calon pemenang lomba Olimpiade Sains tahun ini! Ini peringatan untukmu, Nisa Sania, sebaiknya kali ini kamu mundur saja dari lomba!"
"Ya, lanjutkan saja mimpi indahmu itu." Tiba-tiba Nisa menggandeng tangan Ricky. "Yuk, kita pergi!"
Belum sempat Nisa mengambil langkah, Abimana kembali berkata, "Aku baru pertama kali melihatmu di perpustakaan, kamu belajar juga ternyata. Bukannya selama ini kamu menang itu karena pakai cara curang?"
"Apa katamu?! Buat apa aku sampai repot-repot pakai cara curang untuk melawan anak cupu sepertimu?! Nggak level! Aku bisa menang melawanmu bahkan tanpa belajar sekali pun!!" teriak Nisa yang emosinya mulai tersulut.
"Oh, benarkah? Tanpa belajar ya? Lalu sekarang yang kamu lakukan di perpustakaan ini apa? Main sama pacarmu?" tanya Abimana dengan alis terangkat sebelah.
"Pacar?" Nisa dan Ricky lalu saling menatap. "Dia ini bukan pacarku, tapi pembi ... Whumm?!"
__ADS_1
Mendadak Ricky membungkam mulut Nisa dengan tangannya, Nisa berusaha memberontak tapi Ricky justru membungkamnya lebih kuat lagi.
"Iya, haha ... kami memang pacaran!" ucap Ricky dengan senyum canggung.
"Humm?!" Nisa melotot, dia sulit mempercayai apa yang barusan Ricky katakan, tetapi Ricky justru memelototi Nisa balik.
"Aku minta maaf ya atas sikap kasar pacarku, kami permisi!" Ricky melepas bekapan tangannya dari mulut Nisa, dan setelah itu dia menggandeng tangan Nisa dan dengan cepat membawa Nisa untuk pergi dari sana. Bahkan saking syok nya, tanpa sadar Nisa menjatuhkan buku tentang astronomi yang dia cari-cari.
Buku tersebut jatuh tepat di hadapan Abimana, dia yang menyadari hal itu langsung memungut buku tersebut. "Mekanika benda langit," gumamnya.
Hehe, ternyata dari dulu tak berubah. Bidang astronomi tetap rival abadiku yang mewakili. Tapi, apa benar mereka pacaran? Aku merasa sedikit tidak asing saat melihat pacarnya Nisa Sania. Rasanya aku pernah melihatnya, tapi di mana?
***
Kunjungan ke perpustakaan tak membuahkan hasil apa pun. Kini mereka berdua sudah berada di luar perpustakaan, tetapi Nisa masih menunggu penjelasan dari Ricky.
"Senpai, apa maksudnya tadi?! Kenapa bilang ke dia kalau kita pacaran?!" tanya Nisa sambil berkacak pinggang.
"Emm ya ... biar perdebatan kalian berhenti. Lagi pula jika dia tahu kalau aku pembimbingmu, dia pasti akan tahu kalau kamu serius belajar. Tapi kalau bilang bahwa kita pacaran, dia pasti akan berpikir kalau kamu cuma fokus pacaran dan nggak belajar. Dengan begitu, dia bisa lebih percaya diri lagi dan meremehkanmu, otomatis maka kewaspadaannya terhadap kamu berkurang!"
"Hmm ... benar juga, mengalahkan lawan yang awalnya meremehkan, sepertinya menyenangkan!"
"Nah, kamu paham juga maksudku!" Ricky tersenyum puas.
Untungnya Nisa ini agak bodoh. Aku mengajaknya keluar itu karena takut kalau identitasku terbongkar. Seragam yang dipakai oleh siswa tadi adalah seragam sekolah elite yang letaknya berdekatan dengan kampusku. Bisa saja dia pernah melihatku memakai jas almamater khusus fakultas kedokteran. Aslan bilang kalau aku ini terkenal, untung saja kenyataannya aku nggak begitu dikenal.
"Sekarang apa?" tanya Nisa dengan tatapan bingung.
"Huft ... kita ke toko buku! Kebetulan aku ada buku yang mau aku beli! Kamu nanti juga belilah buku yang sekiranya kamu perlukan. Kalau uangmu kurang, aku saja yang bayar."
"Serius?!" tanya Nisa dengan antusias.
"Iya, asalkan buku itu bukan buku yang aneh-aneh."
"Bukan, kok! Ayo pergi!"
Mereka berdua kemudian beralih menuju ke toko buku. Di sana, mereka lagi-lagi berpencar karena mengincar buku masing-masing. Yang diincar oleh Nisa tidak lain adalah buku komik favoritnya yang baru rilis.
Memakan waktu yang tidak sedikit bagi keduanya untuk memilih buku. Ketika dirasa buku yang mereka inginkan sudah di dapatkan, mereka berdua kembali berkumpul di titik semula.
"Senpai, aku sudah pilih buku mana yang aku mau! Serius mau dibayari, kan?" tanya Nisa sambil membawa buku yang jumlahnya ada 6.
"Tunggu sebentar, kenapa semuanya komik? Kamu nggak beli buku yang berkaitan dengan lomba?" tanya Ricky seakan tidak percaya.
"Beli buku materi buat apa? Komik lebih penting! Tapi ..." Sejenak Nisa tertegun, kemudian dia menatap Ricky dengan tatapan curiga. "Buku yang kamu pilih, kenapa yang berkaitan tentang kedokteran semua? Bukannya Senpai mahasiswa Fakultas Ilmu Pendidikan? Senpai mau jadi guru atau dokter?"
"Ehmm ... buku ini, buku-buku ini titipan dari temanku! Temanku itu mahasiswa Fakultas Kedokteran, dia memintaku membelikan buku-buku ini untuknya!"
Gawat, aku lengah. Harusnya aku beli buku-buku ini saat aku sendiri. Gawat kalau identitasku sampai terbongkar, proyek penelitian ini akan berakhir di sini. Semoga saja Nisa percaya.
"Oh, titipan toh. Padahal buku-buku itu mahal, jauh lebih mahal dibanding buku komik yang mau aku beli. Kenapa baik banget sih ke temanmu itu?"
"Aku memang baik, dan temanku itu memang sedikit kurang ajar, haha." ucap Ricky dengan senyum canggung.
"Kalau memang baik, jadi kan membayar buku komikku?"
"Iyaa ... akan aku bayar!"
__ADS_1
Syukurlah Nisa percaya, meskipun aku harus mengorbankan uangku, tapi pengeluaran ini akan aku catat sebagai biaya. Nanti tinggal bilang ke Profesor Arman apa saja yang aku habiskan untuk Nisa.