
"Hai Alina jahat~ maaf mengganggu waktunya~ Sengaja soalnya haha!" ucap Nisa dengan nada menghina.
"Apaan sih?! Namaku itu Alina Villian! Villian ya, bukan Villain! Villain baru artinya jahat, ngerti bahasa Inggris nggak sih?!" protes Alina seakan tidak terima.
"Villain, Villian sama saja! Protes sana ke orang tuamu yang kasih nama!"
"Kalian saling kenal?" tanya Ricky.
"Nggak," jawab Nisa singkat.
"Tentu kenal, dia kan pembuat masalah yang suka buat rusuh! Di sekolah ini mustahil nggak ada yang nggak kenal sama dia, dia itu terkenal karena keburukan!" jawab Alina.
"Oh, begitu."
Dilihat dari mana pun, sudah jelas mana yang bicara jujur.
Sedikit di luar dugaan dari Ricky, Nisa dan Alina ternyata saling mengenal. Ricky tahu betul bahwa saat ini ada 2 orang gadis yang sikapnya sangat bertolak belakang yang berada di hadapannya.
Nisa dan Alina adalah musuh abadi sejak kelas 10. Bagaimana tidak? Nisa sendiri adalah sang pembuat masalah dan berandal sekolah yang bahkan namanya terkenal hingga ke sekolah lain. Sejak kelas 10 dia sudah banyak membuat masalah.
Alina sendiri sebagai ketua OSIS yang keteladanan dan ketertibannya sudah tidak diragukan lagi, dia cantik dan cukup menonjol di antara siswi-siswi lain, tipe idola sekolah yang namanya juga terkenal hingga ke sekolah lain.
Alina mengambil sebuah buku catatan kecil dari saku dan sebuah pena, dia menuliskan sesuatu di buku catatan tersebut. "Potong 5 poin untuk Nisa Sania dan aku sendiri karena berteriak di perpustakaan! Potong 2 poin untuk Nisa Sania karena mengejek namaku dan sengaja memancing keributan!"
"Bocah prik!" teriak Nisa.
"Potong 5 poin lagi untuk Nisa Sania karena memaki orang!" teriak Alina sambil mencatat dengan antusias.
Alina memang punya kebiasaan mencatat segala kesalahan Nisa yang dia tahu, bahkan dia juga memberlakukan pemotongan poin. Entahlah, Nisa masa bodoh dengan itu bahkan jika poinnya jadi minus. Bahkan bukan cuma Nisa, siswa lain yang agak bandel pun juga tak luput dia catat kesalahannya.
"Dasar gila! Hobi kok potong poin, potong bebek angsa bakar sana!" teriak Nisa.
"Potong 5 poin lagi!" teriak Alina.
"Sinting! Bocah ¥*@%#* ...!!"
Ricky mulai merasa muak, dia sudah muak mendengar kalimat-kalimat umpatan yang keluar dari mulut Nisa dan kalimat-kalimat pemotongan poin dari mulut Alina. Dirinya ingin sekali menghentikan Nisa bicara sembarangan agar suasana tenang.
Tetapi Ricky ingat bahwa Nisa adalah subjek penelitian yang harus dia prioritaskan dan tidak boleh menyinggungnya apabila ingin menjadi dekat dengannya. Di tengah-tengah pertengkaran itu mendadak Ricky berdiri, dia berjalan mendekati Nisa lalu demi mengakhiri perdebatan itu dia membungkam mulut Nisa dengan tangannya.
"Heummm!?" Nisa terkesiap. Tetapi karena kemampuan beladiri dan refleksnya yang bagus, seketika dia menahan tangan Ricky lalu memelintir tangan itu ke belakang.
"A-akhh! Lepas!" Ricky mengernyit kesakitan.
"Maksudmu barusan apa hah?! Apa pula keperluanmu di sini?!" tanya Nisa penuh kemarahan.
"Maksudku tentu saja agar membuatmu diam! Nggak baik tau bicara kotor sampai teriak-teriak! Soal keperluanku di sini itu karena aku yang jadi pembimbingmu untuk olimpiade!" jawab Ricky sambil meronta.
"Pembimbing?" Nisa langsung melepaskan kuncian tangannya dari Ricky, kemudian untuk sejenak dia termenung.
"Ck, awas nanti, materi yang bakal aku kasih pasti akan menyiksamu!" gumam Ricky.
Nisa menyeringai tetapi raut wajahnya tampak kesal. "Heh, nggak bener nih! Harus protes ke Burhan!"
"Tunggu!" teriak Ricky sambil menahan tangan Nisa yang hendak berjalan pergi, dan setelahnya Nisa menepis tangannya.
"Potong 20 poin karena nggak sopan sebut nama kepala sekolah!" teriak Alina.
"Apa sih? Potong aja sampai poinku minus, aku nggak peduli!" ucap Nisa dengan tatapan malas. Nisa lalu menoleh ke arah Ricky. "Kenapa mencegahku? Memangnya sanggup jadi pembimbingku? 3 mata pelajaran loh, bukan cuma 1."
__ADS_1
"Sanggup! Bahkan 9 mata pelajaran pun aku sanggup! Cara mengajarku itu ketat dan disiplin, harus punya pemahaman cepat jika memakai metode belajarku. Kenapa mau protes ke kepala sekolah? Takut ya seandainya nggak sanggup mengikuti materi?" tanya Ricky dengan tatapan meremehkan.
"Siapa yang takut hah?! Jangan meremehkanku sialan!"
"Potong 5 poin karena ..." ucap Alina.
"Tutup mulutmu itu! Bisa nggak sih nggak usah teriak-teriak?! Ganggu orang tau, pergi sana! Dasar kelainan," ucap Nisa penuh kekesalan.
"K-kamu ...!!" wajah Alina memerah karena menahan marah.
"Hei, itu keterlaluan." ucap Ricky sambil menatap Nisa dengan tatapan tidak suka, kemudian dia beralih menatap ke arah Alina. "Sebaiknya kamu pergi saja, soalnya kalau kamu tetap di sini sepertinya nggak akan membuat suasana membaik."
"Tapi Kak ... aku kan di sini karena mau belajar," ucap Alina seakan tidak rela. Dia tidak rela disuruh keluar dari perpustakaan sekaligus tidak rela jika harus berpisah dengan Ricky sekarang juga.
"Nah, dengar sendiri kan?" tanya Nisa sambil tersenyum miring. "Dia nggak mau pergi, kalau begitu aku saja yang pergi. Kalau mau bahas materi denganku lain kali saja, kalau bisa lebih baik sekalian jadi pembimbingnya saja, dengan senang hati aku akan menerimanya haha!"
"Mana bisa begitu?! Pokoknya yang boleh jadi pembimbingmu cuma aku!" teriak Ricky yang membuat Nisa dan Alina melongo.
"Apaan sih? Sok ngatur, kenapa orang lain nggak boleh hah? Jangan-jangan punya rencana terselubung mau terus menggangguku ya!" ucap Nisa sambil menuding ke arah Ricky.
Ricky menepis tangan Nisa yang berada di depan wajahnya. "Nggak ada yang namanya rencana terselubung, aku cuma menuruti keinginan kepala sekolah."
"Makanya aku mau protes! Aku akan terus terang, aku muak lihat wajahmu meskipun wajahmu itu ganteng. Jadi aku mau pembimbing lain!" Nisa bersikeras.
Sialan si Burhan! Dia pasti menunjuk mahasiswa nyasar ini jadi pembimbingku karena ada dendam denganku, jika saja yang jadi pembimbingku adalah guru yang biasanya maka aku bisa dengan mudah membolos, tapi jika pembimbingku orang ini kemungkinanku untuk membolos semakin kecil.
"Alasanmu kurang kuat untuk protes! Ayo duduk dan mari bahas soal materi lomba!" Ricky menunjuk ke arah kursi yang berada di sebelahnya.
Nisa malah memalingkan wajahnya dan menyilangkan kedua tangannya. "Nggak mau! Selagi Alina jahat masih di sini aku nggak mau bahas materi!"
Ricky menghela napas kemudian memandang ke arah Alina. "Tolong mengerti ya, cuma sekali ini, lain kali aku jamin kamu bisa belajar dengan tenang di perpustakaan."
"Iya Kak ..." ucap Alina meskipun terpaksa.
"Potong 30 poin," gumam Alina.
Setelah kepergian Alina dari sana, Nisa lalu duduk di kursi yang berada di sebelah Ricky. Ricky juga kembali duduk dan menyodorkan setumpuk buku ke arah Nisa.
"Baca dan pelajari semuanya!" pinta Ricky sambil melotot.
"Iya nanti," jawab Nisa yang kemudian meletakkan kepalanya di atas meja.
"Ayo bahas materi! Jangan-jangan tujuanmu ke sini karena mau tidur!"
"Tepat! Perpustakaan yang tenang adalah tempat sempurna untuk tidur." Sesaat kemudian mendadak Nisa mengangkat kepala. "Oh iya, aku nggak jadi tidur deh! Apa aku boleh kasih saran?"
"Saran tentang hal apa?" tanya Ricky penasaran.
"Haha, aku bukannya sombong tapi aku ini sudah pintar! Aku sebenarnya nggak butuh yang namanya pembimbing materi lomba olimpiade! Sejak SD aku sudah pengalaman ikut olimpiade, aku sudah paham betul tipe soalnya seperti apa. Jadi ... bilang ke Burhan, maksudku kepala sekolah kalau tugasmu sebagai pembimbing berjalan dengan baik, tapi sebenarnya kita nggak usah belajar bersama, aku lebih nyaman belajar sendiri!"
"Nggak!" ucap Ricky penuh penekanan.
"Dih, nyebelin! Biar kita sama-sama enak, lagi pula buat apa coba di antara sekian banyaknya guru di sekolah ini tapi malah kamu si mahasiswa nyasar yang jadi pembimbingku!"
"Guru-guru lain sudah kewalahan menanganimu, jadi aku yang menggantikan! Sudah jelas, kan? Sekarang jangan protes apa-apa lagi!"
Tentu saja harus aku yang jadi pembimbingmu, meskipun aku malas tapi kesempatan sebagus ini sayang jika dilewatkan. Dengan begini aku bisa mengawasimu yang merupakan subjek penelitianku. Aku ingin ini cepat berakhir dan segera kembali ke keseharianku seperti biasanya.
"Oke, sudah aku putuskan, jadi mulai besok sepulang sekolah kamu harus menemuiku untuk mendapat bimbingan khusus!" tegas Ricky.
__ADS_1
"Ck, ini nggak ada bedanya dengan jam tambahan. Setiap pertemuan rencananya berapa jam?" tanya Nisa dengan raut wajah malas.
"Itu tergantung, setiap pertemuan aku memasang target. Jika kamu sudah memahami target materi, berarti pertemuan selesai. Tapi jangan harap itu akan mudah mengingat kamu harus menguasai tiga mata pelajaran yang sulit, fisika, biologi dan astronomi! Dan sepertinya ... kamu harus memperdalam soal biologi, presentasimu tentang reproduksi saja hancur begitu."
"Eh-eh ... kurang ajar! Aku paham soal bidang itu! Cuma ya canggung saja kalau menjelaskannya secara langsung, tapi kalau tertulis aku bisa menuliskannya sampai sedetail-detailnya!"
"Bisa nggak sih berhenti bicara buruk begitu? Telingaku risih mendengarnya, gadis sepertimu setidaknya harus belajar bersikap lembut. Bukan masalah kamu cewek atau enggak, tapi setiap manusia itu dituntut untuk belajar sopan santun dalam bicara ataupun bertindak. Ingat ini baik-baik, Nisa!"
"..." sejenak Nisa termenung, kemudian dia berkata, "Tadi manggil aku apa?"
"Nisa, itu kan namamu sendiri. Memangnya kalau bukan begitu, aku harus memanggilmu apa?"
"Oh, bukan apa-apa, terserah kalau mau memanggilku begitu."
Sempat kaget aku, biasanya yang memanggilku dengan nama akrab begitu cuma orang-orang terdekatku.
"Dasar aneh," gumam Ricky yang terdengar oleh Nisa.
"Siapa yang aneh hah?! Dasar mahasiswa nyasar!" teriak Nisa seakan tak terima.
"Berhentilah memanggilku dengan sebutan mahasiswa nyasar! Aku ini pembimbingmu, jadi harus sopan!"
"Lalu harus kupanggil apa?" tanya Nisa sambil memutar bola matanya dengan malas.
"Contoh saja teman-temanmu yang lain, lagi pula aku lebih tua dibanding kamu, panggil aku Kakak!"
"Kakak?" Nisa terkekeh. "Pffttt ... hahaha! Memangnya di dunia ini ada yang pantas untuk kusebut Kakak?"
"Kalau begitu panggil aku pembimbing! Pembimbing Ricky!"
"Nggak mau! Orang aku saja nggak niat untuk dibimbing!"
"Terus mau mu apa?! Aku nggak suka ya kalau masih panggil aku mahasiswa nyasar lagi!"
"Hmm ... sebentar, aku pikir dulu." sejenak Nisa terdiam, kemudian mendadak dia menggebrak meja. "Aku tahu!"
"Tahu sih tahu, tapi ya nggak usah berisik juga. Memangnya mau panggil aku apa?"
"Coba tebak~ dimulai dari huruf ... S!"
"S ...? Jangan bilang kalau S itu s-sayang!" ucap Ricky sedikit gagap.
"Sayang palamu peyang! S itu adalah Senpai! Kalau belum tau, Senpai itu bahasa Jepang yang artinya senior! Nah, sudah cukup sopan, kan?"
"Senior? Sejak kapan aku jadi senior mu? Kamu itu kan enggak satu universitas denganku. Kenapa aku bisa jadi senior mu?"
"Kuliah di Universitas Grand SC, kan? Percayalah habis lulus dari SMA ini aku bakal kuliah di sana!"
"Heh, terlalu percaya diri itu nggak baik! Ngaca dulu, poinmu saja terus dipotong, memangnya kamu bisa lulus jika nilai sikapmu buruk?"
"Pasti aku lulus! Awas saja kalau aku nggak dilulusin, bakal aku bakar sekolah ini! Intinya panggilanmu itu Senpai!"
"Kenapa harus pakai bahasa Jepang?" tanya Ricky penasaran.
"Suka-suka aku dong! Aku suka Jepang!"
"Emm ... kalau begitu jangan panggil Senpai, panggil saja Sensei!"
"Sensei? Memangnya pengalamanmu seberapa banyak hah? Sok-sokan mau dipanggil Sensei, punya kualifikasi apa? Pokoknya aku cuma mau panggil Senpai! Suka atau enggak itu bukan urusanku!"
__ADS_1
"..." Ricky menatap Nisa dengan tatapan datar, dia sudah tidak berselera untuk berdebat lagi. Akhirnya dia pun menyetujui apa yang Nisa putuskan. Dia punya firasat buruk jika seandainya hari-hari selanjutnya akan lebih melelahkan dibanding sekarang.
Aku malas, terserah dia mau memanggilku apa, yang penting itu bukan mahasiswa nyasar lagi.