Trouble Lady (Project Of Love)

Trouble Lady (Project Of Love)
Bab 6. Langit


__ADS_3

Rintik hujan mulai turun dari langit malam, kian lama kian deras. Air hujan itu membasahi sekujur tubuh seorang gadis berambut merah, gadis tersebut tengah bersandar pada bak sampah besar yang berada di sebuah gang sempit.


Gadis itu tampak kelelahan, napasnya terengah-engah. Pandangannya menunduk melihat ke arah tangannya yang memegang sebuah belati, belati itu berlumuran dengan darah yang sudah mulai luntur karena air hujan.


Nisa mendongak, menatap sekumpulan pria dewasa berperawakan tinggi besar yang sudah terkapar, darah yang keluar mengalir dari tubuh sekelompok pria itu juga ikut mengalir terbawa dan tercampur oleh air hujan.


"Hah ... sialan. Nggak bisa pulang ke rumah deh, nanti mak lampir bakal kumat."


Padahal tadi cuma mau ke toko buku buat beli komik, tapi malah dapat kiriman pembunuh bayaran. Kali ini yang dikirim levelnya beda dibanding yang sebelum-sebelumnya. Di sekitar sini nggak ada CCTV, mayat orang-orang sialan ini biarkan saja.


Nisa menyimpan belati miliknya lalu menatap kedua tangannya yang masih tersisa sedikit noda darah di sana.


"Apa aku ini termasuk psikopat? Membunuh orang itu hal wajar kan buat orang sepertiku?"


"Hahaha ... sinting, bicara sendiri lagi!"


Nisa lalu bangkit, merapikan pakaiannya, sesaat sebelum melangkah pergi meninggalkan gang itu dia menengok ke arah belakang.


"Bye-bye ahli neraka~" Nisa tersenyum miring sambil melambaikan tangannya.


Di tengah derasnya hujan, Nisa berjalan menuju ke suatu tempat. Tempat yang masih termasuk ke dalam daerah pusat kota, yang ramai dikunjungi orang, yang di dalamnya hanya ada kaum hedonis, yang bahkan sudah mendapatkan perizinan resmi dari pemerintah.


Grizz Glory Casino. Sebuah kasino besar yang namanya sudah dikenal oleh banyak orang. Namun orang-orang tak mengetahui bahwa kasino itu adalah markas utama sebuah kelompok gangster. Aktivitas perjudian di dalamnya dijadikan sebagai penyamaran serta bisnis tambahan bagi mereka.


Ketika Nisa sampai di pintu masuk, para penjaga yang menjaga pintu langsung membungkukkan badannya menyambut kedatangan Nisa. Saat Nisa melangkah masuk ke dalam kasino, sontak saja dia disambut oleh semua pegawai seperti bandar, staf layanan, teknisi mesin slot, kasir dan petugas keamanan yang paling mendominasi di kasino.


Mereka semua berbaris dan membungkuk seraya berkata, "Selamat datang, Nona!"


Nisa tak berkata apa-apa, ekspresinya terlihat datar dan dia terus berjalan ke arah tangga menuju ke lantai berikutnya.


Tatapan bingung dari para pengunjung kasino tak terelakkan. Mereka bingung lantaran para pegawai memperlakukan Nisa dengan sangat hormat, meskipun penampilan Nisa saat ini basah dan berantakan seperti gelandangan yang kehujanan.


Begitu Nisa sampai di lantai dua, ada seorang anggota staf khusus laki-laki berpenampilan rapi mendekat ke arahnya. Staf khusus tersebut memberi hormat lalu berkata, "Adakah yang Nona butuhkan?"


"Siapkan kamar yang biasanya, lalu kirimkan 2 cup mie ramen dan teh hijau ke kamar VVIP nomor 33!"


"Baik Nona. Apakah kedatangan Nona perlu dilaporkan pada Casino Manager?"


Seketika Nisa berhenti melangkah dan kemudian melirik ke arah CCTV yang berada di pojok. Dia tersenyum sambil berkata, "Tidak perlu, keperluanku bukan untuk bertemu dengan Paman Morgan. Lagi pula Paman pasti sudah tahu sendiri tentang kedatanganku. Itu saja, kau bisa pergi!"


"Baik Nona," sekali lagi staf itu membungkuk dan kemudian berjalan pergi.


Nisa pun kembali berjalan santai ke tempat yang hendak dia tuju, yang tidak lain adalah kamar. Dia tidak berniat untuk menemui sang paman, yaitu Morgan. Morgan adalah salah satu petinggi di kelompok gangster yang merangkap sebagai Casino Manager, namun dia bertentangan dengan Gilang, ayahnya Nisa yang memutuskan untuk pensiun. Morgan juga adalah seseorang yang telah mendidik Nisa sedari kecil untuk menjadi penerus, bahkan sebenarnya Morgan bisa dibilang sebagai ayah kedua bagi Nisa.


Grizz Glory Casino sebenarnya termasuk casino hotel, kebutuhan pemain judi diberikan dalam satu lokasi, berbagai macam bentuk umum dari perjudian, seperti mesin slot, poker, blackjack, dan taruhan lainnya.


Terdapat 2.000 kamar suite dengan paket-paket eksklusif yang ditawarkan, kamar tersebut terhubung langsung ke kasino. Seluruh kamar didesain dengan gaya Eropa modern dilengkapi dengan berbagai furnitur agar membuat para tamu nyaman. Kasino ini menyediakan fasilitas seperti restoran, bar, kolam renang dalam ruangan, parkir valet, dan layanan hotel lainnya.


Ada juga berbagai macam hiburan, seperti pertandingan tinju, basket dan tenis. Selain itu, Grizz Glory Casino juga mempunyai berbagai macam toko-toko retail yang terkenal untuk pengunjungnya yang ingin berbelanja.


Luas area kasino ini kurang lebih 36.000 m² yang dibagi menjadi 4 area bermain utama, yaitu Black Tail (ekor hitam), Silver Fangs (taring perak), Golden Eyes (mata emas) dan yang terakhir Diamond Claw (cakar berlian). Area kasino tersebut mempunyai 1.800 mesin slot dan 400 meja judi untuk menarik banyak wisatawan dan pengunjung. Tentu bukan sembarang orang yang bisa masuk ke sini.

__ADS_1


Kamar yang tadinya diminta oleh Nisa kini sudah siap. Dia kemudian masuk ke kamar tersebut untuk membersihkan diri serta berganti pakaian. Ketika dia sedang mengerikan rambutnya, tiba-tiba ponselnya yang diletakkan di meja rias berdering.


Nisa melirik ke arah layar ponselnya, dia menghela napas saat melihat bahwa nama kontak yang meneleponnya bertuliskan "Mak Lampir" yang tidak lain itu adalah nomor ibunya sendiri.


"Hhhh ... ganggu orang aja!"


Nisa menolak panggilan telepon dari ibunya, lalu mengganti ponselnya ke mode pesawat agar tidak bisa menerima panggilan telepon lagi. Nisa paham betul bahwa esok harinya dia akan dimarahi oleh ibunya, namun keputusannya untuk tidak pulang tidak berubah.


Gadis yang telah selesai berganti pakaian dengan piama yang bermotif garis-garis hitam oranye seperti lebah itu keluar kamar. Begitu dia membuka pintu, dia sedikit terkejut karena ditunggu oleh seorang laki-laki yang bersedekap sedang bersandar pada dinding.


"Hai!" sapa lelaki itu sambil melemparkan sebuah bir kalengan ke arah Nisa.


Nisa dengan tangkas menangkap bir kalengan itu, kemudian dia tersenyum sambil berkata, "Makasih Cell!"


"Haha, itu bukan apa-apa!" jawab Marcell. Marcell adalah anak kandung Morgan, sekarang berusia 20 tahun. Dia sama halnya seperti Nisa, sejak kecil sudah dilatih kemampuan-kemampuan sebagai seorang gangster.


Satu hal yang berbeda, Marcell sama sekali tidak ada ambisi untuk menjadi penerus yang nantinya akan menguasai semuanya. Satu-satunya ambisi Marcell adalah Nisa, menjaga Nisa, memberikan semua yang diinginkan Nisa, serta memastikan agar Nisa sama sekali tidak membencinya.


Rasa cinta? Jelas bukan! Ini adalah bentuk pengabdian, pengabdian selayaknya kepada sang langit. Langit harus diperlakukan selayaknya langit, jangan pernah berharap untuk bisa memeluknya. Inilah yang ditanamkan Morgan kepada Marcell sedari kecil, Nisa adalah langit!


Kedua orang itu berjalan dan berbincang sambil menikmati bir kalengan. Selama berjalan bersama, mereka mendapat pandangan aneh dari orang-orang yang tak tahu apa-apa tentang mereka.


Mereka berdua lalu berhenti di samping pagar pembatas, menatap orang-orang yang sedang berjudi di lantai bawah.


"Cell, aku mau melihat keadaan Dika. Mau ikut?" tanya Nisa.


Marcell membisu, dia lalu menuding saat menyadari bekas luka di pipi kanan Nisa yang sebelumnya luput dari pandangannya. "Bekas apa itu?"


"Haha, ini gara-gara nggak sengaja keserempet mobil."


"Sudahlah, jangan buang-buang waktumu! Ini cuma luka kecil, bisa ditutupi pakai concealer kok."


"Tetap saja orang yang melukaimu mustahil dilepas!" Marcell bersikukuh.


"Cih, aku bilang itu buang-buang waktu. Lagi pula ini cuma kecerobohanku, orang yang punya mobil nggak ada maksud mau membunuhku."


Mendadak seorang staf perempuan mendekat ke arah mereka berdua, lalu membungkuk dan berkata, "Maaf mengganggu waktunya. Tuan Muda, Anda dicari oleh tamu yang mengaku sudah membuat janji temu dengan Anda."


Marcell membisu mengabaikan staf itu, kemudian menatap Nisa dengan tatapan tidak rela.


Tiba-tiba saja Nisa melemparkan kaleng bir yang telah kosong ke arah staf itu. "Buang itu! Kalau ada perlu denganku, kau tahu dimana aku!" Nisa langsung berjalan pergi.


Setelah meninggalkan Marcell, Nisa kemudian menuju ke kamar VVIP nomor 33. Dia langsung masuk tanpa mengetuk pintu yang tidak terkunci itu. Begitu masuk, Nisa melihat punggung seseorang yang sedang berdiri menghadap ke kaca jendela yang memperlihatkan keadaan malam kota.


Seseorang itu bernama Dika, 18 tahun. Dika juga telah tumbuh dan menemani pelatihan Nisa sejak kecil. Merupakan anak kandung salah satu petinggi di kelompok.


Dika yang mendengar suara pintu terbuka langsung berbalik, dia tersenyum kecil saat melihat Nisa. Dia lalu mendekat ke arah meja yang di atasnya sudah ada 2 cup mie ramen dan 2 gelas teh hijau.


Tanpa berkata apa pun Nisa langsung menyusul Dika, mereka berdua duduk berhadapan dan tak ada yang ingin mengawali percakapan.


Nisa lalu memegang sumpit dan membuka penutup cup ramen. "Aku terlambat datang, mie nya jadi mengembang deh!"

__ADS_1


"Bukan masalah, ayo makan!"


Mereka lalu memakan mie ramen yang telah terlalu mengembang itu. Dan di tengah-tengah itu mendadak Nisa berkata, "Ka, apa kepalamu masih sakit?"


"Sekarang sudah mendingan, tapi kadang masih pusing. Tumben ke sini?"


"Haha, tadinya aku main keluar lalu kehujanan. Kalau pulang ke rumah aku pasti kena omel, kalau di sini kan nggak ada yang berani mengomeliku!"


"Haha iya juga, aku juga kalau pulang pasti bakalan di ajak pindah. Jadi mendingan di sini, kita bebas!"


Dika melanjutkan makan dengan lahap. Senyuman Nisa perlahan menghilang, dia melihat ke arah lengan bawahnya Dika, di sana terdapat bekas luka goresan bertuliskan "Nisa"


"Ka, ingat nggak kita semua dulu juga sering makan ramen instan sama-sama?"


"Kita semua?" tanya Dika berekspresi bingung.


"Iya, kita semua! Ada aku, Marcell, Ivan, Damar, David, Yhonsen, Faris, Hendry dan kamu juga!"


"Oh ... Aku ingat itu, samar-samar aku ingat kenangan itu. Aku ingat wajah mereka, tapi lupa nama mereka. Yang aku ingat jelas cuma satu orang. Nisa, langitku! Dan ... luka di pipimu itu ulah siapa?" tanya Dika dengan tatapan penasaran.


"Ulahku sendiri, aku kan orangnya ceroboh. Yuk lanjut makan!" ucap Nisa dengan senyuman, senyuman palsu.


Ini semua salahnya ayah! Jika saja ayah mengurungkan niatnya untuk pensiun maka semuanya akan berkebalikan dari sekarang.


Grizzly Cat. Dulu aku berpikir bahwa artinya cuma kucing abu-abu. Nama yang imut, tapi siapa sangka ini malah nama dari sebuah kelompok kriminal yang dibuat oleh ayah.


Mitosnya kucing punya 9 nyawa, di Grizzly Cat terdapat 9 posisi tertinggi, pangkat "Family". Ayah yang merupakan ketua juga bagian dari Family.


Sejak umurku 4 tahun, ayah sudah mengenalkanku dengan dunia gelap ini. Temanku yang pertama adalah Marcell, lalu Dika, setelah itu Hendry bersamaan dengan Faris. Kita berlima adalah anak kandung dari para Family, dan yang lain adalah anak angkat.


Aku pikir kita dikumpulkan agar bisa jadi teman, tapi ternyata lebih dari itu. Kita jadi keluarga yang saling bergantung satu sama lain, juga saling bertaruh nyawa. Tapi aku selalu dibedakan. Kalian semua selalu mengalah terhadapku yang merupakan langit kalian.


Demi mendapatkan pengakuan, aku bertingkah lebih ekstrim. Aku ingin diakui sebagai penerus yang layak, yang bukan cuma mengandalkan status ayahku. Tapi saat aku mendapatkan pengakuan dari para paman, ayah malah berkhianat.


Ayah memutuskan untuk pensiun dan paman yang mengikutinya ada 2 orang. Paman Deon, ayahnya Dika dan Paman Frans, ayahnya Faris.


Faris cenderung lebih patuh pada Paman Frans, dan Dika terang-terangan melawan Paman Deon. Sedangkan aku, aku pura-pura patuh saat di depan ayah. Aku pengecut, tapi cuma ini pilihanku. Karena ayah adalah orang yang berbahaya. Ayah ingin aku belajar ya aku tinggal belajar sesuai keinginannya.


Luka ditangan Dika itu karena insiden. Dia ditangkap oleh kelompok lain dan dipaksa mengikuti bisnis mereka. Bisnis tarung gelap, Violent Zone, Dika dipaksa bertarung dan diharuskan menang tak peduli dia terluka seperti apa.


Kelompok itu menggunakan obat-obatan ilegal yang sangat bagus untuk penyembuhan luka, tapi berefek samping pada otak. Daya ingat jadi menurun, Dika sedikit demi sedikit kehilangan ingatannya. Tapi dia demi tetap mengingatku, dia rela menyayat tangannya untuk menulis namaku.


Untung saja saat tahun baru aku membuat rencana. Kelompok itu mengadakan turnamen di kapal pesiar mewah yang dihadiri oleh para pebisnis. Setelah aku dan yang lain membawa Dika kabur, aku membakar kapal pesiar itu. Haha, tahun baru acara utamanya adalah bakar-bakar kapal.


Sekoci yang tersedia sedikit, orang-orang egois itu saling berebut dan hanya sedikit yang selamat. Banyak pebisnis yang tewas dan kebanyakan berasal dari Tiongkok. Pembunuh bayaran yang dikirim akhir-akhir ini pasti berasal dari mereka yang ingin memburuku.


"Hei, ayo makan! Ngapain bengong?!"


"Eh, iya ..."


"Ehmm ... aku ingat kalau aku berhenti sekolah sudah hampir setahun. Aku bersyukur karena berhenti, katanya Ivan dan David satu sekolah denganmu. Kalian juga sering bolos, percuma sekolah. Tapi aku penasaran, bagaimana akhir-akhir ini sekolahmu?"

__ADS_1


"Ya begitu, bertambah satu orang yang menyebalkan!"


Si mahasiswa nyasar itu sungguh menyebalkan.


__ADS_2