Trouble Lady (Project Of Love)

Trouble Lady (Project Of Love)
Bab 13. Kejadian Sebenarnya


__ADS_3

Hari dengan cepat berganti, hari ini Ricky punya harapan yang besar agar hari ini jangan seperti hari sebelumnya. Menurut jadwal yang telah ditetapkan, saat ini jam pelajaran di SMA Langit Biru telah usai. Saat ini Ricky masih menunggu kedatangan Nisa di ruang musik.


Entah mendapat berkah dari mana, hari ini tak perlu menunggu lama. Tiba-tiba saja pintu terbuka dan masuklah Nisa.


"Tumben sudah ... Eh?!" Ricky terkesiap.


Nisa yang baru datang langsung menutup pintu dan duduk di sebelah Ricky, dia datang tanpa membawa tas. Gadis yang tampak malas itu lalu mengambil buku paling atas dari setumpuk buku yang telah disiapkan oleh Ricky.


"Aku tinggal baca ini, kan?" tanya Nisa yang kemudian tak mendapat respons apa-apa dari Ricky. "Hei! Jawab aku!"


"Eh, i-iya! Baca dan pahamilah dulu. Tapi emm ... kamu ganti warna rambut?" tanya Ricky sambil menunjuk ke arah rambut panjang Nisa yang tergerai, rambut yang kemarin berwarna merah itu kini telah berubah menjadi perak.


"Iya, emangnya kenapa? Apa warna rambutku mengganggumu?" tanya Nisa dengan nada seakan menantang.


"Nggak juga sih, cuma heran. Perasaan ... semalam warna rambutmu masih merah."


"Hei, soal semalam nggak lapor ke siapa-siapa, kan?" tanya Nisa sambil melotot.


"Mereka masih hidup dan perlu pertolongan segera, jadi aku telepon ambulans. Tapi tenang, aku sama sekali nggak sebut soal keterlibatanmu."


"Ohh ... berhentilah sok baik, mereka itu orang-orang jahat, untuk apa menolong mereka? Mereka bahkan bukan kenalanmu, kenapa harus peduli? Sekalipun mereka mati, orang-orang juga akan bersyukur atas kematian mereka." ucap Nisa dengan senyum sinis.


"Mana boleh bicara begitu?!" bantah Ricky seakan merasa tersinggung. "Aku tahu kalau mereka punya niat jahat ke kamu, mereka juga telah banyak melakukan hal yang sama jahatnya ke orang lain. Tapi sejahat apa pun mereka, kalau kondisinya buruk maka mereka juga berhak mendapat pengobatan, lagi pula ada pihak berwajib yang lebih berhak mengadili mereka."


"Cih, bicaramu itu mirip dokter."


"Aku memang ... lupakan! Cepat lanjut belajar!"


Aku kelepasan, semoga saja dia nggak curiga, yang dia tahu pasti mengira kalau aku akan jadi guru.


"Dasar aneh," gumam Nisa yang kemudian melanjutkan membaca.


Semalam aku terlambat pulang, jadi supaya nggak kena omel aku mampir ke salon buat semir rambut sebagai alasan. Terlebih lagi ini ada manfaatnya juga untuk mengecoh para pembunuh bayaran yang sampai saat ini masih mengincarku, bahkan jika mereka punya informasi terbaru, yang akan mereka tahu adalah warna rambutku yang warna merah.


Nisa membaca materi secara di dalam hati. Tetapi saat ini Ricky justru masih terpikirkan soal warna rambut Nisa. Kemudian dia berkata, "Emm ... Nisa, kali ini kamu mewarnai rambut untuk yang ke berapa kalinya?"


"Entah, aku lupa." jawab Nisa yang pandangan matanya tak lepas dari halaman buku.


"Jadi sudah sering! Lalu apa warna rambutmu sebelum berubah jadi merah?"


"Pirang."


"Pirang?!" Ricky terkesiap.


"Kenapa tanya soal rambut terus sih? Mau jadi hair stylist atau jadi pembimbing materi?!" tanya Nisa penuh kekesalan. Tetapi kemudian Ricky justru membisu, menyadari hal itu Nisa langsung berdecak kesal dan kembali melanjutkan membaca.


Ricky diam karena memikirkan tentang sesuatu, dia kembali memikirkan soal kejadian dirinya yang pernah menyerempet seorang gadis berambut pirang. Awalnya dia mengira bahwa gadis itu adalah Alina, tetapi sekarang dia berpikir bahwa ada kemungkinan juga bahwa Nisa adalah gadis yang sebenarnya.


Ricky yang dilanda kebingungan lalu berkata, "Nisa, apa kamu masih ingat hari pertama aku datang ke sekolah ini?"

__ADS_1


"Masih. Memangnya kenapa? Aku nggak mau ya kalau diajak mengenang kenangan buruk!"


"Bukan begitu! Siapa juga yang mau mengenang kenangan bersamamu?! Tapi saat itu aku lihat di pipimu ada plester, kamu terluka karena apa? Apa karena kecelakaan di jalan raya?"


"Eh!?" seketika Nisa menoleh ke arah Ricky dan menatapnya dengan tatapan heran. "Kok tau? Apa saat itu kamu juga ada di sana?"


"Tunggu dulu, jawab pertanyaanku sekali lagi. Apa saat kejadian itu rambutmu masih berwarna pirang?" tanya Ricky dengan ekspresi serius.


"Iya." jawab Nisa spontan.


"Astagaaa ... jadi benar!" Ricky mengusap wajahnya dengan kasar lalu mengatur napas. "Nisa, sebenarnya aku yang menyetir mobil itu! Tapi ini juga salahmu sendiri, padahal lampunya sudah berubah, tapi kamu malah menyeberang!"


"Serius?! Wah wah ... takdirku memang sial bertemu denganmu."


"Harusnya aku yang bilang begitu! Yang sering buat masalah itu kamu!" ucap Ricky seakan tidak terima.


"Aku buat masalah apa hubungannya denganmu? Memangnya aku menyusahkanmu?" tanya Nisa dengan alis terangkat sebelah.


"Iya, kamu itu menyusahkan! Aku sampai pusing cari siapa yang aku serempet! Petunjuk yang aku punya cuma seragam sekolah sama warna rambut! Tapi kamu juga aneh, kenapa waktu aku turun dari mobil kamu nya malah kabur?"


"Aku nggak mau ribet, toh aku juga cuma lecet sedikit. Kalau aku tetap di sana dan ada banyak orang yang berkerumun, otomatis akan mengundang perhatian polisi. Aku malas berurusan dengan polisi." Nisa lalu memalingkan wajahnya.


Terlebih lagi polisi juga sudah mencurigaiku soal kerusuhan geng motor yang belakang terjadi. Sialnya ayah tahu, jadinya motorku sampai sekarang masih disita. Aku benci ini, ayahku sendiri menyuruh orang untuk selalu mengawasiku.


"Hemm ... masuk akal juga alasanmu, tapi tetap saja kamu itu menyusahkan. Terlebih lagi dengan kamu yang gonta-ganti warna rambut, saranku jangan lakukan itu lagi!" ucap Ricky penuh penekanan.


"Hah? Memangnya kalau gonta-ganti warna rambut aku akan cepat mati?" tanya Nisa dengan nada meremehkan.


"Jangan bercanda!" bantah Nisa.


"Aku serius, dan itu sudah terbukti dengan penelitian. Di dalam cat rambut terdapat zat kimia paraphenylenediamine atau PPD. PPD sebelumnya telah dilarang di Perancis, Jerman, dan Swedia, dan sebuah studi Amerika Serikat telah menghubungkan paparan untuk itu untuk peningkatan tingkat kanker. Selain kanker, kamu juga bisa terkena iritasi mata dan kulit kepala, lalu alergi, rambut rusak, buruknya lagi jika terserap ke aliran darah bisa menyebabkan kelainan pada janin."


Seketika Nisa tertegun, yang terlintas di pikirannya saat ini hanyalah penyakit kanker. Dia berandai terkena kanker, membayangkan rambutnya yang indah suatu saat nanti hanya tinggal kenangan akibat penyakit kanker yang membuatnya botak.


Di satu sisi Ricky juga diam saat melihat Nisa yang termenung. Saat itu juga Ricky menyadari sebuah bekas luka kecil di pipi Nisa, luka yang disebabkan oleh dirinya. Tanpa sadar sebelah tangan Ricky maju, meraih wajah Nisa serta mengusap bekas luka itu.


KLAKK!


Pintu mendadak dibuka dan seorang gadis yang terlihat membawa minuman melangkah masuk ke dalam, gadis itu tidak lain adalah Alina. Menyadari hal itu itu seketika membuat Ricky menarik tangannya kembali, sedangkan Nisa langsung menoleh dan berhenti membayangkan soal kanker.


"Permisi, aku datang kemari karena bawa minuman buat Kak Ricky!" ucap Alina dengan senyuman sambil meletakkan sebotol air minuman di meja.


"Oh, terima kasih. Tapi sebelumnya kenapa nggak ketuk pintu dulu?" tanya Ricky dengan tatapan dingin. Pandangannya kepada Alina telah berubah, dia sebelumnya bersikap ramah kepada Alina karena salah mengira bahwa Alina adalah orang yang dia serempet. Tetapi sekarang dia sudah tahu siapa sebenarnya orang yang dia cari-cari.


"Emm ... maaf soal itu. Lain kali aku janji nggak akan mengulangi lagi." jawab Alina malu-malu.


"Lain kali? Lain kali masih mau antar minum? Latihan jadi office girl?" tanya Nisa seakan meremehkan.


"Apa sih kamu?! Aku sedang malas ribut sama kamu!" ucap Alina dengan tatapan garang.

__ADS_1


"Kalau malas, cepat pergi sana!"


"Cukup, Nisa ...!" ucap Ricky yang kemudian menatap ke arah Alina. "Apa kamu ada keperluan lain?"


Mendadak Alina menunduk. "Anu ... itu Kak, sebenarnya aku ada maksud mau minta nomor hp Kak Ricky. Bolehkah?"


"Maaf, aku menolak. Dan untuk selanjutnya, jangan antarkan minuman lagi!" jawab Ricky dengan ekspresi dingin.


"Eh ...?!" Alina yang mengagumi Ricky mendadak merasa canggung, sebelumnya dia berpikir bahwa Ricky akan mau memberikan nomor teleponnya. "A-aku minta bukan untuk yang aneh-aneh kok, Kak! Aku cuma ... cuma mau konsultasi seputar materi lomba kimia. Barang kali Kak Ricky bisa membantu."


"Setiap kandidat punya pembimbing sendiri-sendiri, kalau kamu kesulitan maka konsultasi saja ke pembimbingmu. Aku yakin soal lomba OSN setingkat SMA masih bisa diselesaikan oleh guru pengampu."


"O-ohh ... begitu ya, maaf mengganggu waktunya." Alina pergi dengan wajahnya yang memerah karena malu telah ditolak mentah-mentah oleh Ricky.


Di sisi lain Nisa yang licik menyadari hal itu, dia mengeluarkan ponselnya lalu menyodorkannya kepada Ricky.


"Minta nomornya, dong~"


"Hmm ..." Ricky mengernyit, beberapa saat kemudian dia meraih ponsel Nisa, dengan cepat memasukkan nomornya ke daftar kontak lalu mengembalikan ponsel tersebut. "Sudah, tapi hubungi aku cuma kalau mau konsultasi masalah materi. Jangan aneh-aneh misalnya kirim video porno!"


"Hehe, nggak kok~ Aku cuma mau perhitungan, kita harus bahas biaya ganti rugi karena Senpai membuat wajah cantikku tergores!"


"Apa?! Jadi kamu mau memerasku?!" Ricky terkesiap.


"Siapa bilang aku perlu uang?"


"Kalau bukan uang maka apa?!"


"Entah, tapi sebelum itu mari hitung kerugianku dulu. Pertama biaya laundry karena seragam sekolahku kotor, lalu wajahku tergores, terakhir kerugian psikis!"


Ricky ternganga. "Psikis? Pasti bohong! Mana mungkin kamu jadi aneh setelah aku serempet?! Pasti kamu itu aneh karena bawaan dari lahir!"


"Sembarangan! Pokoknya tanggung jawab! Kalau nggak, bakal aku tuntut! Tapi aku nggak mau kalau uang!" Nisa bersedekap sambil memalingkan wajahnya.


"Lalu kamu maunya apa?!"


"Pikir saja sendiri!"


"..." Ricky frustrasi, sejenak dia tertegun kemudian beberapa saat kemudian berkata. "Bagaimana kalau ganti ruginya ditunda? Kamu pikir dulu, kalau sudah tahu bilang ke aku."


"Sekarang aku tahu, aku mau kamu jadi budakku!"


"Itu nggak sepadan! Kalau minta yang masuk akal!" bantah Ricky.


"Emm ... sekarang aku belum kepikiran apa-apa. Tapi lain kali janji ya harus dipenuhi!" pinta Nisa seakan memaksa.


"Iyaa ... janji! Sekarang cepat belajar!"


"Baik, kalau begini kan asik~" ucap Nisa sambil membalik halaman buku selanjutnya.

__ADS_1


"..."


Bodohnya aku, harusnya aku jangan mengaku kalau aku telah menyerempetnya. Aku punya firasat buruk soal apa yang akan dia minta.


__ADS_2