Trouble Lady (Project Of Love)

Trouble Lady (Project Of Love)
Bab 27. Tsundere


__ADS_3

Pesta cocktail telah usai, tentu saja pengalaman ini sangat berkesan bagi Nisa karena dia akhirnya bisa berbincang dengan idolanya. Namun justru berbanding terbalik dengan Ricky, dia semakin bingung tentang bagaimana cara agar dia dapat memperoleh kepercayaan dari Nisa seutuhnya.


Saat keduanya sudah di rumah masing-masing, Ricky yang baru sampai di apartemennya tiba-tiba mendapat sebuah panggilan telepon masuk.


"Ck, siapa sih?" gumam Ricky dengan nada kesal.


Ricky kemudian mengecek siapa yang meneleponnya, dia kaget saat mengetahui bahwa orang tersebut adalah kepala sekolah SMA Langit Biru. Ricky panik dan segera mengangkat panggilan telepon itu.


"Halo Pak, ada apa telepon malam-malam begini?" tanya Ricky.


"Sebelumnya maaf karena meneleponmu malam-malam, tapi aku punya pemberitahuan penting untukmu. Kamu ingat kan soal hadiah 3 besar kelas yang memenangkan pekan olahraga?"


"Iya, memangnya kenapa?" tanya Ricky penasaran.


"Soal karyawisata ke pantai telah ditetapkan esok hari. Kamu juga ikutlah!"


"Apa?!" Ricky terkesiap dan untuk sejenak dia termenung. "Pak kepsek nggak salah, kan? Bukannya karyawisata hanya diperuntukkan bagi mereka yang berasal dari 3 besar kelas yang juara pekan olahraga? Secara resmi aku bahkan bukan bagian dari warga sekolah, atas dasar apa aku harus ikut? Apa anggapan murid-murid lain nanti?"


"Itu mudah saja, identitasmu kan sudah dipalsukan menjadi kerabatku. Kalau kamu ditanya maka tinggal jawab saja seperti itu, mereka pasti akan paham. Lagi pula ini juga mempermudah tugasmu, semakin banyak waktu yang kamu habiskan dengan subjek, semakin cepat juga proyek ini akan berakhir."


"Tapi Pak ..."


TUT TUT TUT ...


"Sial!" Ricky berdecak kesal karena belum sempat dia bicara tetapi kepala sekolah sudah memutus panggilan telepon itu.


"Hahh ... Kenapa harus besok? Ini sama saja artinya aku nggak punya waktu buat istirahat. Terlebih lagi aku belum punya persiapan apa-apa untuk karyawisata."


Ini memang kesempatan yang bagus untuk mengawasi Nisa. Tapi ... Nisa itu juga bukan orang yang bodoh, takutnya dia agan curiga kalau pertemuanku dengannya terlalu banyak.


"Ck, masa bodoh! Toh kepala sekolah pasti juga sudah minta persetujuan dari profesor."


***


Hari berganti, hari di mana keberangkatan karyawisata telah tiba. Pagi ini ketika waktu masih menunjukkan pukul 06:30 tiba-tiba ada yang memencet tombol bel pintu apartemen Ricky.


Ricky yang saat ini tengah menata barang-barang di koper kaget mendengar bel pintu berbunyi, dia segera meninggalkan kamar dan menuju ke arah pintu. Ketika dia membuka pintu tersebut, dia sangat terkejut karena melihat Aslan yang memakai kacamata hitam dan juga membawa koper bersamanya.


"Ngapain?! Habis minggat dari rumah terus mau nginep di sini?! Pokoknya nggak boleh! Aku bakal nggak ada di sini selama 3 hari!" teriak Ricky penuh kekesalan terhadap temannya itu.


"Aku ikut, mau liburan ke pantai, kan?" tanya Aslan dengan senyuman.


"Hei, siapa juga yang mengajakmu?! Toh bukannya aneh kalau kamu yang bukan siapa-siapa tapi malah ikut pergi ke karyawisata?"


"Nggak aneh kok, kamu kan sudah dianggap jadi kerabatnya kepala sekolah. Kalau ditanya bilang saja kamu itu keponakannya yang tersayang, tapi kamu canggung kalau berangkat sendirian, jadi kamu ajak aku untuk menemanimu~ Bohong sekali-kali gapapa lah, kita kan best friend forever~"


"Tapi 3 hari loh, As! Kamu nggak takut kalau dimarahi profesor?"


"Justru aku ikut gara-gara disuruh ayahku! Ayahku minta agar aku membantumu."


Sejenak Ricky tertegun, kemudian membalikkan badannya dan menghela napas. "Masuklah! Bantu apanya? Toh paling mau bantu gara-gara sekalian pengen ikut liburan!"


"Hehe, tau aja. Memang soul mate ku~" Aslan terkekeh.


"Najis! Aku nggak mau jadi belahan jiwamu!"


Aslan kemudian mengikuti Ricky yang menuju ke kamarnya. Namun di satu sisi Ricky tampak berekspresi masam saat melanjutkan menata barang-barangnya di koper.


Aslan yang menyadari hal itu kemudian berkata, "Kenapa? Nggak suka kalau aku ikut? Takut aku mengganggumu?"


"Ganggu aku soal apa?" tanya Ricky tanpa melihat ke arah Aslan.


"Soal ... N-I-S-A!"


"Hah?!" Ricky terkesiap dan menatap Aslan dengan tatapan tidak percaya. "Nisa? Apa hubungannya dengan dia? Jangan bilang kalau kamu pikir aku suka sama dia!"


"Memangnya enggak? Dia itu cantik, manis, pintar, toh kalau aku perhatikan dia juga satu-satunya cewek yang dekat denganmu. Dengan cewek seperti itu yang sering menghabiskan waktu bersamamu bukannya kamu punya perasaan untuknya?"

__ADS_1


"Pffttt ... hahaha! Perasaan apanya? Lihatlah umurku lalu bandingkan dengannya! Dia lebih cocok jadi adikku dibanding jadi pacarku!"


"Hei-hei, cinta itu nggak pandang umur. Lagi pula umur kalian cuma terpaut 4 tahun, ada tuh pasangan yang terpaut 10 tahun, bahkan 20 tahun juga ada. Tapi ... kamu serius nggak tertarik sedikit pun sama Nisa?"


"Iya, serius." jawab Ricky dengan nada malas.


"Kalau begitu dia buatku, ya!"


"Jangan!" teriak Ricky secara spontan.


"Tadi katanya nggak tertarik, gimana sih? Jadi orang jangan plin-plan dong!" ucap Aslan dengan tatapan tidak suka.


"Aku nggak plin-plan, tapi ini demi kebaikanmu. Lagi pula sejak kapan kamu suka sama Nisa?" tanya Ricky terheran-heran.


"Aku belum benar-benar suka, tapi baru tertarik. Alasanku kenapa aku bisa tertarik kan sudah kubilang tadi, dia cantik, apalagi pas senyum, tambah manis~ Dia juga pencinta kucing dan nilai plus nya, Elizabeth nyaman saat bersamanya. Tapi pikirkan lagi keuntungan lainnya, jika saatnya nanti tiba saat dia tahu tentang kebenaran penelitian ayahku, kemungkinan besar dia akan marah, tapi jika aku jadi pacarnya atau punya hubungan spesial dengannya, mungkin saja dia akan memaafkan kita yang telah membuatnya terpaksa jadi subjek penelitian."


Ricky menghela napas. "Memang bagus kalau akhirnya dia memaafkan kita. Tapi sepertinya jangan terlalu berharap, Nisa itu orangnya sulit ditebak, menurutmu dia manis tapi kelakuannya itu melebihi iblis! Dia itu tukang bully dan pembuat masalah di sekolah, jadi saranku jangan jadikan dia pacar!"


Terlebih lagi dia juga nggak suka sama kamu, aku pernah tanya saat menjemputnya untuk makan malam saat itu. Aku mau bilang, tapi aku nggak mau melukai perasaanmu.


"Masa sih? Masa Nisa sejahat itu?" tanya Aslan seakan tidak percaya.


"Heh, lihat sendiri nanti! Jangan kaget dengan sifat aslinya!"


***


Jam 8 pagi tepat, semua siswa yang akan mengikuti karyawisata sudah berkumpul di auditorium. Namun tidak semua siswa SMA Langit Biru turut berpartisipasi, hanya 3 kelas terpilih sebagai pemenang lomba pekan olahraga, lebih tepatnya kelas XII A, XII C dan kelas XII F.


Yang akan mengikuti karyawisata spesial ini bukan cuma siswa, tetapi wali kelas dari masing-masing kelas juga ikut untuk berperan sebagai penanggung jawab serta mengawasi anak didiknya. Mereka semua berkumpul di auditorium untuk mengabsen seluruh perserta, kepala sekolah selaku pembicara juga menyampaikan tentang agenda kegiatan.


Kegiatan di auditorium telah usai, bus pariwisata juga telah sampai. Totalnya ada buah 3 bus, 1 bus untuk setiap kelas. Bus nomor 1 untuk kelas XII A, nomor 2 untuk kelas XII C dan nomor 3 untuk kelas XII F. Setiap murid boleh menentukan pasangan duduk masing-masing. Dan tentu saja yang paling mendominasi adalah Nisa, dia dengan seenaknya memerintahkan budaknya paling setia, yaitu Amien untuk membawakan barang bawaannya.


Para siswa naik dengan tertib, tapi begitu Nisa naik, dia langsung menyeret Amien untuk menemaninya duduk di kursi paling belakang.


"K-kita mau ke mana?" tanya Amien yang terlihat kewalahan dengan barang bawaannya sendiri dan barang milik Nisa.


Nisa terus berjalan menuju kursi paling belakang, namun begitu sampai di sana, dia teramat sangat terkejut bahkan sampai mengucek kedua matanya. Bagaimana tidak? Dia melihat 2 laki-laki yang sudah tak asing lagi baginya, yang tidak lain adalah Ricky dan Aslan.


"Hai~" sapa Aslan sambil melambaikan tangannya. Namun di sisi lain Ricky sama sekali tidak memberi respons apa pun.


"Kenapa kalian bisa ada di sini? Kalian berdua mau ikut karyawisata?!" tanya Nisa yang kemudian membuat murid-murid lain menengok ke belakang, mereka semua menatap heran Ricky dan Aslan.


"Iya ikut, aku ikut karena diajak Ricky, dia itu kan keponakan tersayangnya kepala sekolah." Aslan tersenyum licik sambil melirik ke arah Ricky.


"Jangan protes kalau aku dan Aslan ikut, toh semua wali kelas juga sudah diberitahu, dan nggak ada yang keberatan kalau aku ikut." ucap Ricky dengan nada malas.


"Cih, nepotisme." gumam Nisa yang kemudian mendadak menepuk pundak Ricky dan Aslan. "Kalian berdua cepat pindah! Kursi paling belakang adalah milikku."


Ricky kemudian menepis tangan Nisa dari pundaknya. "Memangnya kamu yang punya bus ini? Nggak kan? Toh kursinya ada 5, kalau kamu mau duduk di sini masih muat. Duduk di pinggir sana!"


"Aku nggak mau! Aku nggak suka duduk di pinggir! Aku maunya duduk di tengah!" ucap Nisa sambil melotot.


Tiba-tiba saja Aslan bergeser ke pinggir, lalu menepuk kursi bekasnya itu sambil tersenyum canggung. "Ini kursi tengah, ayo duduk sini!"


Nisa diam seribu bahasa, sejenak dia tertegun lalu akhirnya dia pasrah untuk duduk di antara Aslan dan Ricky. Di sisi lain Amien juga ikut duduk di sana meskipun di pinggir karena mematuhi perintah Nisa.


Tak lama kemudian semua sudah dipastikan naik ke bus, lalu bus pun berjalan. Belum lama bus berjalan, tiba-tiba saja Nisa berkata. "Ikan, aku mau makan keripik!"


"B-baik Nyonya." Amien kelabakan dan langsung mencari-cari makanan ringan berupa keripik lalu menyerahkan keripik itu kepada Nisa. "Silakan ..."


"Budak yang baik~" ucap Nisa tanpa beban.


Di sisi lain Aslan yang baru mengetahui sifat Nisa yang seperti itu langsung ternganga dan menatap Ricky tanpa berkedip. Dia sadar bahwa yang dibilang oleh Ricky adalah kenyataan bahwa Nisa memiliki sikap yang buruk.


Ricky menyeringai, "Kan sudah aku bilang." gumamnya.


"Bagaimana kabarnya Elizabeth?" tanya Nisa secara tiba-tiba yang membuat Aslan terkejut.

__ADS_1


"Eli baik-baik saja," jawab Aslan dengan senyuman.


"Kamu nggak bawa dia buat ikut piknik. Lalu siapa yang akan mengurusnya saat kamu nggak ada?"


"Haha, ibuku yang mengurusnya."


Nisa dan Aslan terus berbincang dan membahas tentang Elizabeth di sepanjang perjalanan. Di sisi lain ada orang yang terganggu dengan itu, orang itu tidak lain adalah Ricky. Dia bukan hanya tidak suka Elizabeth, tapi kepada segala jenis kucing.


Amien yang menyadari bahwa Ricky sedang merasa kelas mendadak menyodorkan sebungkus camilan berupa kacang kepada Ricky. "Kak Ricky mau?"


"Makasih atas tawarannya, tapi nggak usah." jawab Ricky.


Ricky semakin muak saat mendengar perbincangan tentang Elizabeth maupun seputar tentang kucing tiada habisnya. Namun perbincangan itu semakin lama semakin membosankan, lalu Nisa tiba-tiba saja menguap.


"Hoamm ..." Nisa lalu mengucek matanya dan sepenuhnya menyandarkan kepalanya.


"Kamu ngantuk?" tanya Aslan.


"Semalam begadang sampai jam 3 pagi, haha." jawab Nisa sambil mengangguk.


"Oh, kalau mau tidur, tidur saja gapapa. Tenang saja, aku janji nggak akan memotretmu diam-diam saat kamu tidur haha."


"Heh, awas saja kalau berani!"


"Memangnya siapa juga yang mau mengambil gambarmu?" tanya Ricky dengan nada meremehkan.


"Apa sih?"


Ricky lalu memalingkan wajahnya seakan tidak peduli. Nisa yang juga mengabaikan hal itu tak lama kemudian telah tertidur. Nisa terlihat tidur begitu tenang dan begitu nyaman.


"Rick!" Panggil Aslan dengan suara pelan.


"Hm?" Ricky menoleh.


"Lihat dia, kalau diperhatikan dia itu manis."


"Itu kan menurutmu," Ricky lalu memalingkan wajahnya.


Tiba-tiba saja bus yang mereka tunggangi berbelok di tikungan tajam, Nisa yang tertidur lelap tanpa sadar tubuhnya terpelanting pelan dan alhasil kepalanya berubah bersandar pada bahu Aslan.


"Eh?!" Aslan terkesiap.


Namun tiba-tiba saja sebelah tangan Nisa bergerak dan tangan itu mendarat di dada Aslan. Aslan semakin terkejut ketika tangan Nisa tersebut mengusapnya dengan lembut.


"Eli ... lembut ..."


Wajah Aslan seketika memerah, bahkan dia terhibur karena merasa lucu bahwa Nisa mengigau tentang kucingnya.


Di sisi lain tenyata Ricky menyadari hal itu, dia merasa sangat kesal lalu menarik tangan Nisa agar berhenti mengusap dada Aslan.


"Kenapa? Cemburu?" tanya Aslan.


"Nggak, siapa juga yang cemburu? Ini termasuk pelecehan tahu, kamu jangan mau-mau saja disentuh seperti itu!"


"Aku nggak merasa dilecehkan tuh," tiba-tiba Aslan merangkul tubuh Nisa. "Gimana menurutmu? Kami sangat cocok, kan?"


"Dasar gila, sama sekali nggak cocok!"


"Heh, dasar tsundere!" tiba-tiba saja Aslan memindahkan posisi Nisa untuk berganti bersandar pada Ricky.


"H-heii! Apa yang kamu lakukan hah?!" bentak Ricky dengan wajah yang memerah.


"Ssttt ... jangan keras-keras, nanti dia bangun. Aku ini teman yang baik karena membantumu, semoga berhasil dan perasaanmu terbalaskan!"


"Sembarangan! Aku nggak punya perasaan apa pun untuknya! Bukannya kamu sendiri yang tertarik padanya?!"


Kedua orang itu terus saling mengejek dan memaki dengan suara pelan. Di sisi lain masih ada Amien yang seakan-akan terasingkan, dia hanya diam dan terus memakan camilan yang telah dia bawa.

__ADS_1


Hiks ... sepertinya aku telah berada di tempat yang salah.


__ADS_2