
Pramusaji yang menyadari bahwa Nisa dan Ricky sama-sama tersedak langsung berinisiatif menuangkan air untuk mereka. Ketika mereka berdua sudah merasa lebih baik, mereka lalu sama-sama menatap manajer restoran tersebut.
"Kami bukan pasangan!" ucap Ricky.
"B-begitu ya, tapi tidak apa-apa. Hidangan ini tetap diberikan untuk kalian sebagai bentuk terima kasih kami." ucap manajer itu.
Ricky dan Nisa hanya bisa membisu saat melihat manajer restoran yang sangat bersikeras. Para pramusaji juga menuruti perintah manajer agar menghidangkan makanan tersebut di meja makan.
"Saya permisi, jika Tuan dan Nona ada perlu sesuatu maka tinggal bilang saja, kami akan sepenuh hati memenuhinya." Manajer restoran dan beberapa pramusaji itu langsung pergi meninggalkan Ricky dan Nisa.
"Hah ..." Nisa menghela napas dan menatap jenuh hidangan yang jumlahnya banyak di meja makannya. "Seleraku hilang, aku muak melihat semua makanan ini."
"Jangan mengeluh di depan makanan, kalau nggak suka nggak perlu dimakan. Dan jangan mengomentari makanan dengan komentar berisi hinaan, kasihan yang sudah membuatnya." ucap Ricky dengan sorot mata yang dingin.
"Buat apa kasihan? Toh mereka dibayar."
"Jangan berpikir kalau bekerja itu cuma untuk uang. Kalau bekerja bukan termotivasi karena uang, bekerjanya akan lebih tulus. Inilah yang membuat seseorang bahagia dalam pekerjaannya. Jadi belajarlah menghargai pekerjaan orang lain, juga belajarlah kendalikan ucapanmu."
"Humph!" Nisa memalingkan wajahnya.
Apaan sih? Aku nggak suka! Tiap bertemu dengannya pasti selalu bahas belajar, belajar, belajar! Belajar materi, belajar bicara, belajar etika, lama-lama aku bisa gila karena belajar!
Tiba-tiba saja ada yang mendekat ke arah mereka berdua, yaitu Fiona, Felix dan seseorang wanita berpenampilan glamor yang tampaknya adalah ibu mereka.
"Hai, Kakak peri dan Kakak pengrajin sepatu!" sapa Fiona dan Felix bersamaan.
Tanpa basa-basi apa pun wanita yang bersama dengan bocah kembar itu meletakkan selembar cek kosong di depan Ricky. "Tulis berapa pun yang kau mau! Ajari anak-anakku bermain piano!"
Ricky dan Nisa melongo, mereka berdua masih berusaha mencerna perkataan yang wanita barusan itu katakan.
Ricky menghela napas, lalu menyodorkan kembali cek kosong itu kepada wanita tersebut. "Maaf, tapi saya tidak membuka jasa kursus les piano."
Aku nggak habis pikir, padahal aku ini aslinya calon dokter yang ahli membedah manusia, lalu pura-pura mau jadi guru demi proyek penelitian, dan sekarang malah diminta jadi guru les piano.
"Apa katamu?! Kau berani menolakku?! Aku menawarkan dengan baik-baik, tapi bocah sepertimu malah sok jual mahal!" teriak wanita itu seakan tidak terima, dan teriakannya kemudian mengundang perhatian dari tamu-tamu lain.
Ricky lalu berdiri. "Saya telah menolak dengan cara baik-baik, saya juga bukan sok jual mahal, jika Anda keberatan maka itu bukan urusan saya!"
"Kau menantangku?! Asal kau tahu ya, suamiku adalah pemilik perusahaan garmen terbesar di kota ini! Kalau aku mau, maka aku bisa saja ..."
"Hei Tante rempong!" panggil Nisa secara tiba-tiba yang membuat perhatian Ricky dan wanita itu beralih kepadanya. "Dia sudah bilang kalau dia nggak mau! Jangan memaksanya lagi!"
Nisa tiba-tiba mengambil sebuah pisau steak dan memasang senyum sinis kepada kedua bocah kembar yang manis itu. "Jangan panggil aku kakak peri lagi ya~ Soalnya aku ini sebenarnya jelmaan iblis~"
Sontak saja Fiona dan Felix ketakutan, mereka langsung memeluk erat ibunya. "Mama, ayo pergi! Fiona tidak jadi belajar piano!"
"Felix juga, Ma! Felix tidak mau belajar piano!"
"I-iya sayang, ayo pergi dari sini!" Wanita itu pun segera pergi bersama dengan kedua anaknya, bahkan sebelum pergi dia juga masih sempat untuk melotot kepada Nisa.
"Huh!" Ricky mendengus kesal lalu kembali duduk.
"Apa sekarang masih selera buat makan?" tanya Nisa.
"Nggak! Caramu mengusirnya memang efektif, tapi itu sedikit berlebihan."
"Haha, mau bagaimana lagi? Anak-anaknya imut, tapi induk mereka bagaikan T-rex! Nah, sekarang kita sama-sama nggak selera makan. Ayo pergi dari sini!"
"Baiklah, ayo pergi!"
Nisa dan Ricky kemudian meninggalkan restoran tersebut. Ketika di dalam mobil yang dalam perjalanan pulang, mereka berdua sama sekali tidak berbicara tentang apa pun.
Ketika Nisa menyadari dia semakin dekat dengan rumahnya, mendadak dia berkata. "Tunggu dulu! Hentikan mobilnya!"
__ADS_1
Seketika Ricky mengurangi kecepatan mobil dan menepi untuk memberhentikan mobilnya. "Ada apa?"
"Aku turun di sini, kita berpisah di sini!" Nisa hendak membuka pintu mobil namun tangannya ditahan oleh Ricky.
"Apa maksudmu? Ini sudah setengah perjalanan menuju ke rumahmu."
"Pokoknya aku belum mau pulang, aku masih mau main!" Nisa menepis tangan Ricky lalu bergegas untuk turun dari mobil.
"Tunggu! Kamu mau ke mana?!" Ricky juga turun dari mobil dan berlari mengejar Nisa yang belum jauh dari sana.
Nisa yang berhasil tertangkap lalu membalikkan badannya. "Apa sih? Keperluanmu denganku sudah berakhir! Lepas, aku mau main sendiri!"
"Nggak boleh! Ini sudah malam! Pokoknya kamu nggak boleh sendirian!" teriak Ricky yang semakin erat menggenggam tangan Nisa.
"Hah? Aku sudah sering keluar malam sendirian! Memangnya apa urusanmu?"
"Jelas urusanku! Kamu keluar dari rumah bersamaku, pulang ke rumah juga harus bersamaku! Ini tanggung jawabku agar kamu pulang dengan selamat!"
"Tanggung jawab?" Nisa kebingungan.
"Iya, aku keluar bawa anak orang. Tentu aku yang bertanggung jawab! Oke kalau kamu belum mau pulang sekarang, kamu mau ke mana? Aku antar!"
Sejenak Nisa tertegun, kemudian dia tersenyum kecil. "Haha, bodohnya aku. Aku bisa lupa kalau kamu ini adalah orang baik-baik. Ya sudah kalau memang mau bertanggung jawab, antar aku ke tempat yang aku mau!"
"Ke mana?"
"Naik ke mobil dulu, nanti aku beritahu!"
Ricky hanya bisa pasrah menuruti keinginan Nisa. Tetapi ketika dia menyalakan mobil, Nisa justru memintanya untuk putar balik. Ternyata tempat yang ingin didatangi oleh Nisa adalah sebuah kafe, kafe yang sudah menjadi tempat langganannya.
Ketika mereka akan turun dari mobil, Ricky tiba-tiba berkata, "Tunggu sebentar!"
"Apa?" tanya Nisa dengan nada malas.
Tiba-tiba Ricky melepaskan tuxedo nya, juga melepas dasi kupu-kupu dari kerah kemejanya. Penampilannya sekarang menjadi jauh lebih santai dibanding sebelumnya yang terkesan formal. Ricky lalu menyodorkan tuxedo miliknya ke arah Nisa. "Dress yang kamu pakai lengannya pendek, pakai ini supaya nggak kedinginan! Awas kalau nanti kamu sakit!"
"Karena aku ini dok ... Em, maksudku kalau kamu sakit kamu bakal susah buat belajar! Dan itu juga menyusahkanku sebagai pembimbingmu!"
Sial, aku hampir kelepasan soal identitasku.
"Ini yang aku benci. Bisa nggak sih jangan bahas soal belajar? Aku ini main karena mau melepas penat, tapi tiap kali bersamamu pasti selalu mengungkit belajar, belajar, dan belajar!"
"Belajar itu penting, dan menuntut ilmu itu kewajiban manusia."
"Terserah! Pokoknya nanti bayar kopimu sendiri!" Nisa langsung turun dari mobil begitu saja tanpa menunggu Ricky.
"Hei, pakai ini dulu!"
Ketika berada di dalam kafe pun Nisa masih tidak bisa merasa santai, apalagi saat Ricky memakaikan tuxedo untuk menyelimuti dirinya. Orang lain yang berada di sana beranggapan bahwa mereka adalah sepasang kekasih yang sedang bertengkar.
Meskipun kopinya nikmat, Nisa tidak bisa menikmati kopi itu sepenuhnya. Dia merasa tidak nyaman dengan tatapan orang-orang di sekitarnya, bahkan dia juga mendengar orang-orang itu berbisik membicarakan yang tidak-tidak tentang dirinya.
"Besok pokoknya aku harus bersenang-senang!" gumam Nisa yang terdengar oleh Ricky.
"Besok ada apa? Kamu nggak belajar?"
"Ck, ingat hadiahku karena jadi Ratu? Aku dapat hadiah undangan ke pesta koktail. Pokoknya aku harus datang, aku mau berburu wine!" Nisa kemudian menunduk, "Tapi aku bingung, aku belum menemukan plus one untuk menemaniku. Kalau aku ajak keluargaku, aku bakal dilarang minum wine. Tapi kalau aku nggak ajak siapa-siapa, aku bakal dikira payah ..."
"Ajak saja temanmu! Oh iya, kamu kan nggak punya teman! Toh temanmu yang sering buat masalah bersamamu itu juga dapat undangan sendiri."
Nisa membisu dan menatap Ricky dengan tatapan dingin. Lalu Ricky kembali berkata, "Apa kamu mau ajak Aslan sebagai ganti hari ini karena kamu nggak jadi makan malam dengannya?"
"Nggak, dia sudah pernah batal janji denganku. Untuk ke depannya aku nggak mau buat janji apa pun dengannya kecuali itu tentang Eli!"
__ADS_1
"Oh, benar juga. Aslan cerita kalau kamu bisa kenal sama dia itu gara-gara kucing biadab itu!"
"Elizabeth bukan kucing biadab!"
"Kamu saja yang belum tahu kelakuannya, dia selalu mencakarku!"
"Haha, rasakan! Bahkan hewan saja tahu kalau kamu manusia yang nggak menyenangkan!"
"Kalau begitu ajari aku!"
"Eh, apa?!" Nisa ternganga.
"Ajari aku jadi orang yang menyenangkan!" Ricky lalu memalingkan wajahnya yang memerah. "Aku nggak maksa loh."
"Pffttt ... hahaha! Oke-oke, kalau begitu kamu saja yang jadi plus one ku! Besok malam akan aku ajari bersenang-senang di pesta!"
"Emm baiklah, tapi aku ingatkan, aku nggak minum alkohol!"
"Iya-iya tahu, kamu itu kan cupu! Kamu nanti minum mocktail!"
Suasana hati Nisa kembali membaik berkat perbincangan soal rencana pesta yang akan diadakan besok malam. Tanpa terasa sudah hampir 1 jam mereka di kafe, Nisa sudah merasa puas dan menuruti saran Ricky agar segera pulang.
Tagihan kafe sepenuhnya yang membayar adalah Ricky, karena Ricky membeli lagi segelas kopi dan makanan berupa kue untuk dibawa pulang. Ketika mereka sudah di luar kafe, tiba-tiba saja langkah Ricky terhenti.
"Eh, kenapa berhenti?" tanya Nisa yang kemudian memperhatikan ke arah mana Ricky melihat.
Yang dilihat oleh Ricky adalah seorang pria paruh baya tengah duduk di bangku yang berada di trotoar, di sampingnya terdapat tongkat, sedangkan kakinya tampak sudah tidak ada sebelah. Namun pria itu tidak sendiri, ada seorang bocah laki-laki yang ikut duduk bersamanya.
"Tunggu sebentar, Nisa."
Nisa Kebingungan karena Ricky tiba-tiba mendekati pria paruh baya itu, Ricky terlihat berbicara dengan mereka, Ricky juga memberikan kue serta kopi yang barusan dia beli di kafe kepada pria itu.
Tak lama kemudian Ricky kembali menghampiri Nisa, tampak senyum kepuasan di wajahnya.
"Kenapa? Sepertinya senang?" tanya Nisa.
"Yahh ... bukan apa-apa, tapi cobalah lihat mereka. Kita bisa melihat bahwa mereka adalah orang yang kekurangan, tapi mereka tetap tersenyum dalam keadaan seperti itu. Ternyata benar ya, bahagia itu tidak butuh harta." ucap Ricky dengan senyuman.
"Naif," ucap Nisa secara spontan.
"Apa kamu bilang?"
"Kamu cuma menilai apa yang kamu lihat saat ini di depanmu. Bahagia tidak butuh harta? Padahal mereka menangis sepanjang waktu karena tak punya, tapi sekali mereka tersenyum, seolah-olah orang-orang mengabadikan momen itu dan berkesimpulan bahwa bahagia tidak butuh harta." Nisa lalu tersenyum sinis.
"Sekarang coba kita balik. Orang yang berkecukupan selalu tersenyum sepanjang waktu, ketika sekali mereka bersedih, orang-orang juga mengabadikan momen itu dan menarik kesimpulan bahwa harta bukanlah segalanya. Ironi, tapi inilah kenyataannya."
"Kenapa cara berpikirmu negatif begitu?" tanya Ricky seakan tidak percaya.
"Aku bukan berpikir negatif, tapi inilah yang aku lihat. Aku belajar, dan seperti inilah caraku belajar, dengan melihat semuanya dengan mataku sendiri. Bukan sepertimu yang cuma belajar lewat buku. Tapi sampai sekarang aku juga belum mengerti, orang-orang seperti kita, apakah juga sudah termasuk bahagia?"
"Tergantung, baik miskin ataupun kaya, semuanya berhak bahagia. Terima kasih Nisa, baru sehari aku bermain bersamamu tapi aku sudah membuka pandangan baru."
"Pandangan baru soal apa?" tanya Nisa penasaran.
"Soal kebahagiaan. Ternyata salah jika menggunakan harta sebagai penentu kebahagiaan, jika yang dimaksud adalah kesenangan maka jawabannya adalah uang, sedangkan kebahagiaan itu pada dasarnya adalah bersyukur. Jika kita mensyukuri apa pun keadaan kita saat ini, itu sudah termasuk bahagia. Tapi ironisnya, hanya orang-orang tertentu yang mampu bersyukur."
"Hmm ... masuk akal."
Yang nggak masuk akal adalah aku yang bersyukur karena Aslan telah membatalkan janjinya denganku. Kalau Senpai, entah kenapa niatku untuk menjadikannya budak menjadi berkurang. Dia peduli, khawatir dan selalu menawarkan diri sebelum aku minta, ternyata seperti ini toh rasanya diperlukan dengan tulus. Kalau dia jadi budakku, ketulusan itu akan hilang.
"Ayo pulang!" ucap Ricky penuh semangat sampai tidak sadar tangannya sudah merangkul bahu Nisa.
"Eh?!" seketika Nisa menoleh dan menatap Ricky. Di satu sisi Ricky juga kaget dengan tindakan refleks yang barusan di lakukan.
__ADS_1
"Ahaha i-itu ... aku cuma mau ambil tuxedo ku kembali!" Ricky tersenyum canggung, dia salah tingkah dan segera mengambil tuxedo miliknya dari tubuh Nisa. "Huh, semoga nggak ada virus kebodohan yang menular darimu!"
"Dasar ... brengsek!!" teriak Nisa dengan wajah yang memerah.