
Malam hari, sekitar jam delapan malam suasana jalanan masih tampak banyak orang yang berlalu lalang, apalagi jika lokasinya berada di pusat kota. Malam ini Ricky ada keperluan ke supermarket yang berada di dekat apartemennya.
Saat perjalanan pulang, ketika Ricky berjalan di trotoar secara tak sengaja dari kejauhan dia melihat sosok yang tidak asing. Sosok itu tidak lain adalah teman semeja Nisa, yaitu Amien.
Amien juga terlihat sedang membawa kantong belanjaan, tetapi dia sedang dihadang oleh sekelompok remaja berpenampilan garang yang jumlahnya 4 orang.
"Apa dia dipalak?" gumam Ricky yang kemudian mencoba melangkah menghampiri Amien.
Baru beberapa langkah Ricky mendekat, tiba-tiba langkahnya terhenti. Dia berhenti lantaran kaget dengan apa yang dilihatnya. Para remaja berpenampilan sangar itu mendadak membungkukkan badan, bersimpuh dan bahkan menyalami tangan Amien. Setelah melakukan semua ini mereka segera berlari dan kabur dari sana.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" gumam Ricky yang sangat penasaran.
Ricky yang merasa heran sekaligus penasaran akhirnya memutuskan untuk tetap menghampiri Amien. Begitu sudah dekat Ricky pun berteriak, "Hei, tunggu sebentar!"
Seketika langkah Amien terhenti, dia kemudian berbalik dan menyapa orang yang meneriaki dirinya yang tidak lain adalah Ricky. "Hai, Kak Ricky! Kak Ricky habis dari belanja, ya?"
"Iya, kebetulan aku lihat kamu." jawab Ricky.
"Oh, kalau begitu yuk jalan bareng!" ajak Amien yang kemudian kembali berjalan santai dan diikuti oleh Ricky.
"Ehmm ... Kak Ricky, ngomong-ngomong Kakak habis belanja apa?" tanya Amien yang berusaha mengakrabkan diri.
"Cuma keperluan harian. Tapi tadi itu aku kebetulan juga lihat ada sekelompok orang yang mencegatmu, apa kamu dipalak oleh mereka?" tanya Ricky yang seketika membuat Amien berhenti melangkah. "Benar, ya? Kalau iya maka ayo lapor polisi!"
Amien tersenyum. "Gapapa kok, Kak! Nggak usah lapor, lagi pula uangku juga masih utuh. Asal Kak Ricky tahu ya, nggak ada orang yang berani macam-macam sama aku." Amien lalu melanjutkan berjalan.
"Nggak ada yang berani? Kamu serius? Lalu Nisa yang selalu mengganggumu itu apa?" Ricky terkekeh.
"Oh, kalau yang satu itu pengecualian. Aku kan budaknya." jawab Amien dengan enteng.
"Kamu bangga jadi budak?" tanya Ricky seakan tidak percaya.
"Haha, aku budak bukan sembarang budak. Aku merupakan anggota Budak Nyonya N! Aku satu-satunya budak level 2! Mereka kabur itu karena takut padaku!"
"Budak level 2? Kamu cukup mengaku seperti itu bisa membuat mereka ketakutan?" Ricky makin bingung.
"Cuma sekedar mengaku belum cukup, harus punya tanda budak. Setiap anggota Budak Nyonya N punya kartu level, di belakang kartu ada peraturan budak yang ditandatangani oleh Nyonya. Kak Ricky mau lihat?"
"Boleh!" jawab Ricky spontan.
Amien lalu mengeluarkan sebuah kartu dari dompetnya, dia menyimpan kartu itu dengan sangat baik dan bahkan juga dilaminating. Setelah Ricky menerima kartu tersebut, dia melihatnya sambil mengernyit. Bagian depan kartu bertuliskan angka 2, sedangkan bagian belakang kartu bertuliskan semua peraturan anggota Budak Nyonya N.
...~PERATURAN BUDAK~...
Posisi yang paling tinggi adalah aku, bangs*t! Kalau bertingkah, mampuss kau!
Yang levelnya rendah harus membungkuk, berlutut, cium tangan dan menunjukkan ubun-ubun pada yang levelnya lebih tinggi.
Selama aku nggak ada, harus patuh seperti anjing ke mereka yang levelnya lebih tinggi dibanding kau.
Jika ada yang mengaku kenal sama aku tanpa kartu level, colok matanya, cabut tangan dan kakinya, kuizinkan!
Tiap pagi, siang, sore, malam, pasang alas atau tikar lalu berlutut dan sujud ke arah rumahku.
Penghormatan buat kaisar itu berlutut 3 kali, sujud 9 kali, kalau ada yang kurang akan kupatahkan kakinya saat ketemu nanti!
Tampar!
Kalau aku tampar pipi kanan, sodorkan juga pipi kiri tanpa membantah.
Kalau ada rasa ingin memberontak, sujud 100 kali ke arah rumahku.
Kalau ada yang mau protes soal levelnya, datangi aku! Setelah kutampar 30 kali akan aku naikkan levelnya!
__ADS_1
Kalau mau kencing atau merokok, harus membelakangi arah rumahku.
Hafalkan Mars Nyonya N, 14 baris. Baris 12 dan 14 sama tapi beda nada, kalau ada yang lupa lirik atau lipsync, mampuss kau bangs*t!
Saat ketemu aku, baca sumpah budak! Jangan berani tatap aku, yang menatapku akan kubuat buta!
Sebelum tidur, ulangi lagi baca peraturan budak! Ucapkan terima kasih padaku, doakan aku agar panjang umur dan semakin kaya, kalau nggak maka akan aku siapkan pemakamannya!
Ulangi lagi!
Posisi yang paling tinggi adalah aku, bangs*t! Kalau bertingkah, mampuss kau!
Tampar!
Ah, mendadak males nih, hehe bangs*t hehe, sialan, cuma mau memaki, kok.
Pokoknya kalau bertingkah di depanku, mampuss kau!
Peraturan ini berlaku sampai kau mati!
Ricky yang telah membaca peraturan konyol yang dibuat oleh Nisa hanya bisa ternganga. Dia lalu mengembalikan kartu budak tersebut kepada Amien. Ricky terus berpikir betapa buruknya sikap Nisa dalam memperlakukan orang lain.
"Peraturan budak itu benar-benar konyol, apa kamu belum pernah mencoba melawan?" tanya Ricky.
"Melawan? Kak Ricky jangan bercanda, Nyonya dan aku itu sedari awal sudah berbeda level. Melawan dengan cara apa pun hasilnya sudah jelas aku akan kalah, bahkan jika aku melawan, aku takut kalau dia akan memperlakukanku semakin buruk. Aku ini cuma anak biasa, rupa pas-pasan, pintar juga enggak, bodoh dalam mengawali percakapan, soal harta aku nggak bisa seenaknya karena keuangan masih dalam kendali orang tua. Levelku berbeda dengan Nyonya ataupun Kak Ricky."
"Aku?" tanya Ricky kebingungan.
"Iya, orang seperti kalian seakan punya hidup yang sempurna. Penampilan yang oke, otak yang pintar, punya bakat, dengan modal itu kalian sudah dapat perlakuan yang berbeda di kehidupan sosial. Banyak yang mencoba untuk dekat dan menjadi teman kalian. Tapi untukku, aku serba salah. Jika aku bersikap dingin maka aku akan dianggap sombong, kalau aku menyapa duluan, aku akan dikira sok akrab. Dan pada kasus Nyonya, meskipun dia berperilaku buruk, nggak disukai banyak orang, tetapi dia termasuk dalam golongan istimewa." ucap Amien sambil menggeleng pelan.
"Ubah pola pikirmu, kenapa masih menyebutnya Nyonya meskipun dia nggak ada?"
"Apa mereka berdua juga termasuk anggota Budak Nyonya N?" tanya Ricky penasaran.
"Entah, mereka berdua terlalu akrab kalau disebut budak, kalaupun iya maka mereka termasuk budak level 1. Tapi pernah satu kali aku iseng tanya, kata Nyonya budak level 1 cuma 2 orang, yaitu kedua adik kandungnya. Dia bilang siapa pun nggak boleh ganggu mereka berdua kecuali dia sendiri yang ganggu. Haha, sebenarnya dia kakak yang penyayang ya."
"Hmm ..." Ricky lalu melirik ke arah Amien.
Sepertinya orang ini tahu banyak soal subjek, ini bisa jadi kesempatanku untuk mengorek informasi lebih banyak lagi.
"Oh iya, aku ingin tanya. Kamu bilang kamu budak level 2, lalu siapa saja budak level 3 dan seterusnya?"
"Soal itu ... Rahasia!" ucap Amien dengan senyuman.
"Aku serius!" Seru Ricky yang raut wajahnya kesal.
"Hehe, soalnya Kak Ricky mencurigakan. Kak Ricky jangan-jangan ada rasa sama Nyonya!"
"Bukan, jangan sembarangan! Aku ini kan ditunjuk jadi pembimbingnya untuk lomba, aku ingin tahu apa saja kebiasaannya, misalnya dia bolos saat belajar, aku jadi tahu harus mencarinya ke mana."
"Oh, berarti aku salah ..." Amien tersenyum canggung. "Soal budak level 3, itu mirip seperti Nyonya tapi dari sekolah lain. Hebat ya, dia bahkan bisa menaklukkan pentolan dari sekolah lain. Sangat sedikit yang berani menyinggung budak level 3, soalnya jika menyinggung budak berarti juga menyinggung Nyonya. Mulai level 4 dan seterusnya sudah termasuk golongan anak-anak cupu. Intinya semakin tinggi level semakin dilarang untuk disinggung."
"Apa kamu pernah disinggung sampai Nisa benar-benar turun tangan?"
"Pernah!"
"Serius?" tanya Ricky seakan tidak percaya.
"Iya, dulu aku pernah disuruh sama orang lain. Dia masih siswa satu sekolah, dia awalnya selalu mengolok-olok dan menganggap remeh Budak Nyonya N. Tapi nggak digubris sama Nyonya. Lalu aku disuruh buat beli camilan di kantin, dia marah padahal yang aku bawa sesuai seperti yang dia minta. Aku capek, tanpa sadar aku menolaknya. Dia emosi lalu mendorongku sampai terjatuh dan tanganku terkilir. Nyonya saat itu minta dikipasi olehku, tapi karena tanganku yang sakit makanya aku nggak bisa mengipasi dengan benar. Nyonya tanya ke aku siapa yang melukaiku. Lalu aku bilang, setelah itu Nyonya langsung pergi ke kelas orang yang melukaiku untuk menantangnya. Akhirnya Nyonya sengaja membuat tangannya patah, setelah itu dia nggak masuk sekolah lagi."
"Keterlaluan, apa Nisa nggak dihukum?" tanya Ricky yang ekspresinya masih tercengang.
"Dihukum, tapi Nyonya menyuruhku membuat kesaksian sebagai korban. Jadi hukumannya dikurangi dengan alasan membelaku. Dia berani terang-terangan berbuat begitu di area sekolah, kalau di luar sekolah dia makin bahaya lagi. Mungkin saja kejadian itu jadi pelajaran bagi orang lain agar jangan cari masalah dengannya. Satu-satunya orang yang masih berani melawannya yang aku tahu cuma 1, ketua OSIS. Mungkin dia berani karena ayahnya seorang Irjen Polisi."
__ADS_1
"Oh, kalau itu aku juga tahu. Tapi saranku, kamu juga jangan terlalu menurut, kamu itu punya harga diri!"
Amien lalu menghela napas. "Makasih Kak Ricky buat sarannya, tapi aku sudah punya rencana sendiri! Aku harus melewati masa SMA yang tinggal sebentar lagi, aku mau cari aman. Jadi budaknya Nyonya itu sudah termasuk keuntungan, seenggaknya anak-anak lain nggak berani cari masalah denganku. Paling mereka cuma bicara buruk dan menjelek-jelekkan aku dari belakang."
Mendadak Amien berhenti melangkah. "Aku sudah sampai, sampai jumpa di sekolah Kak Ricky!"
"Di mana rumahmu?" tanya Ricky sambil menatap sekeliling.
"Aku mampir dulu ke rumah makan milik ayahku, tadi aku dari supermarket habis beli sedotan hehe. Itu, di sana! Lain kali Kak Ricky mampir yuk, gratis kok kalau buat Kak Ricky!" Amien tersenyum semringah sambil menunjuk sebuah bangunan yang berada di seberang jalan.
"Iya, lain kali aku akan mampir, aku akan bayar."
"Jangan, aku sangat berterima kasih kepada Kakak!"
"Eh, terima kasih untuk apa?" tanya Ricky dengan wajah bingung.
"Aku sebenarnya sangat pemalu, orang yang mengenalku malah cenderung pura-pura nggak kenal kalau berpapasan di jalan, mungkin mereka malu jika mengenalku. Tapi Kak Ricky beda, Kakak orang baik, mau mengobrol banyak denganku, bahkan mau menemaniku jalan sampai ke tempat tujuanku! Terima kasih banyak Kak, aku akan cerita ke orang tuaku kalau Kak Ricky adalah orang baik!"
Setelah itu Amien langsung menyeberang jalan dan masuk ke rumah makan milik orang tuanya. Tetapi di sisi lain Ricky masih berdiam diri di tempat. Kemudian dia berjalan, bukan ke arah selanjutnya, melainkan ke arah sebaliknya.
"Haha, dia masih polos. Masih sulit membedakan mana orang yang benar-benar baik dan mana orang yang berbuat baik demi mengambil keuntungan darinya. Bahkan aku sampai menemaninya berjalan ke arah yang salah." gumam Ricky.
Padahal tujuanku mengajaknya bicara cuma demi mengetahui lebih banyak tentang Nisa. Tapi ternyata hal itu malah dianggap berarti. Yang di luar perkiraanku ternyata sifat Nisa jauh lebih buruk dari yang sebelumnya aku kira.
Tapi aku punya prinsip. Diam adalah emas, tapi bergerak untuk menghancurkan lawan adalah berlian. Lawanku adalah Nisa, keangkuhannya! Aku akan menghancurkan keangkuhan itu dan membuatnya dalam kendaliku. Dengan begitu, bahkan jika nanti dalam proyek penelitian ini Profesor Arman berbalik melawanku, aku masih bisa membuat Nisa berada dalam pihakku.
Di tengah perjalanan pulang ke apartemen, saat Ricky melewati sebuah gang di mana gang tersebut sering menjadi tempat pembuangan sampah, Ricky tidak sengaja mendengar suara berisik dari gang yang gelap tersebut.
"Apa itu yang berisik? Kucing liar?" gumam Ricky.
Cih, bukan urusanku.
Ricky kemudian lanjut melangkah, tetapi beberapa saat kemudian terdengar suara erangan orang yang kesakitan tapi tak terlalu keras.
Tolong! Ampun ...
"Eh?!" Seketika langkah kaki Ricky terhenti.
Apa-apaan yang tadi itu? Apa itu korban perampokan? Mungkin aku harus telepon polisi!
"Tapi ... hal itu belum pasti, kalau nggak benar bisa-bisa aku dimarahi karena membuat laporan palsu. Lebuh baik aku cek!"
Ricky lalu berbalik menuju ke arah yang tersebut, dia mengeluarkan ponselnya lalu menghidupkan senter. Perlahan Ricky melangkah memasuki gang tersebut.
"Hahh!!?" Ricky terkejut hingga melangkah mundur. Dia terkejut karena melihat seseorang yang hampir saja menabraknya dengan skuter listrik. "Nisa?! Kamu ... ngapain di sini?!"
Nisa menurunkan kakinya dari skuter, kemudian dia menuntun skuter itu untuk keluar dari gang. Saat dia melewati Ricky, dia melotot kepadanya. "Ini bukan urusanmu, jangan ikut campur! Kalau masih nekat, mampuss!"
Nisa tak berkata apa pun lagi dan langsung kembali menaiki skuter listrik miliknya dan pergi dari sana. Di sisi lain, Ricky yang masih berada di dalam gang masih merasa penasaran. Dia kemudian melangkah lebih dalam lagi, juga mengarahkan lampu senter ke kanan kiri.
"Eh?!"
Lagi-lagi Ricky terkejut, dia melihat beberapa orang pria dewasa yang tergeletak di samping bak sampah sudah bersimbah darah di wajahnya. Entah itu di mulut karena gigi copot, di pelipis, bahkan dari hidung.
"Nisa yang melakukan ini semua ke mereka?!"
Ricky kemudian mengecek apakah orang-orang itu masih bernapas atau tidak, ternyata mereka semua masih hidup. Tetapi saat Ricky mengecek seseorang, dia punya firasat buruk mengenai orang tersebut.
"Orang ini ... Sepertinya aku pernah melihat wajah orang ini di berita, kalau nggak salah ... orang ini adalah buronan! Tapi kasusnya apa ya, aku lupa." Ricky kemudian membuka situs pencarian di ponselnya. Setelah menemukan apa yang dia cari, dia semakin terkejut.
"Gila ... Kasus perampokan sebanyak 23 kali dan pemerkosaan sebanyak 6 kali. Jadi, orang ini berniat melakukan itu pada Nisa! Tapi anehnya, kenapa justru Nisa yang tadi terkesan jadi penjahatnya?"
Ricky berpikir keras, dia melihat dan menyadari bahwa orang lain selain buronan tersebut juga berpenampilan garang seperti preman. Naluri alaminya sebagai calon dokter tidak terelakkan, dia tak tahan melihat orang terluka.
"Huft ... lebih baik telepon ambulans dan polisi, setelah itu beri kesaksian kalau aku cuma lewat dan mau buang sampah. Dengan begini aku akan aman, dan Nisa juga nggak akan terlibat. Toh berbohong sedikit bukan masalah, di sekitar sini juga nggak ada CCTV."
__ADS_1