Trouble Lady (Project Of Love)

Trouble Lady (Project Of Love)
Bab 20. Hadiah Misteri


__ADS_3

Event bazar selesai pukul 9 malam. Di hari ke-3 ini acara yang paling terakhir adalah penutupan yang ditutup oleh kesan pesan dari kepala sekolah. Di akhir kesan dan pesan, tiba-tiba kepala sekolah meminta sang Ratu Langit Biru, Raja Langit Biru, Putri Langit dan Pangeran Langit naik ke atas panggung untuk penyerahan hadiah.


Nisa dan David yang telah membuat keributan naik ke panggung lagi, dan itu membuat ekspresi penonton menjadi sedikit aneh. Ivan dan Alina juga naik, penampilan Putri dan Pangeran Langit sudah seperti semula dan tidak lagi memakai kostum.


"Para hadirin yang berbahagia, saya selaku kepala sekolah akan memberikan beberapa penghargaan sebagai bentuk apresiasi kepada siswa-siswi yang berbakat dalam Pekan Olahraga tahun ini!"


"Ehmm ... kita mulai dari yang paling kiri! Alina Villian, perwakilan dari kelas 12 A, pemenang kontes fashion show yang mendapatkan gelar Putri Langit!"


Para penonton langsung bertepuk tangan setelah perkataan dari kepala sekolah berakhir. Lalu datanglah 2 orang host, salah satu membawa hantaran berupa aksesoris rambut, yaitu mahkota. Lalu host yang satunya memakaikan mahkota tersebut di kepala Alina.


Kepala sekolah lalu mendekat ke arah Alina dan menyodorkan mic kepadanya. "Berikan kesan pesanmu," ucapnya.


Alina mengangguk kemudian menerima mic tersebut. "Saya mengucapkan banyak terima kasih kepada para penonton yang telah memberikan dukungan yang luar biasa bagi saya, tanpa dukungan kalian, saya tidak mungkin bisa berada di sini dan mendapatkan gelar Putri Langit!"


Alina mengembalikan mic tersebut kepada kepala sekolah dan para penonton kembali bertepuk tangan yang meriah untuknya.


"Ehem, lalu selanjutnya. David Damian, perwakilan dari kelas 12 C yang mendapatkan gelar Pangeran Langit!"


Penonton kembali bertepuk tangan dan kedua host acara itu juga memakaikan hiasan mahkota tersebut di kepala David. Kemudian kepala sekolah menyodorkan mic kepadanya, "Katakan apa pesanmu."


"Aku menang karena aku paling tampan, sekian terima kasih!" ucap David penuh percaya diri.


Para penonton tercengang, tepuk tangan kali ini jauh lebih sedikit dibanding dengan sebelumnya. Kepala sekolah yang merasa canggung seketika menarik kembali mic tersebut.


"Haha, kita langsung saja ke selanjutnya! Selanjutnya adalah Ratu Langit Biru! Sungguh prestasi yang membanggakan karena unggul dalam semua cabang olahraga! Nisa Sania Siwidharwa, perwakilan dari kelas 12 F!"


Kali ini host acara datang dengan membawa mahkota yang berbeda, yang lebih besar dan lebih indah dibanding milik Alina. Saat host itu akan memakaikan mahkota itu di kepala Nisa, tiba-tiba Nisa berkata. "Aku pakai sendiri!"


"Eh, emm ... baiklah." jawab host tersebut yang tak mau berdebat.


Setelah Nisa selesai memakai mahkota, kepala sekolah mendekat ke arahnya sambil menyodorkan mic.


"Pesanku adalah aku ingin protes! Gelar Ratu Langit Biru tidak cocok untukku! Aku mau gelar Kaisar Langit! Cepat sembah aku!" teriak Nisa tanpa ragu.

__ADS_1


"Bocah gila," gumam kepala sekolah yang seketika menjauhkan mic dari Nisa.


"Kita lanjut ke yang terakhir! Ivan Laskara, perwakilan kelas 12 C yang mendapatkan gelar Raja Langit Biru!" Kepala sekolah kemudian mengkode agar host segera bertindak cepat dalam memakaikan mahkota pada Ivan.


Kemudian dia mendekatkan mic kepada Ivan sambil berbisik, "Katakan sesuatu yang wajar!"


Ivan kemudian menarik napas dalam-dalam. "Saya merasa tidak pantas menjadi Raja Langit Biru, saya lebih memilih menjadi Panglima Langit saja dan setia melindungi Ratu!"


Seketika Ivan, David san Nisa saling menatap satu sama lain dan tertawa cekikikan bersama. Sedangkan kepala sekolah, dia tak berkata apa pun tetapi tanpa sadar matanya berkedut sebelah. Dia sangat stress dengan kelakuan 3 orang siswa itu.


Sejenak kemudian kepala sekolah kembali menghadap ke arah penonton dan berkata. "Mohon hadirin sekalian abaikan yang tadi itu, karena itu cuma hiburan semata! Sekarang saya akan mengumumkan hadiah yang didapat oleh anak-anak di belakang saya ini."


"Raja dan Ratu mendapat hadiah khusus, yaitu undangan ke sebuah pesta koktail mewah yang akan dihadiri oleh para siswa elite terpilih lainnya yang berasal dari sekolah elite lain, juga voucher makan sepuasnya di restoran berbintang! Sedangkan Putri dan Pangeran, karena acaranya dadakan maka hanya akan menerima voucher makan di restoran. Untuk hadiah tersebut bisa diambil melalui panitia acara. Dimohon untuk para siswa segera turun dari panggung."


Setelah keempat orang itu turun, kepala sekolah kembali berucap. "Saya akan menyampaikan hal terakhir, yaitu hadiah misteri yang didapatkan oleh kelas peringkat 3 besar dalam Pekan Olahraga! Yaitu karyawisata ke pantai selama 3 hari 2 malam! Untuk waktunya akan diberitahukan lebih lanjut kepada setiap ketua kelas yang bersangkutan! Sekian dari saya, akhir kata saya nyatakan Pekan Olahraga ditutup!"


Sontak saja semuanya heboh, hadiah misteri tahun ini benar-benar hadiah yang luar biasa. Sedangkan kelas yang tidak mendapat peringkat 3 besar hanya bisa merasa iri, mereka tidak berkesempatan ikut karyawisata dan hanya akan mendapatkan masa jeda serta pengurangan jam pembelajaran di sekolah.


***


Mereka duduk di bangku yang sama, berbincang tentang banyak hal, dan sedari tadi Elizabeth terus-terusan berada di pelukan Nisa.


"Hah ..." Nisa menghela napas lalu mengelus bulu Elizabeth yang super lembut.


"Aku perhatikan, dari tadi menghela napas terus. Kamu ada masalah apa?" tanya Aslan.


"Emm ... bukan masalah sebenarnya, tapi aku cuma bingung memikirkan suatu hal. Aku mendapat voucher makan sepuasnya di restoran berbintang, voucher itu bisa dipakai untuk 2 orang dan batas waktu pemakaiannya hari ini. Aku sebenarnya bisa datang sendiri, cuma dipikir-pikir sayang jika aku datang sendiri."


"Iya juga, apa kamu belum kepikiran mau mengajak temanmu?"


"Teman?" Nisa kemudian menunduk dan tersenyum. "Daripada ajak teman, mending aku ajak Eli!"


"..." Sejenak Aslan tertegun.

__ADS_1


Kasihan, Nisa ini mirip Ricky, nggak punya teman selain aku. Apa aku menawarkan diri saja? Kan lumayan juga bisa makan gratis.


"Nisa, bagimana kalau kamu ajak aku saja? Aku malam ini longgar!"


"Serius?" tanya Nisa seakan tertarik.


"Iya, aku jamin aku nggak akan mempermalukanmu di restoran berbintang! Nanti malam aku jemput di rumahmu, kita kan juga sudah tukaran nomor, nanti kamu tinggal share lokasinya ke aku!"


"Oke, hari ini jam 8 malam ya! Kita sepakat, awas kalau nanti nggak datang! Eli bakal aku culik!"


Meow meoww!!


"Haha, sepertinya Eli malah senang kalau diculik!"


***


Malam harinya, saat ini hampir mendekati jam 8 malam. Nisa masih berias di kamarnya, dia memakai dress rok pendek berwarna merah. Yang membuat kali ini berbeda adalah warna rambut Nisa, dia memutuskan untuk mengembalikan warna rambutnya seperti semula, yaitu hitam.


Namun tiba-tiba saja seseorang masuk ke kamarnya tanpa mengetuk pintu, yang tidak lain adalah ayahnya. "Kau sedang apa? Bukannya belajar malah dandan begitu malam-malam!"


"Aku mau makan malam di luar!" jawab Nisa sambil memasangkan anting di telinganya.


"Jangan yang aneh-aneh, ibumu sudah memasak untukmu! Tapi tunggu sebentar ... ayah baru sadar kalau kau berdandan cantik, apa kau mau kencan? Dengan siapa itu ... Ricky!"


"Aku bukan mau kencan, tapi makan karena sayang kalau voucherku hangus! Dan aku pergi bukan dengan senior, tapi dengan temanku, Aslan!"


"Kau mau jadi playgirl?! Memang anakku!" ucap Gilang penuh kebanggaan.


"Ayahhh! Hentikan omong kosongmu! Aku nggak suka salah satu pun di antara mereka!" Nisa lalu beranjak dari depan meja rias dan pergi melewati ayahnya. "Aku pulang malam, jangan mencariku!"


Nisa menunggu dan duduk di kursi yang berada di teras rumahnya, tak lama kemudian ada sebuah mobil datang. Namun itu bukanlah mobil asing, setelah mobil itu berhenti ternyata yang keluar dari mobil itu adalah Ricky yang juga sudah memakai tuxedo.


"Loh?!" Nisa melongo, dia sangat bingung kenapa justru Ricky yang datang dan bukannya Aslan.

__ADS_1


__ADS_2