Trouble Lady (Project Of Love)

Trouble Lady (Project Of Love)
Bab 18. Pekan Olahraga (1)


__ADS_3

Menjelang pekan olahraga yang dinanti, SMA Langit Biru mengadakan kerja bakti yang harus diikuti oleh seluruh warga sekolah. Para guru pun juga berperan dalam melakukan pengawasan. Seperti halnya sekarang, setiap wali kelas mengondisikan anak didiknya mengikuti kerja bakti.


Sama seperti wali kelas 12 F saat ini, Pak Pendi melakukan pengawasan sambil berbincang tentang beberapa hal dengan seseorang yang tidak lain adalah Ricky. Tiba-tiba saja ketua kelas yaitu Amira datang mendekati mereka untuk menyerahkan daftar absensi kepada Pak Pendi.


"Permisi Pak, saya ingin menyerahkan daftar absensi kegiatan hari ini." ucap Amira sambil menyodorkan selembar kertas pada wali kelasnya itu.


Pak Pendi membaca keseluruhan daftar absensi, tetapi setelahnya dia menghela napas juga mengernyit. Di sisi lain Ricky menyadari ada sesuatu yang salah. Ricky pun bertanya, "Apa ada masalah, Pak?"


"Yah ... memang ada masalah, tapi itu sudah biasa."


"Emm ... apa ini berhubungan dengan Nisa?" tanya Ricky yang kemudian mendapat respons anggukan kepala dari Pak Pendi.


Ricky kemudian berganti menatap Amira. "Apa kamu tahu di mana Nisa sekarang berada? Dan kenapa dia nggak ikut kerja bakti?"


"Soal dia mau ke mana, aku kurang tahu, Kak. Tapi sebelum dia pergi, dia terang-terangan bilang kalau nggak mau ikut kerja bakti, bahkan dia juga menyuruh orang lain untuk mengerjakan bagiannya." jawab Amira.


"Bukannya yang seperti ini harus diberi tindakan tegas?" tanya Ricky pada Pak Pendi.


"Hahh ... kamu belum lama di sini, untuk anak yang satu ini memang dari dulu susah diatur, diberikan sanksi macam apa pun tidak bisa membuatnya kapok. Mau dikeluarkan tapi sayang, dia berprestasi dan banyak menyumbang trophy untuk sekolah. Aku sudah jenuh menasihatinya, dan sebaiknya kamu juga jangan terlalu dekat dengannya."


"Kenapa?" tanya Ricky penasaran.


"Karena dia hanya akan membuat hidupmu jadi rumit, dia itu suka mempermainkan orang."


"Ya sudah kalau Bapak ternyata sudah menyerah padanya, kalau begitu biar aku saja yang mencarinya!" Ricky pun berjalan pergi meninggalkan Pak Pendi dan Amira.


Ricky mencari-cari Nisa di seluruh ruangan sekolah, mulai dari aula, kamar mandi, gedung belakang sekolah dan lainnya, tetapi dia masih tak kunjung menemukan Nisa. Hanya tinggal satu tempat yang belum dia datangi, yaitu atap gedung sekolah.


Ricky kelelahan, dia berhenti sejenak ketika hendak membuka pintu penghubung ke atap sekolah. Tetapi alangkah terkejutnya Ricky yang tiba-tiba mendengar sesuatu dari balik pintu itu.


"Pokoknya sabotase! Terserah mau sabotase apanya, robek seragam olahraga, pasang paku di sepatu, kasih obat pencahar di minuman, pokoknya begitu! Ngerti nggak kalian?!"


"Baik Nyonya ..."


"Ini perlombaan penting untukku! Aku mau jadi Ratu! Awas kalau kalian buat kesalahan, akan aku turunkan level budak kalian!"


Ricky terkesiap, dia tahu betul bahwa suara yang memerintah orang barusan itu adalah suaranya Nisa. Dia tidak bisa menahan diri untuk segera membuka pintu tersebut dan melabrak Nisa.


BRAKK!!


"Di sini kamu ternyata!!" Ricky semakin terkejut. Dia melihat Nisa, Ivan dan David sedang menindas beberapa murid lain. Apalagi keadaan yang paling menyedihkan adalah Amien, dia berpose merangkak dan dijadikan kursi untuk diduduki oleh Nisa.


Ricky yang melihat semua itu mulai merasa muak. Dia dengan berani maju dan kemudian menarik Nisa untuk berdiri dan berhenti menduduki Amien.


"Apa-apaan?! Apa urusanmu di sini?! Ini belum waktunya aku belajar! Pergi sana!" teriak Nisa sambil menepis tangan Ricky dari tubuhnya.


Ivan dan David yang berada di sana juga tersinggung, mereka berdua hendak maju tapi Nisa memberi isyarat tangan pada mereka berdua agar mereka tetap diam di tempat.


"Ayo bicara berdua denganku!" pinta Ricky penuh penekanan.


"Mau bicara apa berdua?! Bicara saja sekarang!"


Ricky memalingkan wajahnya dari Nisa, kemudian dia melihat ke arah para murid yang sedari tadi bersimpuh. "Kalian bangunlah, kalian masih punya harga diri! Kalian jangan mau harga diri kalian diinjak-injak oleh satu orang!"

__ADS_1


Tak ada satu pun dari mereka yang bergerak, dan itu membuat Ricky semakin tercengang karena dia tak menyangka bahwa ketakutan yang ditanamkan oleh Nisa telah membuat mereka sampai seperti itu. Ricky mengepalkan tangannya lalu menatap Nisa lekat-lekat.


"Hentikan semua perilakumu yang buruk ini! Aku juga dengar kalau kamu berencana untuk curang dalam pertandingan! Hentikan sebelum semuanya terlambat Nisa!"


Nisa menyeringai, "Heh, terlambat apa maksudmu? Jadi sudah berniat untuk melaporkanku? Aku beritahu ya, aku nggak peduli! Memangnya siapa yang bakal percaya?! Toh aku juga nggak membuatmu rugi!"


"Baik, baik kalau itu maumu!" Ricky kemudian tersenyum sinis. "Mengaku saja kalau sebenarnya kamu itu nggak percaya diri! Kamu nggak bisa menang tanpa cara curang! Ternyata kamu ini sebenarnya payah ya."


"Apa katamu?! Dengar ya, aku bisa menang dengan kemampuanku sendiri! Aku pilih cara curang itu karena mempersingkat waktu! Kenapa aku harus bersusah payah jika aku bisa pakai cara instan?! Toh hasilnya sama saja," ucap Nisa sambil berkacak pinggang.


"Kalau begitu buktikan! Omong kosong saja mana cukup?! Buktikan kalau kamu memang bisa menang dengan jujur!"


"Ckck, kenapa juga aku harus membuktikannya untukmu? Memangnya kalau aku jujur apa itu akan membawa pengaruh untukmu?"


"Ayo taruhan!" ucap Ricky tanpa keraguan.


"Taruhan?"


"Iya, taruhan! Kalau kamu menang, kamu bisa minta satu hal apa pun dariku! Kalau kamu kalah, kamu harus menuruti apa pun perkataanku selama aku jadi pembimbingmu! Tapi ... kamu itu kan nggak percaya diri, aku ragu kamu nggak berani menerima taruhan ini." ucap Ricky dengan senyuman meremehkan.


"Oke, siapa takut?!" Nisa menantang dengan percaya diri.


Heh, aku jadikan budak baru tahu rasa nanti!


"Baiklah, kita sepakat! Besok adalah hari pertama pekan olahraga, dan aku akan terus mengawasimu agar taruhan ini berjalan sesuai kesepakatan!"


***


Keesokan harinya. Hari pertama pekan olahraga telah dimulai, acara tersebut dibuka dengan pertunjukan meriah dari marching band sekolah. Cabang olahraga yang dilombakan di hari pertama ini adalah olahraga beregu.


Kelas 12 F hampir memborong semua cabang olahraga beregu putri dengan peringkat 3 besar, terutama olahraga seperti futsal, voli, bisbol, takraw, karena adanya Nisa maka mereka meraih kemenangan mutlak. Satu-satunya cabang olahraga beregu yang gagal mendapatkan peringkat adalah lari estafet.


Perlombaan hari pertama berlangsung dengan meriah dari pagi hingga sore hari. Sekarang hanya tinggal 1 olahraga beregu sebagai penutupan di hari pertama, yaitu basket.


Berkat adanya Nisa, kelas 12 F berhasil sampai di final. Lawan Nisa di babak final adalah kelas 12 A, yang tidak lain adalah kelasnya Alina. Ini merupakan tantangan bagi Nisa karena ternyata Alina juga ikut serta di dalam pertandingan basket. Alina bukan cuma ketua OSIS yang sangat disiplin, tetapi dia juga merupakan kapten tim basket sekolah yang sudah sering mewakili sekolah dalam ajang perlombaan.


Nisa dan Alina yang merupakan kapten dari masing-masing tim maju ke tengah lapangan, kemudian wasit datang dengan membawa bola basket bersamanya. Kedua orang yang bermusuhan itu saling menatap, tetapi setelahnya Alina malah melihat ke kanan kiri.


"Oi, jangan berani mengalihkan pandanganmu dariku!" ucap Nisa sambil melotot.


"Cih, bukan urusanmu!" ucap Alina penuh kekesalan.


Dari tadi aku nggak lihat Kak Ricky, padahal aku maju ke final dan ingin menunjukkan kehebatanku di depannya, siapa tahu dia akan terpesona olehku.


Wasit melempar bola ke atas di antara kedua kapten tersebut di tengah lapangan yang menandai dimulainya pertandingan bola basket. Permainan berlangsung dengan sangat seru, ditambah banyak teriakan dari penonton yang mendukung jagoan mereka.


Di luar dugaan dari Nisa ternyata Alina merupakan lawan yang berat, apalagi dengan Nisa yang sama sekali tidak ada rasa percaya dan kurang kerja sama dengan teman satu timnya. Akibatnya poin tim Nisa jauh di bawah tim Alina.


Memasuki babak ke-3 dari pertandingan, semangat Nisa dan teman-teman satu timnya terlihat jelas telah menurun. Sedangkan tim Alina justru sebaliknya, mereka kompak dan sangat bersemangat untuk mencetak poin sebanyak-banyaknya. Namun tiba-tiba saja mereka semua mendapat kejutan, mereka mendengar suara komentator telah berubah menjadi suaranya Ricky.


"Aiyoo~ Pertandingan belum berakhir tapi semangat sudah menurun!"


"Senpai?!" gumam Nisa seakan tidak percaya.

__ADS_1


"Kak Ricky?!" ucap Alina yang seketika menjadi semringah.


Kedua kapten tim sama-sama tertegun, tanpa sadar mereka membiarkan anggota tim saling bermain berebut bola.


"Poin tim merah tertinggal jauh dari tim biru! Akankah tim merah menyusul ataukah tim biru yang akan mendapat kemenangan mutlak!"


"Hmm~ basket itu permainan beregu! Tim merah cenderung kurang kompak, sedangkan tim biru sepertinya sudah saling percaya satu sama lain antar anggota tim! Akankah tim merah bangkit ataukah tim biru semakin memimpin!! Kekalahan dan kemenangan masih misteri, ada hal menarik yang masih menunggu~"


Berkat kalimat dari Ricky justru Alina semakin bersemangat untuk mencetak poin lagi dan lagi. Sedangkan Nisa, dia masih bermain tapi pikirannya entah ke mana.


"Dasar ... komentator buruk," gumam Nisa dengan senyuman kecil di bibirnya.


Masih ada yang menunggu setelah kekalahan dan kemenangan, jadi maksudnya mengingatkanku tentang taruhan ya. Baiklah, dia juga mengisyaratkan agar aku menaruh percaya kepada anak-anak cupu itu. Menyebalkan, tapi aku ingin menang!


Nisa lalu meminta time out kepada wasit, dan wasit mengizinkan dengan batas waktu time out 60 detik. Selama time out, Nisa melambaikan ke teman-teman satu timnya untuk berkumpul.


"Dengarkan aku baik-baik! Kita rubah cara bermain kita!"


"Eh?!" sontak saja semuanya kaget dengan ucapan dari Nisa.


"Aku akan sekali ini mencoba percaya ke anak-anak cupu macam kalian! Jika nanti aku dapat bola maka kalian harus siap jika aku oper bola ke kalian! Paham, nggak?! Kalau nggak paham akan aku tampar kalian nanti!"


"P-paham ..."


Waktu time out yang diberikan telah habis, Nisa dan teman-teman satu timnya kembali memasuki lapangan basket dengan semangat yang membara. Benar saja, di akhir babak ke-3 ini tim Nisa bermain lebih terorganisir dan kompak, mereka berusaha mengejar ketertinggalan poin.


Tak berselang lama kemudian babak ke-4 yang merupakan babak terakhir dimulai. Alina yang merasa terancam lalu mengingatkan agar teman-teman satu timnya jadi lebih waspada. Babak ke-4 menjadi pertandingan yang super sengit, tim Nisa semakin mengejar ketertinggalan poin yang sekarang selisihnya sangat sedikit.


Di sisi lain Ricky juga masih berperan sebagai komentator, dia juga mengucapkan kalimat-kalimat yang membuat penonton semakin tegang dan permainan semakin menarik.


Pada menit ke sembilan poin kedua tim menjadi seri, hanya tinggal 1 menit terakhir sebagai penentuan. Alina menjadi sangat waspada kepada Nisa, tetapi Nisa sekarang berbeda. Dia sudah mempercayai teman satu timnya dan akhirnya membiarkan temannya itu yang menembak bola ke dalam ring.


Permainan basket resmi berakhir dengan selisih poin yang tipis! Alina sama sekali tidak menyangka soal kekalahan. Sedangkan Nisa, dia tersenyum puas di tengah-tengah lapangan, dia tidak mau ikut teman-teman satu timnya berpelukan untuk merayakan kemenangan.


Di sisi lain tempat komentator, Ricky juga tersenyum lalu meletakkan mic ke meja. Tetapi mendadak seorang yang juga berperan sebagai komentator mencolek pundaknya, dia adalah seorang guru olahraga di sekolah.


"Apa kamu sudah puas?" tanyanya.


"Sudah, Pak. Terima kasih telah mengizinkan saya jadi komentator." ucap Ricky yang setelahnya kembali melirik layar monitor demi melihat Nisa yang masih berada di lapangan.


"Haha, tidak apa-apa! Lagi pula Bapak sendiri juga capek kalau jadi komentator sendirian. Terlebih lagi, sepertinya mendengar suaramu saja bisa membuat para siswi bersemangat~"


"Pak guru terlalu memuji," ucap Ricky dengan senyum canggung.


"Yah ... tidak juga, hasil pertandingan berubah drastis karena kamu secara langsung memberi semangat kepada pacarmu."


"Pacar?!" Ricky terkesiap.


"Jangan kira aku yang sudah tua ini tidak tahu~ Pacarmu si tukang buat masalah itu, kan? Kapten tim merah."


"Bukan! Pak guru salah paham, dia sama sekali bukan pacarku."


"Hahaha, dasar anak muda, tak apa kalau tak mau mengaku, aku akan berhenti menggodamu!"

__ADS_1


"..."


Dibilang bukan malah nggak percaya. Tapi aneh, akhir-akhir ini banyak yang mengira kalau aku dan Nisa pacaran, padahal dilihat dari mana pun kami nggak cocok.


__ADS_2