
Ricky masih dilanda kebingungan karena bunga yang dia miliki hanya tersisa setangkai bunga mawar merah.
"Senpai, tukaran bunga yuk!" ucap Nisa.
"Eh?!" Ricky terkejut dan langsung berbalik badan menghadap ke arah Nisa, tetapi dia menyembunyikan bunga miliknya di belakang punggungnya.
Di sisi lain Nisa juga sama, dia juga menyembunyikan bunga miliknya di belakang punggungnya. Dia menatap Ricky dengan tatapan malu dan pipi yang merona. "Ehmm ... kita lakukan bersama!"
Ini pertama kalinya aku memberikan bunga ke orang, tapi aneh, kok jantungku berdebar berlebihan begini?
"T-tunggu sebentar! Kamu serius?!" tanya Ricky dengan ekspresi gugup.
"Iya, serius! Ayo hitung sampai 3! Satu, dua, tiga!" Tepat setelah Nisa mengucapkan hitungan ke-3, dia dan Ricky serentak mengeluarkan sebuah bunga.
"Eh?!" Keduanya kaget, Nisa mengeluarkan mawar putih yang artinya pertemanan. Sedangkan Ricky, sudah pasti dia mengeluarkan mawar merah.
"Mawar merah ...?" tanya Nisa seakan tidak percaya. Wajahnya sekarang menjadi semerah tomat.
Ricky lalu memalingkan wajahnya yang juga memerah. "Jangan berpikir yang aneh-aneh! Mawarku tinggal satu yang itu! Yang putih sudah aku berikan ke orang lain!"
"S-siapa juga yang berpikir aneh?!" Nisa lalu merebut mawar merah dari tangan Ricky dan menyerahkan mawar putih miliknya pada Ricky dengan paksa. "P-pokoknya makasih! Itu sudah termasuk kehormatan bagimu karena aku anggap sebagai teman!"
"O-ohh begitu ya! Jadi ada kemajuan juga haha! K-kita sekarang adalah teman!" ucap Ricky dengan senyum canggung.
Kedua orang itu salah tingkah hanya karena perkara bunga mawar. Tak lama kemudian mendadak Nisa berkata, "Anu ... aku mau ke toilet dulu!"
"Y-yaa silakan, betah-betah di sana!" ucap Ricky dengan nada gugup.
Nisa lalu meninggalkan Ricky sendirian di acara pesta dan bergegas menuju ke toilet. Nisa berjalan dengan terburu-buru, bahkan karena masih gugup akibat hal tadi, tanpa sadar dia ke toilet sambil membawa 2 tangkai mawar merah yang satu miliknya sendiri dan satunya lagi pemberian dari Ricky.
Tetapi karena terburu-buru dan perasaan yang gugup, tanpa sadar dia menabrak seseorang yang tak dikenal.
BRUGH!
Nisa terjatuh, yang dia tabrak adalah seorang pria berpostur tinggi dan kekar yang juga memakai setelan jas rapi.
"Tuan tak apa-apa?" tanya seorang pria lain lagi yang berada di belakang pria yang Nisa tabrak.
"Aku baik-baik saja," jawab pria itu.
"Ughh ..." Nisa meringis karena pantatnya kĺesakitan, dia lalu bangkit sendiri dengan ekspresi yang kesal. "Gimana sih, Om?! Jalan kok nggak lihat-lihat!"
"Om ...?" pria itu melongo seakan tidak percaya karena dipanggil dengan sebutan Om, padahal wajahnya tampan dan masih muda yang berumur sekitar 20 tahunan.
"Nona, tolong jaga bicara Anda! Apa Nona tak tahu sekarang sedang bicara dengan siapa?" ucap pria yang satunya lagi.
"Nggak tahu dan nggak mau tahu! Toh memangnya ada keuntungan apa aku tahu siapa kalian?!" ucap Nisa seakan menantang.
"Asal Nona tahu ya, sekarang Nona sedang berhadapan dengan Tuan Muda Yang paling disegani di kota ini! Keyran Kartawijaya! CEO dari perusahaan HW Group! Jika Tuan mau, maka bisa saja perusahaan keluarga milik Nona lenyap dalam semalam." ucapnya dengan nada mengancam.
"Apa sih? Bawa-bawa perusahaan segala, padahal aku cuma nggak sengaja menabrak. Dasar kalian Om-Om baperan! Bye, aku nggak mau ada urusan sama kalian!" Nisa lalu berjalan melewati mereka.
"Valen, tahan gadis itu!"
"Baik, Tuan!" Asisten dari Tuan Muda itu langsung mencegat jalannya Nisa. "Nona belum boleh pergi!"
"Kenapa?! Memangnya kalian mau aku melakukan apa?!" bentak Nisa tanpa rasa takut.
Uhh ... sialan, aku hampir nggak tahan lagi mau ke toilet.
__ADS_1
"Tuan yang memutuskan!" Valen lalu mencengkeram tangan Nisa dan menyeretnya untuk mendekati Tuan Muda nya. Namun setelah mendekat, tiba-tiba Nisa menepis tangan Valen.
"Lepas!" Nisa lalu beralih melotot ke arah Tuan Muda tersebut. "Om mau aku melakukan apa?"
"Kenapa kau terus-terusan memanggilku Om, hah? Aku aku setua itu?" tanyanya dengan tatapan sinis.
"Ya memang belum tua, tapi umurku baru 16 tahun! Apa salahnya aku memanggilmu dengan sebutan Om? Menurutku itu sangat cocok!"
"K-kau ..."
"Sudah, kan? Kalau begitu aku pergi!" Nisa hendak melangkah pergi namun tangannya ditahan oleh Tuan Muda itu. "Apa lagi?"
"Siapa namamu?" tanyanya dengan tatapan sinis dan tangannya semakin erat menahan tangan Nisa.
Gadis ini ... dia sama sekali tidak takut padaku meskipun sudah diancam, aku ingin tahu siapa dia sebenarnya.
"Heh, namaku adalah ... Nyonya! Kalau mau memanggilku maka panggil aku Nyonya!" Nisa lagi-lagi menepis tangan orang itu. "Lepas!"
Meskipun tangannya sudah terlepas, tetapi Nisa masih tak kunjung dapat pergi dari sana. Karena asisten itu sama sekali tidak memberikan jalan untuknya lewat.
"Mau kalian apa?!" tanya Nisa yang mulai kehilangan kesabaran.
"Tuan yang memutuskan!"
"Dasar gila," gumam Nisa yang kemudian kembali menatap ke arah Tuan Muda itu. "Suruh orangmu ini agar jangan menghalangi jalanku!"
"Ckck, baru pertama kali aku melihat gadis yang tak punya sopan santun sepertimu. Aku tidak membuat penghitungan denganmu itu merupakan keberuntungan bagimu. Yang aku mau kau lakukan adalah hal mendasar, kau telah menabrakku jadi minta maaflah padaku!"
"Maaf!" ucap Nisa.
"Itu bukan minta maaf yang sungguh-sungguh! Perlihatkan kesungguhanmu!"
"Tidak perlu sampai seperti itu, tapi aku mau permintaan maaf yang tulus!"
Menyadari Tuan Muda yang arogan itu, tiba-tiba saja Nisa melihat ke arah 2 buah tangkai mawar merah yang dia pegang. Dia lalu menyerahkan setangkai bunga mawar merah itu kepada Tuan Muda tersebut.
"Ini, terimalah sebagai bentuk permohonan maafku. Aku minta agar jangan mempersulitku lagi, aku sedang dalam keadaan buru-buru."
"Kenapa cuma satu yang kau berikan?" tanyanya dengan tatapan sinis namun tetap menerima bunga dari tangan Nisa.
"Bunga yang satunya lagi sangat berarti bagiku," jawab Nisa secara spontan.
"Oh, dari pacarmu?"
"Y-ya! Tentu saja dari pacarku! Anak muda yang gaul sepertiku jelas punya pacar! Om banyak tanya! Jangan-jangan Om jomblo ya!" ucap Nisa dengan ekspresi meledek.
"Gadis ini ... cepat pergi sana!"
Nisa pun segera pergi meninggalkan kedua pria itu. Tetapi begitu Nisa pergi, asisten itu mendekat ke arah Tuan Muda nya. "Tuan, apa perlu saya menyelidiki gadis barusan?"
"Tidak perlu, cuma gadis yang kurang didikan dari orang tua. Tapi dilihat dari pakaiannya ... sepertinya dia sedang menghadiri acara pesta."
"Saya juga berpikir demikian. Tuan sekarang juga akan menghadiri acara pesta cocktail sebagai tamu VIP. Mungkin saja nanti Tuan akan kembali bertemu dengan gadis itu."
"Kenapa begitu?"
"Karena pesta yang akan Tuan datangi adalah pesta yang diadakan oleh pihak Departemen Pendidikan, pesta ini hanya akan diikuti murid-murid pilihan dari berbagai sekolah elite. Banyak anak dari pemilik perusahaan lokal yang berpengaruh dan pejabat daerah yang hadir. Tuan diundang karena Tuan memiliki pengaruh besar dalam dunia bisnis. Dan tamu-tamu VIP lainnya juga tak kalah berpengaruh dalam bidang lain. Intinya pesta ini mempertemukan calon generasi muda yang berpengaruh selanjutnya."
"Hm, menurutmu gadis urakan tadi berasal dari keluarga mana?" tanyanya sambil menyeringai.
__ADS_1
"Entahlah Tuan, berdoa saja semoga kita tidak bertemu lagi dengannya."
Dia bukan gadis biasa, bahkan tanganku masih terasa nyeri karena ditepis dengan keras olehnya.
"Ngomong-ngomong, apa Tuan akan menyimpan bunga mawar dari gadis itu?"
"Heh, nanti akan aku buang. Dasar gadis aneh, padahal sudah punya pacar, tapi di hari valentine ini malah memberikan bunga mawar merah pada orang asing."
***
Beberapa saat kemudian, Nisa yang telah selesai dari toilet kemudian kembali ke acara pesta. Di sana dia melihat Ricky yang masih berada di tempat yang sama persis sebelum dia tinggalkan.
"Oh, sudah kembali. Kamu pergi lumayan lama, apa kamu sembelit?" tanya Ricky.
"Aku lama karena ada kendala di jalan, bukan karena sembelit, jadi jangan mengejekku!" ucap Nisa dengan ekspresi kesal.
"Aku bukannya mengejek, aku cuma tanya soal kesehatanmu, kalau kamu betulan sembelit maka aku bisa kasih kamu obatnya! Intinya aku ini peduli! Ini pelajaran untukmu, jangan menilai buruk seseorang sebelum tahu apa maksudnya yang sebenarnya!" ucap Ricky penuh penekanan.
"Iya ... paham," jawab Nisa dengan nada malas.
Tiba-tiba saja musik pesta kembali berhenti. Kemudian muncullah Violet dan Charlie selaku MC acara.
"Tes, tes! Bagaimana teman-teman soal permainan menyatakan perasaan dengan bunga? Pasti seru, tapi ... keseruan ini belum berakhir! Masih ada game menarik selanjutnya! Yaitu kompetisi dansa!" ucap Charlie.
"Kompetisi dansa ini sangat spesial, karena tidak semua tamu bisa ikut serta! Bila ada tamu yang ingin ikut, mohon untuk mendaftarkan nama kalian terlebih dulu! Dan kompetisi ini adalah kompetisi berpasangan yang menguji kekompakan! Kalian harus mencari pasangan menari kalian sendiri, diperbolehkan bebas dari sekolah yang sama ataupun dari sekolah lain! Tapi, karena tema pesta ini valentine, maka peraturannya haruslah perempuan dan laki-laki!" ucap Violet.
"Agar para tamu semakin tertarik untuk ikut serta, maka saya akan memberikan bocoran hadiah bagi pemenang. Setiap orang pasti punya idola, dan lewat event ini kalian berkesempatan untuk berkomunikasi dengan idola kalian lewat video call! Bukan masalah jika idola kalian adalah seorang idol, aktor, aktris, penyanyi, ataupun pemain bola yang berasal dari luar negeri. Karena pihak sponsor punya jaringan yang luas, mereka akan mengusahakan melakukan komunikasi lewat manajer para idola!"
"Waktu pendaftaran terbatas, cuma 15 menit! Untuk itu maka dipersilakan mencari pasangan dansa mulai dari sekarang!!"
Semuanya langsung heboh karena tergiur oleh hadiah yang ditawarkan. Namun hal itu tidak berlaku bagi Ricky, karena idolanya merupakan para penemu dan ilmuwan terkenal yang jelas-jelas sudah meninggal dunia.
"Nisa, ayo kita menonton saja." ucap Ricky yang malah mendapatkan respons tatapan mata kecewa dari Nisa. "Kamu mau ikut?"
Nisa mengangguk.
"Orang sepertimu juga punya idola?!" tanya Ricky seakan tidak percaya.
"Tentu saja punya! Idolaku adalah seorang mangaka!"
"Apa itu mangaka?" tanya Ricky kebingungan.
"Mangaka itu adalah istilah untuk orang yang menggambar manga atau komik jepang. Idolaku itu adalah Oda Sensei! Dia orang jepang yang membuat komik favoritku! Dan aku sangat ingin bicara dengannya!"
"Oh, ya sudah. Kalau begitu cari sana pasangan dansamu!"
"Sudah aku temukan!" ucap Nisa dengan senyum semringah.
"Jangan bilang kalau kamu bermaksud untuk mengajakku!"
"Bukan aku yang bilang, tapi kamu sendiri barusan yang bilang! Hehe, jadi setuju, kan?"
"Aku nggak mau! Untuk apa aku harus berdansa denganmu?" tanya Ricky seakan tidak sudi.
"Karena ini permintaanku, kamu harus menurutinya. Bayar hutangmu! Jangan pura-pura lupa soal taruhan kita saat di atap sekolah! Aku sudah menang dan menjadi Ratu Langit Biru dengan cara yang jujur, sekarang giliranmu untuk memenuhi taruhan itu! Dan aku minta jadilah pasangan dansaku!"
"Tapi Nisa ... pikirkanlah lagi, kompetisi kali ini adalah dansa, dansa!"
"Ya terus? Memang apa masalahnya? Aku bisa kok dansa! Yang jadi pertanyaan itu kamu? Apa kamu ini tipe orang yang mengingkari janjimu sendiri?"
__ADS_1
Sejenak Ricky tertegun dan kemudian menarik napas panjang. "Huft ... oke, kalau begitu mari berdansa denganku!"