
Pekan Olahraga hari ke-2 resmi dimulai, jika kemarin adalah cabang olahraga beregu yang dilombakan, maka sekarang adalah giliran cabang olahraga perorangan. Hari inilah yang menjadi penentuan, hari di mana setiap calon Ratu Langit Biru dan Raja Langit Biru dari masing-masing kelas menunjukkan kehebatannya.
Untuk cabang olahraga beladiri seperti karate, wushu, anggar, taekwondo dan judo sudah tidak diragukan lagi bahwa Nisa lah pemenangnya. Semuanya itu terlihat remeh di mata Nisa, dia yang sudah dilatih dari kecil, yang sudah pernah menghadapi pembunuh profesional, kegiatan ajang olahraga setingkat SMA seakan-akan cuma menjadi peregangan otot baginya.
Namun ada juga beberapa siswa yang menyatakan menyerah sebelum bertanding, karena mereka sadar bahwa melawan Nisa tak ada gunanya. Mereka sudah ketakutan sedari awal, mereka tahu betul bahwa Nisa bermain dengan agresif meskipun tidak menyalahi peraturan.
Berbeda halnya ketika bukan olahraga beladiri, olahraga seperti bulu tangkis, lompat tinggi, panahan dan lainnya. Yang membuatnya berbeda dan semakin menantang adalah lagi-lagi Nisa berhadapan dengan Alina.
Apalagi yang suasananya paling pecah adalah ketika saat lomba lari. Ketika para peserta memasuki lapangan dan menuju ke garis start, semua murid-murid bersorak meneriakkan jagoan masing-masing.
"Alina! Alina! Alinaaa!!"
"Semangat dewi Alina!!"
"Alina pasti jadi ratu!!"
Sorakan untuk Alina jauh lebih dominan, karena tak dapat dipungkiri bahwa Alina disukai oleh banyak orang, dia ramah, peduli dan sopan terhadap semuanya. Tetapi di sisi lain Nisa yang menyadari hal itu merasa iri, dia kemudian menuding ke arah teman-teman sekelasnya yang berada di bangku penonton.
"Apa kalian bisu?! Ayo teriak Nyonya N dengan keras! Awas saja kalau ada yang nggak bilang! Aku tampar kalian satu per satu nanti!!" teriak Nisa dengan nada super keras yang sontak saja membuat orang lain kaget dan teman-teman sekelasnya ketakutan.
"Nyonya N! Nyonya N!"
"Semangat Nyonyaaaa!!"
Teman-teman sekelas Nisa berteriak sekeras mungkin yang mereka bisa, meskipun mereka merasa malu, tetapi rasa ketakutan mereka terhadap Nisa jauh lebih besar.
"Kasihan~ mau disemangati saja harus memaksa," ejek Alina yang sudah akan bersiap melakukan start di sebelah Nisa.
Nisa membisu, dia memilih untuk mengabaikan Alina dan juga bersiap untuk posisi memulai start. Tak lama kemudian wasit memberikan aba-aba yang merupakan dimulainya lomba lari.
Perlombaan lari kali ini Alina memimpin di depan, sorakan untuk Alina semakin terdengar keras. Nisa berusaha untuk secepat mungkin menyusul, tetapi ketika sudah dekat dengan garis finish, dia tetap saja tidak berhasil mendahului Alina.
Alina meraih posisi pertama dalam olahraga lari, sedangkan Nisa hanya mendapatkan posisi kedua. Hal ini sangat membuat Nisa kesal, tetapi Nisa justru melampiaskan kekesalannya kepada orang lain, yaitu budaknya.
Tak ketinggalan juga Amien diperlakukan sebagai pesuruh oleh Nisa. Amien disuruh berlari kesana-kemari untuk memenuhi keegoisan Nisa. Seperti halnya sekarang, Amien terlihat kelelahan dengan membawa sebuah botol minuman, secara kebetulan dia berpapasan oleh Ricky.
"Hai, Kak Ricky!" sapa Amien dengan napas yang terengah-engah.
"Oh, hai juga. Kamu kenapa? Kamu kelelahan karena ikut lomba juga?" tanya Ricky.
"Enggak, aku mana mungkin ikut lomba mewakili kelas. Sudah ya Kak, kalau aku kelamaan nanti Nyonya akan marah!"
"Tunggu sebentar!" ucap Ricky yang mencegat jalannya Amien. Kemudian dia tiba-tiba mengulurkan tangan, "Berikan ke aku!"
"Eh?! Botol ini, tapi ini untuk Nyonya ..."
"Aku tahu, kamu istirahat saja, biar aku saja yang gantikan kamu mengantar minuman itu. Di mana dia sekarang?"
"Dia masih di lapangan, duduk di bangku yang dekat dengan kursi penonton. Tapi, apa Kak Ricky serius mau mengantar?" tanya Amien dengan tatapan keraguan.
"Iya, kamu sekarang bisa istirahat atau kembali ke kelas."
Sebenarnya aku kasihan padamu, kamu mau-mau saja diperintah ini itu. Tapi Nisa itu sendiri juga keterlaluan.
Tak lama kemudian Ricky menemukan keberadaan Nisa sesuai dengan petunjuk yang diberikan oleh Amien tadi. Nisa tampak sedang sibuk, dia terlihat mengalungkan sebuah handuk kecil di leher, sedangkan sebelah tangannya memegang sebuah kipas angin baterai mini.
Nisa yang menyadari kehadiran Ricky merasa heran, tapi dia lebih heran lagi saat Ricky tiba-tiba menyerahkan sebotol minuman kemudian duduk di sebelahnya.
"Senpai, kenapa di sini?" tanya Nisa.
"Aku mengantar minuman untukmu! Kamu juga jangan seenaknya menyuruh-nyuruh teman sekelasmu lagi! Kamu nggak kasihan sama dia?" tanya Ricky dengan nada menyindir.
"Nggak!" jawab Nisa yang kemudian meneguk sedikit air minum yang dibawakan oleh Ricky. "Buat apa kasihan? Toh dia budakku, kamu itu yang sok ikut campur!"
"Hah ... pantas saja para guru sudah menyerah padamu," Ricky berdiri dan hendak pergi dari sana, tetapi tangannya ditahan oleh Nisa.
__ADS_1
"Eitss~ mau ke mana?" tanya Nisa dengan senyuman licik.
"Mau pergi, memangnya aku harus apa di sini terus?"
"Hehe, mana boleh begitu? Senpai sudah mengusir budakku, sekarang yang mengerjakan tugasnya nggak ada, jadi Senpai harus tanggung jawab, gantikan dia mengerjakan tugasnya!"
Ricky lalu menepis tangan Nisa. "Tugas apa?! Memijat badanmu karena kelelahan?! Aku tegaskan ya, aku nggak mau!"
"Siapa juga yang minta dipijat?" Nisa lalu mengambil handuk kecil dari lehernya dan menyodorkan handuk itu kepada Ricky. "Tugasmu adalah lap keringatku!"
"Apa?! Kenapa minta begitu? Lap saja sendiri!"
"Oi, mana bisa? Memangnya kamu pernah lihat pemain tinju atau MMA lap keringat sendiri? Enggak, kan? Aku ini juga pemain yang pantas mendapatkan perlakuan seperti itu, kalau saja budakku itu di sini maka dia juga akan melakukannya! Kalau Senpai nggak mau, aku akan panggil dia ke sini!"
"Ck, sini!" Ricky lalu merebut handuk itu dari tangan Nisa.
Aku terpaksa karena aku manusia yang berjiwa beradab, aku harus sabar dalam menghadapi manusia yang biadab.
Ricky dengan pasrah kembali duduk di sebelah Nisa, dia memegang handuk itu. Tangannya menyibakkan rambut poni Nisa ke samping dan menyelipkan rambut itu di telinga. Ricky mengelap keringat Nisa dengan hati-hati, seakan-akan seperti sedang merawat seseorang yang sakit.
Tentu saja orang lain tidak buta, mereka melihat hal itu. Kebanyakan dari mereka merasa iri kepada Nisa, terlebih lagi Alina yang merasa gerah terbakar api cemburu.
"Nisa, apa kamu merasa kesal?" tanya Ricky tiba-tiba saja yang masih mengelap keringat di pelipis Nisa.
"Kesal kenapa?"
"Habisnya kamu bertingkah menyusahkan orang lain begini, kamu pasti kesal gara-gara kalah dalam lomba lari barusan! Tapi masuk akal juga sih kamu bisa kalah, ini salahmu karena merokok, pernapasan lawanmu jauh lebih bagus dibanding kamu."
"Heh, ini belum berakhir! Masih ada lomba selanjutnya! Aku lebih tertarik untuk menang atas taruhan kita dibanding memenangkan pertandingan pekan olahraga!"
"Kalau begitu buktikan, bersiaplah untuk lomba selanjutnya! Jangan harap bisa curang, karena aku selalu mengawasimu!"
"Iya-iya ... awasi saja aku, jangan pernah lepaskan pandangmu dariku!"
Tak lama kemudian perlombaan kembali berlanjut, masih ada beberapa cabang olahraga yang mesti diikuti oleh Nisa. Seperti tenis, tolak peluru, lempar lembing dan lainnya. Ketika sore hari saat semua pertandingan olahraga telah selesai, semua murid berkumpul di lapangan untuk mendengar pengumuman perolehan nilai.
Bukan cuma Ratu maupun Raja yang merasa senang, teman-teman sekelas mereka juga amat sangat senang. Mereka senang karena sudah pasti mendapatkan hadiah misteri yang akan diumumkan di hari ke-3 pekan olahraga.
***
Pekan olahraga belum berakhir. Meskipun perlombaan telah berakhir, tetapi di hari ke-3 ini SMA Langit Biru mengadakan sebuah event, yaitu bazar. Acara bazar ini adalah acara yang dinanti-nanti oleh masyarakat sekitar. Karena bazar ini dibuka untuk masyarakat umum, masyarakat yang tidak berkesempatan untuk bersekolah di SMA elite ini memiliki kesempatan untuk melihat bagaimana bagian dalam sekolah.
Persiapan acara bazar disiapkan oleh para siswa yang ikut organisasi sekolah terutama OSIS, juga para guru yang ikut membantu dan memberikan arahan. Setiap kelas juga diwajibkan untuk membuat stand bazar khusus yang berbeda-beda dari kelas lainnya.
Bazar dimulai ketika sore hari, acara bazar ini ramai didatangi oleh orang-orang baik yang masih usia sekolah ataupun yang sudah dewasa, tetapi jumlah remaja yang datang jauh lebih dominan.
Suasana bazar itu semakin indah karena dihiasi oleh lampu dan lampion yang berwarna-warni. Makanan, minuman serta hiburan yang disajikan dalam acara bazar juga beragam, terutama yang digemari oleh anak muda.
Jam 7 malam acara bazar semakin meriah, karena sekolah juga mengundang grup boy band dan girl band lokal yang sedang naik daun untuk memeriahkan acara. Ketika penampilan dari grup band berakhir, tiba-tiba host acara mengumumkan sebuah kompetisi baru, yaitu kontes fashion show!
"Selamat malam para hadirin sekalian~ Kali ini akan diadakan sebuah kontes istimewa! Tetapi kontes ini hanya berlaku untuk siswa SMA Langit Biru! Setiap kelas wajib menunjuk 2 orang anak sebagai perwakilan! 1 cewek dan 1 cowok! Peraturannya sederhana, peserta tinggal memakai kostum busana yang telah kami siapkan lalu memperagakannya di panggung sebaik mungkin! Pemenang akan ditentukan dari seberapa meriahnya tepuk tangan yang didapat!"
"Disarankan setiap kelas ikut berpartisipasi ya! Pemenang kontes akan mendapatkan hadiah istimewa sekaligus gelar! Bagi perempuan yang menang maka akan mendapatkan gelar Putri Langit, dan bagi laki-laki maka akan mendapatkan gelar Pangeran Langit! Kami berikan waktu 10 menit untuk setiap kelas berdiskusi!"
Sontak saja semua ketua kelas dari masing-masing kelas menjadi panik setelah mendengar pengumuman dari host acara, mereka semua langsung menunjuk yang menurut mereka paling tampan dan cantik di kelas.
"Waktu 10 menit telah habis! Silakan para perserta menuju ke belakang panggung untuk memakai kostum!"
Para penonton sudah tidak sabar dan penasaran siapa saja yang akan tampil. Di sisi lain dari panggung yang meriah itu, Nisa berada di sebuah stand miliknya sendiri, dengan kekuasaannya dia merebut stand yang semula milik kelasnya. Stand tersebut awalnya menjual takoyaki, setelah jatuh ke tangan Nisa berubah menjadi stand kartu tarot.
Nisa memaksa orang yang datang ke stand nya memilih kartu, kemudian dia menyebutkan ramalan-ramalan buruk kepada semua orang yang mencobanya. Memang hal aneh, tapi itu kesenangan tersendiri bagi Nisa, alhasil stand itu menjadi sepi. Tetapi ajaibnya sekarang, stand itu berubah menjadi tempat belajar.
Penyebabnya adalah Ricky, begitu menyadari Nisa sedang menganggur dia tidak rela membiarkan Nisa tenang.
"Kenapa? Mau aku ramal?" tanya Nisa dengan nada ketus.
__ADS_1
"Nggak," jawab Ricky yang kemudian masuk ke dalam stand lalu duduk di kursi yang berada di sebelah Nisa. "Ayo belajar!"
"Ini acara bazar, oke? Semuanya harus bersenang-senang! Kenapa malah belajar?"
"Memangnya sekarang kamu bersenang-senang? Daripada kamu bosan, lebih baik belajar!"
"Kalau bosan ya main! Kenapa malah belajar?"
"Emm ... kita juga akan main, main tebak-tebakan. Aku kasih kamu soal fisika secara lisan lalu kamu sebutkan apa rumusannya!"
"Permainan orang gila! Mending aku nonton band jelek itu!"
"Konsernya selesai, sekarang acara kontes fashion show! Kamu nggak dengar host tadi bilang apa?"
"Nggak, host itu cuma ..."
Tiba-tiba saja suara host kembali menggema. "Tes tes! Panggilan bagi yang bernama Ricky agar segera naik ke panggung!"
"Dipanggil tuh! Pergi sana!" ucap Nisa.
"Dan juga panggilan bagi Nisa Sania untuk naik panggung segera!" ucap host acara yang suaranya menggema.
"Kamu juga dipanggil tuh!" ucap Ricky seakan menyindir.
"Ck ..."
Nisa dan Ricky meninggalkan stand, kemudian mereka bersama-sama naik ke atas panggung. Saat mereka berdua naik, mereka melihat Alina dan David yang memakai kostum seperti putri dan pangeran kerajaan.
Host kembali berkata, "Tampaknya yang baru datang masih kebingungan. Kedua orang di samping saya ini adalah pemenang kontes, Putri Langit dan Pengeran Langit! Hadiah spesial yang mereka dapat yaitu dapat melakukan slow dance dan menunjuk pasangan menari sesuka hati."
"Slow dance?!" Nisa dan Ricky terkesiap.
"Yap! Putri Langit ingin berpasangan dengan Ricky, sedangkan Pengeran Langit menginginkan Nisa Sania sebagai pasangan menarinya!"
"Aku menolak," ucap Ricky yang seketika mengagetkan semua orang. "Maaf, tapi aku bukan bagian dari hadiah kontes. Dan aku menolak untuk menari di sini. Permisi," Ricky langsung turun dari panggung.
Tentu saja Alina kecewa, tetapi rasa malu yang dia alami jauh lebih besar. Dia secara langsung mengalami penolakan di depan umum, suasana penonton pun menjadi hening.
Di tengah keheningan itu, tiba-tiba saja David berlutut di depan Nisa sambil memegang sebuah mawar merah. "Bos, eh maksudku ... Ratu, maukah menari denganku?"
"Kenapa kau bisa ada di sini?" ucap Nisa dengan suara lirih.
"Mau bagaimana lagi? Aku kan paling ganteng di kelas, aku dipaksa ikut kontes aneh ini. Tolong aku bos, aku nggak bisa menari. Aku nggak mau malu, aku mohon buatlah keributan agar kita bisa turun dari panggung!" jawab David dengan suara yang sama lirihnya.
"Oke, tapi sebelumnya maaf."
"Maaf untuk ap ..."
PLAKK!!
Sebuah tamparan keras melayang ke wajah tampan David, dia kemudian berdiri sambil memegangi pipinya. Host dan penonton pun kaget.
"Bangs*t! Jijik tau! Kita putus!" teriak Nisa.
Sejenak David tertegun, kemudian dia berteriak, "Kenapa putus?! Apa salahku sayang?!"
"Jangan panggil aku sayang! Pokoknya kita putus! Aku malu di atas panggung dilihat banyak orang!"
"Memangnya itu salahku?! Aku kan cuma menuruti aturan kontes! Salahkan saja pihak panitia acara!"
Para penonton semuanya tercengang dengan apa yang barusan mereka lihat. Tapi pengecualian bagi siswa Langit Biru, mereka tahu betul bahwa Nisa dan David tidak pernah ada hubungan pacaran dan cuma ingin membuat keributan. Tetapi karena acara ini dibuka untuk umum, maka selain siswa Langit Biru menganggap Nisa dan David memang betulan bertengkar.
Alina berfirasat buruk, dia kemudian membisikkan sesuai kepada host acara. Host itu kemudian mendekati Nisa dan David.
"Mohon maaf, sebaiknya kalian turun saja. Bicarakan baik-baik di belakang panggung!"
__ADS_1
Begitulah acara kontes fashion show malam ini, semuanya berakhir di luar dugaan akibat ulah Nisa. Dia dan David terbebas dari tuntutan menari, lalu turun dari panggung sambil disoraki penonton dengan kata-kata buruk.