TRyING TO GET IT

TRyING TO GET IT
kerjasama


__ADS_3

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


hansung makan tiba tiba terhenti karena ia penasaran kenapa rizda bisa ada dirumahnya Kevin, sebenarnya ia masih sedikit cemburu sehingga itu dia ingin mengetahuinya lebih dalam seketika ia memberanikan diri untuk menanyakannya


" Riz, kenapa kau bisa ada dirumahnya'" ujar hansung dengan suara sedikit ragu ragu kepadanya


" maksudmu, kenapa aku berada dirumahnya Kevin? kenapa? apa,,,, kau cemburu?" uajr rizda dengan suara menggoda Hansung, ia ingin bermain dengannya


" apa? cemburu? kenapa aku harus cemburu" ujar hansung dengan suara tertawa seakan akan dia sama sekali tidak cemburu


" tidak, aku hanya penasaran saja" ujar hansung


" benarkah?" ujar rizda dengan tersenyum jahil kepadanya seperti ia mengetahui apa yang Hansung rasakan membuat Hansung terdiam dan membeku


" aku hanya bercanda, kenapa kau kelihatan begitu serius," ujar rizda


" aku tidak sengaja ketemu dengan dia dijalan tafi" ujar rizda


" benarkah?"" ujar hansung


lalu rizda mengangguk kepalanya untuk meyakinkan hansung, bahwa perkataannya, benar


...kring,,,kringg,,kringg...


headphone Hansung berbunyi, itu adalah panggilan menejer utamanya


" baiklah, aku akan kesana" ujar hansung ia mengangkat telfonnya dengan suara sinis


dan ia mematikan telfonnya langsung sehingga ia berbicara dengan cara singkat, menejer utamanya tidak sempat bilang apa apa karena langsung dimatikan


rizda melihat hansung sambil memegang sendoknya


" kenapa, apa kau ada urusan" ujar rizda


" iya, aku hampir lupa, bahwa ada meeting yang sangat penting hari ini" ujar hansung ia siap siap pergi dan meninggalkan rizda dirumah


rizda melihat hansung dari jendela dengan jarak jauh lalu ia menarik nafas dan memegang headphonenya dan menelfon seseorang


" paman, aku ingin bertemu denganmu dan juga para detektif itu" ujar rizda dengan suara serius lalu ia pergi dengan menggunakan mobilnya


beberapa menit kemudian mereka semua berkumpul selain Hansung


" dimana pacarmu?" ujar rizja


" maksudmu? , hansung?, dia sibuk dan aku tidak mau orang lain terlibat karenaku" ujar rizda sambil memainkan leptopnya sambil dengan wajah serius


" apa kau menemukan sesuatu?" ujar rizja dengan wajah penasaran karena tiba tiba rizda meminta bertemu


" aku sudah mengetahui, siapa mencelakai ayahku dan telah membunuh ibuku" ujar rizda membuat mereka semua kaget


" apa kau yakin?" ujar reem langsung menatap rizda


lalu rizda mengangguk kepalanya


" apa kau ada buktinya" ujar rizja


" aku memiliki bukti dan saksi, hanya saja saksi itu sudah meninggal dunia" ujar rizda


" apa maksudmu? saksi? siapa dia?" ujar rizja dengan wajah penasaran


" orang yang bunuh diri itu" ujar rizda


" lalu buktinya, apa?" ujar reem dengan suara penasaran


" aku sudah mencocokkan wajahnya dengan wajah yang berada di cctv yang membunuh ayahku dan cctv ketika waktu kecelakaan membuat ibuku meninggal, pelakunya orang yang sama " ujar rizda


" bukannya? cctv dirumahmu, sudah diambil oleh polisi, dan darimana kau mendapatkan cctv yang sudah beberapa tahun? bagaimana kau mendapatkannya" ujar reem tidak mempercayainya


" itu mudah sekali, aku meretasnya dengan kemampuanku" ujar rizda

__ADS_1


lalu menunjukkan kepada mereka, dan mereka semua kaget


" dia,,, ternyata dia" ujar rizja


" kenapa kau langsung mencurigainya, padahal dia tidak mencurigakan sama sekali, itu sangat tidak masuk akal" ujar reem


" sebelum orang itu bunuh diri, dia memberitahukanku, bahwa, yang ingin membunuhku dan keluargaku dia mengenalku dan akrab denganku tetapi dia tidak mengenal identitasku sama sekali" ujar rizda


" benarkah? apa hanya itu " ujar rizja


"sebenarnya masih ada lagii" sahut didalam hatinya rizda


" jadi? apa kita a langsung menangkapnya ?" ujar rizja


" apa maksudmu kapan?, tentu saja kita langsung menangkapnya sekarang, kita sudah ada bukti" ujar reem


" benar, perkataan reem , benar !!!" ujar serentak anak buahnya reem langsung menyetujui ide reem


" aku tahu kalian bodoh tetapi aku tidak sangka kalian benar benar sangat bodoh ?" ujar rizda sambil menggelengkan kepalanya


" bo,,,, bodoh,, apa maksudmu, wanita aneh" ujar reem dengan suara begitu kesal


" bukti ini tidak terlalu kuat, kita harus mendapatkan bukti lebih kuat lagi, supaya dengan bukti yang kuat kita menganangi kasus ini dengan mudah" ujar rizja


" bukti kuat?, bagaimana caranya, kita tidak ada bukti lagi, karena kita hanya mengandalkan cctv, bahkan bukti ini susah kita dapatkan" ujar reem, ia sangat kesal karena harus mencari bukti lagi


" kita tidak perlu mencari bukti tetapi kita yang membuat bukti itu" ujar rizda


mereka semua yang mendengarkannya terdiam dan menatap rizda


mereka menatapnya karena rizda seperti sudah ada yang ia rencanakan


" bagaimana caranya membuatnya" ujar rizja


lalu mereka semua berkumpul dan membisik rencana selanjutnya


tetapi rencana itu sedikit ekstrim


" iya, aku harus mempenjarakannya" ujar rizda


" apa kalian setuju" ujar rizda


" baiklah, aku setuju" ujar rizja sambil menghela nafas


begitu juga reem dengan anak buahnya menyetujui rencana rizda


keesokan harinya Rizda pergi ke perusahaannya untuk mengelolah perusahaannya karena menggantikan ayahnya sementara waktu dengan wajah serius sampai ia lupa waktu


dan tiba tiba h heandphonenya ada pesan masuk ternyata itu Hansung


" jangan lupa makan" ujar hansung lewat pesan


" baiklah" ujar rizda membalas pesannya Hansung


" aku memesan mie dan susu" ujar rizda langsung menghubungi bawahannya lewat headphone perusahaan


" baiklah" ujar bawahannya dan membawakannya kepada bosnya


malam hari kemudian ada seseorang dari jarak jauh menatap perusahaan yuhan, ia menggunakan jaket hitam, kecemata, topi dan masker untuk menutupi wajahnya ternyata laki laki itu adalah pelakunya dan ia memegang selembar foto, ternyata itu adalah foto rizda bersama ibu dan ayahnya


" aku tidak menyangka, kau adalah anaknya, pantas saja wajahmu mirip dengannya" ujar orang itu sambil menggenggam erat foto itu sampai hancur


" aku akan membunuh kalian, semua" ujar orang itu dengan tatapan menakutkan lalu pergi


hansung menjemput rizda lalu membawanya pulang kerumah seperti biasanya , dan neneknya sudah menyiapkan makanan untuk mereka


" silahkan duduk, aku tahu kalian sudah lapar, sini makanlah" ujar neneknya dan memegang tangannya rizda dan membawanya ke kursi


dan mereka makan seperti biasanya lalu rizda menatap mereka berdua begitu lama

__ADS_1


" terima kasih" ujar rizda


membuat Hansung dan neneknya terdiam


" terimakasih sudah merawatku, aku senang bertemu dengan kalian" ujar rizda tersenyum


" apa maksudmu, kenapa kau mengatakan begitu, kau adalah sudah bagian keluarga Disini" ujar nenek itu kearah rizda


rizda tersenyum kearah nenek dan juga Hansung


" kau kenapa, apa kau senang ini hari" ujar hansung sambil mengunyah makanannya


" iya, ayahku sudah sadarkan diri, aku ingin kau menemaniku menjenguknya, apa kau mau?" ujar rizda


" ka,,,kau mengajakku" ujar hansung dengan nada kaget


"kau tidak bisa?" ujar rizda


" tentu saja, aku bisa besok, aku ada waktu" ujar hansung lalu memakan makanannya begitu semangat karena ia sangat senang


" ada apa dengannya, dia benar benar aneh" ujar rizda melihat tingkah laku hansung seperti anak kecil yang sedang makan makananya, tanpa sadar rizda tertawa melihatnya


membuat suasana disana sangat hidup dan romantis


keesokan harinya Rizda dan hansung pergi kerumah sakit dimana ayahnya dirawat


" ayah" ujar rizda yang melihat ayahnya yang sedang menatap jendela lalu melihat rizda karena mendengarkan suara ayahnya dan tersenyum kearahnya


"apa ayah baik baik saja?" ujar Rizda


" iya, ayah baik baik saja" ujar dahyun


" kemarilah, apa kau baik baik saja, apa ada yang terluka, apa kau makan dengan teratur, apa ada orang mengusikmu disana" ujar dahyun yang begitu banyak pertanyaannya karena ia sangat merindukan putrinya


" aku baik baik saja,tenanglah, jangan khawatir, ayah istirahat dengan baik" ujar rizda


"Presdir Han, kenapa kau disini" ujar dahyun yang menatap hansung


hansung begitu kaku dan tidak berani menatapnya karena sedikit canggung baginya


" aku mengajaknya " ujar rizda


" apa kau memberitahukan, identitasmu?" ujar dahyun menatap rizda


" Akku,,, dia mengetahui karena tidak sengaja,,,'' ujar rizda


" maaf tuan, aku yang terburu buru dan mengungkapkan identitas asli nona, jangan salahkan nona tuan" ujar Fajri buru buru menjelaskan


" tidak perlu dijelaskan, aku tau karakter anakku" ujar dahyun


" sebenarnya ada denganmu ayah, apa ayah memiliki musuh? kenapa ayah bisa ditikam " ujar rizda kearah ayahnya


" aku tidak tahu, aku tidak sama sekali punya musuh" ujar dahyun dan mengingat ngingat apakah dia mempunyai musuh


" benarkah?" ujar rizda


" apa kau meragukan ayahmu, kurasa dia iri sama aku karena tahtaku" ujar dahyun


" apa ayah melihat wajahnya" ujar rizda


" tidak, aku tidak melihatnya karena dia menikamku dari belakang, kurasa dia benar benar takut dengan ku sampai ia menikamku dari belakang" ujar dahyun


" kenapa dia menikamnya? apa alasannya, apa benar benar iri kepada ayahku,dan kenapa harus dia" sahut rizda di dalam hati


" apa orang itu belum ditemukan?" ujar dahyun


" belum tuan" ujar Fajri


" tenang saja ayah, dia akan ditemukan dan dipenjara atas perbuatanya, jadi jangan khawatir apa apa, istirahatlah" ujar rizda

__ADS_1


ayahnya mendengarkan itu ia sedikit senang karena rizda benar benar sudah dewasa


" kau sudah berubah" gumam dahyun


__ADS_2