Tumber Line

Tumber Line
Chapter 17


__ADS_3

"Ya Ampun kak udah gerimis" ucap Echa. Namun Kelan hanya diam saja.


"Ini manusia dengar gue ngomong gak sih" ucap Echa didalam hatinya.


"Kak kayak nya mau hujan ni" ucap Echa sekali lagi. Lagi-lagi Kelan tidak menjawab.


"KAK!" teriak Echa. Kelan tersentak dia menolehkan kepalanya ke belakang, menatap Echa dengan tatapan kesal.


"Apaan sih lo berisik banget" ucap Kelan. Echa mengerucutkan bibirnya kesal.


"Kak kayak nya mau hujan deras deh" ucap Echa.


"Ya terus kenapa?" ucap Kelan cuek.


"Gak neduh dulu kak?" Tanya Echa sambil sedikit mendekatkan kepalanya ke depan.


"Gak usah, ntar lagi juga sampai" ucap Kelan. Echa hanya diam tidak lagi bertanya. Namun beberapa menit kemudian hujan mulai turun dengan deras, Echa mulai panik.


"KAK NEDUH DULU AJA" ucap Echa sekuat mungkin agar Kelan mendengar suaranya. Kelan hanya mengangguk, dan mulai mencari tempat untuk berteduh. Kelan melihat sebuah ruko tutup di sebrang sana, dia membelokan motor nya ke arah kanan dan mereka pun berteduh di ruko itu. Echa turun dari motor Kelan, baju nya lumayan basah karena terkena air hujan tadi.


Beberapa menit kemudian, Echa mulai kedinginan dia menggosokkan kedua telapak tangannya agar merasa hangat, Kelan yang melihat Echa kedinginan seperti itu mulai membuka jaket nya dan memberikan nya kepada Echa.


"Pakai jaket gue, ntar lo masuk angin lagi" ucap Kelan memberikan jaket itu tanpa menatap Echa sama sekali. Echa mengambil jaket itu dan mulai memakainya.


"Makasih ya kak" ucap Echa sambil tersenyum.


"Iya" ucap Kelan dengan ekspresi datar. Keadaan mulai sunyi hari sudah mulai semakin gelap. Namun mereka berdua masih terjebak hujan. Echa memandang langit yang tampak gelap kemudian teringat akan sesuatu.


"Kakak tau gak sih kenapa bintang itu indah?" tanya Echa. Kelan mengerutkan dahi nya, dan mulai berfikir.


"Karena kelap kelip" ucap Kelan. Dan itu membuat Echa tertawa kecil.


"Ya ampun kakak lucu banget sih" ucap Echa masih dengan tertawa. Kelan yang melihat Echa tertawa menjadi kesal.


"Kenapa, salah?" tanya Kelan.

__ADS_1


"Gak kok, cuman ya jawabannya agak aneh aja" ucap Echa. Kelan mulai penasaran.


"Terus Jawaban yang benar apa?" tanya Kelan.


"Kakak mau tau jawaban yang benar nya?" ucap Echa sambil memandang sekali lagi ke arah langit.


"Bintang itu indah karena cahaya yang di pancarkan nya dapat menenangkan hati" ucap Echa tersenyum ke arah langit. Kelan yang mendengar nya semakin heran, tetapi dia tidak mau bertanya lagi.


"Bintang itu sama kayak kakak indah di pandang, cuman bedanya kakak dingin kayak kulkas berjalan" ucap Echa. Kelan yang mendengar itu terkekeh pelan, namun dia menutupi itu dengan berpura-pura kesal.


"Terus kalau gue dingin kenapa?" tanya Kelan.


"Bakal susah untuk aku gapai kak" jawabnya jujur. Membuat Kelan terdiam.


"Maksud lo apa gue gak ngerti?" tanya Kelan sekali lagi. Echa hanya tersenyum.


"Gak ada kak, lupain aja" ucap Echa, tetapi Kelan menjadi penasaran. Kelan menutupi rasa penasaran dengan gaya cool nya. Echa melihat Kelan.


"Kamu bagaikan bintang yang sulit untuk ku gapai" ucap Echa di dalam hati nya. Kelan yang merasa di perhatikan seperti itu mengerutkan dahinya, merasa heran dengan tingkah gadis yang ada di samping nya saat ini.


"Gak papa, emang gak boleh ya?" Echa bertanya kepada Kelan.


"Gak" ucap Kelan singkat. Kemudian Kelan beranjak dari sana, dia berjalan menuju Motor nya, Echa pun melihat nya heran.


"Mau kemana kak?"  tanya Echa.


"Lo gak mau pulang?" Kelan balik bertanya. Echa melihat sekeliling nya ternyata hujan telah berhenti.


"Eh udah berhenti ya?" tanya Echa.


"Udah, lo mau pulang apa gak" ucap Kelan mulai kesal.


"Iya kak" ucap Echa, dia berjalan ke arah motor Kelan dan mulai menaiki nya. Kelan menyalakan motor nya, dan mereka pun pergi dari ruko itu. Keheningan melanda mereka berdua.


"Rumah lo dimana?" Ucap Kelan samar-samar.

__ADS_1


"Apa kak?" tanya Echa, dia samar-samar mendengar suara Kelan.


"RUMAH LO DIMANA?" teriak Kelan. Membuat Echa menggosokan kedua telinganya sambil menatap Kelan kesal.


"Pelan-pelan dong kak ngomong nya" ucap Echa kesal. Kelan menghela nafas berat.


"Rumah lo dimana?" tanya Kelan kesekian kalinya.


"Di jalan Arumsri, perumahan Taman Asri kak, blok c, no 28" ucap Echa.


"Oke" ucap Kelan. Beberapa menit kemudian Echa sampai di rumah nya. Echa turun dari motor Kelan. Dan dia merapikan rambut nya yang sedikit berantakan.


"Makasih ya kak udah antar Echa pulang, gak mau mampir dulu?" tanya Echa.


"Gak usah, lain kali aja" ucap Kelan.


"Ohh, iya deh, sekali lagi makasih ya kak" ucap Echa sambil tersenyum.


"Ya sama-sama" ucap Kelan.


"Gue pamit pulang" ucap Kelan, Kelan menyalakan motor nya dan pergi dari sana.


"Hati-hati di jalan kak" ucap Echa sambil melambaikan tangannya. Echa menatap Kelan hingga sudah tidak terlihat lagi. Kemudian Echa membuka pagar rumah dan masuk ke dalam rumahnya. Namun baru beberapa langkah Echa teringat akan sesuatu.


"Ya Ampun jaket kak Kelan lupa gue balikin" ucap Echa menepuk jidat nya.


"Besok aja deh gue balikin" ucap Echa. Dia kembali melangkah kan kaki nya ke dalam rumah.


****


Sampai sini dulu ya:)


Jangan lupa dukungan and coment


Terimakasih

__ADS_1


__ADS_2