
{Chapter 17} \= {Penjelasan}
*"Kapan mereka diserang?"* ```Tanya Sema```
*"Tengah malam tadi!"* ```Jawab Raja Hartlin```
*"Bukannya anda dari sana?"* ```Tanya Sanvu```
*"Ya. Memang saya kembali dari sana, namun berita penyerangan mereka baru sampai kepadaku di saat para prajurit yang aku utus ke Malona diserang oleh beberapa orang asing. Beruntung beberapa dari mereka bisa menyelamatkan diri"* ```Jelasnya```
*"Gawat!"* ```Raja Bagru terlihat sangat panik```
*"Ada apa ayah?"* ```Tanya Dunza```
*"Sudah kubilang jangan panggil dia ayah!!!"* ```Putri Maryam memukul perut Dunza```
*"Aduh..., kalau pukul itu yang lembut sedikit putri..."* ```Ucapnya kesakitan```
*"Salah sendiri, kenapa panggil dia ayah"* ```Putri Maryam menoleh ke arah lain```
*"Boleh anda lanjutkan?"* ```Ucap Raja Hartlin```
*"Baiklah. Sewaktu saya dirasuki oleh berlian yang kalian sebut, saya seperti mengingat beberapa waktu sebelum saya tak sadarkan diri"* ```Jelas Raja Bagru```
*"Di waktu itu, anda sedang melakukan apa?"* ```Tanya Madini```
*"Para prajurit saat itu berusaha membantuku dan mengangkat ku ke kamar, setelah itu saya mengucapkan kata yang saya sendiri tidak bisa mendengarkannya. Namun, entah kenapa, sewaktu saya selesai mengucapkan kata tersebut, para prajurit yang berada di dekat saya menjadi sangat tidak terkendali dan membunuh prajurit lainnya. Mereka kemudian pergi ke suatu tempat yang saya tidak tahu setelah saya mengucapkan sesuatu lagi. Tidak mungkin kalau mereka..."* ```Raja Bagru semakin khawatir menduga-duga bahwa sebenarnya para prajuritnya lah yang menyerang Malona```
*"Saya tahu apa yang anda katakan di waktu itu!"* ```Seseorang muncul di hadapan mereka```
*"Kau. Apa kau sudah bebas?"* ```Kaget Dunza, ternyata ia adalah Riksrel```
__ADS_1
*"Hah, tidak usah permasalahkan itu. Saya ingin mengucapkan terlebih dahulu terima kasih kepada Putri Maryam yang telah membebaskan ku, dan saya meminta permohonan maaf dari anda karena berusaha melakukan pembunuhan"* ```Ucap Riksrel```
*"Iya, tidak apa-apa. Saya sudah lupakan itu, ayahku juga memberi perintah itu saat ia tidak sepenuhnya sadar. Sebagai gantinya, kamu harus bisa membantu pasukan Turwel agar dapat melakukan perintah terakhir dari guru mereka."* ```Ucap Putri Maryam```
*"Baik. Saya waktu itu melihat Raja Bagru tengah berjalan santai di malam hari, saya ingin menyapa nya. Namun entah kenapa, saya seperti merasakan ada yang menarikku dari belakang. Saya berusaha agar bisa melepaskan tarikannya, namun hasilnya tetap nihil. Di saat saya tengah berusaha bebas, Raja Bagru terlihat seperti kerasukan sesuatu. Ia memegang kedua kepalanya dan mengeluarkan aura yang sangat gelap. Para prajurit yang datang saat itu untuk menolong Raja Bagru diserang oleh beberapa bayangan hitam. Namun mereka tidak terluka sama sekali. Kemudian mereka mengangkat Raja Bagru ke kamarnya, namun mereka semua merasa Raja Bagru terlalu berat. Padahal mereka adalah prajurit yang sangat kuat, di saat para prajurit itu masih berusaha mengangkatnya, mata mereka semua tiba-tiba berubah warna menjadi merah, Raja Bagru juga memiliki warna mata yang sama dengan mereka. Tak lama setelah itu, Raja Bagru berteriak kepada para prajurit agar menyerang kerajaan Malona dengan sangat cepat dan secara diam-diam. Entah kenapa, para prajurit itu malah membunuh juga prajurit yang tidak terpengaruh benda itu. Setelah mereka semua pergi meninggalkan Raja Bagru, tarikan itu seolah-olah melepas saya dan membuatku akhirnya bisa berlari ke arahnya. Di saat saya sudah sampai di sisi Raja Bagru, ia memperlihatkan matanya yang berwarna merah itu, kemudian berkata "Bunuh Maryam!". Saya merasa tidak percaya dengan itu, namun secara tiba-tiba kesadaran saya juga hilang tanpa saya sadari. Setelah itu, tiba-tiba saya sadar kembali di saat kalian mengalahkan ku. Saya tidak tau bagaimana, dari awalnya saya berada di istana, tiba-tiba berada di gerbang kerajaan Selaon."* ```Ucap Riksrel sambil menoleh ke arah mereka```
*"Kalau begitu, bisa gawat jika mereka melakukan penyerangan lagi. Kita harus segera berangkat ke sana juga!"* ```Ucap Turva dengan marahnya```
*"Kalau begitu, saya juga akan menemani kalian jika secara kebetulan kalian mendapatkan situasi yang sangat darurat."* ```Raja Hartlin memberikan bantuan nya dengan para prajurit nya```
*"Saya juga akan ikut..."* ```Putri Maryam merasa bahwa ia juga harus membantu agar membersihkan nama baik ayahnya```
*"Saya juga..."* ```Madini tidak mau kalah ikut dengan mereka```
*"Tidak boleh, kalian harus di sini menjaga Raja Bagru. Jika tidak ada, maka kesehatannya akan semakin memburuk. Kalian harus tetap di sini untuk melindungi Selaon."* ```Jelas Raja Hartlin```
*"Tapi...,"* ```Madini masih ingin ikut dengan mereka```
*"Tapi...,"* ```Madini belum bisa menerimanya```
*"Oi, saya tahu ini darurat. Jadi kalian jangan dulu berduaan, oke?"* ```Kesal Sepurga```
*"Berduaan?"* ```Heran Turva```
*"Hadeh..., Ayo, sekarang kita berangkat saja. Biar mereka yang menjaga Raja Bagru"* ```Ucap Sepurga```
*"Ya, aku tahu kok..."* ```Turva tidak sadar dengan keadaanya```
*"Baiklah. Kalau begitu, jaga Raja Bagru dengan baik ya, kalian berdua."* ```Ucap Turva kepada Putri Maryam dan Madini```
*"Guru akan kembali dengan selamat bukan?"* ```Madini memeluknya```
__ADS_1
*"Pastinya, guru berjanji akan kembali dengan selamat"* ```Turva mengelus kepala Madini sambil tersenyum```
*"Turva, ayo cepat. Nanti kau ketinggalan!"* ```Limzy memanggilnya```
*"Ya? Oke! Tunggu saya!, Madini. Tunggu guru ya."* ```Turva pun pergi berangkat dengan mereka```
*"Jaga diri baik-baik guru"* ```Ucap Madini berusaha mempercayai perkataan Turva```
*"Pastinya! Kamu jangan khawatir ya!"* ```Turva akhirnya pergi berangkat dengan yang lainnya```
*"Benar, ini bukan hanya soal mencari berlian, tapi ini tentang menjaga kedamaian seluruh umat manusia!"* ```Ucap Turva dalam hati```
*"Turva akan baik-baik saja kan?"* ```Madini merasa khawatir dengannya```
*"Tenang saja, Madini. Mereka semua pasti akan selamat"* ```Putri Maryam meyakinkannya```
*"Benar, mereka adalah pasukan terhebat dari Kerajaan Malona. Mustahil jika mereka dikalahkan oleh lawan seperti itu"* ```Raja Bagru merasa yakin dengan mereka```
*"Kalau kalian berkata seperti itu, saya hanya bisa percaya saja..."* ```Madini akhirnya mempercayai mereka```
```Sementara di perjalanan...```
*"Apa tidak apa-apa langsung masuk ke Malona tanpa mengetahui apa mereka masih ada di sana. Jika menyerang secara tiba-tiba ke arah kita akan gawat jadinya."* ```Ucap Emily```
*"Tenang saja, saya punya rencana yang sangat bagus untuk hal seperti ini..."* ```Raja Hartlin meyakinkan mereka```
*"Baiklah. Kalau begitu, tolong kerjasamanya. Hartlin!"* ```Sanvu sudah mulai terbiasa memanggilnya```
*"Sanvu..., Ya, baiklah! Ayo maju semua!!!"* ```Raja Hartlin juga tidak lupa membawa 3.000 pasukan terpilihnya untuk membantu keadaan di Malona```
```Mereka akhirnya telah sampai di gerbang Malona, dan keadaan di sana telah sangat hancur. Hampir semua bangunan hancur dan terlihat beberapa pasukan berjumlah 1.000 orang mengepung istana Raja Kurgosul!!!```
__ADS_1
_(Berlanjut ke chapter 18!)_