Turva (Pedang Dan Angin)

Turva (Pedang Dan Angin)
Chapter 42 ( Yang Asli )


__ADS_3

Chapter 42 ( Yang asli )


( Saat ini Leona bertemu dengan pembunuh ayahnya, apa semuanya akan baik-baik saja? )


"Bukan apa-apa" ( Ucap Leona menjawab perkataan Tigra )


"Begitu..., Karena disini berbahaya ikutlah bersama kami menghadap ke raja Kurgosul" ( Balas Tigra )


"Tentu saja, kami akan senang dengan tawaran itu" ( Ucap Leona )


"Ya..." ( Tigra melihat senyuman Leona yang seakan-akan menyembunyikan sesuatu )


"Kalau begitu, cepatlah. Raja Kurgosul menunggu kita" ( Ucap Turva )


"Ya!" ( Setelah beberapa lama, sampailah mereka di istana Malona )


"Oh..., Ternyata kalian sudah datang" ( Raja Kurgosul segera menyambut mereka )


"Sebenarnya di sana sangat menyulitkan kami..." ( Ucap Sepurga )


"Sulit? Bukannya dua harimau saja yang kalian lawan?" ( Tanya raja Kurgosul )


"Betul sekali raja, disana sama sekali tidak sulit" ( Jawab Seberma menutup mulut Sepurga )


"Tavi, yivawa haimau ja iva enjadi maduvia" ( Jelas Sepurga yang ditutup mulutnya )


"Oh, ya..., Baguslah jika begitu. Benar juga, ini surat kalian" ( Raja Kurgosul memberikan tujuh surat yang pernah diambil oleh raja Hartlin )


"Eh?" ( Turva terkejut )


"Itu, bukannya suratnya sudah kita taruh di Selaon?" ( Ucap Dunza, setelah membaca surat yang dibawa raja Hartlin, Turva menyimpannya dengan baik di sana karena yang bisa menjaga surat itu baik-baik raja Hartlin saja )


"Sebenarnya, saat aku melihat-lihat rumah guru aku melihat lemari nya yang terkunci belum terbuka. Saat aku membukanya terlihat tujuh kertas yang dimaksud raja Hartlin ternyata ada di situ" ( Balas Dubas )


"Tapi, bukannnya raja Hartlin sudah menemukannya?" ( Ucap Sema )


"Itu benar, tapi surat itu hanyalah buatannya. Surat inilah yang asli" ( Jelas Limzy )


"Kita akan membukanya setelah menyambut dua tamu penting kita" ( Ucap pangeran Goslancart )


"Dua tamu penting?" ( Batin Tigra )


"Kemarilah" ( Raja Kurgosul memanggil mereka )


"Baik, tuan raja" ( Leona dan Youen segera menghadap )


"Para murid Turgam, mereka adalah dua tamu penting kita. Salah satu dari mereka adalah anak dari panglima Barema, yaitu panglima Puvi" ( Saat raja Kurgosul menyebutkan nama panglima Puvi, Tigra akhirnya menyadari jika sekarang yang ada di depannya adalah anak dari orang yang telah ia bunuh )


"Tidak mungkin ini kebetulan kan...?" ( Batin Tigra )


"Tigra..., Kau tidak lupa kan?" ( Tanya Delta )


"Hmm? Oh, benar juga" ( Tigra kemudian berjalan ke arah Leona dan menunduk )


"Maaf jika saya menyela perkataan raja, tapi saya ingin memberitahu sesuatu kepada Leona" ( Ucap Tigra )


"Saya mempersilahkanmu" ( Balas raja Kurgosul )


"Ada apa, Tigra?" ( Tanya Leona tersenyum )


"Begini, Leona..." ( Tigra merasa berat jika memberitahu nya )


"Tenang saja, aku telah memaafkanmu" ( Ucap Leona, Tigra mengangkat kepala nya )


"Jadi, apa kau sudah tahu?" ( Tanya Tigra )


"Tentu saja, aku sudah lama mengetahuinya" ( Balas Leona )


"Begitu..., Tapi aku masih merasa bersalah karena ayahmu. Aku ingin diberi hukuman yang setimpal" ( Ucap Tigra )


"Oi, itu terlalu berlebihan..." ( Lanjut Emily )


"Bagaimana aku harus memberimu balasan..." ( Leona dengan kemampuannya memainkan fikiran Tigra yang dipenuhi rasa bersalah )


"Sudahlah Leona, dia sudah menyadari kesalahannya. Seharusnya kita memaafkannya..." ( Youen memberinya saran )


"Aku setuju dengan kak Youen, tapi aku punya ide bagus" ( Balas Leona )


"Hmm?" ( Youen penasaran )


"Benar juga, untuk balasannya kau akan kuberi sedikit perintah" ( Ucap Leona )


"Apapun itu, saya akan mematuhinya" ( Mendengar itu, semua yang ada di istana terkejut. Maklum karena salah satu dari pasukan terbaik mereka menunduk di hadapan perempuan yang bahkan tidak dapat dikatakan kuat )


"Begini saja, bagaimana jika kau mengajarkanku menggunakan pedang?" ( Leona memberinya sebuah saran yang dimana Tigra cukup bisa melakukannya )


"Apa tidak ada lagi?" ( Tanya Tigra )


"Tentu saja ditambah kau tidak boleh mengkritik ku dengan sangat keras saat melatih ku" ( Balas Leona )


"Kalau begitu, aku menyanggupi nya!" ( Tigra berusaha agar menebus kesalahannya membunuh panglima Puvi )


"Dan juga, karena mereka berdua adalah korban yang tak bersalah saat perang panjang itu, mereka akan diberi sebuah pemberian sebagai permintaan maaf karena telah membuat mereka menderita" ( Raja Kurgosul memberikan mereka sejumlah emas yang cukup banyak )


"Banyak sekali..., Ini mungkin cukup untuk tempat penitipan" ( Batin Leona )


"Apa kalian puas dengan pemberian kami?" ( Tanya pangeran Goslancart )


"Baik, ini sudah cukup. Bahkan ini terlalu banyak, terima kasih pangeran. Sekarang penitipan tempat kami tinggal akan serba kecukupan" ( Balas Leona )


"Penitipan...?" ( Ucap Turva )


"Benar juga, saya belum memberitahu kalian. Mereka berdua dari kerajaan Barema dan sekarang mereka tinggal di tempat penitipan anak disana" ( Jelas raja Kurgosul )


"Begitu..." ( Balas Turva singkat )


"Benar juga, ayo kita membuka surat nya bersama-sama sekarang" ( Ucap Dubas )


"Oh..., Benar juga. Permisi raja, kami ingin menuju ke kamar Dubas terlebih dahulu" ( Turva meminta izin )


"Eh? Kenapa kamarku?" ( Tanya Dubas )


"Karena kau yang menemukannya" ( Jawab Turva )


"Eh...., Hanya untuk alasan itu saja...?" ( Ucap Dubas dengan nada lemas )


"Oh..., Apa kau tidak menyembunyikan hal yang aneh?" ( Tanya Limzy )


"Apa maksudmu? Baiklah, kalau begitu kita berkumpul di kamarku saja!" ( Jawab Dubas )


"Itulah yang kami harapkan..." ( Ucap Turva )


"Baiklah, saya mengizinkan kalian. Untuk sementara kami akan menjamu kedua tamu terhormat kami" ( Balas raja Kurgosul )


"Baik!" ( Setelah itu, mereka menuju ke kamar Dubas )


"Sepenting itu surat mereka? Siapa yang menulisnya?" ( Batin Leona )


"Aku tidak yakin kita akan bisa membawanya berdua" ( Ucap Youen membuat Leona sadar dari lamunannya )


"Eh? Ya, kak Youen benar" ( Balas Leona )


"Kami mempersilahkan kepada kalian untuk menuju ke kamar dan beristirahat, pasti kalian sudah lelah dalam perjalanan ke sini..." ( Ucap pangeran Goslancart )


"Benar juga, kami berterima kasih atas perhatian pangeran" ( Balas Youen )


"Kalau begitu, pelayan silahkan menuntun mereka" ( Perintah pangeran Goslancart )

__ADS_1


"Baik!" ( Kemudian para pelayan membawa Leona dan Youen )


"Ayah, Haka kemana?" ( Tanya pangeran Goslancart )


"Ayah juga tidak tahu dia kemana" ( Jawab raja Kurgosul )


"Seharusnya dia melihat ini agar dia bisa berinteraksi dengan mereka" ( Jelas pangeran Goslancart )


"Kau benar..." ( Raja Kurgosul termenung sebentar dan mengingatnya )


"Saya baru mengingatnya!" ( Ucapan raja Kurgosul mengagetkan pangeran Goslancart )


"Ada apa ayah?" ( Sementara itu, kita akan berpindah ke pasukan Turwel )


"Apa kau yakin surat ini yang asli?" ( Tanya Tigra )


"Itu benar, aku benar-benar mendapatkannya di lemari penyimpanan guru" ( Jawab Dubas )


"Baiklah kalau begitu, buka ini" ( Tigra mengambilnya dari Dubas dan menyerahkannya ke Turva )


"Kenapa aku?" ( Turva menolak )


"Hanya kau yang paling guru percayai" ( Balas Sanvu )


"..." ( Turva tidak berkata apapun )


"Kalau begitu, kau setuju kan" ( Ucap Dubas )


"Tapi kau yang menemukannya" ( Turva masih menolak )


"Aku lebih memercayakannya kepadamu" ( Dubas meyakinkannya )


"Dubas..., Baiklah. Kalau begitu aku yang akan membukanya" ( Sesaat Turva ingin membukanya, Limzy mencegahnya )


"Tunggu dulu Turva, suratnya pasti tidak akan dibuka semudah itu" ( Jelas Limzy )


"Apa yang kau maksud?" ( Tanya Tigra )


"Jika ini surat yang guru buat pasti tidak boleh dilakukan secara sembarangan..., Kita harus memastikan jika ini aman" ( Jelas Limzy )


"Sepertinya kau benar, sebaiknya kita lihat dulu letak bahayanya" ( Saran Turva, setelah itu mereka mencari-cari dimana letak bahaya surat itu )


"Sepertinya ini sulit..." ( Batin Turva )


"Mungkin ini wajar karena guru tidak akan membiarkan suratnya dibaca oleh orang jahat" ( Lanjut nya )


"Oh, ini dia!" ( Sepurga menemukannya )


"Apa itu?" ( Tanya Seberma )


"Lihat di ikatan gulungannya" ( Mereka memperhatikan lebih detail di bagian ikatan itu )


"Oh..., Kau benar" ( Dubas melihat di tengah-tengah ikatan gulungan surat itu ada terlihat sedikit warna yang berbeda dari tali gulungannya )


"Mungkin harus dibuka dengan sihir" ( Ucap Limzy )


"Baiklah, kalau begitu biar aku saja" ( Sepurga berusaha menyentuh tali yang berwarna beda itu dengan telunjuknya )


"Apa tidak bahaya?" ( Batin Turva )


"Panas!!!" ( Sepurga merasa kesakitan )


"Hati-hati!" ( Seberma menangkap nya )


"Apa ini?" ( Turva melihat gulungan surat nya mengeluarkan aura petir dengan waktu singkat )


"Petir?" ( Limzy juga menyadarinya )


"Sepertinya kita tidak boleh membukanya dengan sentuhan langsung dengan kulit" ( Jelas Sanvu )


"Aku tahu, ambil pedang mu Turva" ( Dubas memberikan saran )


"Pedang?" ( Turva masih kebingungan )


"Ya, jika kita tidak bisa menyentuh secara langsung, gunakan saja pedang mu" ( Jelas Dubas )


"Tapi, bagaimana caranya?" ( Tanya Turva lagi )


"Pindahkanlah sedikit sihir anginmu ke pedang dan gunakan pedangmu untuk memotong talinya, nanti itu akan dapat membelah tali gulungannya" ( Jawab Sanvu )


"Sepertinya kau benar..., Baiklah, aku akan ke kamarku terlebih dahulu" ( Kemudian Turva berlari menuju kamarnya untuk mengambil pedangnya )


"Ya, kami menunggumu" ( Balas Sepurga )


"Apa yang guru fikirkan hingga membuat suratnya sulit terbuka?" ( Batin Turva bertanya kepada dirinya sendiri sewaktu berlari ke kamarnya )


"Apapun itu aku tak peduli, yang penting ambil aku akan mengambil pedangnya terlebih dahulu" ( Setelah itu Turva berusaha agar tidak terlalu memikirkan alasan suratnya dibuat khusus oleh Turgam )


"Oh, itu dia" ( Turva melihat kamarnya sudah dekat )


"Akhirnya sampai" ( Turva sampai di pintu kamarnya )


"Oh, benar juga. Kuncinya...." ( Turva mengambil kunci kamarnya yang sempat ia kunci sebelum perjalanan ke kerajaan Timid )


"Baiklah..., Eh?" ( Saat Turva membuka pintunya, ia mendengar suara dari dalam kamarnya )


"Aku tidak salah mendengar?" ( Batin Turva )


"Jika memang ada orang di dalam, sudah pasti pintunya tidak dikunci" ( Turva berfikir seperti itu )


"Kalau begitu, aku akan mencobanya" ( Turva akan mencoba membuka pintunya perlahan-lahan tanpa menggunakan kunci )


"Dimana itu..." ( Turva mendengar suara perempuan dari kamarnya )


"Siapa orang yang berani masuk ini? Dia sangat tidak memperdulikan nyawanya" ( Fikir Turva lagi )


"Dimana itu, pedangnya..." ( Turva terkejut karena orang yang ada di dalam kamarnya mencari pedangnya )


"Ini bahaya, aku harus menangkapnya!" ( Turva berfikir jika orang di dalam membahayakan dirinya )


"Kalau begitu, huwah!" ( Turva mendobrak pintunya )


"Menyerahlah, dengan begitu aku akan meringankan hukumanmu!" ( Turva berusaha mengancam orang itu )


"Eh?" ( Turva kembali terkejut )


"Maafkan aku!" ( Ternyata yang ada di kamar Turva yaitu putri Dian Haka yang saat itu belum mengetahui yang menemukannya Turva )


"Oh... Ternyata itu kau. Apa yang kau lakukan disini?" ( Tanya putri Dian Haka setelah ia menyadari itu Turva )


"Seharusnya itu yang kataku..." ( Balas Turva )


"Kau jangan salah faham, aku hanya diperintahkan oleh ayahku" ( Putri Dian Haka berusaha membuat Turva berfikiran bahwa ia tidak berbuat apa-apa pada barang-barangnya )


"Begitu..., Benar juga, tadi aku mendengarmu mengucapkan pedang. Apa yang kau inginkan dari pedangku?" ( Turva tidak ingin memikirkan hal selain mengambil pedangnya )


"Begini..." ( Kita akan melihat pembicaraan antara raja Kurgosul dan putri Dian Haka sebelum kedatangan pasukan Turva )


"Apa? Mengambil pedang Turva?" ( Ucap putri Dian Haka )


"Itu benar, kau tidak keberatan bukan?" ( Tanya raja Kurgosul )


"Tapi, untuk apa?" ( Tanya balik putri Dian Haka )


"Sebenarnya, Dubas menemukan surat yang diberikan oleh gurunya saat Turva berhasil mengalahkan raja Mesune. Dan sepertinya dia tidak mengetahui cara membukanya" ( Jelas raja Kurgosul )


"Begitu, tapi kenapa ayah menyuruhku mengambil pedang Turva? Bukannya kita belum mengetahui bagaimana cara membuka surat nya?" ( Tanya lagi putri Dian Haka )

__ADS_1


"Firasat ayah mengatakan jika pedang itu akan berguna" ( Jawab raja Kurgosul tanpa memberikan petunjuk apapun lagi. Saat itu Dubas juga tidak mengetahui bagaimana cara membaca suratnya )


"Kalau begitu kenapa bukan Dubas saja?" ( Tanya putri Dian Haka merasakan keanehan )


"Raja hanya memerintahkan tugas ini kepada putri, menurutku ini bisa dibilang penting" ( Ucap Dubas )


"Begini, Haka. Setidaknya kau harus mengenal Turva lebih dalam. Dia anak yang baik, kau juga tidak boleh berkata buruk tentangnya" ( Jelas raja Kurgosul )


"Hanya itu saja?" ( Tanya putri Dian Haka )


"Ya, itu saja" ( Balas raja Kurgosul )


"Bukankah itu bagus? Pandanganmu terhadap Turva akan sedikit berubah" ( Ucap pangeran Goslancart )


"Baiklah, baiklah. Aku hanya akan mengambilnya kan, tunggu disini" ( Setelah itu putri Dian Haka menuju ke kamar Turva )


( Kembali ke waktu sekarang )


"Jadi, hanya itu?" ( Tanya Turva )


"Ya, itu saja. Aku tidak mengerti kenapa ayahku hanya menyuruhku sedangkan kau masih memiliki lima sahabat yang tidak ikut" ( Jawab putri Dian Haka )


"Aku juga tidak mengetahuinya..." ( Balas Turva singkat )


"Begitu..." ( Setelah itu keadaan di kamar itu menjadi sangat sunyi dalam beberapa saat )


"Kau belum keluar juga?" ( Ucap Turva berusaha membuat suasana tidak tegang )


"Bagaimana aku bisa keluar jika kau ada disitu?" ( Maksud nya Turva berada di pintu kamar )


"Oh, ya kau benar" ( Turva segera pindah dari tempatnya berdiri )


"Apa kau mencari pedangmu? Dari tadi aku tidak menemukannya" ( Tanya putri Dian Haka )


"Oh..., Kau benar, pedang nya" ( Turva kembali mengingat dia harus kembali ke kamar Dubas )


"Sebenarnya pedangnya ada dimana?" ( Tanya putri Dian Haka )


"Ada di atasmu" ( Jawab Turva, saat itu putri Dian Haka berdiri tepat di depan lemari pakaian Turva )


"Disini?" ( Putri Dian Haka melihat ke bagian atas lemari itu )


"Apa yang kau maksud? Tidak ada apa-apa" ( Dia tidak menemukan pedang Turva )


"Tentu saja, karena hanya aku yang bisa menemukannya" ( Balas Turva )


"Minggirlah terlebih dahulu, biarkan aku yang mengambilnya" ( Turva berjalan ke arah putri Dian Haka )


"Oh, ya kau benar" ( Putri Dian Haka berusaha menjauh dari tempatnya berdiri )


"Dasar kau ini, bukannya kau terlalu ceroboh memasuki kamar orang lain..." ( Ucap Turva )


"Diamlah, aku juga kesini bukan karena kemauanku. Cepatlah ambil pedangmu" ( Balas putri Dian Haka )


"Iya, iya" ( Jarak antara kasur dan lemari cukup dekat sehingga saat Turva ingin mengambil pedangnya ia sangat dekat dengan putri Dian Haka )


"Apa bisa kau minggir terlebih dahulu?" ( Saran Turva )


"Eh, ya kau benar" ( Putri Dian Haka berusaha berjalan keluar, dan ia tidak menyadari ada sebuah kotak di bawah kasur dan ia tersandung )


"Wah!!!!" ( Putri Dian Haka kehilangan keseimbangannya )


"Hati-hati!" ( Turva menangkap tangannya )


"Eh?" ( Putri Dian Haka melihat ke arah Turva )


"Apa kau tidak apa-apa? Kau sangat ceroboh ternyata" ( Ucap Turva )


"Wajahnya sangat dekat!" ( Batin putri Dian Haka )


"Apa kau mendengarku?" ( Turva masih berbicara dengannya )


"Eh? Ya..., Terima kasih" ( Putri Dian Haka kembali berdiri )


"Baguslah jika begitu, aku akan mengambil pedangku" ( Ucap Turva )


"Ya, cepatlah" ( Balas putri Dian Haka tidak melihat wajah Turva )


"Apa aku boleh mengambil pedangku?" ( Tanya Turva lagi )


"Apa yang kau katakan? Ambil saja sana cepat!" ( Balas putri Dian Haka )


"Tapi..., Tanganmu..." ( Turva melihat putri Dian Haka masih memegang tangannya )


"Eh..., Maafkan aku..." ( Secara langsung putri Dian Haka melepas tangannya )


"Apa kau baik-baik saja?" ( Tanya Turva )


"Ya, aku baik-baik saja. Cepatlah ambil pedangmu" ( Balas putri Dian Haka )


"Baiklah jika begitu..." ( Turva berbalik ke arah lemari pakaiannya )


"Lepas!" ( Secara ajaib, pedang Turva muncul secara perlahan di bagian atas lemari pakaiannya )


"Oh..., Pedangnya masih aman" ( Batin Turva, ia kemudian berbalik untuk menuju ke kamar Dubas )


"Apa kau masih ingin berdiri disitu?" ( Turva melihat putri Dian Haka menghalangi jalannya )


"Eh, ya. Maafkan aku, aku hanya sedikit sakit" ( Balas putri Dian Haka )


"Ternyata benar yang kukatakan, kau harus beristirahat" ( Balas lagi Turva )


"Tidak, tidak perlu. Aku baik-baik saja" ( Balas putri Dian Haka )


"Tidak boleh, kau harus beristirahat" ( Turva tidak ingin raja Kurgosul marah kepadanya )


"Sudah aku bilang aku tidak apa-apa!!!" ( Putri Dian Haka menamparnya )


"Sakit!" ( Ucap Turva )


"Jangan terlalu memerhatikan keadaan musuhmu!" ( Setelah itu putri Dian Haka berlari keluar kamar Turva )


"Ada apa dengannya? Membuatku kesal..." ( Batin Turva )


"Benar juga, mereka menungguku!" ( Setelah itu Turva berlari ke kamar Dubas )


"Aku harus cepat!" ( Turva berlari dengan cepat, singkatnya ia sampai di kamar Dubas )


"Oh..., Akhirnya kau datang juga. Kami sudah lama menunggumu" ( Ucap Sanvu )


"Maafkan aku, tadi ada sedikit masalah" ( Balas Turva )


"Masalah?" ( Heran Tigra )


"Ya, tadi putri Dian juga mencari pedang ku" ( Jelas Turva )


"Oh..., Sepertinya raja Kurgosul sudah tahu" ( Mereka mendengar suara dari meja belajar Dubas )


"Siapa itu?" ( Mereka bersiap menyerang )


"Tenang saja, ini aku" ( Orang itu memunculkan dirinya secara perlahan )


"Lama tidak berjumpa, pasukan Turwel..." ( Mereka terkejut karena saat ini di depan mereka adalah... )


"Raja Hartlin?"


< Berlanjut ke chapter 43! >

__ADS_1


__ADS_2