Turva (Pedang Dan Angin)

Turva (Pedang Dan Angin)
Chapter 32 ( Misi Penyelamatan Kerajaan Jotigva! )


__ADS_3

Chapter 32 ( Misi penyelamatan kerajaan Jotigva! )


( Mereka akhirnya sampai di Kerajaan Jotigva )


"Ledakan berlian!" ( Serangan orang itu membuat beberapa penduduk tertusuk dan tewas )


"Berhenti melukai orang yang tak bersalah!" ( Turva berada di paling depan )


"Siapa kau? Jangan ganggu aku! Sebaiknya kau segera cepat menghindar dari penglihatan ku agar kau tetap selamat!" ( Ancam nya )


"Siapa peduli! Biarpun aku mati mereka akan mengingat ku sebagai pahlawan dan jika aku menang maka akan dibangga-banggakan oleh mereka!" ( Balas Dunza )


"Kalian sudah kuperingatkan, sekarang terimalah akibatnya!" ( Orang itu membentuk ribuan tombak dari berlian nya lalu mengarahkan ke mereka )


"Pusaran api!" ( Perlindungan Sepurga membuat ribuan tombak berlian itu hancur )


"Sekarang!" ( Setelah aba-aba dari Turva, Sanvu membuat tangan raksasa dari tangan serta menyerang orang itu dari arah depan, belakang, kiri, kanan dan atas )


"Bola berlian raksasa!" ( Berlian yang dibuat orang itu sangat kuat sehingga serangan tanah Sanvu tidak berarti apa-apa )


"Tidak mungkin, aku juga sudah menyerang nya dari arah buta. Kecepatan nya pun sudah aku perhitungkan..." ( Batin Sanvu )


"Kalian sepertinya tidak asing bagiku, apa kita pernah bertemu?" ( Ucapan orang itu membuat pasukan Turwel heran karena mereka sama sekali tidak mengenalnya ditambah lagi dengan penutup wajahnya )


"Apa maksudnya? Aku bahkan tidak pernah melihat orang yang bertarung seperti itu..." ( Batin Limzy )


"Biarpun kalian mengenalku atau tidak, tempat ini akan menjadi kuburan bagi kalian! Hujan pedang berlian!" ( Serangan orang itu membuat ribuan pedang berlian yang tajam meluncur ke arah pasukan Turwel )


"Jangan harap bisa menang semudah itu! Baju pemantul!" ( Panglima Kagaz ikut serta membantu mereka )


"Tiba-tiba?" ( Orang itu kaget karena serangannya malah berbalik kepadanya )


"Jangan lupakan aku!" ( Ucap pangeran Goslancart di belakang mereka )


"Kagaz, Goslancart. Terima kasih karena sudah membantu kami!" ( Seberma memberikan jempol nya )


"Bukan cuma kami berdua, mereka ikut bertarung bersama kita juga" ( Balas Pangeran Goslancart )


"Haha, jika mereka pasti aku tidak heran" ( Turva melihat ke arah yang ditunjuk pangeran Goslancart, mereka adalah pangeran Nalpezid dan Putri Dian Haka )


"Saya hanya datang untuk membantu Kagaz, jangan harap aku akan melindungi mu. Sebaiknya kau duduk diam saja di sana melihat kami bertarung" ( Putri Dian Haka tetap mengejeknya meskipun berada dalam pertarungan )


"Kau!" ( Kesal Turva )


"Tidak apa-apa, setidaknya kau masih berniat untuk membantu orang. Itu sudah cukup" ( Raut wajah Turva berubah menjadi tersenyum )


"Begitulah Turva yang selalu aku kenal, selalu berfikir positif" ( Batin Sanvu )


"Baiklah. Karena sudah lengkap, bersiaplah kau! Orang asing!" ( Teriak Turva )


"Orang asing? Tidak sopan kalian memanggil ku begitu. Padahal aku sudah menjaga tempat kelahiran kalian dan memimpin orang-orang di sana dengan baik, tapi ini balasan kalian! Seharusnya kalian membantu ku!" ( Ucapan orang itu membuat pasukan Turwel teringat kepada seseorang )


"Tunggu, bukannya sekarang kak Yunus yang memimpin kota Burd?" ( Ucap Dunza )


"Tapi dia terlihat sangat tidak mirip dengannya..." ( Balas Tigra )


"Yunus? Dia adalah salah satu murid Turgam. Apa sekarang dia yang memimpin kota sepeninggalku?" ( Ucapan orang itu semakin membuat mereka percaya bahwa orang itu bukanlah Yunus )


"Jangan memutar-mutar inti pembicaraan, tunjukkan wajahmu yang sebenarnya!" ( Paksa Turva )


"Cobalah kalau bisa!" ( Tantang orang itu )


"Perangkap tanah!" ( Perangkap Sanvu menutupi seluruh area yang bisa dijangkau orang itu )


"Ledakan air!" ( Serangan air dari bawah tanah yang dilakukan Dunza membuat area tanah buatan Sanvu dipenuhi air, orang itu terperangkap! )


"Tambahan dariku! Sambaran petir!" ( Serangan Limzy berakibat orang itu menerima serangan yang cukup fatal. Tubuhnya menerima serangan yang cukup kuat dan hampir membuatnya tak bisa bergerak, namun... )


"Buuummmm!!!!!!" ( Terdengar suara ledakan yang cukup kuat berasal dari dalam perangkap itu )


"Apa yang terjadi?" ( Batin Turva )


"Sepertinya kalian memaksaku untuk lebih serius. Baiklah, kalian akan mendapatkannya!" ( Secara tak terduga tubuh orang itu menyatu dengan berliannya. Dia juga dapat mengendalikan tubuh untuk terbang )


"Sekarang ayo mulai permainannya!" ( Orang itu mengeluarkan dua pedang yang sangat panjang dan tajam yang sempat membuat mereka ciut )


"Jangan takut! Kita lakukan untuk kedamaian! Jika tidak bisa mengalahkan dia, kalian bukanlah apa-apa bagi Raja Mahfard!" ( Pangeran Nalpezid memberi mereka semangat )


"Tentu saja, siapa yang takut! Giliran kita Sema!" ( Teriak Emily )


"Baiklah, jangan lagi membuat kesalahan yang berbahaya ya..." ( Balas Sema )


"Apa yang kau katakan? Itu tidak akan pernah terjadi sebelumnya!" ( Jawab Emily malu. Dia mengingat beberapa kali mereka gagal melakukan formasi terbaik mereka )


"Baiklah, aku mengerti. Sekarang kupercayakan padamu ya..." ( Sema menyemangatinya )


"Ya, aku tahu itu. Sekarang lakukan sesuai latihan!" ( Mereka bersiap di posisi mereka )


"Apa yang mereka lakukan?" ( Batin Dubas. Sewaktu Emily dan Sema berlatih, mereka selalu melakukannya secara sembunyi-sembunyi karena mereka tidak ingin ditertawakan oleh yang lainnya karena selalu gagal melakukan formasi terbaik mereka )


"Baiklah, lakukan sekarang!" ( Sema memberi aba-aba )

__ADS_1


"Setiap saat sahabatku. Ini dia! Gunting!" ( Emily dan Sema menyentuh leher mereka bersamaan. Seketika Emily dan Sema masing-masing berpecah menjadi lima orang yang mirip. Sehingga mereka menjadi sepuluh )


"Boleh juga kalian, sekarang bersiaplah! Tusukan pedang berlian!" ( Dengan cepat orang itu melakukan serangan yang sama tapi dengan kecepatan yang jauh lebih sempurna )


"Terlalu lambat!" ( Pecahan Emily dan Sema dengan cepat menghindari serangan pedang berlian yang tajam itu kemudian menyebar ke tempat yang cukup saling berjauhan )


"Sekarang rasakan ini! Rantai berlian pemburu!" ( Lagi-lagi serangan orang itu tidak dapat mengejar kecepatan Emily dan Sema )


"Dasar lemah! Ikatan empat berlian!" ( Tetap saja, Emily dan Sema berhasil menghindarinya )


"Jika kalian hanya ingin bercanda denganku, sebaiknya pulang saja! Lawan aku! Jangan menjadi pengecut dengan melarikan diri terus menerus!" ( Kesabaran orang itu habis dan akhirnya... )


"Posisi sempurna!" ( Semua pecahan Emily dan Sema mengelilingi orang itu dan telah memegang pedang yang pendek tapi cukup mampu untuk membuatnya terluka )


"Ini yang kami tunggu! Penyatuan senjata kilat!" ( Secara cepat seluruh pedang yang mereka sentuh saling bersentuhan dan sialnya tempat mereka bertemu berada di tengah-tengah dimana orang itu berdiri )


"Berhasil!" ( Pedang-pedang tersebut mengenai seluruh tubuh lawan mereka )


"Lihat itu, Madini. Mereka hebat bukan?" ( Tanya Turva )


( Madini masih terdiam dan masih merasa kesakitan )


"Madini? Kau tidak apa-apa?" ( Turva mengkhawatirkan murid satu-satunya itu )


"Tidak, saya tidak apa-apa guru. Mungkin ini hanya karena saya merasa kelelahan..." ( Madini terlihat memasang senyum paksa )


"Baiklah kalau kau bilang begitu. Tapi jika kau masih merasa kesakitan atau sakitnya bertambah, beritahu guru saja" ( Turva memegang pundak nya. Wajah Madini memerah )


"Tidak apa-apa guru. Serangan seperti ini tidak dapat dengan mudah mengalahkanku. Nantinya saya akan sembuh sendiri, jadi guru jangan khawatir..." ( Madini melepaskan tangan Turva dari pundak nya )


"Sepertinya kau masih belum bisa mengendalikan dirimu, Madini..." ( Sepurga kembali mempermainkan nya )


"Diam kau! Berhenti menggangguku!" ( Entah kenapa meskipun sedang sakit, Madini tetap bisa memukul Sepurga hingga sangat jauh )


"Sepertinya kau sudah tidak perlu guru khawatirkan..." ( Senyum Turva )


"Tentu saja, saya tidak selemah perkiraan guru. Saya juga mempunyai magra tingkat delapan..." ( Balas Madini )


"Begitu ya, hebat sekali kau bisa menggunakannya..." ( Angguk Turva seakan mengerti. Hal itu disadari oleh putri Dian Haka )


"Guru..., Magra tingkat delapan itu..." ( Belum selesai Madini berbicara )


"Benar, itu pasti sangat kuat kan? Kau sangat hebat bisa menggunakannya..." ( Turva memotongnya )


"Guru..." ( Madini tersenyum canggung )


"Hmm? Ada apa? Apa ada yang salah?" ( Turva berusaha untuk menutupi kekurangannya tentang ilmu pengetahuan para orang-orang di sekitar nya )


"Apa maksudmu, tentu saya tau!" ( Turva berusaha menjaga harga dirinya )


"Kalau begitu, biar ku periksa tubuhmu" ( Putri Dian Haka mendekatinya )


"Baiklah, silahkan saja jika kau mau. Awas saja kalau kau merencanakan sesuatu yang buruk" ( Turva masih merasa kesal dengannya karena selalu ikut campur urusan nya. Turva juga selalu berfikir jika putri Dian Haka adalah orang yang tidak ingin berinteraksi dengan banyak orang. Waktu diperiksa, dia juga sangat hati-hati jika suatu waktu putri Dian Haka menyerangnya meskipun dia adalah anak dari Raja Kurgosul )


"Tenang saja, jika saya punya niat seperti itu pasti sudah sangat mudah saya melakukannya" ( Ucap putri Dian Haka meremehkan )


( Turva berusaha untuk diam agar perdebatan mereka segera berhenti )


"Baiklah, sepertinya kau diperiksa..." ( Putri Dian Haka melepaskan tangannya dari leher Turva )


"Memangnya ada apa denganku?" ( Heran Turva )


"Kau sepertinya mempunyai magra tingkat empat..." ( Ucapan putri Dian Haka membuat pangeran Goslancart, pangeran Nalpezid dan panglima Kagaz terkejut )


"Tunggu, apa kau tidak salah memeriksa, Haka?" ( Tanya panglima Kagaz )


"Tidak, dia benar-benar mempunyai magra tingkat empat" ( Balas nya )


"Memangnya ada apa dengan magra? Apa hubungannya dengan tingkatan?" ( Tanya Limzy, pasukan Turwel saat itu belum pernah diajari mengenai magra oleh Turgam. Mereka hanya dipelajari bagaimana cara mengendalikan kekuatan mereka )


"Baiklah, saya akan menjelaskannya..." ( Pangeran Nalpezid maju )


"Magra merupakan pertahanan di dalam tubuh yang terbentuk oleh tenaga sihir yang hebat. Jika kau bisa mengendalikan tenaga sihir mu dengan baik dan juga dapat mengeluarkan sihir yang kuat, maka tenaga sihir yang ada di dalam tubuh mu akan membentuk sesuatu yang dinamakan magra. Fungsi magra ini dapat menunda kematian, membuat rasa sakit akibat sihir berkurang dan juga untuk menyembuhkan diri jika kau sudah tidak dapat melakukannya sendiri" ( Jelas pangeran Nalpezid )


"Jadi jika kita sedang tidur dalam keadaan sakit apa dapat sembuh sendiri dengan menggunakan magra?" ( Tanya Dunza )


"Itu tergantung seberapa banyak tenaga sihir mu" ( Jawab pangeran Goslancart singkat )


"Tapi..., Jika tenaga sihir habis maka kita akan mati. Apa yang seharusnya dilakukan?" ( Tanya Turva yang membuat mereka heran )


"Apa kau bodoh?" ( Tanya balik putri Dian Haka )


"Apa maksudmu? Saya cuman bertanya" ( Turva semakin merasa ingin menyerang nya )


"Tenang. Baiklah saya akan menerangkannya..." ( Panglima Kagaz merelai mereka )


"Untuk menggunakan sihir, manusia memerlukan yang dinamakan tenaga sihir. Mereka akan terus memakai itu sampai mereka puas. Jika dalam keadaan tertentu tenaga sihir seseorang habis, dia tidak akan mati karena yang membuat nya tetap hidup bukanlah tenaga sihir. Melainkan energi kehidupan..." ( Jelas panglima Kagaz )


"Ternyata begitu, selama mereka memiliki energi kehidupan maka mereka tidak akan mati. Jadi tenaga sihir itu hanya dipakai untuk mengeluarkan sihir saja..." ( Ucap Turva seakan sudah mengerti )


"Bagus, sepertinya kau sudah mengerti" ( Senyum panglima Kagaz )

__ADS_1


"Tentu saja, anda hanya perlu mengatakannya satu kali maka saya akan mengingatnya sepanjang hidup!" ( Ucap Turva percaya diri )


"Tapi, mengenai tingkatan magra, apa maksudnya itu?" ( Sepurga mengangkat tangannya )


"Oh, kau benar. Saya lupa memberitahu kan nya" ( Panglima Kagaz memegang bagian belakang lehernya )


"Baiklah, untuk magra sendiri dibagi menjadi sepuluh tingkatan. Magra terendah adalah magra tingkat sepuluh. Magra ini dapat digunakan oleh semua orang. Meskipun ini terlihat remeh, namun karena magra tingkat sepuluh lah yang membuat harapan hidup mereka berada di usia tiga puluh tahun. Semakin tinggi tingkatannya, maka harapan hidup mereka akan bertambah sebanyak tiga puluh tahun. Dan juga, semakin tinggi tingkatan magra nya maka energi kehidupan dan tenaga sihir nya akan bertambah banyak" ( Jelas panglima Kagaz )


"Hebat..." ( Gumam Turva. Ia merasa beruntung mendapatkan magra tingkat empat )


"Dan juga, saya mendapatkan magra tingkat tiga ( Lanjut panglima Kagaz )


"Saya juga mendapatkan nya" ( Pangeran Goslancart tidak mau kalah )


"Kalau saya hanya mendapatkan magra tingkat lima" ( Turva merasa kaget karena tingkat magra pengeran Nalpezid lebih rendah dari nya )


"Dan juga magra dian..." ( Dengan cepat-cepat putri Dian Haka menutup mulut pangeran Nalpezid )


"Eh? Ada apa?" ( Tanya Turva )


"Tidak, bukan apa-apa. Bukan urusanmu" ( Putri Dian Haka belum melepaskan tangannya )


"Sebenarnya putri Dian Haka mendapat magra tingkat tujuh" ( Ucap panglima Kagaz, wajah putri Dian Haka memerah )


"Ternyata begitu ya..." ( Turva memandang putri Dian Haka seakan-akan memenangkan suatu pertandingan )


"Kenapa kau memandangku begitu? Apa salahnya mempunyai magra tingkat tujuh?" ( Putri Dian Haka memalingkan wajahnya )


"Sudah, tidak usah merasa kecewa. Sekali-kali kau harus merasakan kekalahan ya..." ( Ejek Turva )


"Diam!" ( Putri Dian Haka menendang perutnya )


"Aakkhhh!!!" ( Turva kesakitan )


"Sudah kubilang jangan meremehkan ku!" ( Kesal putri Dian Haka )


"Sudah, saya tidak akan meremehkan mu lagi..." ( Turva berusaha agar perdebatan mereka berakhir untuk hari ini )


"Haha, sepertinya kau beruntung bisa berinteraksi dengan nya, Turva..." ( Goda Sepurga )


( Turva tidak menjawab apa-apa sambil menahan sakit nya )


"Guru, bagaimana?" ( Tanya Madini )


"Maksudmu?" ( Heran Turva )


"Kondisi tubuh guru, apa dapat sembuh dengan cepat?" ( Tanya Madini lagi )


"Eh?" ( Turva akhirnya menyadari kehebatan magra tingkat empat miliknya. Ia kemudian memeluk Madini karena senang )


"Guru...., Tunggu. Ini terlalu mendadak!" ( Wajah Madini kembali memerah dan secara tidak sengaja memukul wajah Turva )


"Sakit!" ( Turva kembali merasakan sakit )


"Kenapa cuman Turva saja? Pukul aku juga" ( Tanpa aba-aba, Sepurga sudah dipukul oleh Madini )


"Haha, sepertinya kau mulai nyaman dengan ku" ( Ucapan Sepurga membuat Madini berlindung di belakang Turva )


"Haha, tidak apa-apa" ( Turva menenangkannya )


"Jangan lengah kalian!" ( Orang yang mereka lawan tadi secara tidak disangka-sangka muncul kembali )


"Awas! Pukulan harimau!" ( Dubas berubah menjadi setengah harimau dan memukul jauh sihir yang diluncurkan oleh orang tersebut )


"Kenapa dia masih bisa saja bergerak?" ( Batin Turva )


"Semuanya, hati-hati!" ( Komando panglima Kagaz )


"Tusukan pedang berlian ganda!" ( Berlian yang keluar dari sihir orang itu bertambah kuat )


"Ssshhhhiinnggg!" ( Sebuah pedang menyelamatkan mereka, mereka melihat ke orang itu )


"Riksrel?" ( Kaget Dunza )


"Tenang saja, saya akan membantu kalian. Saya sudah berjanji untuk patuh kepada Raja Bagru kembali. Karena dia, kerajaan Jotigva menjadi seperti ini. Tidak akan kumaafkan!" ( Riksrel bersemangat )


"Jangan mengambil panggung ku juga, Riksrel. Kita berjuang bersama saja, bagaimana? ( Ucap orang yang bersama dengan Riksrel )


"Boleh saja, tapi yang membunuhnya nanti haruslah aku!" ( Riksrel tidak ingin mengalah )


"Terserah kau saja..." ( Senyum orang yang menemani Riksrel. Tubuhnya menyerupai monster berkepala singa )


"Tunggu, orang itu....." ( Turva kaget melihatnya di sini apalagi bersama Riskrel )


"Senang melihatmu lagi, Turva. Sudah dua tahun, bagaimana? Kau sudah menjaga Madini dengan baik?" ( Tanya monster itu )


"Kau?!?!?!" ( Turva masih merasa tidak percaya dengan apa yang dilihatnya )


"Galts!"


< Berlanjut ke chapter 33! >

__ADS_1


__ADS_2