
Chapter 49 ( Antara Ingatan & Mimpi )
"Berlian utama...?" ( Sanvu terkejut dengan perkataan Turva )
"Itu benar..." ( Balas Turva singkat )
"Tapi, bagaimana bisa kau bertemu dia?" ( Tanya Sanvu lagi )
"Dia muncul di alam bawah sadarku, dia juga mengatakan bahwa secara kebetulan aku masuk ke alam bawah sadar miliknya" ( Jawab Turva )
"Dia memiliki alam bawah sadar buatannya, apa maksudnya begitu?" ( Ucap Dunza )
"Itu benar, dan jika memang orang itu pemilik berlian utama maka pasti ada satu orang lagi yang memiliki itu di negara Rakiyah ini" ( Jelas Turva )
"Apa kau mengenalnya?" ( Tanya Limzy )
"Mengenalnya?" ( Turva terdiam mendengar pertanyaan Limzy, ia masih memikirkan peringatan orang yang bertemu dengannya di alam bawah sadar )
"Tidak, aku tidak mengenalnya. Tapi sudah dipastikan dia satu dari enam orang yang memiliki berlian utama" ( Jawab Turva yang memilih merahasiakannya )
"Begitu. Benar juga, tadi saat menghadapi Zydos aku mendapatkan ini..." ( Dubas mengeluarkan benda yang berbentuk kotak dan berwarna emas )
"Zydos?" ( Turva belum mendengarnya )
"Oh, dia pemimpin desa Bhuwi yang menghadang kami" ( Balas Dubas )
"Begitu, aku mengerti" ( Ucap Turva )
"Itu, bukannya itu Kugold?" ( Tigra bergabung dalam pembicaraan )
"Kugold?" ( Ucap Sanvu )
"Oh, itu nama yang diberikan Tigra untuk benda ini" ( Jelas Seberma )
"Kemampuanmu dalam memberi nama tidak buruk" ( Ucap Sanvu )
"Diamlah, nama itu sudah bagus. Juga, lihatlah ini" ( Tigra mengeluarkan benda yang sama dengan Dubas )
"Oh, kalian mendapatkannya juga?" ( Ucap Dubas )
"Itu benar, kami melawan Azfa pemimpin desa Makabon" ( Balas Tigra )
"Tapi, mendapatkannya tidak mudah. Dia sangat kuat, benar kan?" ( Lanjut Limzy )
"Ya, kami hampir mati melawannya" ( Jawab Delta )
"Untungnya Seberma dan Dunza membantu kami" ( Ucap Tigra )
"Itu benar, jika bukan dinding nya yang terbuka maka kalian akan kalah" ( Lanjut Dunza )
"Jadi menurutmu aku akan kalah jika tidak ada bantuanmu?" ( Ucap Tigra )
"Aku hanya mengatakan yang sesuai dengan apa yang terjadi" ( Balas Dunza )
"Padahal waktu di dekatmu setelah pertarungan dapat kurasakan tubuhmu yang bergetar hebat" ( Ucap putri Maryam )
"Kau dengar bukan?" ( Tigra merasa menang )
"Ayolah putri, setidaknya dukung aku" ( Ucap Dunza )
"Aku hanya mengatakan yang sesuai dengan apa yang terjadi..." ( Balas putri Maryam )
"Hhh, baiklah. Aku mengakui jika dia memang kuat. Kebetulan saja aku datang saat dia dalam keadaan lemah" ( Ucap Dunza )
"Aku suka dengan anak yang penurut" ( Senyum putri Maryam )
"Bukannya seleramu terlalu buruk putri" ( Balas Dunza )
"Tidak juga..." ( Jawab putri Maryam )
"Aku tidak mengerti apa yang putri maksud, sebaiknya kita membicarakan benda ini saja" ( Yang dimaksud Dunza benda kotak berwarna emas tadi )
"Ya kau benar, sampai mana tadi?" ( Sepurga mendukung Dunza )
"Baiklah, kita akan melihat apa benda ini sama atau berbeda" ( Ucap Turva )
"Apa maksudmu?" ( Tanya Sanvu )
"Coba berikan aku benda ini, aku ingin memeriksanya" ( Ucap Turva )
"Baiklah..." ( Dubas dan Tigra memberinya benda kotak berwarna emas itu. Setelah itu Turva memeriksanya )
"Bagaimana? Apa kau menemukan perbedaannya?" ( Tanya Sanvu setelah membiarkan Turva memeriksanya selama lima menit )
"Dari tampilan luarnya, ini sama sekali benda yang sama. Apa benda yang kita cari sebenarnya awalnya dari satu tapi kebetulan terbelah-belah..." ( Jawab Turva )
"Kesimpulanmu terlalu jauh, tapi itu juga bisa jadi alasan" ( Balas Sanvu )
"Sepertinya kita harus membawa ini ke raja Sonun saja..." ( Ucap Turva )
"Tidak boleh, guru harus beristirahat. Jangan pergi jauh terlebih dahulu, lihat kita hampir dekat dengan Malona" ( Ucap Madini )
"Madini..., Baiklah, guru mengerti. Untuk sementara kita simpan saja benda ini" ( Turva tak ingin muridnya terlalu cemas )
"Sudah kubilang namanya Kugold, setidaknya sebut benda itu sesuai dengan nama pemberianku!" ( Ucap Tigra )
( Di perjalanan ke kerajaan Malona )
"Apa menurutmu pasukan Yahsa ini akan menyerang kerajaan Jotigva lagi?" ( Tanya panglima Kagaz )
"Bisa saja, karena kita akan ke Malona sebaiknya kita mengunjungi guru" ( Jawab panglima Hitler. Sedikit penjelasan, jalur dari kerajaan Warbun menuju Malona harus melalui kerajaan Selaon, kerajaan Barema dan kota Burd serta beberapa wilayah yang nanti akan dijelaskan )
"Boleh juga, tapi sekarang sudah malam. Sebaiknya kita beristirahat di sini saja" ( Ucap panglima Kagaz )
"Disini?" ( Panglima Hitler melihat ke depan dan mengingat tempat itu )
"Apa ada yang salah?" ( Tanya panglima Kagaz )
"Ini kerajaan Majaya, sebaiknya kita jangan beristirahat disini" ( Jawab panglima Hitler, meskipun mereka harus tetap melewati kerajaan Majaya, tapi untuk beristirahat maka menurut panglima Hitler ia tidak menganjurkannya )
"Apa karena disini banyak pencuri barang?" ( Tanya panglima Kagaz lagi )
"Itu benar, meskipun kita berdua bisa mengalahkannya tapi kita pasti akan menyebabkan keributan di wilayah kekuasaan orang lain" ( Jawab panglima Hitler )
"Itu hal yang sebaiknya harus dihindari" ( Balas panglima Kagaz )
"Jadi, bagaimana?" ( Lanjut nya )
"Untuk itulah, aku membawa ini" ( Panglima Hitler mengeluarkan sebuah tenda menggunakan sihir nya )
"Darimana kau belajar sihir?" ( Tanya panglima Kagaz )
"Oh, aku belajar ini sedikit demi sedikit dari kenalanku. Dia orang yang baik, dia berkeliling negara serta kerajaan sambil berdagang" ( Jawab panglima Hitler )
__ADS_1
"Apa dia dari wilayah Jotigva?" ( Tanya panglima Kagaz lagi )
"Tidak, dia tidak pernah memberi tahukan darimana asalnya" ( Jawab panglima Hitler )
"Itu aneh..." ( Ucap panglima Kagaz )
"Sudahlah, sekarang kita membangun tenda dulu disini. Istirahat juga penting" ( Panglima Hitler memulai membangun tenda )
"Baiklah, tapi kita akan membangun tenda sedikit jauh dari gerbang Majaya" ( Mereka mendirikan ulang tenda secara bersamaan )
"Baiklah, sepertinya ini sudah cukup" ( Tenda yang mereka bangun cukup untuk 5 orang sehingga cukup besar bagi mereka yang hanya 2 orang )
"Lega sekali..." ( Ucap panglima Hitler sewaktu berbaring )
"Kau benar, disini sangat dingin" ( Balas panglima Kagaz )
"Dengan tenda yang cukup untuk 5 orang begini, aku jadi mengingat bagaimana kita berlima mengalami kejadian yang menyenangkan itu" ( Panglima Hitler membawa panglima Kagaz untuk sedikit mengingat masa dulu mereka )
"Ya, itu benar..." ( Kita akan menuju masa dimana panglima Kagaz dan panglima Hitler masih dalam pengajaran raja Hartlin )
"Sempit..." ( Ucap pangeran Goslancart kecil )
"Itu karena badanmu yang besar" ( Balas panglima Hitler kecil. Saat itu pangeran Goslancart kecil berada di posisi paling tengah di antar mereka berlima. Dan panglima Hitler kecil berada di sebelah kiri nya )
"Apa katamu! Ini karena guru yang ikut masuk kesini!" ( Pangeran Goslancart kecil membantahnya. Posisi raja Hartlin saat itu masih sebagai pangeran mahkota. Dan ia berada di posisi paling kanan sebelah pangeran Goslancart kecil )
"Sudah, hanya ini tenda yang disediakan oleh raja Syidon" ( Raja Syidon adalah ayah dari raja Hartlin sekaligus raja kerajaan Selaon yang sebelumnya )
"Itu memang benar, tapi setidaknya guru mengalah saja dan tidur diluar. Bukan begitu Kagaz?" ( Pangeran Goslancart kecil semakin keras kepala )
"Aku tidak merasakan sempit atau apapun itu" ( Jawab panglima Kagaz kecil. Ia berada di posisi kanan pangeran Goslancart kecil dan raja Hartlin berada di sebelah kanan nya )
"Ayolah, karena badanmu kecil jadi kau tidak merasakannya" ( Ejek pangeran Goslancart kecil )
"Hanya karena badanmu lebih besar daripadaku, itu tidak akan mengubah fakta jika kemampuan berpedangmu masih lebih buruk daripada kemampuanku" ( Balas panglima Kagaz kecil )
"Apa katamu! Apa kau mengajakku untuk berduel?" ( Pangeran Goslancart yang saat itu masih kecil sangatlah tidak dapat mengendalikan amarahnya )
"Nanti saja, jika kau sudah lebih kuat daripadaku" ( Panglima Kagaz kecil masih meremehkannya )
"Tidak, sekarang saja!" ( Pangeran Goslancart kecil masih saja menantangnya )
"Sudahlah, kalian sebaiknya berbaikan. Aku tidak bisa tidur karena suara berisik anak-anak cerewet" ( Ucap orang di sebelah kiri panglima Hitler kecil )
"Kau diam saja, orang asing" ( Balas pangeran Goslancart kecil )
"Gosla, jangan berbicara seperti kepada temanmu. Cepat minta maaf" ( Ucap raja Hartlin remaja )
"Tidak akan, sebelum dia yang minta maaf terlebih dahulu kepadaku" ( Jawab pangeran Goslancart kecil )
"Apa boleh buat..." ( Raja Hartlin remaja keluar dari tenda )
"Mau kemana anda?" ( Tanya orang yang disebelah kiri panglima Hitler kecil )
"Gosla, kemari" ( Raja Hartlin memanggilnya )
"Ada apa guru...?" ( Pangeran Goslancart kecil keluar dari tenda juga )
"Kau juga kemari, Tevez" ( Raja Hartlin memanggilnya juga )
"Aku?" ( Tevez juga ikut keluar )
"Apa yang akan guru lakukan?" ( Tanya panglima Hitler kecil )
"Baiklah..." ( Raja Hartlin remaja membungkukkan badannya dan menempatkan kedua tangannya di masing-masing bahu pangeran Goslancart kecil dan Tevez )
"Permainan?" ( Balas Tevez )
"Sepertinya seru!" ( Pangeran Goslancart kecil bersemangat )
"Baiklah, permainan ini namanya tebak serasi..." ( Ucap raja Hartlin remaja )
"Tebak serasi?" ( Balas Tevez )
"Benar" ( Jawab raja Hartlin remaja )
"Tapi, bagaimana cara memainkannya?" ( Tanya pangeran Goslancart kecil )
"Mudah saja. Sesuai namanya, guru akan menyebutkan satu kata dan tugas kalian yaitu menyebutkan satu kata lain yang berkaitan dengan kata yang guru ucapkan" ( Jelas raja Hartlin remaja )
"Begitu..., Apa aku bisa bergabung?" ( Tanya panglima Hitler kecil )
"Boleh..." ( Jawab raja Hartlin remaja )
"Hore!!!" ( Panglima Hitler kecil keluar dari tenda )
"Kau juga, ikutlah..., Kagaz" ( Raja Hartlin remaja juga memanggilnya )
"Aku?" ( Ucap panglima Kagaz kecil yang sudah hampir tertidur )
"Sudahlah, cepat keluar..." ( Pangeran Goslancart kecil menariknya keluar tenda )
"Tunggu, aku tidak bilang ingin bergabung" ( Ucap panglima Kagaz kecil )
"Jangan melawan! Jarang sekali guru mengajak kita bermain" ( Balas pangeran Goslancart kecil )
"Ya, kau benar juga" ( Ucap panglima Kagaz kecil singkat )
"Baiklah, semuanya sudah siap!" ( Tanya raja Hartlin remaja )
"Ya!" ( Jawab mereka berempat. Pangeran Goslancart dan panglima Hitler bersemangat, panglima Kagaz tengah mengumpulkan semangat dan Tevez dari awal tidak merasakan semangat )
"Kata pertama..., Raja!" ( Raja Hartlin remaja mengeluarkan kata pertama )
"Kalian sudah mempersiapkan satu kata?" ( Tanya raja Hartlin remaja )
"Baik!" ( Jawab mereka berempat )
"Baiklah..., Dalam hitungan ketiga, kalian akan menyebutkan kata yang kalian pilih secara bersamaan" ( Jelas raja Hartlin remaja )
"Satu..., Dua..., Tiga!" ( Raja Hartlin remaja selesai menghitung )
"Pemimpin!" ( Kata yang dipilih pangeran Goslancart kecil )
"Terkuat!" ( Kata yang dipilih panglima Kagaz kecil )
"Prajurit!" ( Kata yang dipilih panglima Hitler kecil )
"Mahkota!" ( Kata yang dipilih Tevez )
"Terkuat bukan kata yang menurutku benar" ( Ucap pangeran Goslancart kecil )
"Apa katamu!" ( Panglima Kagaz kecil sedikit kesal )
__ADS_1
"Kata yang kau pilih benar-benar di luar dugaanku, Tevez" ( Ucap panglima Hitler kecil )
"Apa maksudmu?" ( Tanya Tevez )
"Bukan begitu, aku kira kau akan menjawab dengan yang lebih luas lagi seperti kekuasaan, pengendali atau penggerak" ( Jawab panglima Hitler kecil )
"Tidak juga, aku menjawab mahkota karena itu sangat penting bagi seorang raja" ( Ucap Tevez )
"Jika seorang raja sedang keluar dari istana nya untuk melihat keadaan rakyat nya tanpa mahkota dan pakaiannya yang sangat berbeda dengan pakaiannya di istana, maka orang-orang di sekitarnya pasti tidak akan mengetahui jika dia adalah seorang raja..." ( Jelas Tevez )
"..., Namun jika ia keluar dengan memakai mahkota nya dan berpakaian layaknya seorang raja maka orang-orang di sekitarnya akan tahu bahwa dia adalah seorang raja. Menurutku mahkota kata yang tepat" ( Lanjut nya )
"Penjelasanmu sangatlah bagus Tevez, guru akui pemikiranmu sangat hebat. Tapi, yang paling penting bagi seorang raja dari rakyat hanyalah satu..." ( Ucap raja Hartlin remaja )
"Apa itu?" ( Tanya pangeran Goslancart kecil )
"Kepercayaan" ( Jawab raja Hartlin remaja singkat )
"Kepercayaan dari rakyat yang kau pimpin, itu adalah hal yang paling kau butuhkan. Karena seorang raja pasti membutuhkan dukungan yang besar dari rakyatnya untuk membuat kerajaannya menjadi damai. Dan karena itu ia harus mendapatkan kepercayaan dari para rakyatnya" ( Jelas raja Hartlin remaja )
"Apa kau sudah mengerti, Tevez?" ( Raja Hartlin remaja mengusap kepala Tevez )
"Ya, sekarang aku mengerti" ( Jawab Tevez singkat )
"Baiklah, sekarang kita memulai kata yang kedua..." ( Raja Hartlin remaja bersiap )
"Aku harap kata yang kau pilih tidak seburuk yang tadi" ( Ucap pangeran Goslancart kecil )
"Terserah kau, jangan menggangguku" ( Balas panglima Kagaz kecil )
"Baiklah, kata kedua..., Guru!" ( Raja Hartlin remaja mengeluarkan kata kedua nya )
"Baiklah, dalam hitungan ketiga kalian akan mengeluarkan satu kata pilihan kalian" ( Mereka bersiap )
"Satu..., Dua..., Tiga!" ( Raja Hartlin remaja selesai menghitung )
"Pintar!" ( Kata pilihan Pangeran Goslancart kecil )
"Hebat!" ( Kata pilihan panglima Kagaz kecil )
"Sabar!" ( Kata pilihan panglima Hitler kecil )
"Pendek?" ( Kata pilihan Tevez )
"Tevez, pilih kata yang berkaitan dengan guru yang dimaksud umum..., Bukan kata yang berkaitan dengan guru di depanmu..." ( Ucap raja Hartlin remaja )
"Maaf, kalau begitu..., Belajar" ( Kata pilihan Tevez )
"Belajar? Bukannya itu lebih berkaitan dengan murid?" ( Ucap pangeran Goslancart kecil )
"Sayang sekali, kali ini aku setuju dengan Gosla" ( Lanjut panglima Kagaz kecil )
"Boleh kau jelaskan kenapa kata belajar yang menjadi pilihanmu?" ( Tanya raja Hartlin kecil )
"Mudah saja, guru juga perlu belajar. Meskipun ia sudah memiliki banyak ilmu untuk diajarkan kepada muridnya, tapi setidaknya ada ilmu yang dimana muridnya mengetahui hal itu sedangkan gurunya tidak mengetahuinya. Dan karena itu pasti seorang guru akan belajar lebih banyak lagi untuk lebih terlihat sebagai seorang guru yang pantas" ( Jelas Tevez )
"Kurasa aku tidak bisa membantah..." ( Ucap panglima Hitler kecil )
"Baiklah, kata yang ketiga dan terakhir..." ( Mereka bersiap )
"Kata yang ketiga adalah..., Teman!" ( Mendengar itu, mereka berempat saling memandang satu sama lain )
"Baiklah, dalam hitungan ketiga kalian akan mengeluarkan kata yang kalian pilih..." ( Raja Hartlin remaja memberikan aba-aba )
"Satu..., Dua..., Tiga!" ( Hitungan telah berakhir )
"Berharga!" ( Secara bersamaan mereka berempat mengucapkan kata itu tanpa rencana )
"Kenapa kau mengambil kata-kataku!" ( Ucap pangeran Goslancart kecil )
"Bukannya kau yang mengambil kata-kataku" ( Balas panglima Kagaz kecil )
"Ayolah, seharusnya kita merasa lebih bangga karena dapat mengucapkan hal yang sama. Itu berarti saking akrabnya kita maka fikiran kita juga semakin mirip. Menurut kalian itu tidak buruk kan?" ( Ucap Tevez )
"Aku setuju dengan Tevez" ( Lanjut panglima Hitler kecil )
"Begitu..., Jadi karena Kagaz meniru kataku..." ( Di tengah ia berbicara, pangeran Goslancart ditepuk punggungnya oleh raja Hartlin )
"Bukan, karena kita semakin akrab maka pemikiran kita jadi semakin sama" ( Pangeran Goslancart kecil merubah kata-katanya )
"Meskipun begitu, pemikiranmu masih lebih dangkal dariku" ( Balas panglima Kagaz kecil )
"Padahal aku sudah berniat untuk berbaikan denganmu!" ( Pada akhirnya, mereka tetap bertengkar hingga larut malam )
"Guru...?" ( Tevez melihat raja Hartlin remaja sedang duduk di luar tenda )
"Guru belum tidur?" ( Tanya Tevez, sementara itu ketiga temannya telah tertidur )
"Belum..." ( Jawabnya singkat )
"Apa yang membuat guru tidak bisa tidur?" ( Tanya Tevez lagi )
"Tevez, dengarkan guru..." ( Tevez merasa gurunya akan membicarakan hal yang serius )
"Apa yang ingin guru bicarakan?" ( Tanya Tevez )
"Tevez, apa kau mengetahui kisah pasukan tiga cahaya pada masa dahulu...?" ( Raja Hartlin remaja bertanya balik )
"Aku tidak tahu pasti akan kisah itu, tapi yang aku dengar dari orang tuaku bahwa itu adalah pasukan yang hanya berisikan 3 orang yang paling hebat di masanya" ( Jawab Tevez )
"Apa kau pernah mendengar yang namanya berlian?" ( Tanya raja Hartlin remaja lagi )
"Apa maksud guru?" ( Tanya Tevez balik )
"Ada yang ingin guru perlihatkan..." ( Setelah itu, raja Hartlin remaja melakukan gerakan aneh )
"Lari Tevez, guru..., Guru....., Guru....., Guru!!!!!!" ( Panglima Kagaz terbangun )
"Ada apa? Kau mengagetkanku" ( Ucap panglima Hitler )
"Panglima Hitler?" ( Panglima Kagaz keluar tenda )
"Sudah pagi..." ( Batinnya )
"Ada apa? Tadi kau melamun dan mengucapkan nama guru dan Tevez" ( Tanya panglima Hitler )
"Panglima Hitler, kita harus cepat bergegas menuju kerajaan Selaon!" ( Ucap panglima Kagaz )
"Bukankah kita harus menuju ke kerajaan Malona?" ( Tanya panglima Hitler )
"Sudahlah, cepat kemas barang-barangmu dan segera berangkat!" ( Jawab panglima Kagaz sambil menghilang tenda yang ia buat semalam )
"Terserah kau saja..." ( Setelah itu, mereka menuju ke kerajaan Selaon yang kebetulan menjadi jalur ke kerajaan Malona. Panglima Hitler yang kebingungan hanya bisa mengikuti perjalanan panglima Kagaz )
__ADS_1
( Apa yang panglima Kagaz sebenarnya fikirkan? )
< Berlanjut ke chapter 50! >