Turva (Pedang Dan Angin)

Turva (Pedang Dan Angin)
Chapter 38 ( Teman Masa Kecil )


__ADS_3

Chapter 38 ( Teman masa kecil )


( Alya kembali dari kerajaan Bazhul dengan keadaan yang sangat buruk, ditambah lagi dia mengatakan bahwa Reno dibunuh? )


"Kau tidak berbohong kan...?" ( Tanya panglima Idham tak percaya. Alya hanya terdiam, sepertinya luka nya cukup parah )


"Sepertinya kita harus membawanya terlebih dahulu ke dalam kamar" ( Saran Turva )


"Saya sependapat" ( Lanjut Tigra )


"Sepertinya anda benar, saya akan membawanya..." ( Balas panglima Idham )


"Sepertinya ada yang tidak beres..." ( Batin Sepurga. Singkat cerita, mereka sudah sampai di kamar panglima Idham dan Alya dibaringkan disana )


"Pelan-pelan..." ( Ucap Dunza yang ikut membaringkan Alya bersama panglima Idham )


"Dia sepertinya sedang tertidur..." ( Gumam Turva )


"Untuk sementara, berikan waktu kepada panglima Idham untuk berbincang bersama Alya terlebih dahulu" ( Ucap Seberma )


"Ada benarnya juga" ( Balas Sepurga, mereka pun keluar sementara dari kamar panglima Idham )


"Ada apa Sepurga?" ( Tanya Seberma yang menyadari raut wajah Sepurga yang berbeda )


"Untuk lebih pasti, kerajaan Timid ini dan kerajaan Bazhul dibatasi oleh sebuah hutan kan?" ( Tanya balik Sepurga )


"Apa maksudnya?" ( Tigra tertarik dengan pembicaraan mereka )


"Jika memang dipisahkan hutan, bukannya itu terlalu cepat untuk kembali ke sini?" ( Balas Sepurga )


"Mungkin karena mereka lewat melalui udara, sebab itulah mereka sangat cepat" ( Jawab Seberma singkat )


"Sepertinya tidak mudah begitu saja bagi mereka lewat, bisa saja ada hewan atau monster yang menyerang dari bawah. Iblis juga dapat termasuk ke dalamnya" ( Jelas Sepurga )


"Kau bilang iblis?" ( Tanya Turva )


"Ya. Ada yang salah dengan itu?" ( Tanya balik Sepurga )


"Gawat, cepat beritahu panglima Idham untuk segera keluar dari kamarnya" ( Wajah Turva terlihat sangat tegang )


"Tunggu, memangnya ada apa?" ( Tanya Sepurga mengikuti Turva yang sudah berlari duluan )


"Apa yang terjadi, Turva?" ( Sema juga ikut bertanya )


"Kita tidak punya waktu, secepatnya beritahu panglima Idham untuk segera keluar dari kamarnya dan menjauhi Alya!" ( Jawab Turva )


( Kita berpindah dahulu ke kamar panglima Idham. Saat itu Alya yang dicurigai oleh Turva tiba-tiba menyerang panglima Idham )


"Alya...?" ( Panglima Idham yang saat itu tidak bersenjata ditahan oleh Alya yang ternyata memegang sebuah pisau kecil dan meletakkannya di depan leher panglima Idham )


"Jangan bergerak, atau kau akan kubunuh!" ( Ancamnya )


"Kenapa kau..., Ini seperti bukan Alya yang kukenal" ( Batin panglima Idham )


"Sekarang, cepat serahkan pemimpin mu kepada kami!" ( Lanjut Alya )


"Tunggu sebentar Alya, ada apa denganmu? Apa kau tega membunuh kakakmu sendiri?" ( Panglima Idham berusaha mencegah perbuatan Alya )


"Apa yang kau bicarakan? Aku bukan Alya" ( Panglima Idham yang mendengarnya tidak dapat menjawab apa-apa )


"Kau sudah faham kan? Sekarang serahkan pemimpin mu!" ( Ancam orang misterius ini )


"Kau siapa?! Beraninya kau menyerupai adikku!" ( Panglima Idham berusaha untuk melawannya tanpa senjata )


"Diam kau, serahkan saja pemimpinmu! Hanya itu tugasku..." ( Jawab orang misterius ini )


"Gawat, aku tidak bisa bergerak!" ( Batin panglima Idham )


"Naga api kepala dua!" ( Turva dan yang lainnya ternyata telah sampai )


"Lambat!" ( Orang misterius ini dapat menghindari serangan dari Sepurga dan Seberma, meskipun panglima Idham lepas dari genggaman nya )


"Semuanya aman, panglima Idham?" ( Tanya Turva )


"Terimakasih atas serangannya tadi, para pasukan Turwel" ( Balas panglima Idham )


"Bukannya itu Alya?" ( Tigra melihat seseorang yang ia kira Alya )


"Bukan, dia hanya berubah menyerupai Alya!" ( Jawab Turva )


"Orang ini bukan Alya?" ( Ucap Emily )


"Benar sekali, dia menipu kita" ( Balas panglima Idham )


"Kalau begitu, kita hanya perlu membunuhnya kan?!" ( Ucap Sepurga )


"Tahan, jangan bunuh dia!" ( Panglima Idham mencegahnya )


"Kenapa tidak boleh dibunuh? Dia sangat berbahaya!" ( Tanya Sepurga )


"Kita tangkap saja dia hidup-hidup..." ( Jawab Turva )


"Untuk apa?" ( Tanya lagi Sepurga )


"Mungkin kita bisa mendapatkan informasi mengenai asal nya. Dan jika beruntung dia bisa memberitahu kelemahan raja Jalhaq dan pengikut nya. Benar kan, panglima Idham?" ( Jawab Turva lagi )


"Ya, itu benar. Semuanya, tutup jalannya untuk melarikan diri!" ( Perintah panglima Idham )


"Serahkan padaku!" ( Ucap Tigra )


"Gunung es!" ( Sebuah pembatas tinggi buatan Tigra berdiri kokoh di belakang orang misterius tersebut )


"Hahaha. Dinding nya saja yang tinggi, tapi kekuatannya belum dapat menghentikanku! Pembakaran maksimal!" ( Orang misterius itu melakukan serangan untuk menghancurkan dinding buatan Tigra yang baru dilihat oleh mereka. Jika ingin lebih mudah, bayangkan saja skill 1 X.Borg dari Mobile Legends )


"Jangan remehkan kami!" ( Dunza menuju ke arah serangan api itu ditujukan )


"Baju pemantul!" ( Serangan api dari orang misterius itu dapat dikembalikan lagi oleh Dunza )


"Baju penetral!" ( Orang misterius itu dapat mematahkan serangan dari Dunza yang seharusnya lebih kuat dari buatannya )


"Dia juga bisa menggunakan baju sihir..." ( Ucap Dunza )


"Kalau begitu, biar kami yang melawannya!" ( Panglima Harsa dan panglima Dunah maju )


"Terima ini!" ( Panglima Harsa mengincar bagian depan nya sementara panglima Dunah bagian belakang nya )


"Sekarang beradu pedang? Majulah!" ( Lawan mereka mengambil sebuah pedang yang cukup panjang namun tidak tajam )


"Dengan pedang seperti itu, mana bisa kau memotong hewan" ( Ucap panglima Harsa )


"Itu benar, pedang ini tidak digunakan untuk membelah kalian. Hanya dengan mengayunkan nya kalian tidak akan bisa menahannya" ( Balas orang misterius itu )


"Serangan itu..." ( Turva merasa pernah melihat nya )

__ADS_1


"Kalian berdua, cepat hindari serangannya!" ( Teriaknya )


"Terlambat!" ( Setelah selesai berucap, pedang yang ia ayunkan mengeluarkan sebuah garis hitam pekat dan menuju ke panglima Dunah )


"Panglima Dunah!" ( Panglima Harsa dengan cepat berusaha menuju ke belakang orang misterius )


"Jangan permalukan kerajaan Timid di hadapan pasukan Turwel, panglima Dunah" ( Panglima Idham dengan cepat menahannya )


"Ternyata seperti ini rasanya menerima serangan yang mirip dengan cara panglima Warbun itu" ( Ucap panglima Idham )


"Panglima Warbun, bukannya..." ( Sema terkejut karena panglima Idham mengenal panglima Kagaz )


"Ya, benar. Itu serangan yang katanya cukup kuat dan saat ini yang dapat menggunakannya hanyalah panglima Kagaz dan Raja Hartlin. Mereka pun melakukannya hanya disaat terdesak karena banyaknya tenaga sihir yang terkuras. Itu adalah jurus pedang, pembelah dimensi!" ( Jelas Turva, selama ini dia mempelajari semua teknik bertarung panglima Kagaz. Ia juga terkejut karena diberitahu olehnya jika yang bisa menggunakan itu selainnya hanya raja Hartlin )


"Memang benar, katanya itu teknik yang sulit. Bahkan guru sangat sulit menggunakannya" ( Ucap Tigra )


"Lihat dia, sesuai informasi. Dia terlihat susah berdiri akibat menggunakan jurus itu!" ( Ucap Dunza )


"Ini waktunya, tangkap penyusup itu!" ( Perintah panglima Isa )


"Akan kubiarkan kali ini kalian menang, selamat tinggal" ( Sebuah lubang hitam muncul di bawah orang misterius itu dan berhasil membuatnya meloloskan diri. You know lah, lubang hitam )


"Jangan biarkan dia!" ( Meskipun sudah diperintah panglima Isa, tetap saja dia dapat melarikan diri )


"Sial!" ( Batin Turva )


"Kita akan menuju ke tempat serangan tadi" ( Ucap Emily )


"Kau benar juga, ikut bersama kami panglima Idham" ( Turva memanggilnya namun ia terlihat sedikit melamun )


"Panglima Idham?" ( Turva mencoba memanggilnya sekali lagi )


"Syukurlah..." ( Panglima Idham terlihat merasa lega )


"Syukurlah bukan adikku yang menjadi penyusup dan menyerang. Syukurlah Reno masih hidup...." ( Lanjut nya )


"Baguslah jika begitu..." ( Panglima Isa menepuk pundak nya )


"Ya..." ( Jawab panglima Idham )


( Kita akan melihat Galts terlebih dahulu yang masih memikirkan seseorang. Leona, siapa dia? )


"Sudah lama sejak itu ya, Leona..." ( Gumam Galts )


"Galts!" ( Terdengar suara panglima Hitler memanggilnya )


"Ada apa?" ( Tanya Galts )


"Kau tidak apa-apa? Kudengar dari Riksrel kau menjauhinya langsung setelah melihat sebuah berlian" ( Balas panglima Hitler )


"Kalau kau ingin memberitahu kami, lakukan saja. Kita satu tim bukan? Kami akan mendengarkanmu" ( Lanjut Riksrel yang saat itu ikut )


"Riksrel..., Leona..." ( Riksrel merasa baru mendengar nama tersebut )


"Leona? Siapa dia?" ( Tanya Riksrel )


"Teman masa kecil ku..." ( Jawab Galts )


"Apa hubungannya dengan ini?" ( Riksrel memperlihatkan berlian nya )


"Berlian itu..., Yang telah membunuh Leona..." ( Balas Galts )


"Berlian ini?!" ( Kaget Riksrel )


"Tidak, tidak apa-apa. Tidak masalah jika kuceritakan ini kepada kalian..." ( Balas Galts )


"Kami akan mendengarkan penjelasanmu dengan baik" ( Ucap Riksrel )


"Terima kasih..." ( Galts kemudian memulai cerita mengenai Leona, teman masa kecil nya )


"Saat itu..., Sekitar 21 tahun yang lalu..." ( Galts hanya mengira-ngira kapan kejadiannya karena dia sedikit lupa dengan waktu nya )


"Ayo..., Jangan lengah Galts!" ( Galts kecil saat itu sedang bersama Leona. Meskipun teman masa kecil, namun Galts lebih muda setahun dari Leona )


"Aku menyerah!" ( Ucap Galts )


"Ayolah, apa hanya ini kemampuanmu? Apa kau sudah melupakan impianmu untuk menjadi panglima kerajaan Barema?" ( Tanya Leona )


"Tidak, bukan begitu. Hanya saja kau terlalu kuat untuk kuhadapi. Apa ada yang kekuatannya setara denganku yang bisa diajak berlatih?" ( Tanya balik Galts )


"Begini saja, kudengar di kota Burd ada sekolah sihir yang terkenal akan murid-murid nya yang hebat" ( Balas Leona )


"Tapi..., Kota Burd itu kan berdekatan dengan kerajaan Malona. Pasti ada dari mereka yang sedang berjaga di sana" ( Galts merasa tidak yakin )


"Apa maksudmu, kerajaan Barema dan Malona saat ini sedang melakukan perdamaian. Tidak mungkin mereka menyerang kita kan?" ( Balas Leona )


"Tapi..." ( Galts merasa masih belum memiliki keberanian untuk bepergian jauh )


"Kakak..." ( Terdengar suara dari adik Galts )


"Oh..., Ternyata kau ada disini. Apa yang sedang kau lakukan, Miya?" ( Adik Galts bernama Miya. Dia lebih muda tiga tahun dari Galts )


"Seharusnya aku yang bertanya, apa yang kakak lakukan di sini? Bukannya kakak disuruh ibu untuk mengambil barang yang ingin dititip oleh paman?" ( Balas Miya )


"Oh... Itu. Haha, maaf, maaf. Kakak terlalu terbawa suasana dan ikut berlatih dengan Leona" ( Jawab Galts )


"Berlatih pedang lagi? Bukannya kakak terlalu sering melakukannya. Sekali-kali istirahat dan pulihkan tenaga kakak juga" ( Ucap Miya )


"Iya, iya. Kakak mengerti..." ( Senyum Galts )


"Dan juga..., Kak Leona bukannya terlalu keras melatih kakakku? Minta maaf sekarang" ( Perintah Miya )


"Hei, Miya. Apa yang kau katakan? Jangan terlalu kasar dengan Leona" ( Galts menutup mulutnya dengan tangan nya )


"Hahahaha, kau lucu sekali Miya. Baiklah..., Galts, maafkan saya karena terlalu keras melatih mu ya" ( Leona menurutinya )


"Tidak, jangan merasa bersalah begitu. Kau melatihku karena keinginanku sendiri" ( Ucap Galts )


"Tidak boleh..., Kak Leona melakukan hal yang benar. Dan juga, bukannya kakak terlalu halus dengan kak Leona? Apa kakak..." ( Belum selesai Miya bicara, Galts menutup lagi mulutnya )


"Ayolah..., Miya. Hahahaha, apa yang kau bicarakan? Maaf Leona, kami pulang terlebih dahulu. Sampai bertemu besok..." ( Galts membawa Miya pulang )


"Tunggu..., Kakak. Lepaskan aku" ( Berontak Miya )


"Haha. Maaf karena dia terlalu cerewet" ( Galts tak menghiraukannya dan terus berjalan pulang )


"Tidak apa-apa, sampai jumpa, Galts" ( Balas Leona )


"Mereka saudara yang lucu..." ( Batin Leona tersenyum )


"Mungkin sekarang sudah aman..." ( Batin Galts yang saat itu merasa telah cukup jauh dari pandangan Leona )


"Apa-apaan kakak?" ( Ucap Miya, Galts saat itu telah melepaskan tangannya )

__ADS_1


"Apa maksudmu?" ( Galts berpura-pura tidak tahu )


"Katakan saja kalau kakak hanya ingin dekat terus dengan kak Leona" ( Ucap Miya )


"Sudah..., Jangan kasar begitu sama kakak. Kakak juga punya tujuan yang sangat tinggi untuk menjadi panglima Barema kau tau?" ( Balas Galts )


"Terserah kakak saja..." ( Ucap Miya singkat )


"Oh iya, bukankah kau juga harus ikut berlatih pedang bersama kakak dan Leona? Jika kau berada jauh dari kakak, kau tidak bisa melindungi dirimu sendiri nantinya" ( Galts menawarkannya untuk berlatih pedang )


"Tidak perlu. Busur dan anak panah sudah cukup bagiku" ( Miya menolaknya. Ia lebih menyukai memanah daripada berpedang )


"Ayolah..., Jika kau menggunakan busur saja, nanti kesulitan untuk bertarung dalam jarak dekat" ( Ucap Galts )


"Jika saya tidak bisa menghadapi musuh jarak dekat, bukannya ada kakak yang dapat diandalkan? Jangan khawatirkan aku dan cepat sedikit jalannya" ( Balas Miya )


"Iya, iya" ( Rumah Galts bisa dibilang sangat tidak mungkin ditempati oleh manusia, namun hanya itu yang orang tua Galts mampu lakukan )


"Kami pulang..." ( Galts dan Miya telah sampai ke rumah mereka )


"Oh..., Kalian sudah pulang. Apa kau sudah membawakannya pada paman, Galts?" ( Tanya ibu Galts )


"Itu..." ( Galts melihat ke arah membelakangi ibunya )


"Ayo beritahu ibu..., Kau sudah melakukannya kan?" ( Ibu Galts mendekatkan kepala nya menatap Galts )


"Ibu..., Tadi..." ( Galts ingin mengelabuinya )


"Tadi kakak berlatih pedang lagi bersama kak Leona" ( Miya memberitahunya )


"Apa itu benar?" ( Tanya ibu mereka )


"Apa yang kau bicarakan, Miya. Kakak tadi kerumahnya paman" ( Galts menutup mulut Miya lagi )


"Kau sangat payah berbohong, Galts" ( Kepalanya dielus dengan lembut )


"Memangnya apa yang salah dengan berlatih pedang? Bukannya itu bagus untuk memperkuat tubuhku?" ( Ucap Galts )


"Ibu tidak melarang mu untuk berlatih pedang. Tapi, yang melatih mu itu Leona. Meskipun kau sudah mengenalnya dengan baik dari kecil, tetap ingat jika dia dari kerajaan Bazhul yang bahaya itu. Sebaiknya kau menjaga jarak darinya, kau mengerti?" ( Balas ibu Galts )


"Kalau itu, saya juga tahu. Tapi dia tidak berbahaya bu..." ( Galts merasa Leona tidak berbahaya )


"Tapi kau harus selalu berhati-hati jika dekat dengannya. Dia kemungkinan mendapat kesempatan untuk membunuh seseorang" ( Ucap ibunya )


"Iya, iya. Ibu terlalu khawatir. Mana barang yang ingin diberikan kepada paman, biar aku berangkat sekarang" ( Balas Galts )


"Ini" ( Setelah diberikan barang yang dimaksud, Galts segera bergegas ke rumah paman nya )


"Apa yang dimaksud ibu dengan bahaya? Dan juga, kerajaan Bazhul itu seperti apa? Saya cuman mendengar nya tapi tidak tau seberbahaya apa mereka" ( Tanya Miya yang ikut Galts )


"Oh..., Kerajaan Bazhul itu sangat berbahaya. Kakak dengar raja mereka merupakan teman dari pemimpin sekolah sihir yang ada di kota Burd. Mereka bersama-sama mengalahkan pemimpin iblis di masa lalu" ( Jawab Galts )


"Kalau cerita dari pemimpin sekolah sihir itu saya sudah mengetahuinya. Saya baru tahu kalau raja Bazhul ternyata punya hubungan dengannya" ( Ucap Miya )


"Oh, iya. Kakak ingin tahu, kenapa kau sangat tidak ingin menggunakan pedang dan hanya bergantung kepada busur dan anak panah?" ( Tanya Galts )


"Berat" ( Jawab Miya )


"Itu saja?" ( Tanya lagi Galts )


"Ya, itu benar" ( Jawab Miya )


"Kalau hanya itu, seharusnya kau memilih pedang yang ringan saja. Bukannya itu sudah cukup?" ( Galts bertanya lagi )


"Pokoknya saya tidak mau menggunakan benda berat itu. Saya juga tidak suka bertarung jarak dekat. Kakak juga, kenapa tidak belajar sihir sementara adikmu ini mempelajarinya?" ( Tanya balik Miya )


"Haha, tidak mungkin kakak menggunakan hal yang curang itu. Kita bertarung menggunakan pedang. Menggunakan sihir itu menurutku sangat curang. Dan juga, meskipun tenaga sihir ku banyak, kakak hanya menggunakan nya untuk melakukan kegiatan sehari-hari dan menyembuhkan diri. Tidak untuk menyerang" ( Jawab Galts )


"Iya, iya. Jawaban kakak selalu sama, padahal menggunakan sihir itu bisa menaikkan tingkat kemenangan seseorang" ( Jelas Miya )


"Haha, meskipun begitu kakak tidak akan melakukan hal curang begitu" ( Balas Galts )


"Kalau jadi panglima Barema apa kakak harus sekuat itu?" ( Tanya Miya )


"Eh, kenapa kau tanya begitu?" ( Tanya balik Galts )


"Jika menjadi panglima, bukannya kakak harus memimpin banyak prajurit dan suara kakak harus cukup keras hingga terdengar oleh semuanya?" ( Balas Miya )


"Itu benar, apa ada yang mengganggumu?" ( Tanya lagi Galts )


"Hanya saja, kakak tidak terlihat meyakinkan untuk itu" ( Miya tersenyum )


"Apa kau bilang, kakak akan menjadi kuat dan badan ini akan menjadi sangat besar saat dewasa. Lihat saja, kau akan melihat kakak berada di depan banyak prajurit dan memimpin mereka dengan suara yang keras sehingga kau bisa dengar itu" ( Galts tidak putus harapan )


"Iya, iya. Lakukan sesuka kakak" ( Mereka pun tiba di rumah paman mereka )


"Permisi, paman" ( Galts mengetuk pintu rumah nya )


"Oh..., Kau ada di sini Galts. Ternyata butuh waktu ya untuk meninggalkan Leona" ( Goda paman nya )


"Haha, paman selalu bercanda. Benarkan Miya?" ( Balas Galts )


"Jangan tanya padaku" ( Miya terlihat lebih tenang dari sebelumnya. Ia cukup tidak akrab dengan paman mereka dan anaknya... )


"Ini barang yang ibu berikan kepada paman untuk perjalanan" ( Galts memberikan sebuah pedang dan beberapa buah segar )


"Oh..., Terima kasih Galts. Buah nya sangat banyak, dan pedang nya sangat bagus" ( Puji paman mereka )


"Haha, terima kasih kembali. Oh..., Benar juga. Apa anak paman ada? Saya ingin berlatih lagi dengannya" ( Ucap Galts )


"Oh..., Apa kau masih tidak puas setelah latihan dengan Leona?" ( Tanya pamannya )


"Haha, sepertinya saya ingin menemukan seseorang yang mempunyai teknik yang berbeda dari Leona" ( Balas Galts )


"Baiklah. Kalau begitu, tunggu di sini ya..." ( Paman Galts memanggil anaknya )


"Kakak..., Apa kakak tidak ragu untuk mengajaknya?" ( Yang dimaksud Miya adalah anak dari paman mereka )


"Tenang saja, dia pasti hanya kesulitan untuk akrab dengan kita. Jangan pikirkan hal yang buruk terus mengenainya. Dan juga, setidaknya kau lihat latihan kami. Mungkin kau bisa meniru beberapa gerakan dari kami" ( Balas Galts )


"Kalau hanya melihat, sepertinya saya bisa. Tapi, kakak juga jangan lengah ya" ( Ucap Miya )


"Haha, iya iya. Kau terlalu khawatir" ( Balas Galts mengelus kepala nya )


"Saya bukan anak-anak lagi kakak tau" ( Miya melepaskan tangannya )


"Haha, maaf" ( Senyum Galts )


"Maaf membuat kalian menunggu" ( Paman mereka telah kembali. Miya menjadi tenang lagi )


"Oh..., Lama tidak bertemu. Bagaimana kabarmu, Puvi?" ( Tidak terduga, ternyata anak dari paman Galts adalah Puvi, sahabat dari Nirbavo, adik raja Mesune. Apa mereka akan baik-baik saja? )


< Berlanjut ke chapter 39! >

__ADS_1


__ADS_2