Turva (Pedang Dan Angin)

Turva (Pedang Dan Angin)
Chapter 46 ( Pukulan Telak! )


__ADS_3

Chapter 46 ( Pukulan Telak! )


"Kalian memanglah murid Turgam, aku mengakui kekuatan kalian. Dan karena itu, cepatlah memohon ampun kepadaku agar nyawa kalian dan teman-teman kalian terselamatkan" ( Rafly memberi mereka peringatan )


"Sialan, kenapa kau tiba-tiba muncul? Dan juga jangan menganggap dirimu sebagai pemimpin Burd!" ( Tolak Sepurga )


"Aku hanya mengatakan sesuai kebenarannya, mengapa kalian tidak percaya?" ( Ucap Rafly )


"Seorang pemimpin tidak mungkin mengkhianati orang yang mengikutinya!" ( Sesaat setelah mengucapkan hal itu, Turva dengan cepat menuju ke arah Rafly menggunakan pedangnya )


"Kau anak yang tidak bisa bersabar ya..." ( Rafly dengan mudah menghindari serangan Turva )


"Dia, terlalu hebat!" ( Batin Turva )


"Menyerahlah, kau tidak akan bisa mengalahkanku meskipun kau adalah pahlawan yang menyelamatkan negara Rakiyah" ( Rafly berusaha menurunkan mental Turva )


"Tidak mungkin aku mengikuti perkataanmu semudah itu!" ( Turva kembali menyerang secara terus menerus, tapi hasilnya tetap nihil )


"Anak ini..., Meskipun tahu usahanya sia-sia, mengapa ia tetap saja melakukan hal yang sama?" ( Batin Rafly )


"Aku tidak akan tinggal diam melihat ini!" ( Sanvu dengan sihir tanahnya membuat dinding yang tinggi dengan tujuan menutup jalan lari bagi Rafly )


"Anak itu berusaha membuatku tidak bisa lari, tapi jika hanya itu maka sangat mudah bagiku untuk mematahkannya..." ( Batin Rafly dan mengeluarkan senyum lebarnya )


"Hmm, apa itu?" ( Rafly melihat ke arah Enka )


"Sekarang, Enka!" ( Teriak Turva )


"Baik!" ( Dengan mengambil fokus yang dalam, Enka mengeluarkan sihir yang telah ia serap )


"Kekuatannya, bertambah kuat seiring waktu!" ( Batin Rafly. Sedikit penjelasan, saat Turva menyerang Rafly berkali-kali, ia juga mengumpulkan beberapa sihir anginnya ke Enka, ia juga memerintahkan kepada Turva dan Sepurga agar menggabungkannya hingga Enka dapat mengeluarkan tiga sihir bersamaan )


"Ini dia, tiga sihir dari sahabatku!" ( Enka meluncurkannya dengan cepat ke Rafly )


"Gawat, waktuku tidak cukup!" ( Batin Rafly, kemudian ia kembali tersenyum )


"Hanya gurauan..." ( Sesaat setelah ucapan Rafly, seseorang melindunginya dari serangan itu )


"Apa?!?!" ( Mereka berempat terkejut melihat ada satu orang lagi )


"Jangan biarkan kewaspadaanmu berkurang..." ( Ucap orang yang melindunginya )


"Maaf, maaf..., Itu karena mereka sangat lemah sehingga tidak mengira serangan seperti itu akan mereka lakukan..."


"Terserah kau saja, kita saat ini sedang dipanggil. Tinggalkan saja mereka dan cepat menuju ke tuan..." ( Ucap orang itu )


"Ternyata begitu cepat ya, baiklah...." ( Rafly hanya menurutinya dan hilang sekejap mata )


"Eh? Dia langsung pergi?" ( Batin Turva )


"Oi...., Jangan melarikan diri!" ( Teriak Sepurga )


"Hentikan itu, nanti dia akan benar-benar menghabisi kita" ( Ucap Sanvu )


"Benar juga, kita masih harus mencari yang lainnya" ( Turva baru mengingatnya )


"Tapi..., Mereka bahkan tidak dapat menemukan kita, begitupun sebaliknya" ( Balas Enka )


"Begitu..." ( Semangat Turva menurun )


"Hmm?" ( Turva sedikit mendapat ide )


"Sanvu, bagaimana kau bisa menemukan kami?" ( Turva lalu bertanya ke Sanvu )


"Jika kau bertanya begitu, sebenarnya aku juga kurang mengetahuinya. Yang kutahu hanyalah saat kami masih mencari kalian, tiba-tiba saja kau muncul di depan kami sedang melawan Rafly..." ( Jelas Sanvu )


"Ya, tadi juga kau tiba-tiba muncul di depan kami tanpa ada hal apapun" ( Lanjut Sepurga )


"Ini sangat aneh.." ( Turva merasa sulit menemukan cara agar bisa bertemu dengan yang lainnya )


"Uhk...." ( Putri Dian Haka kembali terbangun )


"Dian Haka, bertahanlah!" ( Turva dengan cepat membuat tangannya menjadi sandaran kepala )


"Turva..., Uhk..." ( Perlahan-lahan dirinya dapat melihat Turva )


"Jangan banyak bicara dulu, perhatikan kondisimu" ( Ucap Turva )


"Maaf..." ( Putri Dian Haka kembali menutup matanya dan berusaha mengumpulkan tenaganya )


"Benar juga, Madini..." ( Turva lalu membaringkan putri Dian Haka perlahan-lahan dan segera berlari ke arah Madini )


"Itu dia!" ( Dengan mudah Turva melihatnya karena hanya ada satu pohon di sana )


"Madini!" ( Turva lalu membangunkannya )


"Dia, masih belum bisa bangun" ( Batin Turva )


"Kalau begitu, akan kubawa saja" ( Turva menaikkan Madini ke punggungnya dan membawanya ke Sanvu )


"Bagaimana keadaan Dian Haka?" ( Tanya Turva sewaktu sampai )


"Perlahan-lahan dia mulai membaik..." ( Jawab Sanvu yang berusaha mengembalikan tenaga sihirnya )


"Huh..., Hmmm? Guru?" ( Madini kembali terbangun )


"Oh, kau sudah sadar..., Syukurlah" ( Ucap Turva tersenyum )


"Guru, aku dibawanya..." ( Batin Madini )


"Turunkan aku, guru!" ( Ucapnya )


"Oi, jangan banyak bergerak. Saat ini guru juga kehilangan banyak tenaga sihir..." ( Turva berusaha menghentikan pergerakan Madini )


"Guru tidak perlu mengkhawatirkanku, sekarang turunkan aku saja!" ( Madini terlihat panik )


"Baiklah, baiklah. Tapi jangan banyak bergerak. Biarkan guru menurunkanmu perlahan" ( Setelah itu Turva melakukannya )


"Nah, sekarang kau duduklah dulu. Jangan berdiri" ( Perintah Turva )


"Guru jangan khawatir, aku bisa sendiri..." ( Balas Madini )


"Ah...." ( Madini merasa kesakitan di bagian punggungnya )


"Sudah guru peringatkan jangan banyak gerak, sekarang berbaringlah" ( Madini melakukan sesuai perintah Turva )


"Kalau dilihat-lihat, keadaan Madini lebih buruk dari putri bukan?" ( Tanya Sepurga )


"Sepertinya begitu..., Sepertinya muridku ini memiliki fisik yang sangat kuat" ( Balas Turva dengan rasa bangga )


"Jangan memujiku dalam hal itu!" ( Ucap Madini )


"Bukannya bagus jika fisikmu kuat?" ( Tanya Turva )


"Ya, itu bagus. Tapi seharusnya pujiannya untuk hal lain!" ( Balas Madini )


"Hal lain? Seperti apa?" ( Tanya Turva lagi )


"Tidak, bukan apa-apa" ( Balas Madini lagi )


"Eeehhh....?" ( Turva semakin penasaran )


"Sudahlah, sekarang ini aku sedang menyembuhkanmu. Jadi jangan banyak bergerak ataupun bicara" ( Ucap Sanvu )


"Baik!" ( Jawab Madini dengan takut )


"Kita tidak boleh membuang waktu, apa Madini sudah bisa bergerak?" ( Tanya Turva )

__ADS_1


"Tunggu sekitar beberapa saat lagi" ( Jawab Sanvu )


"Benar juga, bagaimana dengan Dian Haka?" ( Batin Turva, ia lalu memeriksanya )


"Magra nya cukup rendah, tapi perlahan-lahan dia cepat menyembuhkan dirinya..., Baguslah jika begitu" ( Ucap Turva )


"Kita tidak perlu khawatir dengannya, dia sangat kuat" ( Lanjut Sepurga )


"Ya, itu benar..." ( Turva sedikit tersenyum, yang ia fikirkan pukulan Dian Haka yang begitu kuat )


"Apa maksudmu? Dia memang sangat kuat, tapi badanku lebih kuat" ( Maksud Sepurga disini perutnya yang selalu dipukul )


"Baiklah, sepertinya Madini sudah bisa berjalan" ( Ucap Sanvu )


"Kalau begitu, kita harus bergegas" ( Lanjut Turva )


"Bagaimana dengan putri?" ( Tanya Enka )


"Oh, benar juga..., Sepurga, kau yang bawa dia" ( Jawab Turva )


"Ha..., Aku?" ( Sepurga terlihat ingin menolak )


"Kenapa? Bukannya kau ingin merasakan pengalaman itu?" ( Yang dimaksud Turva membawa perempuan )


"Itu memang keinginanku, tapi jika hanya aku saja yang melihatnya..." ( Balas Sepurga )


"Kenapa bukan kau saja Turva?" ( Sanvu mempersilahkannya )


"Hmm? Itu boleh saja..." ( Ucap Turva, dengan cepat Madini berdiri dan memegang tangan Turva )


"Ada apa?" ( Tanya Turva )


"Cepat guru, kita harus mencari mereka" ( Balas Madini )


"Ya, guru tau itu. Jadi kita harus membawanya" ( Jelas Turva )


"Intinya, kita harus cepat. Sepurga, bawa dia!" ( Ucap Madini seolah menolaknya )


"Eh? Apa yang kau..." ( Sepurga juga menolaknya )


"...sekarang!" ( Madini memotong perkataannya )


"Baik..." ( Sanvu dan Enka membangunkan putri Dian Haka dan meletakkannya di punggung Sepurga )


"Berat..." ( Batin Sepurga )


"Apa kau selalu melakukan ini sahabatku?" ( Tanya Sepurga )


"Ya seperti itulah..., Jadi kau tidak akan iri kepadaku lagi bukan?" ( Tanya balik Turva )


"Ya, aku mengerti sekarang..." ( Jawab Sepurga )


"Baiklah, ayo berangkat!" ( Ucap Sanvu )


"Berat..." ( Itu yang diucapan Sepurga sepanjang perjalanan )


"Sepertinya dia telah mencapai batasnya" ( Batin Turva )


"Sanvu, gantian lah dengan Sepurga" ( Ucapnya )


"Apa dia sudah tidak kuat lagi?" ( Tanya Sanvu )


"Sepertinya begitu..." ( Jawab Turva )


"Baiklah..." ( Sanvu lalu menawarkan pertolongan kepada Sepurga )


"Mohon bantuannya..." ( Sepurga lalu memberikannya kepada Sanvu, setelah itu perjalanan dilanjutkan )


( Dan di perjalanan... )


"Kau baik-baik saja Enka?" ( Tanya Turva )


"Ya, hanya sedikit benturan kecil" ( Jawab Enka )


"Apa tadi kau membentur sesuatu?" ( Tanya Sanvu )


"Ya..., Di depanku seperti ada yang menghalangi jalanku" ( Jawab Enka )


"Bukannya di depan tidak ada apa-apa?" ( Ucap Sepurga )


"Aku akan memeriksanya..." ( Turva lalu berjalan dengan tangannya yang di depan )


"Eh, apa ini? Dinding?" ( Ucap Turva )


"Ternyata benar, ada dinding..." ( Lanjut Sanvu yang ikut melakukan perbuatan Turva )


"Mungkin ini yang membuat kita tidak bisa melihat yang lainnya" ( Ucap Sepurga )


"Kau benar, ini semacam penghalang penglihatan" ( Lanjut Turva )


"Bagaimana jika kita menghancurkannya?" ( Saran Sanvu )


"Tapi, bagaimana?" ( Tanya Turva )


"Kita akan mencobanya terlebih dahulu" ( Mereka lalu mencobanya, namun hasilnya nihil )


"Apa ada cara untuk membuat penghalangnya hancur..." ( Batin Turva )


"Tentu saja kalian tidak bisa menghancurkannya. Kalian harus membuat orang yang menjaganya menyerah..." ( Terdengar suara orang yang memanggil mereka )


"Guru, disana!" ( Madini dengan cepat melihatnya )


"Oh, penglihatanmu sangat baik..." ( Ucap orang itu )


"Apa kau temannya Rafly?" ( Tanya Turva )


"Rafly? Oh..., Pemimpin Kara itu, aku bukan temannya..., Aku hanyalah orang yang satu tujuan dengannya" ( Jawab orang itu )


"Apa maksudmu? Aku tidak mengerti..." ( Ucap Turva )


"Jika Rafly yang memimpin desa Kara, maka aku..., Yahiko, yang memimpin desa Atski" ( Jelas orang itu )


"Yahiko? Aku baru mendengarnya" ( Ucap Sanvu )


"Aku juga..." ( Lanjut Turva )


"Tidak peduli kalian orang yang berhasil mengalahkan Mesune, disini kalian akan menemui kematian kalian!" ( Yahiko maju dengan kedua pedang di masing-masing tangannya )


"Apa tidak berat?" ( Ucap Sepurga )


"Ini bukan waktunya bercanda bodoh" ( Ucap Sanvu memukul kepala Sepurga )


"Putaran angin!" ( Putaran angin yang sangat besar menjadi penghalang antara mereka dengan Yahiko )


"Sihirmu cukup hebat..." ( Ucap Yahiko yang larinya menjadi lambat )


"Tangkap dia, Sanvu!" ( Sesuai perintah Turva, Sanvu menutup sekeliling Yahiko dengan dinding buatannya )


"Ayo, Sepurga!" ( Turva melempar Sepurga jauh tepat ke atas pandangan Yahiko )


"Baiklah, aku mengerti. Ambil ini, api pemakan!" ( Sepurga membuat api yang sangat besar yang mampu menutupi jalan keluar Yahiko menuju keluar dari perangkap Sanvu )


"Kalian sangatlah kompak. Baiklah, biar aku tunjukkan bahwa sendirian bisa mengalahkan kelompok" ( Yahiko mengambil fokus )


"Perisai pedang!" ( Yahiko mengangkat kedua pedangnya dan benda yang ia pegang itu secara cepat melebar tapi dengan ketebalan yang meningkat sehingga mampu menutupi bagian atasnya )


"Apiku, dapat ditahan olehnya?" ( Ucap Sepurga )

__ADS_1


"Apa yang terjadi disana?" ( Turva, Sanvu dan Enka tidak mengetahui apa yang terjadi disana )


"Ah, aku jatuh..." ( Batin Sepurga )


"Oi, lihat Sepurga!" ( Ucap Sanvu memukul kepala Turva )


"Benar juga, aku terlupa!" ( Turva membuat sekumpulan angin tebal yang mampu mencegah Sepurga terjatuh )


"Untung saja kau memperingatkanku" ( Turva lalu membawa Sepurga perlahan kepada mereka )


"Apa yang terjadi disana?" ( Tanya Turva setelah Sepurga dekat dengan mereka )


"Apiku, tidak dapat mengenainya..." ( Jawab Sepurga )


"Apa...?" ( Setelah itu, Turva sendiri yang menuju ke atas Yahiko )


"Apinya tidak padam, tapi entah kenapa apinya tidak turun dan menyerang pemimpin desa Atski itu. Apa dia melakukan sesuatu?" ( Turva mengandai-andai di dalam fikirannya )


"Jangan lengah karena aku tidak melakukan pergerakan" ( Yahiko yang merasa sudah mendapat waktu yang tepat langsung menuju ke arah Turva dan menyerangnya )


"Apa itu, kenapa dia hanya memegang satu pedang. Dimana pedangnya yang satu lagi?" ( Batin Turva )


"Mungkin kau berfikir mengapa aku hanya memegang satu pedang. Perlu kau tahu, yang kupegang ini adalah pedang ketigaku!" ( Ucap Yahiko )


"Apa? Dimana kedua pedangnya? Dan mengapa ada perisai yang sangat besar yang ia pegang juga?" ( Turva masih belum menyadari jika Yahiko akan segera menyerangnya )


"Dan juga, perisai besar yang kau lihat ini adalah kedua pedangku yang berubah bentuk. Bersiaplah, sialan!" ( Lanjut Yahiko )


"Yang benar saja..., Gawat!" ( Batin Turva, ia seperti merasa Yahiko dapat membaca fikirannya )


"Pertama-tama, aku harus menghindar. Jangan mati langkah!" ( Turva berusaha keluar dari jalur serangan Yahiko )


"Terlalu cepat!" ( Tangan Turva sedikit tergores akibat serangan Yahiko )


"Turva!" ( Sanvu berlari ke arah pertempuran )


"Serangannya hanya menggores sedikit bahuku, tapi entah kenapa rasanya seperti terbakar!" ( Batin Turva )


"Tentu saja, keunggulan pedangku yaitu bisa memberikan rasa sakit yang terus menerus jika sekali kena saja" ( Ucap Yahiko )


"Sial, dia berbicara seolah dapat mengerti fikiranku..." ( Batin Turva )


"Kau sekarang mengerti kan, sekarang matilah. Karena kau tidak dapat menghentikan diriku" ( Yahiko mengeluarkan sihirnya )


"Bersiap, dia akan mengeluarkan sihirnya!" ( Turva memberi mereka peringatan )


"Gawat, mereka terlalu jauh..." ( Batin Enka yang melindungi putri Dian Haka )


"Biar aku yang melindunginya..." ( Ucap Madini )


"Apa kau yakin...?" ( Balas Enka )


"Serahkan padaku, sekarang cepatlah kau bantu guru!" ( Jawab Madini )


"Baiklah, aku tidak akan mengkhawatirkan kalian lagi jika begitu..." ( Enka lalu ikut membantu mereka )


"Hmmm, itu..." ( Enka melihat sesuatu yang sangat kecil di belakang Turva )


"Dia tidak mengeluarkan sihir?" ( Ucap Sanvu )


"Apa mungkin dia menunggu waktu yang pas?" ( Lanjut Turva )


"Ada apa? Apa kau hanya menggertak?" ( Teriak Sepurga )


"He" ( Yahiko hanya tersenyum dengan memperlihatkan giginya yang tajam )


"Dia kenapa?" ( Ucap Turva )


"Turva, di belakangmu!" ( Enka memberinya peringatan dari jauh )


"Di belakang?" ( Belum sempat Turva berbalik, jarum kecil yang tersambung dengan benang menusuknya dari belakang kemudian menembus tubuhnya )


"Kukha..." ( Turva mengeluarkan darah dari mulutnya )


"Turva!" ( Sepurga menangkap Turva yang terjatuh ke tanah )


"Jangan menyerah Turva! Pertahankan dirimu! Gunakan magra mu!" ( Sepurga tak henti berbicara )


"Mustahil, Turva selalu memperhatikan keadaan di sekitarnya. Darimana serangan itu berasal?" ( Ucap Sanvu )


"Ini karena sihirku..., Sihir jarum dan benang!" ( Yahiko berkata seperti dapat mengetahui fikiran mereka lagi )


"Sihir apa itu? Aku baru mendengarnya..." ( Batin Sanvu )


"Dia belum saja bangun..., Bagaimana ini Sanvu!" ( Sepurga menutup tempat keluarnya darah dari tubuh Turva )


"Cepat bawa ke Madini!" ( Perintah Sanvu )


"Kalian memang lemah, mengalahkan Mesune mungkin karena kalian beruntung saja..." ( Ucap Yahiko )


"Jangan pedulikan dia, kita harus mengobati Turva!" ( Ucap Sanvu )


"Kalian mau lari? Jangan kira semudah itu!" ( Yahiko berlari dengan cepat menuju ke mereka )


"Dia mengejar kita!" ( Ucap Sepurga )


"Hahaha, kalian sangatlah lemah!" ( Yahiko menurunkan mental mereka )


"Jangan apa-apakan guru!" ( Madini dengan pedangnya maju ke depan )


"Oh..., Jadi kau muridnya? Jika gurunya saja kalah, apalagi muridnya!" ( Yahiko tanpa ampun menyerang Madini. Dan kini Yahiko bertempur di darat )


"Kita harus membantu Madini!" ( Ucap Sepurga )


"Enka, jagalah Turva! Biar aku dan Sepurga yang kembali" ( Perintah Sanvu )


"Baiklah, hati-hati" ( Balas Enka )


"Ya..." ( Sanvu dan Sepurga dengan cepat menuju ke Madini )


"Haha, sudah kubilang. Kau lebih mudah dikalahkan" ( Ucap Yahiko )


"Tinjuan tanah!" ( Sanvu mengeluarkan tanah yang cukup besar berbentuk kepalan tangan dari dalam tanah menuju ke Yahiko yang sedang memegang leher Madini )


"Ternyata kau kembali. Kukira kau seorang pecundang" ( Yahiko melepaskan genggamannya lalu melempar Madini. Kemudian membuat pertahanan dari kedua pedangnya )


"Sial, dia sangat kuat!" ( Batin Sanvu )


"Madini!" ( Sepurga berlari dan berusaha menyembuhkan Madini )


"Tenang saja, guru bilang fisikku sangat kuat. Bawa saja aku ke Enka agar tidak membebani Sanvu" ( Ucap Madini )


"Baiklah, aku mengerti" ( Sepurga melakukan sesuai apa yang dikatakan Madini kemudian kembali lagi )


"Kau juga sudah kembali. Baiklah, kalian berdua majulah sini!" ( Yahiko merasa sangat bersemangat )


( Di lain tempat... )


"Ada apa? Apa kekuatan kalian hanya sampai situ?" ( Ucap orang yang menghadang perjalanan Tigra, Limzy dan Delta )


"Gawat..., Tenaga sihir ku hampir habis" ( Batin Tigra )


"Aku tidak akan menyerah begitu saja!" ( Limzy dengan pedang dan sihir petirnya bergerak secepat kilat dan menyerang serta mencari celah orang yang ia hadapi )


"Percuma saja..., Kau tidak akan bisa menghadapiku..., Azfa, pemimpin desa Makabon!" ( Muncul musuh baru lagi, apa mereka bertiga dapat menghadapinya? )


< Berlanjut ke chapter 47! >

__ADS_1


__ADS_2