
Chapter 48 ( Penyelidikan & Orang Misterius )
( Di kerajaan Warbun, kini panglima Hitler sedang menjelaskan hal yang ia lihat sendiri mengenai prajurit aneh yang akhir-akhir ini menyerbu ke kerajaan Jotigva )
"Jadi, apa yang anda ingin beritahukan mengenai prajurit aneh itu?" ( Tanya raja Sonun )
"Begini, raja..., Sebenarnya, saat aku mendengar prajurit aneh itu serta ciri-cirinya dari panglima Dabroger, saya takut jika dugaan saya benar" ( Ucap panglima Hitler )
"Apa yang menjadi dugaan anda?" ( Tanya panglima Kagaz )
"Saat panglima Dabroger mengatakan mereka mempunyai pedang panjang berwarna merah darah, aku mengingat pasukan yang hanya satu-satunya bersenjata seperti itu..." ( Ucap panglima Hitler )
"Bukankah mereka pasukan..." ( Panglima Kagaz yang sering mengikuti peperangan mengingat sesuatu dengan apa yang dijelaskan oleh panglima Hitler )
"Itu benar, mereka pasukan dari kerajaan Yahsa dari negara Chadim" ( Ucap panglima Hitler )
"Tidak mungkin, letak kerajaan mereka sangat jauh. Dan juga untuk menuju Jotigva, mereka harus melalui banyak kerajaan lain yang berbatasan dengan mereka. Itu sangat mustahil" ( Balas panglima Kagaz )
"Mungkin saja mereka bisa, dengan berlian yang kuat itu..." ( Ucap raja Sonun )
"Raja..., Apa anda juga memercayainya?" ( Tanya panglima Kagaz )
"Sebenarnya aku tidak percaya, tapi mengingat mereka bisa melalui jalan yang sulit itu pasti raja mereka juga menggunakan kekuatan berlian itu" ( Jawab raja Sonun )
"Kemungkinan juga yang itu adalah berlian yang lebih merepotkan lagi dibanding dengan yang pernah diberikan kepada raja Bagru..." ( Lanjut nya )
"Jadi, apa yang harus kita lakukan?" ( Tanya panglima Hitler )
"Bersabarlah, kalian harus menenangkan fikiran kalian agar tidak menjadi seperti kami bertiga" ( Yang dimaksud raja Sonun yaitu raja Jalhaq, Turgam dan ia sendiri )
"Bagaimana jika kita melakukan rencana penyelidikan?" ( Panglima Kagaz memberikan saran )
"Penyelidikan?" ( Panglima Hitler mendengarnya )
"Itu benar, jika pasukan Jotigva menemukan pasukan Yahsa, jangan menyerang mereka. Tapi ikutilah mereka dan lihat dimana markas mereka. Dengan begitu kita akan dapat merencanakan perbuatan selanjutnya..." ( Jelas panglima Kagaz )
"Tapi, itu terlalu beresiko. Jika para pasukan Jotigva diketahui sedang mengikuti mereka, maka pembunuhan tidak dapat dihindari..." ( Panglima Hitler sedikit mempermasalahkan saran panglima Kagaz )
"Anda benar juga. Baiklah, bagaimana jika kita ajak Goslancart untuk mengawasi pasukan Yahsa bertiga?" ( Panglima Kagaz memberikan saran lain )
"Bertiga?" ( Panglima Hitler tidak menduga hal itu keluar dari mulut panglima Kagaz yang selalu ingin melakukan semuanya sendiri )
"Itu benar, dengan jumlah yang sedikit maka tentu tidak akan mudah diketahui oleh faktor rombongan. Jadi, bagaimana?" ( Panglima Kagaz menawarkan usulannya yang kedua )
"Sepertinya itu ide yang bagus..., Baiklah, kita akan ke Malona dan mengajak Goslancart" ( Panglima Hitler menerima nya )
"Kukira anda tidak ingin menerima saranku karena tidak ditemani oleh mereka bertiga..." ( Yang dimaksud panglima Kagaz yaitu panglima Krolna, Dabroger dan Kulswa )
"Tidak juga, mereka dibutuhkan oleh raja Bagru untuk menjaga Jotigva. Dan juga ditambah dua muridku maka akan baik-baik saja" ( Yang dimakud panglima Hitler yaitu Galts dan Riksrel )
"Sebelum itu, panggillah salah satu panglima untuk menggantikan kedudukanmu disini untuk sementara" ( Ucap raja Sonun )
"Pengganti sementara?" ( Panglima Kagaz menolah ke raja Sonun )
"Itu benar, apa dari mereka bertiga ada yang kau paling percayai?" ( Tanya raja Sonun )
"Tentu saja raja, aku dapat memilih salah satu dari mereka dengan mudah. Tunggu disini dan aku akan memanggilnya" ( Panglima Kagaz memanggil satu dari empat panglima Warbun )
"Benar juga, selama ini hanya panglima Kagaz saja yang kulihat menjaga anda. Tiga panglima yang lain berada dimana?" ( Tanya panglima Hitler )
"Anda tau panglima Hitler, jika hanya panglima Kagaz saja yang laki-laki seorang dari empat panglima?" ( Tanya balik raja Sonun )
"Hanya laki-laki seorang? Tunggu, itu artinya..." ( Panglima Hitler dapat memahami arti perkataan raja Sonun )
"Panglima Kagaz, ajaklah aku saja..." ( Panglima Hitler melihat tiga perempuan yang di sekeliling panglima Kagaz )
"Tidak, ajaklah aku!" ( Satu perempuan yang lainnya terlihat ingin ikut dengan panglima Kagaz )
"Yang benar saja..." ( Batin panglima Hitler )
"Kalian, jangan bertingkah seperti itu di depan panglima kerajaan Jotigva" ( Ucap panglima Kagaz )
"Panglima Jotigva?" ( Mereka bertiga melihat ke arah panglima Hitler )
"Maaf, kami tidak menyadari keberadaan anda" ( Mereka bertiga membungkukkan badan mereka )
"Tidak apa-apa, saya tidak membenci sikap kalian" ( Balas panglima Hitler dengan memasang senyum paksa )
"Benar juga, kalau tidak salah adik perempuan Goslancart selalu dekat dengan Kagaz sewaktu kami berlatih dengan guru Hartlin..." ( Batin panglima Hitler )
"Sebaiknya kalian ingat bahwa kalian panglima sama seperti diriku..." ( Ucap panglima Kagaz )
"Maaf, kami melakukan hal yang tidak pantas diperlihatkan" ( Mereka bertiga meminta maaf )
"Tidak apa-apa. Selain itu, aku ingin meminta kepada salah satu dari kalian" ( Panglima Kagaz kembali ke cerita inti )
"Permintaan?" ( Mereka bertiga penasaran )
"Karena aku akan menemani panglima Hitler menuju ke kerajaan Malona untuk mengajak panglima Goslancart melakukan penyelidikan, maka aku meminta kepada salah satu dari kalian untuk menggantikanku sementara menjaga raja Sonun" ( Jelas panglima Kagaz )
"Penyelidikan? Seperti apa penyelidikan yang akan anda lakukan?" ( Tanya salah satu dari mereka )
"Tentang itu, aku tidak bisa mengatakannya kepada kalian" ( Jawab panglima Kagaz )
"Jika panglima Kagaz tidak memberitahukannya, mungkin saja itu sangat penting. Baiklah, kami akan mematuhi anda" ( Mereka bersikap sopan karena ada panglima Hitler )
"Bukannya aku hanya bilang salah satu?" ( Ucap panglima Kagaz )
"Eh?" ( Mereka bertiga pun mengingatnya )
"Dan bagi yang bisa menjaga raja Sonun dengan baik, maka akan kuikuti dia kemana saja pekan depan selama sehari" ( Panglima Kagaz memancing mereka )
"Pergi kemanapun dengan panglima Kagaz selama sehari penuh...?" ( Otak mereka bertiga membayangkan banyak hal )
"Jadi, bagaimana? Haruskah aku menunjuk yang mana?" ( Ucap panglima Kagaz )
"Kalau begitu, biar aku saja!" ( Ucap salah satu panglima perempuan )
"Tidak, aku saja!" ( Ucap satunya lagi )
"Aku yang paling bisa dipercaya, biar aku saja!" ( Yang satunya lagi tidak ingin kalah )
"Tenanglah, biar raja Sonun yang menentukannya" ( Ucap panglima Kagaz )
"Bukannya kau sendiri yang bilang dapat memilih salah satu dari mereka dengan mudah?" ( Tanya raja Sonun )
"Karena mereka sama-sama bersikeras, saya jadi kebingungan memilih dari mereka" ( Jawab panglima Kagaz )
__ADS_1
"Sebelum itu, ada yang ingin kupertanyakan padamu" ( Ucap raja Sonun )
"Apa yang ingin anda tanyakan?" ( Panglima Kagaz mendengarkan )
"Berapa lama kau di luar kerajaan?" ( Tanya raja Sonun )
"Mungkin sekitar enam hari" ( Jawab panglima Kagaz )
"Begitu. Baiklah, kalau begitu aku memerintahkan kepada ketiga panglima yang lain untuk disini" ( Ucap raja Sonun )
"Tunggu, jika mereka bertiga disini maka siapa yang akan menjaga dan berkeliling menjaga keamanan kerajaan di luar?" ( Tanya panglima Kagaz )
"Aku memerintahkan mereka bertiga, tapi secara bergantian" ( Jelas raja Sonun )
"Bergantian?" ( Panglima Kagaz ingin raja Sonun menjelaskan secara jelas )
"Panglima Fila, akan berjaga disini pada hari pertama dan keempat" ( Ucap raja Sonun )
"Baik!" ( Panglima Fila menerima perintah itu )
"Panglima Noula akan berjaga disini pada hari kedua dan kelima" ( Lanjut raja Sonun )
"Baik!" ( Panglima Noula juga menerima perintah itu )
"Dan, panglima Raphtalia akan berjaga disini pada hari ketiga dan keenam" ( Lanjut nya lagi )
"Saya mengerti!" ( Panglima Raphtalia menundukkan badannya )
"Apa itu sudah sesuai dengan yang kau inginkan, panglima Kagaz?" ( Tanya raja Sonun )
"Setidaknya inilah jalan yang terbaik" ( Jawab panglima Kagaz )
"Kalau begitu, kami akan menuju ke kerajaan Malona. Saya meminta izin untuk meninggalkan kerajaan" ( Panglima Hitler membungkukkan badan )
"Baiklah, silahkan berangkat. Semoga kalian pulang dengan selamat" ( Ucap raja Sonun )
"Terima kasih atas perhatian anda" ( Mereka berdua pun meninggalkan ruangan )
"Tentu saja, aku akan menentukan siapa yang paling baik menjalankan tugasnya dan memberitahukannya padamu" ( Ucap raja Sonun yang masih dapat didengar oleh panglima Kagaz dari pintu masuk )
"Yang benar saja, aku terlupa dengan itu. Padahal aku sudah ingin melupakan itu, tapi aku terlanjur mengatakannya" ( Batin panglima Kagaz sambil menghela napas )
"Aku faham apa yang kau alami" ( Panglima Hitler mengelus punggung panglima Kagaz )
"Pasti susah berurusan dengan mereka" ( Ucap panglima Hitler )
"Ya, itu benar..." ( Panglima Kagaz hanya tersenyum )
"Baik, saya menantikan siapa yang raja sebut nanti" ( Setelah itu, mereka berdua benar-benar telah pergi ke kerajaan Malona )
( Kembali ke Turva... )
"Bertahanlah Turva" ( Sanvu menyemangatinya )
"Ini gawat, dia semakin parah saja" ( Lanjut Enka )
"Jangan turun semangat! Masih ada harapan! Kita hampir sampai ke kerajaan Malona!" ( Ucap Madini )
( Dalam keadaan tak sadarkan diri, Turva berada di dunia mimpi )
"Dimana ini?" ( Batin Turva, ia melihat sekelilingnya yang berwarna putih saja )
"Ini tidak bisa terjadi, aku harus kembali ke sahabatku yang lain!" ( Lanjutnya )
"Tapi, bagaimana caranya...?" ( Ia terus berucap tanpa henti. Setelah itu, ia melihat sebuah bola sihir yang berwarna biru kehitaman )
"Apa ini?" ( Ia menghampiri bola sihir itu dengan sendirinya )
"Itu...?" ( Turva melihat dalam bola sihir itu seluruh sahabatnya yang dalam perjalanan pulang dari kerajaan Arba )
"Tidak mungkin, kenapa aku dibawa? Seharusnya aku disini" ( Turva makin tidak mengerti )
"Sepertinya kau banyak bicara, Turva..." ( Ucap seseorang yang tidak Turva tahu keberadaannya )
"Darimana suara itu?" ( Batinnya )
"Keluarlah, jangan menjadi pengecut dan bicaralah langsung ke hadapan wajahku!" ( Turva menantangnya )
"Dan juga, kenapa kau bisa tahu namaku!" ( Lanjutnya )
"Tentu saja, karena kita pernah bertemu..." ( Setelah suara itu selesai Turva melihat cahaya berwarna hijau muncul di depannya )
"Terang sekali..." ( Ucapnya )
"Aku senang karena kau sudah bisa menggapai dunia bawah sadar, Turva..., Dan untungnya, kau memasuki dunia bawah sadar ku" ( Ucap orang yang muncul setelah cahaya hijau itu menghilang )
"Kau..." ( Turva mengenal orang itu )
"Sebelum itu, jangan menyebut namaku sebagai musuh. Tapi sebut aku sebagai kawanmu. Karena jika kau menyebut ku sebagai musuh, maka dadamu akan terasa sangat sakit" ( Jelas orang itu )
"Hal seperti itu mana mungkin ada!" ( Balas Turva )
"Sekarang, coba lah untuk mengucapkannya" ( Orang itu menyuruh Turva untuk membuktikannya sendiri )
"Aku tidak keberatan *******" ( Turva menyebut nama orang yang di depannya )
"Sudah kubilang, itu tidak masuk akal" ( Lanjut nya setelah menyadari dia tidak merasakan sakit apapun saat menyebut orang yang ada didepannya )
"Tentu saja, ini adalah dunia bawah sadar ku. Dan aku berhak melakukan apa saja disini sesuai kehendakku. Jadi membuatmu agar tidak merasakan sakit sangat mudah bagiku" ( Ucap orang itu )
"Tapi, jika kau menyebut itu di luar dunia bawah sadar ku ataupun milik orang lain, maka bersiaplah..., Kau akan merasakan sakit yang luar biasa" ( Lanjutnya )
"Kau tahu? Aku sudah lama menduga bahwa kau adalah orang yang aneh. Tapi kenapa kau bersikap baik kepada kami?" ( Tanya Turva, saat itu ia bertemu dengan musuh. Tapi ia masih belum percaya jika harus melawan orang itu )
"Aku tidak akan memberitahumu hal sepenting itu dengan mudah" ( Jawab orang itu )
"Baiklah, aku mengerti..." ( Ucap Turva singkat )
"Dan juga, aku adalah satu dari enam pengguna berlian utama" ( Mendengar itu, Turva yang awalnya sangat susah untuk menahan badannya berdiri menjadi kuat dengan sendirinya )
"Tunggu, kau..., Pengguna berlian utama?" ( Turva tidak percaya )
"Tentu saja, aku mempunyai lima bawahan yang nantinya salah satu dari mereka akan kuberikan berlian bawahan" ( Jelas orang itu )
"Tidak mungkin. Tapi aku harus bertindak yang semestinya, sekarang matilah kau!" ( Turva menyerangnya tanpa berfikir panjang )
"Haha, tidak mungkin kau bisa mengalahkanku di dunia ku sendiri" ( Ucap orang itu dengan bangga )
__ADS_1
"Sial, dia sama sekali tidak terkena luka" ( Batin Turva, pukulan tangannya malah menembus tubuh orang itu )
"Aku akan melihat bagaimana kau akan menjadi lebih kuat. Maka dari itu, rahasiakan lah siapa diriku hingga kau mendapatkan kekuatan yang melebihi diriku. Dan juga, sekali lagi jangan pernah menyebut namaku sebagai pengguna berlian utama karena kau akan merasakan luka dalam yang luar biasa..." ( Jelas orang itu, kemudian ia melakukan beberapa gerakan yang tidak dimengerti Turva )
"Apa yang dia lakukan?" ( Batinnya )
"Eh, apa ini? Aku melayang?" ( Turva merasa ada sesuatu yang menariknya ke atas )
"Kali ini akan kuselamatkan nyawamu, tapi jika kau bersikeras ingin melawanku maka aku tidak akan segan melayanimu" ( Setelah mendengar peringatan orang itu Turva lalu kembali ke kesadarannya )
"Kubunuh kau!" ( Turva mengagetkan semua orang )
"Turva, tenanglah! Apa yang terjadi..." ( Tanya Dunza yang membawa Turva di punggungnya )
"Ada apa, Turva? Kau terlihat sangat marah..., Apa kau mengalami hal yang buruk?" ( Tanya Enka )
"Tadi, dia muncul!" ( Ucap Turva )
"Siapa yang kau maksud?" ( Tanya Sanvu )
"Dia...." ( Saat Turva ingin mengucapkan namanya, ia mengingat peringatan orang itu dan memikirkannya )
"Tidak, bukan apa-apa..." ( Turva memilih untuk tidak menyebut namanya )
"Begitu..., Tapi intinya kau sudah sadar. Syukurlah" ( Ucap Sanvu yang tidak ingin terlalu membuat Turva tertekan )
"Apa kau sudah bisa berdiri?" ( Tanya Dunza )
"Ya.." ( Jawab Turva singkat )
"Kalau begitu turunlah perlahan" ( Ucap Dunza )
"Aku mengerti" ( Setelah itu Turva berusaha berdiri )
"Bagaimana?" ( Tanya Dunza )
"Sepertinya aku bisa melakukannya..." ( Jawab Turva, tapi tiba-tiba keseimbangannya kembali menghilang )
"Guru!" ( Madini yang baru menyadari Turva sadar segera memeluknya )
"Madini..." ( Turva masih belum bisa mengatasi rasa sakit yang ada di tubuhnya )
"Guru tidak merasakan sakit di bagian perut guru..." ( Ucap Turva )
"Tentu saja, benang orang itu menembus tubuh guru. Lain kali, sebaiknya guru berhati-hati" ( Madini menasihatinya serta terus menangis )
"Maafkan guru, kewaspadaan guru semakin menurun akibat memikirkan murid guru juga..." ( Ucap Turva yang tidak ingin membuat Madini khawatir )
"Sepertinya kau masih belum kuat untuk berdiri sendiri, biarkan aku membawamu saja" ( Tigra menawarkan dirinya )
"Itu benar, serahkan kepada kami" ( Limzy mengikuti nya )
"Maaf merepotkan kalian..." ( Turva pun dibawa lagi oleh mereka )
"Tenang saja, ini tidak merepotkan" ( Balas Tigra )
"Sakit..." ( Putri Dian Haka juga akhirnya terbangun )
"Putri..., Anda baik-baik saja?" ( Tanya putri Maryam )
"Putri Maryam..., Ya, aku baik-baik saja" ( Jawabnya )
"Terlebih lagi, siapa yang membawaku..." ( Batin putri Dian Haka )
"Oh, anda sudah sadar. Syukurlah..." ( Ucap Dubas yang membawanya )
"Tunggu, beraninya kau membawaku! Siapa yang memberikan mu izin!" ( Putri Dian Haka tiba-tiba mendapatkan kekuatan untuk menjauh dari Dubas )
"Tenang saja, kita dalam perjalanan pulang..., Dan, aku tidak berbuat apa-apa" ( Balas Dubas )
"Begitu, maafkan aku" ( Dari awal putri Dian Haka tidak menganggap Dubas orang yang jahat, tapi ia hanya terkejut karena tiba-tiba dibawa olehnya )
"Haha, kau sudah bangun..." ( Putri Dian Haka mendengar suara Turva )
"Kau, apa yang terjadi denganmu?" ( Putri Dian Haka menghampirinya )
"Seperti yang kau lihat, aku hanya sedikit lelah saja..." ( Jawab Turva dengan senyum )
"Sebaiknya kau perhatikan dirimu, jangan orang lain saja yang kau lindungi..." ( Ucapnya )
"Justru aku yang berkata begitu..." ( Balas Turva, ia merasa dinasehati oleh orang yang kejadiannya lebih buruk darinya )
"Apa kau tidak tahu seberapa pentingnya dirimu?" ( Ucap lagi putri Dian Haka )
"Penting?" ( Balas Turva singkat )
"Bukan, yang kumaksud itu penting bagi sahabatmu! Jadi, jangan berfikiran yang lain!" ( Putri Dian Haka memukulnya )
"Sakit! Jangan memukul ku saat lengah bodoh!" ( Kesal Turva )
"Jangan banyak bergerak, kami kesulitan membawa nya..." ( Ucap Tigra dan Limzy )
"Terserah kalian..." ( Putri Dian Haka membalikkan badannya )
"Dia sangat menakutkan...." ( Ucap Sepurga yang membawa Emily )
"Untung saja aku tidak membawanya..." ( Lanjut Seberma yang membawa Sema )
"Semuanya, aku akan sedikit memberitahukan sesuatu..." ( Ucap Turva )
"Tapi, apa kau tidak ingin sampai di Malona terlebih dahulu?" ( Tanya Limzy )
"Tenang saja, aku masih kuat untuk berbicara..." ( Setelah itu, mereka berhenti sejenak dan mendengarkan Turva )
"Jadi, apa yang ingin kau katakan?" ( Tanya Tigra setelah mendudukkan Turva di sebuah batu yang besar )
"Begini, aku sempat bertemu dengan seseorang saat aku belum sadar..." ( Jawab Turva )
"Seseorang?" ( Tanya Sepurga )
"Itu benar, dia memberitahuku untuk tidak memberitahukan identitasnya karena akan membahayakan diriku..." ( Jelas Turva )
"Jadi, yang ingin kau sampaikan kepada kami sebenarnya apa? ( Tanya Sanvu )
"Sebenarnya..." ( Mereka mendengarnya dengan seksama )
"Aku sudah bertemu dengan salah satu dari enam orang yang menggunakan berlian utama!"
__ADS_1
< Berlanjut ke chapter 49! >