
Chapter 45 ( Kembalinya Rafly! )
( Turva dan yang lainnya sedang berusaha mencari benda yang dimaksud oleh suara dari langit tersebut, dan diwaktu bersamaan sesuatu terjadi di kerajaan Warbun... )
"Oh, ternyata kau sudah datang..." ( Ucap panglima Kagaz )
"Itu benar, apa maksudmu memanggilku ke sini?" ( Balas Panglima Hitler, sesaat setelah membicarakan mengenai prajurit berbaju aneh tersebut ia lalu memberitahukan hal tersebut kepada raja Sonun )
"Tentu saja, untuk membahas prajurit aneh yang kau bilang itu..." ( Jawab panglima Kagaz. Sedikit informasi, panglima Hitler adalah teman seperguruan panglima Kagaz, ia juga berguru kepada raja Hartlin. Dan ia bahkan mengetahui mengenai pangeran Goslancart yang sangat dekat dengannya )
"Aku faham, tapi kenapa bukan raja mu saja yang langsung berbicara denganku?" ( Tanya panglima Hitler lagi )
"Oh, raja Sonun sedang keluar. Untuk sementara tunggulah disini" ( Jawab panglima Kagaz )
"Aku tidak keberatan jika itu permintaanmu. Benar juga, apa Goslancart masih sering bertemu denganmu?" ( Tanya panglima Hitler lagi )
"Tidak, sekarang dia mungkin sedang membuat dirinya menjadi lebih baik lagi..., Hanya itu yang kurasakan" ( Jawab panglima Kagaz )
"Oh, ternyata begitu. Aku mengira dia masih melakukan hal-hal bodoh yang lainnya" ( Balas panglima Hitler )
"Haha, itu bukan tindakan bodoh Hitler. Dia hanya berusaha untuk diakui, menurutku apa yang dia lakukan adalah tindakan yang harus dicontoh oleh orang-orang yang mengenalnya" ( Jelas panglima Kagaz )
"Aku faham tau, hahaha" ( Panglima Hitler menepuk pundaknya )
"Oh ternyata anda sudah datang..." ( Ucap raja Sonun yang baru memasuki ruangan )
"Baik, sebuah kehormatan dipanggil oleh anda" ( Panglima Hitler menundukkan kepala )
"Jadi..., Apa bisa anda jelaskan mengenai prajurit aneh itu?" ( Raja Sonun mulai membuka inti pembicaraan )
"Baiklah, saya akan menjelaskannya..." ( Panglima Hitler menjelaskan semampunya )
( Di kerajaan Arba... )
"Hiyyya!!!!!" ( Turva membelah sebuah batu yang sangat keras dengan tujuan mendapatkan benda yang berkilau itu, namun... )
"Tetap saja, ini tak berhasil..." ( Ucap putri Dian Haka
"Apa tidak ada cara lain putri...?" ( Tanya Madini )
"Menurutku, kita harus lebih mengurangi penggunaan tenaga sihir kita agar tidak habis saat dibutuhkan..." ( Jawab putri Dian Haka
"Itu bukan jawaban, tapi saran..." ( Balas Turva )
"Terserah aku!" ( Putri Dian Haka memalingkan wajahnya)
"Ini juga salah dari suara itu..." ( Lanjut putri Dian Haka )
"Kau benar, dia sama sekali tidak memberitahu kita bagaimana bisa mendapatkannya..." ( Balas Turva )
"Oh, lihat itu!" ( Madini melihat seorang kakek tua yang sanga lemas dari kejauhan. Mereka lalu menghampirinya )
"Dia sepertinya sangat haus..." ( Ucap putri Dian Haka )
"Minumlah ini, saya harap dengan ini akan dapat memulihkan tubuh anda..." ( Turva memberikannya air yang ia ambil di sungai )
"Terima kasih..." ( Dengan penuh kehausan, kakek itu meminum air yang diberi Turva. Setelah itu ia mengembalikannya )
"Habis?" ( Batin Turva, ia terkejut melihat airnya sudah habis )
"Terima kasih, nak. Karena adanya kalian kakek bisa kembali berjalan..." ( Ucap kakek itu )
"Tidak perlu difikirkan..., Apa anda penduduk asli disini?" ( Tanya Turva )
"Bukan, nak. Kakek kebetulan melewati tempat ini..." ( Jawab kakek itu )
"Jika bukan dari sini, anda darimana? Dan juga, anda mau kemana hingga memiliki keberanian untuk menempuh perjalanan sendirian...?" ( Tanya Turva lagi )
"Kakek berjalan dari desa Liecht. Dan kakek berniat untuk meminta pertolongan dari kerajaan Malona. Kakek dengar mereka memiliki pasukan yang hebat, kakek ke sana untuk mendapatkan bantuan agar dapat mengusir orang-orang yang menjajah kami..." ( Jelas kakek itu )
"Desa Liecht? Aku tidak pernah mendengarnya..." ( Ucap Turva )
"Desa Liecht, itu terletak di kerajaan Maunstan. Dan juga kerajaan itu tidak terletak di negeri Rakiya ini..." ( Jelas putri Dian Haka )
"Apa maksudmu bukan dari negari ini?" ( Tanya Turva )
"Itu berarti dia berasal dari negeri di sebelah selatan kerajaan Arba. Negeri itu adalah negeri Chaffoz" ( Jawab putri Dian Haka )
"Negara Chaffoz? Aku belum pernah mendengarnya..." ( Ucap Madini )
"Tentu saja, mereka bersebalahan dengan kerajaan Arba ini. Dan karena disini sudah banyak yang menganggapnya tanah kematian maka tidak ada yang berani melewatinya..." ( Jelas putri Dian Haka )
"Ternyata begitu. Aku tidak menyangka ternyata kau lebih pintar dari yang kuduga" ( Ucap Turva )
"Aku memang orang yang pintar! Jangan samakan kepintaranku dengan kebodohanmu!" ( Balas putri Dian Haka )
"Apa yang kau katakan?" ( Turva sedikit tersinggung
"Kalian berdua, tolong berhenti! Kakek ini membutuhkan pertolongan" ( Ucap Madini )
"Oh, kau benar. Biarkan aku yang mengangkatnya" ( Balas Turva )
"Tapi, bagaimana kita bisa mencari jalan keluar dari sini? Kita bahkan tidak mengetahui jalan pulang" ( Ucap putri Dian Haka )
"Kita akan fokus mencari benda yang dimaksud suara itu..." ( Balas Turva sambil membawa kakek itu ke atasnya )
"Kau tidak perlu melakukan sejauh itu, nak. Kakek sudah merasa lebih baik dari sebelumnya" ( Ucap kakek itu )
"Tenang saja, kami akan menyelamatkan anda..." ( Setelah itu, mereka kembali mencari benda yang dimaksud tersebut. Namun tetap saja mereka tidak mendapatkannya )
"Sial! Dimana benda itu?" ( Turva sudah merasa kesabarannya habis )
"Apa yang kau cari, nak?" ( Tanya kakek itu )
"Sebenarnya aku juga tersesat, kemudian ada suara dari langit yang memberitahu kami harus mencari benda yang berkilauan serta berwarna emas untuk bisa keluar dari sini..." ( Jawab Turva )
"Benda berkilauan? Berwarna emas?" ( Kakek itu sedikit mengingat sesuatu )
__ADS_1
"Apa anda mengingat sesuatu?" ( Tanya Turva )
"Apa benda itu memiliki bentuk kotak?" ( Tanya balik kakek itu )
"Ya! Itu benar!" ( Turva menjawab dengan semangat )
"Kakek melihatnya sewaktu berjalan dari desa..." ( Jelas kakek itu )
"Benarkah, tunjukkan kami jalannya!" ( Ucap Turva bersemangat )
"Baiklah, karena kalian telah menolong kakek. Maka kakek akan membalasnya" ( Kemudian, Turva, Madini dan putri Dian Haka berjalan sesuai arah yang ditunjukkan oleh kakek tersebut )
( Di tempat lain... )
"Ah..." ( Putri Maryam menahan kesakitan )
"Ada apa, putri?" ( Dunza menoleh ke arahnya )
"Sakit..." ( Putri Maryam duduk dan memanjangkan kakinya ke depan )
"Putri, apa kau tidak apa-apa?" ( Tanya Dunza )
"Sepertinya kakinya menginjak sesuatu. Lihat kaki kanannya, terlihat lebih besar dari kakinya yang satu lagi" ( Ucap Seberma )
"Kau benar, ini tidak bisa dibiarkan. Putri tidak boleh memaksakan diri..." ( Lanjut Dunza )
"Tapi, bagaimana kita bisa dengan cepat mencari benda itu?" ( Tanya putri Maryam )
"Biar aku membawa putri" ( Balas Dunza )
"Tidak perlu, aku bisa sendiri..." ( Putri Maryam menolaknya )
"Sebaiknya putri perhatikan diri sendiri. Dan juga, jika putri terhambat, maka kami juga akan terhambat" ( Jelas Dunza )
"Perkataanmu ada benarnya juga..., Baiklah. Aku akan menurutimu" ( Kemudian Dunza membawa putri Maryam ke punggungnya )
"Apa aku tidak berat?" ( Tanya putri Maryam )
"Tenang saja, putri tidak berat" ( Jawab Dunza memberikan jempolnya )
"Aku harap kau tidak berbohong..." ( Ucap putri Maryam )
"Sebaiknya aku perhatikan saja mereka..." ( Batin Seberma tersenyum )
( Kembali ke Turva... )
"Benar juga, kami belum menanyakan ini..." ( Madini membuka pembicaraan )
"Apa yang ingin kau tanyakan?" ( Tanya Turva )
"Bagaimana bisa kakek bisa jalan sejauh ini dari negara Chafford?" ( Tanya balik Madini )
"Sebenarnya kakek dikawal oleh dua pemuda yang hebat, namun entah kenapa karena kabut yang terjadi tadi menyebabkan kakek terpisah dari mereka" ( Jelas kakek itu )
"Apa kami bisa mengetahui nama anda? Kakek, kakek..., Itu sepertinya terlalu canggung..." ( Ucap Turva )
"Wotse..." ( Turva hampir tertawa )
"Itu nama yang bagus kakek Wotse..." ( Ucap putri Dian Haka sambil memukul perut Turva. Ia juga sebenarnya menahan tawa nya )
"Ada apa? Badanmu bergetar" ( Tanya kakek Wotse )
"Bukan apa-apa, tuan Wotse. Benar juga, perbatasan negara Rakiyah dan negara Chafford itu seperti apa?" ( Tanya Turva )
"Sepertinya kalian belum pernah melihatnya..." ( Ucap kakek Wotse )
"Aku pernah mendengarnya. Karena berada di perbatasan, banyak orang-orang yang memilih tempat itu sebagai Medan perang..." ( Jelas putri Dian Haka )
"Bukankah itu bahaya?" ( Ucap Madini )
"Tenang saja, sekarang disana sudah tidak ada lagi. Sejak kerajaan Arba hancur, tidak ada lagi perang seperti itu" ( Jelas kakek Wotse )
"Begitu..., Benar juga, kapan kabut yang tuan Wotse jelaskan itu terjadi?" ( Tanya Turva )
"Hm? Oh..., Mungkin sehari yang lalu" ( Jawab kakek Wotse )
"Sehari yang lalu? Bukannya itu sama dengan kejadian yang kami alami?" ( Batin Turva )
"Apa kakek melihat beberapa orang pemuda yang wajahnya memiliki umur yang sama dengan laki-laki yang membawa kakek?" ( Tanya putri Dian Haka )
"Tidak ada, kakek tidak melihat ada orang lagi selain kalian..." ( Jawab kakek Wotse )
"Jika benar begitu, kemungkinan ada semacam penghalang yang menghalangi penglihatan kami untuk bisa menemukan yang lainnya..., Tapi, siapa yang cukup kuat untuk melakukan itu?" ( Batin Turva )
"Lihat itu!" ( Madini menunjuk ke arah atas )
"Hmmm?" ( Mereka semua melihat batu biasa dalam jumlah banyak berjatuhan dari atas )
"Semuanya mendekat ke arahku!" ( Semuanya melakukan sesuai arahan Turva )
"Balikan beliung!" ( Semua batu yang mengarah ke mereka dikembalikan ke tempat asalnya oleh Turva )
"Ada yang terlewat!" ( Batin Turva )
"Terlalu lambat!" ( Putri Dian Haka menggunakan pedangnya dan dengan mudah membelah batu yang banyak itu )
"Bagaimana?" ( Putri Dian Haka melihat ke arah Turva )
"Seperti dugaanku, kau memang sangat hebat" ( Balas Turva dengan senyum nya )
"Ah..., Apa yang kulakukan? Kenapa aku senang mendapatkan pujian darinya?" ( Batin putri Dian Haka, ia kemudian melanjutkan membelah pedang yang mengarah ke mereka )
"Baiklah, karena kau telah melakukan hal yang keren, maka biarkan aku melakukannya juga" ( Turva mengeluarkan pedangnya dan melakukan hal yang sama tapi lebih cepat dari putri Dian Haka )
"Dia sangat hebat..." ( Batin putri Dian Haka )
"Bagaimana?" ( Turva bertanya balik kepadanya )
__ADS_1
"Itu..." ( Putri Dian Haka merasa sedikit berat mengatakannya )
"Ayolah, bukannya tadi aku baru saja memujimu?" ( Turva sedikit kesal )
"Itu karena aku yang hebat, tadi kau sama sekali tidak ada hebatnya" ( Jawab putri Dian Haka )
"Apa? Bilang saja kau iri dengan kemampuanku" ( Balas Turva )
"Mohon maaf, tapi aku tidak iri kepadamu..." ( Balas putri Dian Haka juga )
"Benarkah, kalau begitu jika kau mengalami kesusahan uruslah sendiri!" ( Ucap Turva )
"Ya, itu yang aku harapkan!" ( Mereka kemudian berbalik badan ke arah yang berbeda )
"Apa yang kukatakan? Seharusnya aku mengucapkan yang sebenarnya saja. Aku sangat bodoh!" ( Batin putri Dian Haka )
"Dia memang tidak dapat kuajak bekerja sama, meskipun dia anak dari raja Kurgosul aku tidak akan bersikap istimewa kepadanya!" ( Batin Turva )
"Guru, tolong!" ( Turva melihat ke arah Madini dengan panik )
"Ada apa? Hah?!?!?!" ( Turva kaget karena melihat ada seorang laki-laki yang sangat tinggi darinya, ia merasa laki-laki itu lebih dewasa darinya )
"Tolong aku, guru..." ( Madini kesulitan berbicara )
"Tenanglah..., Kami akan menolongmu..." ( Turva hendak mendekatinya, namun ia merasakan keanehan )
"Dimana kakek itu?" ( Batin Turva )
"Madini, dimana kakek Wotse yang bersama mu?" ( Tanya Turva )
"Yang menangkap ku ini kakek Wotse!" ( Jawab Madini )
"Kau berkata yang sebenarnya kan?" ( Tanya lagi Turva )
"Aku sama sekali tidak akan berbohong kepada guru..., Dia memanglah kakek Wotse" ( Jawab Madini lagi )
"Gawat, dia telah menipu kita!" ( Ucap putri Dian Haka )
"Hari yang cerah anak-anak" ( Ucap laki-laki dewasa itu )
"Dia terlihat sangat kuat, apakah dia akan membunuhku?" ( Batin Turva )
"Hmm? Kau, pemuda yang memiliki sihir angin, aku seperti merasakan sesuatu dari dirimu. Darimana kau berasal?" ( Tanya orang itu )
"Aku dari Malona..." ( Jawab Turva singkat )
"Haha, kau tidak perlu berbohong. Kau berasal dari sekolah sihir Burd bukan...?" ( Tanya orang itu )
"Darimana dia tau?" ( Batin Turva )
"Lepaskan Madini!" ( Ucap putri Dian Haka )
"Untuk sementara, kau diamlah dulu..." ( Orang itu dengan cepat berpindah tempat ke belakang putri Dian Haka dan membuatnya tidak sadarkan diri. Setelah itu ia kembali ke tempatnya semula )
"Dian Haka!" ( Turva berusaha menyadarkannya )
"Sialan! Siapa kau sebenarnya?!?!?!" ( Turva merasa sedikit marah dengan orang itu )
"Tenang saja, aku pernah memimpin kota tempat tinggalmu. Aku juga mengenal Tarlor dan gurumu Turgam..." ( Balas orang itu )
"Darimana dia bisa tau?" ( Batin Turva )
"Mungkin kau bertanya-tanya di dalam hatimu, siapa aku ini. Baiklah, aku akan memberitahumu! Aku adalah Rafly yang tak terkalahkan! Hahahahaha" ( Turva terkejut, ia adalah Rafly. Pemimpin kota Burd sebelum Tarlor )
"Jangan bercanda! Apa yang ingin kau lakukan? Kenapa kau datang kesini?" ( Tanya Turva )
"Justru aku yang bertanya begitu, mengapa kau datang ke sini?" ( Turva baru mengingat jika Rafly berasal dari desa Kara ini )
"Aku kesini untuk menjalankan misiku. Jika kau tidak ingin mati, menyingkirlah dariku" ( Ucap Turva )
"Hahahaha, kau berbicara apa anak dengan ucapan omong kosong?" ( Setelah itu Rafly bergerak cepat ke dekat Turva )
"Dia, cepat!" ( Turva mengakuinya )
"Terima ini!" ( Hampir saja Turva terkena serangan itu, kemudian... )
"Gawat!" ( Turva menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Namun ia melihat Madini melindunginya )
"Madini...?" ( Turva merasa mati langkah )
"Aku akan terus mengikuti guru sejauh apapun itu. Maka dari itu, jangan rendahkan dirimu guru..." ( Setelah itu, Madini terlempar sangat jauh dan membentur pohon dengan keras )
"Madini?" ( Turva masih merasa sangat bingung dan tidak dapat bergerak karena ia menyadari orang yang saat ini dihadapannya tidak mungkin bisa ia kalahkan )
"Selamat tinggal, bocah angin..." ( Sesaat kemudian, sesuatu menghalangi serangan Rafly )
"Eh?" ( Turva melihat tangan seseorang )
"Tenang saja, jika tidak ada yang mendukungmu, maka aku akan menjadi orang terakhir yang berdiri di depanmu..." ( Turva melihat Sanvu yang melindunginya )
"Kenapa kau bisa tahu aku disini?" ( Tanya Turva )
"Aku juga tidak tahu, tiba-tiba aku melihatmu sedang bersama orang ini. Apa perlu aku habisi dia?" ( Jawab Sanvu )
"Tentu saja, dan jangan lupakan aku" ( Balas Turva )
"Kalau begitu, kita akan membantu sebagai pelengkap!" ( Sepurga dan Enka datang juga )
"Aku bersama mereka, ayo kita menyerangnya bersama" ( Ucap Sanvu )
"Kau yang menghabisinya, aku yang akan membunuhnya" ( Balas Turva )
"Aku tidak terlalu mengerti itu, tapi baiklah. Aku akan membantumu!" ( Ucap Sanvu bersemangat, Sepurga dan Enka merasakan hal yang sama )
( Rafly kini harus berhadapan dengan Sanvu, Enka, Turva dan Sepurga. Apakah mereka berempat dapat menahan perlawanan Rafly? )
< Berlanjut ke chapter 46! >
__ADS_1