
Chapter 39 ( Kebersamaan )
"Apa yang kau ingin lakukan denganku?" ( Tanya Puvi )
"Sudah, sudah..., Apa kau masih menganggap kami pengganggu lagi?" ( Tanya balik Galts )
"Ya, sangat mengganggu" ( Jawab Puvi )
"Haha..., Seperti biasa, kau masih seperti ini. Lupakan saja sekarang, ikuti kami terlebih dahulu" ( Galts menarik tangannya )
"Tunggu..., Apa yang ingin kau lakukan?" ( Tanya Puvi )
"Tentu saja, kami akan berlatih bersama mu" ( Jawab Galts )
"Kenapa kalian ingin bersamaku? Bukannya masih ada yang lain?" ( Tanya lagi Puvi )
"Jangan bilang kalian..., Hanya kakakku saja. Jangan melibatkanku" ( Ucap Miya )
"Oh..., Ya. Jadi? Kenapa kau mengajakku?" ( Balas Puvi )
"Tentu saja, karena tujuan kita sama. Menjadi panglima Barema" ( Jawab Galts )
"Begitu..." ( Puvi terdiam dan hanya mengikuti mereka )
"Paman, kami pergi dulu. Sampai jumpa" ( Ucap Galts )
"Sampai jumpa..." ( Lanjut Miya )
"Ya..., Jangan lupa untuk menahan diri saat latihan dengan Puvi" ( Balas paman mereka )
"Baiklah..." ( Galts, Miya dan Puvi bergerak menuju lapangan di dekat pusat kerajaan dimana banyak juga pemula di sana )
"Nah sekarang..., Duduk dan lihatlah kami berlatih di sini, Miya. Kalau kau tertarik, jangan malu untuk bergabung dengan kami" ( Ucap Galts )
"Jangan berharap tinggi padaku. Cepat lakukan sesuatu yang kakak anggap hebat itu" ( Balas Miya )
"Iya, iya. Kau siap, Puvi?" ( Galts bersiap menggunakan pedang kayu nya )
"Yang benar saja..., Jika kau ingin berlatih saja, ajak saja adikmu itu" ( Ucap Puvi yang masih belum mengangkat pedang kayu nya )
"Anak itu tidak menyukai pedang, dia hanya ingin menggunakan busur dan anak panah. Maaf, ya..., Haha" ( Balas Galts )
"Seperti biasanya ya..., Kalau begitu bersiap!" ( Puvi bersiap )
"Ya..., Itu yang aku harapkan!" ( Galts bertarung dengan Puvi dalam waktu yang cukup lama, dan akhirnya Galts lengah )
"Kau hebat juga, Puvi" ( Puji Galts )
"Tetaplah fokus, sekarang bawah kananmu!" ( Puvi yang melihat bagian pinggang kanan Galts kosong segera menyerang ke arah sana )
"Gawat!" ( Galts yang menyadari Puvi telah melihatnya lengah segera melindungi bawah kanannya. Namun Puvi lebih cepat sehingga serangannya berhasil dan Galts terjatuh )
"Sakit!" ( Batin Galts )
"Kakak" ( Miya menghampirinya )
"Kau ternyata ahli menggunakan benda ini ya..., Seperti biasa" ( Puji Galts )
"Jangan memujiku, kau hanya lengah saja" ( Balas Puvi memberikan tangannya )
"Haha, sepertinya kau benar juga" ( Galts memberikan tangannya )
"Kau, jangan terlalu serius saat menyerang kakakku. Matamu terlihat ingin membunuh tadi" ( Ucap Miya )
"Benarkah?" ( Puvi merasa bahwa ia hanya berlatih biasa )
"Tentu saja. Kau tadi sangat ingin melukai kakak secara serius" ( Balas Miya )
"Sudah, Miya. Mungkin kau salah lihat, mata Puvi memang begitu" ( Galts menengahi mereka )
"Iya itu benar..., Mataku...,Tunggu, kau bilang apa?" ( Puvi merasa ada yang cukup menjengkelkan dari perkataan Galts )
"Tidak, aku bilang tadi matamu memang sangat serius jika bertarung" ( Balas Galts )
"Begitu ya..., Baiklah. Miya, kemari sebentar" ( Puvi memanggilnya )
"Hmm, ada apa memanggil Miya?" ( Tanya Galts )
"Kebetulan aku tau juga menggunakan busur dan anak panah" ( Jawab Puvi )
"Ada apa kau memanggilku?" ( Tanya Miya )
"Miya, itu tidak sopan. Panggil dengan sebutan kak Puvi" ( Galts menasihatinya )
"Tidak perlu, bahkan dia tidak harus memaksakan untuk menyebut namaku" ( Jelas Puvi )
"Dia saja setuju" ( Ucap Miya )
"Baiklah..., Kalau kau tidak memanggilnya dengan kak Puvi, setidaknya bersikap yang baik dengan yang lebih tua" ( Balas Galts )
"Iya, iya. Ada apa anda memanggilku?" ( Miya mengulangi pertanyaannya )
"Begini, kau suka memanah kan?" ( Tanya Puvi )
"Itu benar, apa yang kau ingin lakukan dengan kemampuan memanahku?" ( Tanya lagi Miya )
"Aku ingin mengasahnya sehingga menjadi lebih tajam dan terarah" ( Jawab Puvi, Miya dapat mengetahui maksudnya )
"Benarkah? Bukan, maksudku..., Kau serius?" ( Miya merasa bersemangat )
"Tentu saja, apa kau ingin melakukannya?" ( Tanya Puvi )
"Baiklah..., Jika kau memaksa, aku akan melakukannya!" ( Miya bersemangat karena Puvi ingin berlatih bersama nya menggunakan busur )
"Sekarang, ambil apel ini" ( Puvi melemparkannya ke Miya )
"Apa yang harus kulakukan?" ( Tanya nya )
"Letakkan di atas kepala mu" ( Miya melakukannya sesuai perintah Puvi )
"Baiklah..., Sekarang tetap berdiri diam di sana" ( Saat itu, Puvi telah berdiri cukup jauh dari tempat Miya berdiri )
"Baiklah, lihat ini!" ( Puvi memanah tepat menuju ke apel yang ada di atas kepala Miya )
"Itu bahaya kau tau!" ( Kesal Miya )
"Tenang saja, aku sudah berpengalaman" ( Balas Puvi )
"Setidaknya beri aku waktu untuk bersiap!" ( Miya merasa kaget tadi )
"Iya, iya. Kau sangat cerewet. Maafkan aku" ( Puvi ingin menghentikan sikap Miya )
"Tapi..., Bagaimana kau bisa mengenai apel nya tanpa menyentuh rambutku?" ( Tanya Miya )
"Gampang saja, fokus ke target mu dan pastikan angin yang bertiup di sekitar mu dan sasaranmu tidak kencang. Dan juga, untuk berjaga-jaga, kau harus menyiapkan panah kedua dan memanahnya ke arah yang mungkin dituju oleh target mu jika itu sasaran bergerak. Kau juga bisa menggunakan sihir keberuntungan" ( Jelas Puvi )
"Aku tidak mungkin melakukan sihir seperti itu" ( Cukup diketahui, kebanyakan orang sangat tidak berbakat memanah. Oleh karena itu mereka menggunakan sihir keberuntungan ataupun menyiapkan sebuah panah yang mengejar target hingga kena sehingga tidak memerlukan latihan yang berat )
"Baik, baik. Sekarang, aku ingin memberimu tantangan. Apa kau melihat apel yang ada di atas pohon itu?" ( Puvi menunjuk ke arah letak apel itu )
"Ya, aku melihatnya" ( Jawab Miya )
"Sekarang panah apelnya!" ( Perintah Puvi )
"Tunggu, aku masih mengira ketepatannya" ( Ucap Miya )
"Jangan gerakkan, panah saja langsung. Percaya padaku" ( Miya tanpa membantah langsung melepaskan anak panah nya. Dan ternyata mengenai nya tepat di tengah )
"Apelnya..., Jatuh?" ( Miya tidak menyangka apelnya terkena anak panahnya bahkan dia tidak membidiknya )
"Bagaimana bisa?" ( Gumam nya )
"Itu karena aku sudah mengetahuinya, kau ingat kan?" ( Ucap Puvi )
"Hebat..., Maksudku, sepertinya kau dapat diandalkan juga" ( Miya masih menjaga sikapnya di depan Puvi )
"Ayolah, jangan terlalu kaku begitu Miya. Kau harus berterima kasih kepada Puvi. Ayo..." ( Ucap Galts )
"Untuk apa? Seharusnya dia yang berterima kasih karena aku mengizinkannya melatihku" ( Balas Miya )
"Kau tidak perlu berterima kasih. Baiklah sekarang kita akan lanjutkan latihan yang lebih berat!" ( Puvi berlatih pedang bersama Galts dan juga membuat serangan Miya menjadi lebih terarah dengan busur nya. Mereka melakukannya hingga sore menjelang malam )
"Sepertinya sudah gelap, sebaiknya kita pulang" ( Ucap Puvi )
"Kau benar juga, kita akhiri untuk hari ini" ( Balas Galts )
"Kenapa harus ada malam? Menjengkelkan sekali" ( Batin Miya )
"Galts, Miya. Saya pulang terlebih dahulu, jangan lupa tentang pelajaran kali ini" ( Ucap Puvi )
"Tentu saja, kau juga Miya. Ucapkan sesuatu" ( Miya hanya terdiam )
__ADS_1
"Haha..., Mungkin dia hanya kelelahan" ( Ucap Galts )
"Sampai jumpa Galts, jangan lupa dengan mimpi mu menjadi panglima Barema" ( Puvi memberikan tangannya )
"Ya, kau juga" ( Galts memberikan tangannya dan menjabat tangan Puvi )
"Miya?" ( Puvi melihat tangan Miya bergerak seperti tangan Galts. Seperti ingin menjabat tangan. Puvi melihat ke arah Galts )
"Silahkan" ( Galts memberikan jempolnya tanpa sepenglihatan Miya )
"Tetap berjuang menjadi pemanah terhebat ya. Aku akan menunggumu dan akan mengajakmu untuk menemaniku guna melindungiku dari belakang" ( Senyum Puvi mengelus rambut Miya )
"Baik..." ( Miya tidak melepas tangannya seperti yang dilakukannya kepada Galts )
"Hmm..., Ada apa Miya? Wajahmu memerah..., Kau senang karena telah diakui oleh Puvi?" ( Ucap Galts )
"Tidak..., Bukan begitu. Aku hanya cukup senang jika ada yang ingin membantuku memanah..., Itu saja" ( Balas Miya belum melepaskan tangan Puvi )
"Benarkah...?" ( Galts semakin menggodanya )
"Diam saja, kakak bodoh" ( Miya meninju kepala nya )
"Ah..., Sakit juga" ( Ucap Galts )
"Haha..., Sepertinya kalian cukup akur" ( Ucap Puvi )
"Tentu saja, kami saudara" ( Balas Galts )
"Dan juga, apa kau ingin tangan Puvi tetap disana Miya?" ( Tanya Galts )
"Eh?" ( Miya baru menyadari jika tangan Puvi masih ada di kepalanya )
"Maaf, aku tidak menyadarinya" ( Miya akhirnya menyingkirkan tangan Puvi )
"Haha..., Maaf, maaf. Rambutmu sangat lembut untuk disentuh" ( Ucap Puvi tersenyum )
"Ha....." ( Wajah Miya semakin memerah )
"Jangan berkata yang buat salah paham!!!" ( Miya menamparnya )
"Hmm, benar. Tidak terasa. Hahaha" ( Ucap Puvi )
"Kau sudah berlebihan Miya. Minta maaf cepat" ( Ucap Galts )
"Tidak perlu" ( Balas Miya )
"Kau ini ya..." ( Galts mengehela napas nya )
"Baiklah..., Kalau begitu, saya pulang terlebih dahulu. Sampai jumpa" ( Puvi berjalan ke arah rumahnya )
"Ya, sampai jumpa" ( Galts melambaikan tangannya )
"Kak Puvi!" ( Panggil Miya dari jauh. Puvi pun berbalik )
"Terima kasih!" ( Akhirnya Miya mengucapkannya )
"Ya! Jaga dirimu!" ( Puvi pun pulang dengan wajah tersenyum dan melambaikan tangannya ke mereka )
"Dia baik bukan?" ( Tanya Galts )
"Sudah, jangan bicarakan itu. Sekarang, ayo pulang" ( Miya menarik tangan Galts )
"Haha. Iya, iya. Sebelum itu, kita makan dulu. Kakak lapar" ( Balas Galts )
"Sepertinya kakak benar, saya juga lapar" ( Ucap Miya )
"Baiklah, kita akan ke rumah makan ikan di sana" ( Kebetulan, disekitar tempat latihan mereka terdapat rumah makan ikan )
"Baiklah, aku akan ikut saja" ( Balas Miya )
"Kalau begitu, kakak yang bayar ya..." ( Ucap Galts )
"Iya, iya. Terserah kakak" ( Senyum Miya. Galts berfikir bahwa kehidupan seperti ini akan berlanjut selamanya. Dia berfikir... )
"Aku kira dunia seperti ini yang sangat kuinginkan. Aku berharap suasana seperti ini tidak akan berubah..." ( Batin Galts tersenyum )
"Tunggu, bukannya kau ingin menceritakan tentang Leona?" ( Tanya Riksrel yang memotong cerita Galts )
"Oh, benar juga kau. Saya jadi lupa, hahaha" ( Senyum Galts mengingat kejadian waktu itu )
"Tidak apa-apa. Setidaknya ceritamu menarik" ( Senyum panglima Hitler )
"Sudah, sekarang lanjutkan" ( Ucap Riksrel )
"Sudahlah..., Cepat ceritakan lanjutannya" ( Ucap Riksrel )
"Haha..., Baiklah, baiklah. Saat itu, aku dan Leona berencana untuk menuju ke kota Burd dan mempelajari sihir..." ( Galts melanjutkan ceritanya )
"Apa? Kau serius?!" ( Tanya Leona )
"Itu benar, aku ingin mempelajari sihir" ( Jelas Galts )
"Tapi, kenapa tiba-tiba?" ( Tanya Miya )
"Bagaimana saya mengatakannya..., Kudengar dari Puvi bahwa panglima Barema mampu menggunakan semua senjata dan sihir mereka sangat kuat.
Memang aku sudah menguasai pedang, tapi untuk senjata lain dan sihir aku belum terlalu bisa menggunakannya. Oleh karena itu, temani aku untuk belajar di sana, Leona" ( Jelas Galts )
"Tunggu, kakak. Apa kakak yakin membawanya?" ( Tanya Miya )
"Tentu saja" ( Jawab Galts )
"Tapi, dia dari kerajaan Bazhul, kakak tau sendiri kan?" ( Tanya lagi Miya )
"Itu benar Galts..., Untuk saat ini penjagaan sedang menurun. Tapi jangan sampai terlalu jauh berada diluar kerajaan sendiri. Diluar sana sangat berbahaya" ( Ucap Leona )
"Aku tidak akan merasa bahaya, karena ada kau kan" ( Balas Galts )
"Itu memang benar..., Tapi setidaknya kita harus berangkat dengan membawa beberapa orang lagi untuk berjaga-jaga" ( Saran Leona )
"Membawa beberapa orang memang sangat bagus..., Tapi, jika mereka kesulitan, pasti akan kesulitan bagi kita untuk melindungi mereka. Menurutku, berdua saja akan cukup" ( Balas Galts )
"Saya tidak ingin mengatakan ini. Tapi, sebenarnya kakak cuman ingin menikmati waktu berdua dengan kak Leona di kota Burd kan?" ( Tanya Miya )
"Eh? Tunggu, bukan itu..., Leona?" ( Galts melihat wajah Leona yang memerah )
"Ya..., Menurutku kau harus mempelajari sihir di sana dan untuk beberapa senjata yang lain kau bisa mempelajarinya dari para orang-orang hebat disekitarmu" ( Ucap Leona menutup wajahnya dengan tangan )
"Lupakan itu. Intinya, kau ikut bersamaku untuk pergi ke sekolah sihir Burd" ( Balas Galts )
"Ya, aku ikut" ( Leona setuju )
"Kak Leona ternyata setuju juga ya..., Sepertinya tidak ada pilihan lain. Jaga diri kalian baik-baik" ( Ucap Miya )
"Ya, tentu saja" ( Jawab mereka berdua )
"Kalau begitu, ibu akan berbicara dengan pemimpin kota Burd untuk memberikan izin masuk" ( Ucap ibu Galts )
"Oh..., Iya, hati-hati Bu" ( Balas Galts. Setelah itu, mereka tinggal menunggu kabar dari ibu Galts. Saat itu pemimpin kota Burd adalah Rafly )
"Oi, Galts" ( Suara itu tak asing bagi Galts )
"Ada apa? Puvi?" ( Ucap Galts )
"Aku dengar kau ingin pergi ke kota Burd untuk belajar sihir. Baguslah jika kau ingin meningkatkan kemampuanmu" ( Jelas Puvi )
"Haha, karena mu aku harus bisa menguasai sihir juga. Kalau perlu aku ingin menguasai sihir setengah hewan yang hebat itu. Mungkin hewan yang bisa terbang, nanti aku akan membawamu" ( Ucap Galts tertawa )
"Ya..., Aku sangat menantikannya" ( Senyum Puvi )
"Kalau begitu, sementara aku dan Leona berlatih..., Bolehkah kau menjaga Miya sementara untukku?" ( Mohon Galts )
"Ya, tentu saja. Aku akan menjaga nya" ( Puvi memberikan jempol nya )
"Apa yang kakak katakan? Aku bisa menjaga diri" ( Ucap Miya )
"Sudahlah..., Puvi yang menjagamu sekarang. Dia yang akan melatihmu memanah seterusnya" ( Balas Galts )
"Tapi..." ( Miya merasa sangat gugup karena alasan yang dia sendiri tidak ketahui )
"Tenang saja, serahkan kepadaku" ( Puvi kembali mengusap kepala nya, Miya pun tidak melepaskan tangannya )
"Sepertinya dia sangat nyaman denganmu, Puvi" ( Ucap Galts )
"Benarkah? Kalau begitu dia akan menjadi sangat penting bagiku" ( Senyum Puvi )
"Tunggu, penting maksudmu..." ( Wajah Miya memerah )
"Tentu saja, seperti rekan dalam peperangan" ( Jawab Puvi )
"Oh..., Itu" ( Gumam Miya )
__ADS_1
"Kalau dihitung-hitung, ibu belum kembali ya. Apa ada sesuatu yang terjadi?" ( Ucap Galts )
"Mungkin ibumu sedang membeli semacam sayuran untuk makan malam" ( Balas Leona )
"Hahahaha..., Sepertinya kau benar juga" ( Tawa Galts )
"Oh, lihat. Kaca komunikasi nya memunculkan cahaya" ( Kaca komunikasi yang hanya bisa dipakai oleh orang penting, karena Puvi yang memiliki ikatan yang kuat dengan Nirbavo adik raja Mesune, maka dia memiliki benda itu. Dan saat ini terlihat kaca komunikasi itu memunculkan cahaya yang artinya ada seseorang yang ingin berbicara dengan mereka )
"Biar aku yang mengambilnya" ( Ucap Miya )
"Oh..., Itu ibu. Hah!" ( Miya terkejut melihat ibunya terlihat sangat kesakitan sambil berbaring di sebuah ruangan )
"Ibu?! Apa yang terjadi?!" ( Tanya Miya panik )
"Miya kenapa?" ( Batin Galts, ia menghampirinya. Ia terkejut melihat yang ada di kaca komunikasi itu )
"Anak-anakku, cepatlah berlindung dan buat perjanjian dengan raja Mesune. Ibu ingin kalian selamat dan tetap hidup..., Ibu ingin memberitahu sesuatu. Saat ini ibu dikurung oleh pemimpin kota Burd. Kalian jangan sampai datang ke sini, ibu menginginkan keselamatan kalian saja. Tetaplah hidup!" ( Setelah itu, kaca komunikasi nya berhenti mengeluarkan cahaya )
"Ibu? Ibu?! Tunggu, apa yang terjadi? Ibu?!" ( Galts semakin panik )
"Tenanglah, Galts" ( Ucap Puvi )
"Bagaimana aku bisa tenang? Ibuku disana pasti sedang kesulitan!" ( Galts segera bersiap ke kota Burd )
"Tunggu, apa kau yakin?" ( Leona berusaha menghentikannya )
"Tidak ada cara lain! Kita harus cepat ke sana!" ( Ucap Galts )
"Kalau begitu, aku akan ikut membantu" ( Puvi ikut juga )
"Baiklah, kamu boleh ikut" ( Balas Galts )
"Biarkan aku ikut membantu kakak" ( Ucap Miya )
"Tidak boleh, Miya. Musuh kali ini sangatlah sulit dan situasinya sangat serius. Kita tak boleh salah mengambil langkah" ( Balas Galts )
"Tapi, aku ingin membantu ibu. Bukannya kakak memikirkan hal yang sama?" ( Miya tetap ingin ikut membantu )
"Baiklah, ikut kami. Tapi ingat, tetaplah di belakang kami untuk menjaga bagian belakang saja" ( Ucap Galts )
"Dimengerti!" ( Miya bersiap juga, begitupun Leona )
"Kita akan ke kota Burd, ayo!" ( Mereka berempat kemudian berlari dengan cepat menuju ke tempat tersebut )
"Semoga sempat!" ( Batin Galts, dan akhirnya mereka sampai )
"Ibu! Dimana kau?" ( Teriak Galts )
"Oh..., Mereka sudah ada di sini, serang mereka!" ( Para bawahan Rafly menyerang mereka )
"Biar aku yang mengurus ini, kalian maju saja" ( Ucap Puvi )
"Maaf merepotkan mu, Puvi. Kami akan kembali" ( Balas Galts )
"Ya, aku mengerti. Hati-hati!" ( Ucap Puvi )
"Ya!" ( Mereka mencari keberadaan ibu Galts dengan kemampuan pelacak Leona. Dan akhirnya mereka menemukan rumahnya, sangat besar! )
"Ibu!" ( Galts langsung mendobrak pintu nya )
"Oh..., Rupanya kalian telah datang. Lihatlah ibu kalian, hahahaha" ( Rafly menjambak rambut ibu Galts )
"Jangan sentuh ibuku!" ( Galts dengan cepat menggunakan pedang nya menuju ke arah Rafly )
"Bagus, serangan itu cukup mampu membuatku bergerak" ( Ucap Rafly )
"Diam dan lepaskan ibuku!" ( Setelah cukup lama, akhirnya Rafly melepasnya )
"Ibu!" ( Rafly melepasnya begitu saja ke tanah dengan tubuhnya yang terlihat sangat lemas )
"Lari, Galts, Miya, Leona" ( Perintah ibu mereka )
"Tidak, kami akan selamatkan ibu!" ( Balas Galts )
"Ibu, bertahanlah!" ( Ucap Miya )
"Jangan membuat gerakan yang tidak perlu, bibi" ( Lanjut Leona )
"Terima kasih anak-anak. Tapi, jangan khawatirkan ibu. Fokuslah kepada tujuan kalian masing-masing. Ibu merasa waktu semakin cepat, karena itu cepatlah bergerak mencari bantuan dan tinggalkan ibu!" ( Sekali lagi ibu Galts memerintahkan mereka untuk tidak menolongnya )
"Ibu, tenanglah. Kami akan membebaskanmu!" ( Karena telah dikuasai rasa takut dan keyakinannya bahwa lawannya ini sangat kuat, Galts memaksakan diri untuk maju )
"Kalau kau sudah mengetahui kau lebih lemah dariku, jangan ceroboh!" ( Dengan mudah Rafly menghempaskan mereka dan kembali menangkap ibu Galts )
"Lepaskan ibu kami!" ( Teriak Galts )
"Membosankan, ambil ini..." ( Rafly menusuk ibu Galts dengan pedang dari arah punggungnya dan melemparkan begitu saja kepada Galts )
"Ibu!" ( Galts menangkapnya )
"Kenapa kau tidak pergi, nak?" ( Ucap ibu Galts )
"Jangan berbicara dulu ibu, biarkan aku menyembuhkanmu" ( Sihir yang dikuasai Galts saat awal-awal hanyalah sihir penyembuhan )
"Jangan membuang sihirmu demi ibu, nak. Fokuskan saja pandanganmu ke depan dan raihlah gelar panglima Barema sesuai keinginanmu. Ibu akan mendukungmu" ( Suara ibu Galts terdengar patah-patah )
"Tidak, tunggu..." ( Galts masih berusaha menyembuhkannya )
"Dan juga, ibu minta maaf karena tidak dapat melihatmu dimasa depan sebagai panglima yang hebat. Ibu juga minta maaf kepadamu Miya karena tidak dapat mendapatkan laki-laki yang terbaik untukmu" ( Ibu Galts terdengar seperti tidak dapat menahannya lagi )
"Aku mengerti, ibu masih bisa. Tahanlah, ibu bilang ingin melihatku menjadi pemanah terhebat dan mendapatkan laki-laki paling terbaik di dunia. Jadi bertahanlah dan lihatlah aku di masa depan nanti" ( Tangis Miya )
"Leona..., Ada yang ingin kuberitahu padamu" ( Leona mendekatkan telinga nya )
"Tolong jaga Galts baik-baik, atur makanannya, waktu mandinya dan juga latihannya. Pastikan tidurnya cukup" ( Permohonan terakhir ibu Galts )
"Tentu saja, saya akan menyanggupinya" ( Leona mengangguk )
"Baguslah..." ( Ibu Galts terlihat tersenyum terakhir kalinya dan tangannya mulai tak bergerak )
"Ibu?" ( Selesai dengan itu, ibu Galts menghembuskan nafas terakhirnya di pangkuan Galts sendiri )
"Lain kali, jangan menghadap kepadaku dalam keadaan lemah begitu" ( Ucap Rafly )
"Jadi begitu..., Lemah? Hanya karena lemah, kau membunuh seseorang? Orang sepertimu harus diberi pelajaran sedikit. Ayo, Puvi!" ( Galts mengetahui Puvi telah kembali setelah mengatasi bawahan Rafly dan memanggil Turgam untuk mengatasi ini )
"Belahan dua sisi!" ( Puvi dengan teknik pedang nya menyerang dari arah kanan dan kiri Rafly )
"Ini bukan apa-apanya!" ( Rafly dengan cepat menghindar ke belakang )
"Jaga lehermu!" ( Ternyata Galts telah bersiap di belakang nya )
"Aku juga disini! Jangan mengabaikanku!" ( Miya bersiap memanah )
"Maju, kalian" ( Leona merasa dia harus membiarkan Galts dan Miya membalaskan dendam ibu mereka. Maka dari itu dia tidak menyerang nya )
"Gawat!" ( Batin Rafly, dia tidak sempat menghindar )
"Tidak ada cara lain, terpaksa aku harus melakukannya!" ( Rafly menarik paksa dua bawahannya untuk melindungi nya. Sehingga bawahannya ada yang terkena panah dan satunya lagi dihilangkan kepala nya oleh Galts )
"Sangat menyenangkan, sampai jumpa. Hahahaha" ( Rafly segera mundur terlebih dahulu )
"Sial! Dia berhasil lari!" ( Gumam Galts, dia segera menghampiri ibunya )
"Ibu..." ( Batinnya )
"Kita harus memakamkannya" ( Ucap Puvi )
"Kau benar juga, tidak ada waktu untuk bersedih" ( Galts berusaha untuk tersenyum walaupun kesedihan menyelimuti dirinya )
"Maaf membuat kalian menunggu" ( Akhirnya Turgam telah datang )
"Tidak, anda tidak perlu meminta maaf. Seharusnya orang itu yang harus diberi pelajaran" ( Ucap Galts )
"Saya sangat meminta maaf atas apa yang terjadi..., Ini diluar dugaan kami. Ternyata pemimpin yang kami pilih adalah pengkhianat. Kami akan segera mencari pemimpin yang tepat untuk mengatasi masalah kalian" ( Balas Galts, dan saat itulah mereka mendapatkan Tarlor. Setelah itu, mereka memakamkan ibu Galts di kerajaan Barema dengan penuh hormat )
"Saya sangat minta maaf, karena telah membuat kalian menghadapi situasi yang sulit ini" ( Ucap Turgam )
"Tidak, jangan khawatirkan kami" ( Balas Galts )
"Tapi, saya sangat merasa bersalah karena tidak dapat membantu kalian. Apa ada yang bisa saya lakukan untuk kalian?" ( Turgam ingin Galts membuat satu permohonan untuk dikabulkan )
"Baiklah, karena anda tidak dapat membantu kami sebelumnya maka sekarang lakukan itu" ( Ucap Galts )
"Apa maksud anda?" ( Tanya Turgam )
"Leona" ( Galts memberi isyarat )
"Baiklah" ( Leona mengikuti gerakan Galts yang membungkukkan badannya )
"Tunggu, apa yang kalian lakukan?" ( Turgam merasa heran. Dan saat itulah Galts mengutarakan maksudnya )
__ADS_1
"Maukah anda mengenalkan dan mengajariku tentang sihir?"
< Berlanjut ke chapter 40! >