Turva (Pedang Dan Angin)

Turva (Pedang Dan Angin)
Chapter 40 ( Keluarga )


__ADS_3

Chapter 40 ( Keluarga )


"Berlatih sihir?" ( Tanya Turgam )


"Ya, apa anda keberatan?" ( Balas Galts )


"Saya tidak keberatan, tapi seharusnya untuk masuk ke sekolah sihir milikku anda harus didampingi oleh salah satu dari kedua orang tua" ( Jelas Turgam )


"Kalau begitu, saya akan menjelaskan apa yang terjadi agar anda memahami dan menerimaku untuk menjadi murid" ( Galts kemudian bercerita mengenai ibunya yang sebenarnya ingin meminta izin untuk masuk ke dalam kota Burd dan ingin membuat Galts belajar sihir dari Turgam )


"Jadi begitu..., Baiklah. Sekarang jawab pertanyaanku. Kenapa kau ingin mempelajari sihir dariku?" ( Tanya Turgam setelah memahami cerita Galts )


"Jika aku mendapatkan kekuatan yang lebih, ibuku tidak akan mendapatkan nasib buruk seperti itu. Dan saya juga akan mencari orang yang telah membunuh ibuku. Itu saja" ( Jawab Galts )


"Baiklah. Saya mengerti anda ingin membalaskan dendam anda. Tapi jika amarah menguasai maka satupun pelajaranku tidak akan bisa anda dapatkan" ( Jelas Turgam )


"Tapi, bukankah itu sudah bagus untuk dijadikan alasan?" ( Ucap Galts )


"Itu memang benar, tapi ambisi itu akan berakhir jika sudah mencapai akhirnya. Jika anda sudah melakukan apa yang anda jadikan alasan untuk melakukan sesuatu, maka selanjutnya anda akan kehilangan arah" ( Jawab Turgam )


"Kalau begitu, apa yang harus kulakukan agar anda dapat menerimaku?" ( Tanya lagi Galts )


"Untuk bisa tetap konsisten dalam suatu hal, anda harus memikirkan tujuan yang bermanfaat bagi semua orang dan tentunya itu tidak akan pernah berakhir" ( Jawab Turgam )


"Bermanfaat bagi orang lain? Saya tidak mengerti..." ( Galts kesulitan untuk menemukan apa yang ingin dia jadikan alasan untuk menguasai ilmu sihir )


"Benar juga, kalau tidak salah teman perempuanmu yang disebelah itu juga ingin belajar dari ku bukan?" ( Turgam melirik Leona )


"Oh..., Benar. Leona" ( Galts memberi isyarat agar Leona berbicara )


"Perkenalkan. Namaku adalah Leona, aku adalah teman dari seseorang yang ingin menjadikan anda guru. Saya juga ingin mempelajarinya untuk sekedar melihat-lihat cara bertarung orang-orang di sini" ( Leona menundukkan kepala nya )


"Dari cara berbicara anda, sepertinya anda tinggal tidak dekat dari sini. Apa saya boleh tau anda berasal dari mana?" ( Tanya Turgam dengan ramah )


"Itu..." ( Leona melirik ke arah Galts )


"Tenang saja, orang ini sangat baik. Kau bisa percaya padanya" ( Galts meyakinkannya )


"Jika anda bersikeras ingin tahu, saya berasal dari kerajaan Bazhul" ( Pupil mata Turgam membesar )


"Berarti kau mengenal dengan yang namanya Jalhaq, bukan?" ( Tanya lagi Turgam


"Eh? Benar..., Dia adalah raja kami. Dia sangat hebat" ( Jawab Leona )


"Siapapun yang dari kerajaan sahabatku akan kuterima dengan pintu terbuka lebar. Selamat datang, Leona dari kerajaan Bazhul" ( Turgam langsung menerimanya )


"Benarkah?" ( Leona ingin memastikannya )


"Ya, itu benar" ( Turgam sekali lagi tersenyum )


"Saya berterima kasih atas kemurahan hati anda" ( Ucap Leona )


"Baiklah. Sekarang, apa anda sudah mendapatkan apa yang ingin anda jadikan alasan lainnya?" ( Turgam beralih kembali ke Galts )


"Ya, alasanku yang lain hanya ingin membuat kehidupan yang lebih baik agar orang-orang tidak saling memusuhi dan menyakiti. Dan juga saya ingin membuat dunia dimana keadilan bisa diterapkan selamanya" ( Jawab Galts )


"Begitu rupanya..." ( Batin Turgam )


"Baiklah, kau saya terima" ( Ucap Turgam singkat )


"Eh? Itu saja?" ( Balas Galts )


"Ya, hanya itu. Apa harus ada syarat lain lagi?" ( Balas Turgam juga )


"Tidak, tidak perlu. Kalau begitu, terimakasih karena telah menerimaku menjadi murid anda" ( Galts menundukkan kepala nya )


"Anu....." ( Miya tiba-tiba masuk ke dalam pembicaraan mereka )


"Hmm? Apa anda ingin mengatakan sesuatu?" ( Turgam melihatnya )


"Begini..., Kalau anda berkenan, apa saya juga boleh menjadi murid anda. Perkenalkan saya Miya, adik dari orang ini" ( Miya berubah pikiran )


"Orang ini? Kau sangat pintar membuat kakak sedih, Miya..." ( Ucap Galts )


"Apa anda mempunyai alasan yang kuat?" ( Tanya Turgam )


"Saya hanya ingin menggunakannya untuk membantu orang-orang yang kusayangi" ( Jawab Leona )


"Jawabanmu masih kurang tepat, tapi saya menerima anda" ( Turgam tersenyum lagi )


"Eh, ya..., Terima kasih" ( Miya merasa heran bercampur semangat )


"Apa kau juga ingin mengikuti kami, Puvi?" ( Ajak Galts )


"Tidak, aku sudah menguasai sihir sejak kecil. Dan Nirbavo juga sering mengajakku untuk berlatih pedang. Kau tidak perlu mengkhawatirkanku" ( Jawab Puvi )


"Seperti biasa kau selalu sombong. Tapi itulah yang bagus darimu karena itu tandanya kau masih sehat" ( Ucap Galts )


"Apa maksudmu? Aku memang hebat. Jangan bercanda denganku!" ( Kesal Puvi )


"Haha. Iya, iya. Maaf" ( Senyum Galts )


"Apanya yang lucu? Sekarang cepat belajar sana dan susul aku. Kita akan bersama-sama menjadi panglima Barema dan membuat dunia seperti surga, kau faham?!" ( Ucap Puvi dengan nada tinggi )


"Ya, aku mengerti" ( Balas Galts singkat )


"Benar juga, jaga dirimu Miya. Padahal aku sudah semangat karena mendapatkan teman bertempur. Tapi kau ikut dengan kakakmu, sayang sekali" ( Puvi menoleh ke arah Miya )


"Eh? Iya..." ( Miya melupakan Puvi yang berencana mengajarinya )


"Tidak apa-apa, kalau kau sudah menjadi lebih kuat nanti, aku akan membawamu da-" ( Puvi berusaha untuk tidak putus asa untuk membalas budi Galts yang selama ini bersedia menjadi temannya dengan bersikap baik kepada Miya, adiknya )


"Membawa?!?!?!" ( Kaget Miya, dia sepertinya berfikiran yang diluar maksud Puvi )


"Benar, membawa. Apa ada yang salah?" ( Tanya Puvi )


"Eh, tidak..., Maksudnya membawa" ( Miya mengucapkannya dengan patah-patah )


"Oh..., Membawa ke medan perang. Karena kau perempuan, kau akan menjagaku dari belakang. Para musuh yang melihat kecantikanmu pasti tidak akan tega membunuh mu dan saat itu juga aku akan melancarkan serangan. Rencana bagus bukan untuk masa depan?" ( Balas Puvi )


"Terima kasih..." ( Sepertinya Miya hanya mendengar kata cantik dari mulut Puvi )


"Begini, Puvi..." ( Galts menariknya )


"Ada apa?" ( Tanya Puvi )


"Kau tahu kan kau lebih kuat dariku?" ( Tanya balik Galts )


"Ya, itu benar" ( Jawab Puvi tanpa membantah )


"Menjengkelkan sekali" ( Batin Galts )


"Kalau begitu, apa kau mau menjaga adikku untukku?" ( Lanjut Galts )


"Sudah kubilang dari awal. Untuk membalas budi, aku akan menjaga seluruh keluargamu" ( Balas Puvi )


"Bukan begitu maksudku. Tanya sendiri sana sama Miya" ( Galts membuat Puvi berdiri tepat di depan Miya )


"Ayo Miya, lakukan!" ( Galts memberi dukungan )


"Tunggu, apa yang kakak maksud?" ( Wajah Miya memerah )


"Sudahlah..., Tidak apa-apa katakan saja. Setelah ini kita akan mendapatkan waktu yang sangat sedikit untuk bertemu dengan Puvi" ( Jawab Galts )


"Apa kakak yakin?" ( Miya ingin menguatkan hatinya terlebih dahulu )

__ADS_1


"Tentu saja, kakak akan mendukungmu!" ( Galts memberikan jempolnya )


"Baiklah..., Aku akan katakan" ( Miya berusaha menahan malunya )


"Begini..., Kak Puvi" ( Miya memanggilnya dengan sebutan itu untuk pertama kali )


"Ada apa?" ( Puvi terkejut karena Miya tiba-tiba memanggilnya dengan sopan begitu )


"Jika kita sudah dewasa dan sudah bertambah lebih kuat..., Dan di masa depan nanti kita sudah sangat serasi dalam pertempuran dan nantinya harus saling melindungi..., Apa kak Puvi ingin..." ( Miya merasa berat mengatakannya )


"Ingin?" ( Puvi merasakan hal yang aneh di dalam dirinya, dia menduga sesuatu yang membuatnya terkejut akan keluar dari mulut Miya )


"Menikah denganku?!?!?!" ( Benar saja, Puvi menjadi sangat terkejut dengan ucapan Miya )


"Tunggu, apa yang kau katakan?" ( Puvi masih belum terbiasa jika menyangkut hal ini )


"Tidak apa-apa, mungkin sekarang aku masih belum cukup umur. Tapi jika sudah waktunya, apa kak Puvi ingin menikah denganku?" ( Sekali lagi Miya mengatakannya )


"Itu..., Kau tahu. Untuk menikah, perlu persetujuan antara kedua pihak dan banyak yang harus dipenuhi terlebih dahulu" ( Puvi melirik ke arah Galts, dan ia hanya mendapatkan jawaban sebuah jempol dan senyuman darinya )


"Kalau itu yang kau inginkan, aku akan mempertimbangkannya terlebih dahulu..." ( Lanjut Puvi )


"Jadi, apa kak Puvi setuju?" ( Tanya sekali lagi Miya )


"Eh? Ya..., Aku akan mengabulkan permintaanmu" ( Jawab Puvi terbata-bata )


"Ayolah..., Ada apa denganmu? Biasanya kau bersikap lebih dewasa di depan Miya. Tapi kenapa kau sekarang gugup begitu" ( Tanya Galts mengganggunya )


"Diamlah..., Aku sedang kesulitan kau tahu" ( Balas Puvi )


"Begini-begini, aku juga kakaknya Miya kau tau..." ( Senyum Galts )


"Baiklah, aku menerimanya" ( Jawab Puvi kepada Miya menghiraukan Galts )


"Sungguh? Apa kak Puvi benar-benar setuju?" ( Miya mengangkat kepala nya )


"Ya, tapi sebelum itu kau harus menjadi lebih kuat karena ada juga waktunya kau harus melindungi dirimu sendi-" ( Belum selesai Puvi berbicara, Miya dengan cepat memeluknya )


"Aku sangat senang mendengarnya. Aku akan berusaha yang terbaik untuk dapat dibanggakan oleh kak Puvi!" ( Miya masih belum melepaskan pelukannya )


"Aku mengerti dengan ucapanmu. Kalau begitu latihanlah sekarang, waktu adalah uang" ( Ucap Puvi, ia tidak melepaskan pelukan Miya )


"Baiklah!" ( Miya melepaskan pelukannya )


"Sepertinya ini hari keberuntunganmu, Miya" ( Ucap Galts )


"Tentu saja. Dengan ini, aku akan lebih semangat menjadi yang terhebat!" ( Balas Miya )


"Bagus! Itu yang kakak harapkan" ( Galts tertawa )


"Aku sudah berani mengatakannya. Kapan giliran kakak?" ( Ucap Miya )


"Apa maksudmu?" ( Tanya Galts )


"Bukankah kakak juga harus mengatakannya kepada kak Leona?" ( Galts yang semula tenang menjadi sangat canggung )


"Tidak, tidak perlu. Galts pasti tidak menginginkan hubungan seperti itu. Sebaiknya dia harus mendapatkan yang lebih baik dariku bukan?" ( Ucap Leona )


"Eh..., Membosankan" ( Balas Miya )


"Tenang saja, Leona. Aku tidak akan pernah berfikiran seperti itu" ( Ucap Galts )


"Ya, aku juga akan berusaha untuk tidak memikirkannya" ( Sangat terlihat wajah Leona memerah )


"Baiklah kalau begitu, aku akan kembali ke kerajaan Barema. Jaga diri kalian dengan baik" ( Ucap Puvi )


"Kak Puvi, kemari sebentar" ( Miya memanggilnya )


"Ada apa?" ( Puvi mendekatkan wajahnya. Miya tanpa aba-aba langsung menciumnya )


"Miya?" ( Galts juga terkejut )


"Jangan terlalu memaksakan diri, Miya" ( Tegur Leona dengan wajahnya yang tambah memerah )


"Dengan begini, kak Puvi berkewajiban untuk menikahi ku bukan?" ( Miya melepaskan ciumannya )


"Ya..., Kau benar. Kalau begitu, sampai jumpa!" ( Puvi sangat terkejut dengan sikap agresif dari Miya tadi. Setelah itu, dia kembali ke kerajaan Barema dan berlatih dengan Nirbavo )


"Maaf karena telah menyaksikan hal yang memalukan tadi" ( Galts sampai-sampai lupa dengan kehadiran Turgam )


"Tidak masalah, justru ini akan membuat ketegangan di Burd menjadi mereda" ( Turgam tersenyum )


"Baiklah..., Sekarang aku akan melatih kalian menjadi penyihir terbaik dan mengemban tanggung jawab membantu seluruh manusia. Oleh karena itu, jangan sekali-kali menggunakan ajaran dariku untuk hal yang buruk" ( Turgam membuka inti pembicaraan mereka )


"Baik!" ( Jawab mereka bertiga )


"Kalau begitu. Ikut aku, ke sekolah sihir Burd!" ( Setelah itu, tanpa mengenal lelah dan secara terus menerus..., Galts, Leona dan Miya berlatih sihir dengan Turgam. Singkat waktu, akhirnya Turgam memberikan kemampuan kepada Galts untuk dapat menjadi setengah hewan apapun yang ia inginkan. Turgam juga memberikan Leona kemampuan untuk dapat memanipulasi suara, sementara untuk Miya dia berikan kemampuan untuk dapat menghilang sambil melepaskan anak panahnya )


"Hebat..." ( Ucap Riksrel )


"Riksrel benar..." ( Lanjut panglima Hitler )


"Benar kan? Guru Turgam sangatlah hebat" ( Balas Galts )


"Bukan itu, adikmu yang kumaksud. Dia sangat hebat mencium salah satu mantan panglima Barema" ( Ucap Riksrel )


"Diamlah, aku tidak ingin mengingat itu lagi" ( Galts tanpa sebab menceritakannya )


"Meski kau sendiri yang memberitahukannya" ( Lanjut Riksrel )


"Sudahlah..., Yang terpenting, guru Turgam sangatlah hebat" ( Galts berusaha mengalihkan perhatiannya )


"Ya, dia guru yang sangat hebat. Bahkan salah satu muridnya mampu mengalahkanku" ( Yang Riksrel maksud adalah Limzy )


"Kalau yang itu, ceritanya sudah cepat menyebar" ( Balas Galts )


"Berisik, jangan mengingatkanku akan kekalahan itu. Aku bahkan tidak sadar sepenuhnya dalam kejadian itu" ( Kesal Riksrel. Panglima Hitler ikut tersenyum )


"Baiklah..., Terserah kau saja" ( Ucap Galts )


"Benar juga, apa yang terjadi selanjutnya?" ( Tanya Riksrel )


"Singkatnya, aku berhasil menguasai kekuatan yang diberikan oleh guru Turgam dan tetap menguasainya hingga saat ini" ( Jawab Galts )


"Apa yang terjadi dengan adikmu?" ( Tanya lagi Riksrel )


"Setelah dia cukup umur dan telah lulus dari pengajaran guru Turgam serta sudah sangat akrab dengan Puvi, mereka langsung menikah. Benar juga, mereka mempunyai anak, sampai sekarang aku tidak mengetahui identitasnya ( Jawab Galts )


"Apa maksudmu? Bukankah kau paman dari anak itu? Seharusnya kau tau!" ( Balas Riksrel )


"Kau benar, tapi semuanya menjadi mimpi buruk..." ( Jelas Galts )


"Apa maksudmu?" ( Tanya lagi Riksrel )


"Saat itu, awal bencana bagi kerajaan Barema. Kami bertiga telah lulus dan pelajaran guru Turgam dan Miya telah menikah dengan Puvi. Saat Miya ingin melahirkan, awan gelap menyelimuti seluruh kerajaan. Saat itu juga tampak raja Mesune yang awalnya bersikap bijaksana berubah menjadi iblis tak berperikemanusiaan..." ( Balas Galts )


"Baiklah, aku mengerti. Pasti saat itu sangat sulit..." ( Riksrel membayangkan apa yang terjadi di cerita Galts )


"Saat Miya berhasil melahirkan, Puvi terlebih dahulu menggendongnya. Aku yang melihat itu merasa sangat senang. Saat itu aku diberitahu oleh perawatnya jika anak mereka adalah perempuan. Setelah itu, terjadi sebuah ledakan yang cukup besar dan menyebabkan sebagian besar kerajaan Barema hancur..." ( Jelas Galts )


"Kalau tidak salah, aku pernah mendengar tentang kejadian itu" ( Ucap panglima Hitler )


"Apa yang terjadi dengan mereka semua?" ( Tanya Riksrel )


"Beberapa iblis bermunculan di sekitar ruangan Miya. Puvi yang saat itu telah menjadi panglima Barema membuat pelindung dan tidak membiarkan satupun iblis masuk. Saat itu aku berada di luar perlindungan Puvi dan mau tidak mau aku harus bertahan, di saat-saat gawat itulah Leona ikut bersamaku" ( Jelas Galts )

__ADS_1


"Apa yang terjadi, apa kau dan Leona berhasil mengalahkan semuanya?" ( Tanya Riksrel )


"Tidak..., Leona terbunuh..." ( Jawab Galts singkat )


"Begitu..., Saya ikut bersedih" ( Ucap Riksrel )


"Tenang saja, aku akan ceritakan lanjutannya..." ( Balas Galts )


"Silahkan..." ( Ucap panglima Hitler )


"Saat aku melihat Leona telah hampir mencapai ujung hidupnya, aku melihat ada seseorang dengan berlian aneh di samping nya. Dia bukanlah raja Mesune, tapi sepertinya dia sama kuatnya dengannya. Aku berusaha mendekatinya, namun sepertinya tidak mungkin karena dia terlalu kuat. Setelah dia pergi, aku langsung menghampiri Leona dan saat itu juga aku terlambat karena tidak dapat menemani nya di saat-saat terakhir..." ( Tak terasa air mata Galts jatuh )


"Galts? Kau tidak apa-apa?" ( Riksrel terkejut melihat Galts mengeluarkan air mata )


"Jangan masalahkan hal ini. Mungkin ini hal yang biasa terjadi kepada orang-orang jika mengingat hal yang menyedihkan" ( Galts berusaha tersenyum kembali. Dan ia melanjutkan ceritanya )


"Setelah itu, raja Mesune berubah menjadi raja yang tidak tahu apa itu hati. Dia menjadi sangat berbahaya bagi rakyatnya. Leona menjadi korban di saat peristiwa awal kegelapan itu..." ( Jelas Galts )


"Tapi..., Kudengar Puvi telah gugur dalam peperangan melawan kerajaan Malona. Dia dibunuh oleh salah satu murid Turgam" ( Ucap Riksrel )


"Itu benar, dia dibunuh oleh Tigra, sahabat dekat Emily. Saat Miya tau Puvi terbunuh, dia sangat tidak bersemangat untuk hidup. Dia tidak nafsu makan dan karena sakit terus-menerus, beberapa hari setelah Puvi meninggal, Miya menyusulnya..." ( Jelas Galts )


"Sepertinya kau sangat hebat menghadapi keadaan waktu itu, tapi kenapa kau tidak mengetahui identitas dari keponakanmu sendiri?" ( Tanya Riksrel )


"Saat itu aku juga telah diangkat menjadi panglima Barema dan menjadi sangat akrab dengan Tirgas. Namun karena waktu yang sangat sedikit, aku bahkan tidak pernah melihatnya" ( Jawab Galts )


"Saya sependapat denganmu" ( Balas panglima Hitler )


"Tapi, setidaknya kau tau dia berada di mana" ( Ucap Riksrel )


"Ya..., Saat aku menemani waktu terakhir Miya, dia memberitahuku jika anaknya akan dititipkan ke tempat penitipan anak. Di sana banyak anak-anak yang kehilangan orang tua mereka. Karena keponakanku adalah anak dari Puvi, maka dia diperlakukan secara istimewa oleh perawat di sana. Aku juga sangat senang karena hal itu. Tak lama setelah itu, Miya meninggal..." ( Jelas Galts )


"Baiklah! Kalau begitu, jangan bersedih terus disini! Bangkit dan cepat balaskan dendammu!" ( Riksrel memberinya semangat )


"Itu untuk alasan pertama. Sekarang aku hanya ingin membantu Turva karena dia adalah murid dari guru Turgam. Dia memiliki sifat yang sangat mirip dengannya meskipun dia sedikit bodoh" ( Balas Galts )


"Haha, aku tau itu" ( Senyum Riksrel )


"Benar juga, apa kau ingin kutemani ke tempat keponakanmu? Kau bilang tidak pernah bertemu dengannya?" ( Tawar Riksrel )


"Eh? Apa tidak apa-apa jika meninggalkan kerajaan Jotigva?" ( Tanya Galts )


"Tenang saja, saya yang akan meminta izin kepada raja Bagru agar kalian bisa mengunjungi keponakanmu" ( Panglima Hitler meyakinkannya )


"Baiklah kalau anda mengatakan begitu..." ( Galts menyetujuinya. Singkat cerita, mereka mendapatkan izin untuk berangkat ke kerajaan Barema dan segera mengunjungi keponakan dari Galts )


"Apa sekarang dia sudah besar, ya? Kalau dihitung dari lahirnya..., Mungkin dia lebih muda empat tahun dari Turva. Kuharap dia menjadi anak yang baik" ( Batin Galts tersenyum )


( Kita akan melihat sekilas anak dari Miya. Saat itu ia berlatih memanah, ia melakukannya mungkin karena menurun dari ibunya )


"Wah..., Hebat sekali. Keahlianmu memanah sekarang bertambah baik. Bibi sangat senang melihatmu berkembang dengan baik" ( Ucap salah satu perawat di sana )


"Tidak, ini bukan apa-apa. Ibuku dan ayahku adalah dua prajurit hebat yang saling melindungi di medan pertempuran. Dan saat itu tiba, aku akan melampaui mereka terus lebih jauh lagi!" ( Ucapnya sangat semangat )


"Sikapmu sepertinya menurun dari ibumu. Begitupun keahlian memanah nya. Sepertinya kau akan menjadi penggantinya dengan cepat" ( Ucap perawat itu )


"Hahahaha..., Tidak perlu memuji ku sejauh itu, Bi..." ( Balasnya tersenyum )


"Tentu saja bibi kagum dengan semangatmu. Kecantikanmu juga mirip dengan ibumu. Dan juga kemahiranmu mirip dengan ayahmu..." ( Ucap perawat itu )


"Hahaha..., Bibi memang pintar menuju orang" ( Senyumnya )


"Oh..., Benar juga, pamanmu Galts akan datang ke sini" ( Ucap perawat itu )


"Paman Galts?" ( Balasnya )


"Ya, itu benar. Apa kau ingin melihatnya?" ( Mendengar itu, dia terdiam )


"Ada apa nak? Bukannya kau harus cepat menghilangkan rasa benci mu kepada paman Galts?" ( Ucap perawat itu )


"Karena dia..., Dia sangat lemah, ibu dan ayah meninggalkanku sendiri. Aku sangat membencinya" ( Begitu yang dikatakan batinnya )


"Nak? Kau baik-baik saja?" ( Ucap perawat itu )


"Eh? Ya..., Aku baik-baik saja Bi..." ( Jawabnya tersenyum paksa )


"Menurut kabarnya, pamanmu seharusnya sudah sampai" ( Ucap perawat itu )


"Benarkah?" ( Balasnya )


"Aku akan melihatnya terlebih dahulu" ( Perawat itu melihat ke luar tempat penitipan. Ternyata Galts dan Riksrel telah sampai. Singkat cerita, akhirnya Galts dapat melihat keponakannya itu yang tidak sempat ia lindungi bersama Puvi dan Miya )


"Apa kau anak dari Miya?" ( Tanya Galts ingin memastikan )


"Benar, apa yang anda inginkan?" ( Jawabnya )


"Syukurlah..., Kau masih sehat. Paman sangat khawatir denganmu. Benar juga, apa paman boleh tau sekarang usiamu berapa?" ( Tanya Galts )


"Baru ketemu langsung menanyakan umur seorang perempuan? Apa paman tidak memiliki malu?" ( Ucapnya )


"Hahaha, maaf jika paman menanyakan hal yang tidak penting" ( Senyum Galts )


"Tiga hari lagi umurku 18 tahun. Paman sudah tahu bukan?" ( Pada akhirnya, dia memberitahu umurnya )


"Oh..., Benar juga. Hahahaha" ( Galts merasa sangat canggung berbicara dengan keponakannya itu )


"Jadi, apa yang ingin paman bicarakan? Cepatlah, karena aku masih ingin berlatih" ( Ucapnya )


"Memanah, ya. Dulu paman mengajak ayahmu dan ibumu untuk berlatih bersama. Tentu saja ibumu sangat hebat" ( Balas Galts )


"Begitu..., Hebat" ( Dia tidak bereaksi apapun )


"Gawat, jika begini terus dia tidak akan memaafkan pamannya" ( Batin Galts )


"Oh..., Benar juga, kau sudah tau kan nama paman? Yang di sebelah paman ini namanya Riksrel" ( Lanjut Galts )


"Nama paman? Tentu saja aku tau, Galts kan?" ( Jawabnya tidak melihat matanya )


"Begini..., Ibumu atau ayahmu tidak pernah memberitahukan namamu. Jadi, apa boleh paman tahu nama keponakan paman ini?" ( Tanya Galts )


"Untuk apa? Padahal hanya nama? ( Tanya nya )


"Setidaknya paman ingin memanggilmu dengan nama yang diberikan ibumu..., Itu saja" ( Jawab Galts )


"Apa sepenting itu paman ingin tahu namaku? Baiklah..., Aku akan memberitahukan nya" ( Dia lalu melepaskan busurnya dari tangannya dan memandang tajam ke arah Galts )


"Paman janji tidak akan menangis mendengar namaku?" ( Ucapnya )


"Memangnya kenapa?" ( Tanya Galts )


"Entah kenapa, setiap kali tiap beberapa waktu ibu memberitahu jika paman mengetahui namaku, dia akan segera menangis. Jadi, berjanjilah paman tidak akan menangis" ( Ucapnya )


"Baiklah, paman berjanji" ( Balas Galts )


"Baiklah..., Perkenalkan, namaku adalah Leona" ( Akhirnya anak dari Miya itu memberitahu namanya. Saat Leona meninggal, Puvi memberi penghormatan terakhir padanya dengan memberikan nama anaknya Leona. Miya juga setuju akan hal itu )


"Eh?" ( Galts yang mendengar namanya seketika kembali mengingat wajah teman masa kecilnya dahulu... )


"Ternyata kau cukup perhatian dengan Leona. Seharusnya kau bilang dari awal jika kau sudah dekat dengannya. Dasar adik merepotkan..." ( Galts melupakan janjinya dan menangis di depan Leona, keponakannya )


"Aku tidak tau mengapa paman menangis, tapi apa sesedih itu jika paman mengetahui namaku?" ( Tanya Leona, keponakannya )


"Mungkin..., Dulu ada seseorang yang paman anggap sangatlah sempurna..., Kemungkinan ibumu memberimu nama itu untuk tidak membuat paman kesepian..., Sampai akhir kehidupannya, ibumu ternyata masih peduli dengan keluarganya..."


< Berlanjut ke chapter 41! >

__ADS_1


__ADS_2