
Chapter 44 ( Terpisah )
( 3 hari telah berlalu, kini saatnya pasukan Turwel berangkat )
"Biarkan aku ikut, kak Limzy..." ( Mikomi memohon )
"Maaf Mikomi..., Tapi tugas ini sangat berat. Guru tidak ingin kau berada dalam situasi yang bahaya" ( Jawab Limzy )
"Tapi..., Aku ingin membantu guru" ( Mikomi bersikeras )
"Kalau kak, guru mengizinkanku ikut maka aku akan menerima latihan sekeras apapun dari guru. Oleh karena itu izinkan aku ikut" ( Lanjut Mikomi )
"Apa kau ingin membuat muridmu bersedih?" ( Tanya Madini, saat itu Turva mengajaknya untuk ke desa Kara )
"Orang yang sudah mengenal baik gurunya sepertimu tidak akan mengetahui tentang Mikomi. Jadi jangan menyemangatinya untuk mendekati bahaya" ( Balas Limzy )
"Apa-apaan dengan suaramu itu. Aku hanya menyarankan mu saja" ( Madini merasa Limzy terlalu kasar kepadanya )
"Tenanglah Limzy. Aku juga faham dengan yang kau katakan..., Mikomi, maaf tapi untuk sekarang Limzy akan bertarung bersama kami. Jika kau ingin bersamanya tunggu saat kami kembali dari kerajaan Arba" ( Ucap Turva )
"Anda adalah salah satu teman guru yang paling saya hormati. Jika anda mengatakan itu, maka saya tidak bisa berbuat apa-apa" ( Akhirnya Mikomi menyerah untuk mengikuti Limzy menuju ke desa Kara )
"Ayah mengizinkanmu untuk ikut" ( Ucap raja Kurgosul )
"Eh?" ( Putri Dian Haka yang dari tadi termenung akhirnya tersadar )
"Kau tidak salah dengar. Pergilah dan cari pengalamanmu sendiri" ( Raja Kurgosul membiarkan putri bungsu nya itu untuk ikut dengan pasukan Turwel )
"Benar juga, dia sangat hebat. Aku yakin dia akan membantu" ( Ucap Turva )
"Kau..., Bukannya melarang ayahku tapi kau mengizinkannya!" ( Kesal putri Dian Haka )
"Justru aku mengajakmu karena aku percaya dengan kekuatanmu. Jadi jangan bersikap kekanakan lagi dan ikutlah denganku" ( Balas Turva dengan serius. Mungkin karena ini menyangkut dengan surat gurunya )
"Dia..., Sangat serius. Dan juga, apa maksudnya dengan *ikut denganku?*" ( Batin putri Dian Haka )
"Sepertinya kau sangat senang..." ( Sepurga melihat putri Dian Haka memerah )
"Apa yang kau katakan!" ( Pipi Sepurga ditampar olehnya )
"Karena kau percaya denganku, baiklah. Aku akan melindungi punggungmu itu" ( Putri Dian Haka menerima tawarannya sekaligus sedikit mengejek Turva )
"Apa?!?!" ( Turva sedikit tersinggung karena ia tiba-tiba mengingat bahwa raja Mesune diserang dari belakang olehnya )
"Maafkan kekasaran adikku, Turva. Dan juga, aku mempercayakan keselamatannya kepadamu" ( Ucap pangeran Goslancart. Saat ini pangeran Nalpezid menjalankan misi di negara )
"Tenang saja pangeran. Meskipun dia sedikit menyebalkan tapi saya tidak akan mengecewakan pangeran" ( Turva meyakinkannya. Alasan mengapa raja Kurgosul tidak menghukum Turva karena terus menghina putrinya disebabkan ia hanya menganggap Turva dan putri Dian Haka hanya terlihat seperti dua anak kecil yang sedang bertengkar olehnya. Dan juga, Turva tidaklah berbahaya bagi dirinya maupun para anak-anaknya )
"Jangan berbicara seenaknya!" ( Putri Dian Haka juga menamparnya )
"Ah! Apa yang kau lakukan! Itu sangat sakit kau tahu!" ( Kesal Turva, meskipun begitu ia tidak membalas tamparannya )
"Kalau begitu, yang akan menuju ke desa Kara berjumlah 15 orang" ( Jelas raja Kurgosul )
"15?" ( Heran Turva )
"Apa anda sudah menghitungnya, raja?" ( Tanya Sepurga )
"Ya, saya telah menghitungnya" ( Jawab raja Kurgosul )
"Tapi.., disini hanya ada 14 orang" ( Ucap Dunza )
"Maaf! Aku terlambat" ( Semua orang tertuju kepada asal suara itu )
"Eh? Putri Maryam?" ( Dunza terkejut karena kehadiran putri Maryam )
"Maafkan aku, tadi ada petani yang kesusahan. Jadi aku membantunya" ( Jelas putri Maryam )
"Tidak apa-apa, mereka juga belum berangkat" ( Balas raja Kurgosul )
"Begitu..., Syukurlah..." ( Lega putri Maryam )
"Apa yang anda lakukan disini, putri?" ( Tanya Dunza )
"Oh..., Karena kudengar kalian ingin menuju ke tempat yang bahaya jadi aku akan menemani kalian" ( Jawab putri Maryam )
"Tapi, bukannya justru karena itu putri akan terluka?" ( Tanya Dunza lagi )
"Tenang saja, kau bersamaku bukan?" ( Tanya balik putri Maryam )
"Soal itu..., Hahahaha. Benar juga, anda bersamaku" ( Dunza yang kurang tidur menjadi sangat bersemangat )
"Apa keadaan di sana sudah membaik putri? Bagaimana dengan ayah?" ( Tanya Dunza lagi )
"Ya, sekarang Jotigva kembali ke keadaan semula. Begitupun dengan kesehatan ayah..., Tunggu, siapa yang kau maksud ayah!" ( Putri Maryam memukul Dunza )
"Tapi, bukannya ayah sendiri yang setuju agar ia dipanggil begitu?" ( Balas Dunza )
"Ya, aku faham! Tapi jangan panggil dia ayah di depanku!" ( Putri Dian Haka menolaknya )
"Haha, maafkan aku. Tapi melihat putri dalam keadaan begini membuatku lebih bersemangat lagi!" ( Jelas Dunza )
"Sudahlah, jika memang itu membuatmu bersemangat" ( Putri Maryam berusaha meredakan kekesalannya )
"Ternyata mereka betul-betul berangkat" ( Ucap Leona yang melihat mereka dari kejauhan )
"Ya, jika benar yang diucapkan oleh murid Turva itu maka pasti tugasnya menjadi sangat serius nantinya" ( Balas Youen, yang dimaksudnya yaitu saat pesta khusus perempuan, Madini memberitahu mereka jika ia juga akan ikut bersama pasukan Turwel menuju ke misi yang sangat susah )
"Ya, kau benar..." ( Setelah itu Leona melihat ke arah Tigra, tiba-tiba ia mengingat ayahnya )
"Aku pasti akan membunuhnya!!!!!" ( Batin Leona )
"Baiklah, kami berangkat!" ( Ucap Turva )
"Saya berharap kalian dapat menyelesaikan permintaan guru kalian yang berharga itu" ( Balas raja Kurgosul )
"Tentu saja!" ( Dengan serentak semua pasukan Turwel menjawab )
( Kita akan berpindah sementara melihat keadaan kerajaan Jotigva )
"Apa putri sudah berangkat?" ( Tanya raja Bagru )
"Baik! Putri telah berangkat!" ( Jawab panglima Krolna )
"Baguslah..., panglima Hitler, bagaimana dengan keduanya?" ( Yang dimaksud raja Bagru yaitu Riksrel dan Galts )
"Saat ini keduanya tengah berada di tempat penyimpanan senjata. Mereka saya tugaskan untuk menjaga di sana" ( Jawab panglima Hitler )
"Baiklah, karena sekarang pembangunan telah selesai pertama-tama saya ucapkan terimakasih atas kerja keras kalian semua. Selanjutnya kita akan membahas mengenai serangan yang akhir-akhir ini menyerang kerajaan Jotigva" ( Raja Bagru membuka inti pembahasan yang akan mereka lakukan hari ini )
"Apa kalian mempunyai beberapa saran mengenai ini?" ( Ucap raja Bagru )
"Saya sempat melihat beberapa prajurit yang mengenakan baju aneh. Kemungkinan asal mereka sangatlah jauh dari sini..." ( Jelas panglima Dabroger )
"Jika bisa kau jelaskan, seperti apa pakaian mereka?" ( Tanya raja Bagru )
"Mereka dilengkapi pakaian berwarna hitam pekat. Dan anehnya mereka disenjatai dengan pedang panjang berwarna merah darah yang dimana warna itu menutupi seluruh pedangnya" ( Jelas panglima Dabroger )
"Apa mereka melakukan suatu pergerakan?" ( Tanya lagi raja Bagru )
"Tidak, mereka hanya terlihat hanya berdiri disitu dan tidak melakukan apa-apa. Tapi kita tidak boleh lengah terhadap mereka..." ( Jawab panglima Dabroger lagi )
"Baik!" ( Terlihat bahwa prajurit berbaju aneh ini akan menyebabkan sesuatu bagi Jotigva )
( Kembali ke pasukan Turwel )
"Meskipun perjalanannya memakan waktu lebih sedikit daripada perjalanan ke kerajaan Timid, kita harus waspada" ( Ucap Turva )
"Aku mengerti" ( Balas Sanvu )
"Apa kau selalu melakukan perjalanan jauh ini?" ( Tanya putri Maryam )
"Ya, kenapa putri bertanya begitu?" ( Tanya balik Dunza )
__ADS_1
"Ternyata kau sangat kuat..." ( Jawab putri Maryam tersenyum )
"Haha, itu bukan apa-apa..." ( Dunza menggaruk kepalanya yang tak gatal )
"Benar juga, bagaimana jika kita melatih untuk menyatukan sihir dan pedang kita untuk melawan musuh?" ( Turva mendapatkan sebuah ide bagus dan juga ia menyarankan itu agar perjalanan mereka tidak membosankan )
"Kalau begitu, biar aku yang mencobanya" ( Sepurga berjalan menuju ke barisan paling depan )
"Apa yang ingin kau perlihatkan?" ( Tanya Seberma )
"Haha, lihat saja..." ( Sepurga kemudian menegakkan pedangnya ke atas )
"Dan juga, jangan sampai tenaga sihir mu habis hanya karena ini ya..." ( Ucap Limzy )
"Tenaga sihir ku tidak selemah itu! Baiklah! Naga api kepala satu!" ( Dari pedang Sepurga keluar seekor naga api yang sangat panjang dan ekornya masih berada di dalam pedang itu )
"Tebasan naga api satu!" ( Sepurga mengayunkan pedangnya ke tempat kosong dan naga api yang keluar tadi menuju dengan cepat ke arah yang dimaksud Sepurga. Beberapa saat setelah naga api itu berbenturan dengan tanah, terjadi ledakan yang sangat hebat! )
"Itu hebat, tapi apa kau benar baik-baik saja?" ( Tanya Seberma, ia melihat Sepurga berjalan tidak normal )
"Haha, ini bukan apa-apa..." ( Sepurga yang hampir tersungkur ke tanah ditangkap oleh Dunza )
"Sudah..., Jangan memaksakan dirimu" ( Ucap Turva )
"Tapi, bukannya itu serangan yang hebat?" ( Balas Sepurga )
"Kau memang benar, tapi serangan itu akan jauh lebih hebat jika digunakan untuk menyerang musuh dan bukan untuk membuang-buang tenaga sihir..." ( Dunza menasihatinya )
"Sudahlah Dunza..., Sepertinya dia telah memahami perkataanmu" ( Ucap putri Maryam )
"Iya, maafkan aku" ( Dunza melepaskannya )
"Ada apa dengan kalian bertiga? Kalian sangat serius sekali" ( Yang dimaksud Sepurga yaitu Turva, Dunza dan Sanvu )
"Kau benar juga, sepertinya kalian terlalu serius. Setidaknya istirahatkan fikiran kalian agar tidak terbebani dengan lawan yang akan dihadapi kemudian..." ( Ucap Sema )
"Aku tidak akan membantah kepada kalian dan akan menjaga kalian dari jauh. Jadi tenang saja dan jangan terlalu berfikir keras karena itu membuat kami khawatir" ( Lanjut Emily )
"Tapi, bagaimana kita harus menyikapi surat guru itu?" ( Turva ingin mendapat jawaban dari para sahabatnya agar ia tidak merasa terbebani dengan surat Turgam )
"Anggap saja perintah dari surat itu sebagai perintah hari-hari dari guru. Aku tidak melarangmu untuk menurunkan kewaspadaan, tapi sebaiknya berfikir tenanglah karena jika sebaliknya kau akan kesulitan berbicara kepada orang yang dituju" ( Jelas Enka )
"Dan juga jangan menganggap jika kau menanggung semuanya, biarkan kami ikut merasakan beban yang ada di pundakmu itu. Intinya kau tidak sendiri, jadi percayakan kepada kami" ( Lanjut Dubas )
"Yah..., Kau benar. Baiklah, percepat jalannya. Kita akan bertemu orang yang dimaksud guru itu!" ( Semangat Turva kembali )
"Baik!" ( Singkat cerita, mereka telah sampai di perbatasan kerajaan Arba )
"Semuanya hancur..." ( Batin Turva )
"Mungkin ini disebabkan oleh peperangan di jaman dulu" ( Jelas putri Dian Haka )
"Kita kesampingkan soal itu, kita akan mencarinya terlebih dahulu" ( Ucap Turva )
"Tapi, bagaimana?" ( Tanya Limzy )
"Tenang saja, aku membawa peta nya" ( Turva mengeluarkan sebuah benda seperti kertas yang lebih kecil dari surat Turgam )
"Lihat ini" ( Turva membuka surat itu dan memperlihatkan kepada mereka )
"Ini, sebuah peta!" ( Ucap Sanvu )
"Itu benar" ( Balas Turva tersenyum )
"Kau dapat ini darimana?" ( Tanya Dunza )
"Haha, kebetulan aku mendapatkannya..." ( Jawab Turva. Sedikit penjelasan, keesokan hari setelah pesta malam itu, dan semua perempuan keluar dari kamar Dubas, Turva kembali membuka surat-surat dari Turgam itu untuk memastikan itu asli. Dan ternyata surat itu memang asli, setelah Turva selesai membaca surat terakhir, ia terkejut karena sebuah gulungan surat yang lebih kecil tiba-tiba muncul dari surat terakhir itu. Turva lalu membukanya dan ternyata isi gulungan surat itu adalah petunjuk yang akan menuntun mereka untuk menuju ke orang yang dimaksud Turgam )
"Baiklah, aku tidak peduli kau dapat itu darimana. Tapi aku harap itu petunjuk yang benar" ( Ucap Tigra )
"Tenang saja, ini asli. Kalian ikut aku saja" ( Turva memimpin mereka )
"Tapi..., Ini benar-benar hancur. Apa ada orang disini?" ( Batin Turva )
"Menurut peta, kita harus menuju ke satu pohon yang besar itu" ( Jawab Turva, hanya pohon itu yang ia lihat )
"Aneh sekali, ke pohon?" ( Ucap putri Dian Haka )
"Sudah, ikut saja" ( Balas Turva. Putri Dian Haka hanya terdiam )
"Firasatku mengatakan ini tidak baik-baik saja" ( Batin Tigra. Singkat cerita, mereka sampai di pohon itu )
"Sekarang kita akan kemana?" ( Tanya Limzy )
"Disini tertulis, kita harus melihat ke belakang dan berjalan ke bangunan hancur itu" ( Jawab Turva )
"Baiklah, aku di depan" ( Ucap Sanvu )
"Jika terjadi apa-apa kepadamu, nanti akan gawat. Aku akan menjaga di bagian depan" ( Lanjutnya )
"Terima kasih, kalau begitu teruslah berjalan semuanya" ( Mereka secara perlahan mendekati reruntuhan bangunan besar itu )
"Hmmm?" ( Sepurga melihat ada sesuatu yang bergerak dari batang pohon itu )
"Apa yang kau lihat?" ( Tanya Emily )
"Eh? Bukan apa-apa, mungkin hanya perasaanku saja" ( Balas Sepurga )
"Tetaplah didekatku putri" ( Ucap Madini )
"Terima kasih, Madini" ( Jawab putri Maryam. Singkat cerita, mereka telah sampai lagi di reruntuhan bangunan itu )
"Aneh sekali, padahal dari jauh ini reruntuhan..." ( Batin Turva )
"Bukannya tadi kita melihat reruntuhan?" ( Tanya Sema )
"Ya, kau benar..." ( Jawab Seberma )
"Tapi, kenapa sekarang kita melihat istana yang megah ini?!?!?!" ( Ucapan Sepurga sempat membuat mereka semua panik diakibatkan suara Sepurga yang sedikit keras )
"Pelankan suaramu sedikit!" ( Ucap Tigra )
"Maaf..." ( Balas Sepurga )
"Apa itu?!" ( Turva terkejut mendengar suara seperti bangunan yang akan hancur )
"Semuanya cepat lari!" ( Teriak Sanvu )
"Lihat itu!" ( Sepurga menunjuk ke arah pohon yang tadi, dan ternyata pohon itu menembakkan ratusan panah dengan cepat ke arah mereka )
"Dinding tanah!" ( Dengan cepat Sanvu menahan panah itu, tapi beberapa panah berhasil melewati dinding Sanvu yang ternyata tidak cukup lebar )
"Gawat!" ( Sanvu merasa mati langkah )
"Biarkan aku yang atasi!" ( Emily maju dan bersiap menggunakan busurnya )
"Ini dia! Pembelahan panah!" ( Emily menembakkan 1 anak panah dan kemudian anak panah itu menjadi sebanyak seiring waktu )
"Persiapkan dirimu Tigra!" ( Ucap Emily )
"Aku mengerti! Dinding es!" ( Tigra memasang pelindung yang lebih lebar dari Sanvu untuk menjaga-jaga jika ada panah yang lolos dari tembakan Emily )
"Ya! Sesuai perkiraanku!" ( Batin Emily, meskipun ada beberapa panah yang lolos dari sasaran ratusan panah Emily, tapi dinding es Tigra dapat mengatasinya sehingga mereka terselamatkan )
"Syukurlah..., Semuanya baik-baik saja?" ( Tanya Emily )
"Tenang saja, tidak ada yang terluka" ( Jawab Turva )
"Hmm?" ( Dubas melihat ada sebuah benda bulat berwarna hitam )
"Cepat lari dari sini!" ( Teriak Sanvu, dengan cepat benda hitam bulat itu meledak tapi anehnya tidak ada satupun dari mereka yang terluka )
( Dan setelah itu... )
__ADS_1
"Ah..., Sakit sekali. Benar juga, kau tidak apa-apa Madini?" ( Turva mencari muridnya itu )
"Terlalu banyak kabut!" ( Batin Turva )
"Menyebalkan! Sapuan beliung!" ( Turva akhirnya berhasil menghilangkan kabut yang menghalanginya untuk melihat sahabat-sahabatnya, tapi... )
"Eh?" ( Turva hanya melihat putri Dian Haka dan Madini )
"Apa yang terjadi?" ( Ucap putri Dian Haka berusaha untuk memperjelas penglihatannya )
"Aku juga tidak mengerti" ( Balas Madini )
"Apa hanya kalian berdua? Dimana yang lain?" ( Tanya Turva )
"Tidak guru, aku tidak melihat mereka..." ( Balas Madini yang akhirnya sadar hanya ada mereka bertiga )
"Dimana mereka semua?" ( Batin Turva, ia bertambah panik! Sementara itu kita akan melihat apa yang terjadi kepada yang lainnya )
"Sapuan sayap!" ( Dubas berubah menjadi setengah elang dan mengayunkan sayapnya dengan keras sehingga asapnya menghilang )
"Apa yang terjadi?" ( Ucap Dubas, ia melihat hanya ada dua sahabatnya saja. Emily dan Sema )
"Apa yang terjadi?" ( Emily mengatakan hal yang sama dengan Dubas )
"Jangan bercanda, kita hanya bertiga!" ( Sema yang ikut terkejut karena tidak melihat yang lainnya )
"Untuk sekarang, kita harus mencari yang lainnya!" ( Ucap Dubas )
"Kau benar, tidak ada gunanya panik!" ( Setelah itu, mereka bertiga melanjutkan perjalanan untuk mencari mereka yang hilang )
( Di tempat lain dalam jarak yang cukup jauh )
"Kabutnya sangat banyak!" ( Batin Sanvu )
"Kalau begitu, aku akan menggali ke dalamnya saja!" ( Setelah itu, Sanvu dengan melewati bawah tanah berhasil keluar dari kabut yang membutakannya tersebut )
"Oh..., Kau selamat juga?" ( Sanvu melihat Sepurga dan Enka yang telah lebih dulu keluar )
"Kalian! Apa kalian tidak ingin membantu Turva?" ( Tanya Sanvu dengan nada sedikit marah )
"Tenanglah, Turva bisa mengatasinya..." ( Balas Sepurga )
"Aku juga sependapat" ( Balas Enka. Tapi, setelah kabutnya menghilang justru tidak ada siapapun yang ada di dalamnya )
"Turva, tidak ada?" ( Ucap Sepurga )
"Itu kataku!" ( Sanvu memukulnya )
"Tapi, jika Turva tidak ada berarti yang lainnya..." ( Sepurga merasa khawatir dengan Seberma )
"Sudah, jangan berfikiran yang buruk. Sekarang kita harus cepat mencari yang lainnya. Aku yakin pasti mereka melakukan hal yang sama" ( Enka berusaha menenangkan mereka berdua )
"Kata-katamu ada benarnya juga. Baiklah, kita akan mencari mereka terlebih dahulu dan berkumpul" ( Setelah itu, Sanvu, Enka dan Sepurga memulai pencarian mencari sahabat-sahabat mereka )
( Di tempat yang lain lagi... )
"Apa putri baik-baik saja?" ( Tanya Dunza )
"Ya, aku baik-baik saja. Terima kasih karena telah menyelamatkanku" ( Balas putri Maryam )
"Syukurlah, bagaimana denganmu Seberma?" ( Tanya Dunza lagi )
"Tenang saja, aku tidak terkena luka apapun. Untung saja kau menyelamatkan kami. Tapi, jika hanya kita bertiga, pasti ada yang salah" ( Balas Seberma, saat kabut itu Dunza menggunakan pedangnya dan menggabungkannya dengan sihir air dan segera membuat jalan keluar )
"Ya, kau benar. Karena kita tidak punya banyak waktu, semuanya harus cepat kita temukan" ( Ucap Dunza )
"Aku setuju, apa anda bisa berjalan putri?" ( Tanya Seberma )
"Tenang saja, aku bisa..." ( Jawab putri Maryam )
"Baiklah, kalau begitu kita akan mulai mencari mereka!" ( Setelah itu, Dunza, putri Maryam dan Seberma memulai pencarian )
( Dan di tempat yang berbeda lagi... )
"Kabutnya sangat menjengkelkan!" ( Batin Delta )
"Eh?" ( Delta merasa ada yang menarik tangannya )
"Akhirnya aku mendapatkanmu..." ( Delta melihat Limzy yang ternyata telah keluar dari kabutnya )
"Bagaimana kau bisa keluar?" ( Tanya Delta )
"Aku menambah kecepatanku dengan sihir petir yang kumiliki" ( Jawab Limzy )
"Oh..., Ya. Aku mengerti" ( Ucap Delta singkat )
"Benar juga, kita hanya bertiga. Berarti kita harus mencari yang lainnya" ( Balas Limzy )
"Bertiga?" ( Heran Delta )
"Bagaimana Limzy? Apa kau sudah mendapat satu lagi?" ( Delta melihat Tigra yang ternyata selamat juga )
"Ya, untung saja aku melihat tangannya" ( Ucap Limzy )
"Baguslah jika begitu. Tapi, kabutnya menghilang. Berarti selain kita bertiga tidak ada lagi yang terlihat" ( Balas Tigra )
"Kau benar..." ( Ucap Limzy )
"Jadi..., Apa yang harus kita lakukan?" ( Tanya Delta )
"Sepertinya ini sulit, tapi kita harus mencari mereka" ( Jawab Limzy )
"Ya, Limzy benar. Dan terutama kita harus mencari Turva karena dia yang memegang peta nya..." ( Lanjut Tigra )
"Kau benar, baiklah. Kita harus cepat mencari sebelum matahari terbenam" ( Dan akhirnya Tigra, Limzy dan Delta mencari sahabat-sahabat mereka yang lain juga )
"Wahai orang-orang yang terpilih..." ( Sebuah suara dari langit terdengar dan semua pasukan Turwel beserta tiga orang tambahan dapat mendengar itu )
"Siapa kau!" ( Turva berteriak ke langit )
"Tenang saja, aku bukan orang jahat..." ( Jawab suara dari langit itu )
"Suara itu terdengar seperti menjawab pertanyaan seseorang. Apa ada seseorang yang bertanya kepadanya?" ( Batin Sanvu yang berada sangat jauh dari tempat Turva )
"Apa yang kau inginkan!" ( Dunza juga bertanya kepada suara itu )
"Kalian secara sengaja dipisahkan untuk mencari lima benda yang berbeda..." ( Jawab suara itu )
"Kali ini siapa yang bertanya?" ( Batin Sanvu yang juga mendengar suara dari langit itu )
"Jika kalian mendapatkan benda yang berkilau dan berwarna emas serta memiliki bentuk kotak, bawa itu dan segeralah menuju ke tempat pohon yang kalian lewati tadi" ( Jelas suara awan itu )
"Yang benar saja, setelah memisahkan kami justru diberikan perintah yang membingungkan itu!" ( Ucap Dubas, setelah itu suara dari langit tersebut menghilang )
"Kita bahkan tidak mengetahui dimana pohon yang kita lewati tadi..." ( Ucap Turva )
"Tenang saja guru, aku akan membantumu!" ( Madini menyemangatinya )
"Aku juga, aku tidak ingin terjebak disini. Jadi jangan menjadi beban ku" ( Lanjut putri Dian Haka )
"Tuan putri..., Anda terlalu kurang sopan terhadap Turva. Bisakah tuan putri sedikit baik kepadanya?" ( Ucap Madini dengan nada pelan disertai senyum )
"Tidak apa-apa Madini. Sikapnya yang seperti itu sudah dapat guru biasakan..." ( Balas Turva )
"Guru..., Kau sangat baik!" ( Batin Madini )
"Baiklah, kalau begitu kita akan mencari benda yang dimaksud suara aneh itu dan segera bertemu lagi dengan semuanya!" ( Ucap Turva bersemangat. Begitu juga dengan yang ada di tempat lainnya )
"Mereka terlihat sangat menarik..., Tidak salah kau mengajar mereka, Turgam..." ( Ucap orang yang ternyata mengawasi mereka semua melewati bola sihirnya... )
( Siapakah dia...? )
< Berlanjut ke chapter 45! >
__ADS_1