Turva (Pedang Dan Angin)

Turva (Pedang Dan Angin)
Chapter 47 ( Perencanaan Ulang )


__ADS_3

Chapter 47 ( Perencanaan Ulang )


"Apa kau pernah mendengar desa Makabon?" ( Tanya Limzy )


"Aku juga tidak tahu, tapi yang kutahu sekarang dia adalah musuh kita!" ( Jawab Tigra )


"Gawat, tenagaku hampir habis..." ( Ucap Delta )


"Istirahatlah sebentar, biar kami berdua yang akan menahannya" ( Saran Tigra )


"Apa kalian sudah selesai membuat rencana? Baiklah, sekarang waktu habis. Kubunuh kalian!" ( Azfa berlari ke arah mereka bertiga )


"Es pengikat!" ( Tigra membekukan pergerakan Azfa melalui es yang ia buat di sekeliling kakinya )


"Cepat, dia sekarang lengah!" ( Ucap Tigra )


"Sambaran petir!" ( Sebuah petir yang tipis namun panjang dari langit menuju ke arah Azfa )


"Kena kau!" ( Batin Limzy )


"Apa berhasil?" ( Ucap Delta )


"Hebat juga kau bisa menahan pergerakanku..." ( Mereka mendengar suara Azfa )


"Apa...?" ( Limzy melihat sebuah batu besar yang disertai bara api berada di atas Azfa )


"Batu itu menjadi perisainya!" ( Ucap Delta )


"Untung saja aku memilih tempat yang banyak batu disini..." ( Azfa semakin bersemangat )


"Sekarang, waktu bermain telah habis! Himpitan batu api!" ( Entah darimana datang batu api di barat dan timur dari mereka bertiga yang akan menghimpit mereka dan meremukkan tubuh mereka )


"Tidak sempat!" ( Batin Tigra )


"Ada apa, kalian tidak bergerak. Lihatlah, batu api itu bergerak ke arah kalian!" ( Ucap Azfa )


"Perubahan arus!" ( Limzy melihat sebuah air yang berada di atas tanah dan sejajar dengan batu api tersebut serta datang dari arah selatan mereka bertiga )


"Batu apiku, berbelok arah?" ( Ucap Azfa, karena dia di posisi utara dari mereka bertiga maka batu itu akan menuju ke dirinya )


"Perubahan arus!" ( Batu yang satunya lagi berbelok ke arah Azfa )


"Sekarang, siapa yang diunggulkan..." ( Mereka bertiga berbalik ke arah orang yang bicara itu )


"Dunza?" ( Ucap Tigra )


"Maaf, hampir saja aku terlambat" ( Balas Dunza )


"Darimana kau datang?" ( Tanya Delta )


"Aku juga tidak tahu, tiba-tiba kalian ada di depanku begitu saja. Dan juga, aku sempat melihat orang itu" ( Jelas Dunza )


"Begitu, kau langsung melihat kami..." ( Ucap Tigra )


"...kalau begitu kenapa kau tidak panggil kami langsung!" ( Tigra sedikit menasehatinya )


"Haha, maaf. Karena tadi batu apinya hampir mengenai kalian aku langsung saja membantu" ( Balas Dunza )


"Yang dibelakangmu itu..." ( Tigra menunjuk ke belakang Dunza )


"Oh, ini putri Maryam..., Kakinya kesakitan, maka dari itu aku membawa nya di punggungku" ( Ucap Dunza )


"Begitu..." ( Balas Tigra singkat )


"Apa kau hanya berdua?" ( Tanya Tigra lagi )


"Tidak, aku bersama Seberma" ( Jawab Dunza )


"Seberma?" ( Tigra melihat tidak ada Seberma di sekitar Dunza )


"Oh, itu dia..." ( Limzy memberitahu posisi Seberma yang berada di sebelah tenggara mereka bertiga )


"Sekarang, kau akan menerima akibat menyerang sahabatku. Rantai api!" ( Seberma membuat perangkap dari api yang tertancap langsung ke tanah dan mengikat kaki dan tangan Azfa )


"Sedikit tambahan, tumbukan raksasa api!" ( Sebuah kepalan tangan raksasa yang terbentuk dari api datang dari arah atas Azfa )


"Gawat, bagaimana ini..." ( Batin Azfa )


"Biar aku saja yang menyelesaikan ini..." ( Datang seseorang yang muncul di belakang Azfa )


"Apa? Musuh baru lagi?" ( Ucap Tigra )


"Oh, ternyata kau. Cepat, selamatkan aku!" ( Ucap Azfa )


"Aku bilang biar aku saja yang menyelesaikan ini..." ( Ucap orang itu )


"Eh...?" ( Azfa tidak mengerti maksud orang itu )


"Apa yang kau katakan, jangan bercanda. Sekarang cepat bantu aku!" ( Ucap Azfa )


"Sebaiknya kau ingat, kita hanya memiliki tujuan yang sama. Kita bukanlah rekan, maka dari itu sainganku untuk mendapatkan posisi berlian bawahan..." ( Balas orang itu )


"Sialan kau!!! Aku akan membalasmu nanti!!!!" ( Azfa terkena serangan fatal dari batu api yang Dunza belokkan dengan ditambah tumbukan api dari Sepurga )


"Selamat tidur untuk selamanya..., Azfa pemimpin desa Makabon" ( Ucap orang itu. Terlihat darah yang banyak di tempat Azfa berdiri )


"Kita berhasil mengalahkan Azfa" ( Ucap Tigra )


"Kau benar..." ( Lanjut Limzy )


"Tapi, dimana tubuhnya?" ( Ucap Delta )


"Tubuhnya sudah hancur dan terpecah akibat benturan dari batu apinya sendiri dan ditambah tumbukan apiku" ( Ucap Seberma )


"Jika memang itu yang kau katakan, maka baguslah jika musuh kita berkurang" ( Ucap Tigra )


"Oh, lihat itu..." ( Dunza menunjuk benda yang berkilau )


"Bukankah itu barang yang dimaksud oleh suara dari langit itu?" ( Ucap Delta )


"Kau benar, bentuknya kotak. Dan warna emas berkilau, tidak salah lagi!" ( Lanjut Limzy )


"Apa kalian menginginkan ini? Ambillah, aku tidak akan menghalangi kalian untuk mendapatkannya" ( Ucap orang itu )


"Eh? Semudah itu?" ( Batin Tigra )


"Aku tidak tahu kau siapa, tapi terima kasih karena memberikan kami benda ini..." ( Ucap Dunza yang menerima benda itu )


"Ingat saja, aku bukan rekan kalian. Aku adalah orang yang akan mengambil posisi berlian bawahan, dan untuk itu aku akan menyingkirkan keempat sainganku yang lain..." ( Ucap orang itu )


"Sebelum itu, aku ingin bertanya. Siapa kau sebenarnya?" ( Tanya Dunza )


"Benar juga, aku belum memberitahu kalian. Namaku Champ, pemimpin desa Runpe" ( Orang itu memberitahu identitasnya )


"Apa kau dari kerajaan Arba ini?" ( Tanya Dunza lagi )


"Itu benar" ( Jawab Champ )


"Mengapa kau membiarkan rekanmu sendiri terbunuh?" ( Tanya Dunza lagi )


"Dia bukan rekanku, seluruh desa di kerajaan Arba adalah musuh. Aku hanya memiliki tujuan yang sama dengannya, yaitu menjadi orang yang mendapatkan berlian bawahan" ( Jelas Champ )

__ADS_1


"Apa kau juga..." ( Dunza masih ingin bertanya )


"...sepertinya aku terlalu banyak memberitahu kalian, aku akan pergi dari sini. Aku tidak akan mengganggu kalian, maka dari itu jangan pernah menemuiku lagi. Jika itu terjadi, maka akan kubunuh kalian!" ( Jelas Champ, setelah itu ia menghilang )


"Aneh sekali, dia menolong kita tapi dia juga mengancam kita..." ( Ucap Delta )


"Tidak apa-apa, yang penting kita semua selamat. Dan juga kita harus diskusikan agar menggunakan benda ini untuk apa" ( Balas Dunza )


"Kau benar..., Aku sama sekali tidak tahu apa ini" ( Ucap Limzy )


"Bagaimana kalau kita memberinya nama saja, agar tidak sulit untuk menjelaskannya kepada sahabat yang lain?" ( Saran Seberma )


"Kau benar juga, kalau begitu namanya Kugold" ( Ucap Tigra )


"Nama yang bagus, baiklah. Kita namakan ini Kugold!" ( Setelah itu mereka melanjutkan perjalanan mencari sahabat mereka yang lain... )


"Jujur saja, aku sudah hampir mencapai batasku..." ( Batin Dunza sewaktu membawa putri Maryam yang tengah tertidur )


( Di tempat yang lain... )


"Apa kau masih kuat, Emily?" ( Ucap Sema )


"Ya, aku masih memilikinya sedikit" ( Balas Emily )


"Jangan cepat tumbang! Kita harus mengalahkan Zydos!" ( Ucap Dubas, orang yang menghadang mereka bernama Zydos )


"Lidahmu masih bisa mengucapkan namaku saat terdesak begitu. Baiklah, aku akan menaikkan sedikit suasanya!" ( Zydos kemudian menjatuhkan awan yang sangat berat ke arah mereka bertiga )


"Perubahan Garuda!" ( Dubas berubah menjadi Garuda manusia dan berusaha menahan awan yang sangat berat )


"Kita harus menghentikan penggunanya!" ( Sema berlari ke arah barat Zydos dan menyentuh sebuah batu besar )


"Aku mengerti!" ( Emily berlari ke arah timur Zydos dan menyentuh sebuah batu yang lebih besar lagi )


"Aku sudah tidak bisa menahannya lagi!" ( Ucap Dubas )


"Kami akan membantu menaikkan tenaga sihirmu!" ( Emily dan Sema memberikan sedikit tenaga sihir mereka ke Dubas sebagai bantuan )


"Sekarang, tinggal menyentuh Zydos, dia sedang mengendalikan awannya!" ( Ucap Sema )


"Aku mengerti, cepat lakukan!" ( Mereka berdua menyentuh bagian rusuk kiri dan kanan Zydos )


"Apa ini? Dari mana mereka datang, aku tidak bisa menghentikan mereka karena awan ini!" ( Batin Zydos )


"Jangan remehkan kekuatan pemimpin desa Bhuwi!" ( Zydos menggunakan kakinya dan menendang Sema dan Emily yang sudah kehabisan tenaga sihir hingga terpental jauh )


"Sema, Emily!" ( Dubas yang masih menahan awannya tidak bisa bergerak )


"Haha, ternyata kalian hanya menyentuhku. Tidak ada bahaya sekalipun yang kurasakan..., Eh?" ( Zydos melihat dua besar dari timur dan barat nya mengarah ke dirinya )


"Gawat! Aku lengah! Pelepasan kekuat..." ( Belum sempat Zydos melepas kendali awannya, kedua batu itu langsung menghimpitnya dan meremukkan badannya. Ia telah terbunuh )


"Berhasil..." ( Ucap Emily, setelah itu ia tak sadarkan diri )


"Awannya menjadi ringan?" ( Batin Dubas )


"Kalau begitu, pergilah sejauh mungkin!" ( Dubas melempar awan itu sejauh mungkin dari posisi mereka bertiga )


"Zydos telah terbunuh?" ( Dubas melihat darah dan tubuh Zydos yang hancur berkeping-keping )


"Ternyata mereka tidak memerlukan bantuanku..." ( Ucap Dubas tersenyum, ia lalu mengangkat Sema dan membaringkannya ke Emily yang tak sadarkan diri )


"Kalian sudah melakukan hal yang hebat" ( Ucap Dubas. Ia kemudian mencari tempat untuk menemukan air sambil menunggu Sema dan Emily kembali sadar )


"Apa itu?" ( Dubas melihat benda yang berbentuk kotak dan berwarna emas berkilauan )


"Bukankah ini benda yang dimaksud suara dari langit itu...?" ( Batin Dubas )


( Kita akan kembali ke Turva... )


"Bertahanlah sedikit lagi, Sepurga..." ( Ucap Sanvu )


"Tidak mungkin, tenaga ku sudah hampir habis" ( Balas Sepurga )


"Ada apa, apa kalian hanya ingin melihat perempuan ini menyerang ku seorang diri?" ( Ucap Yahiko sambil melawan Madini )


"Cukup Madini, jangan paksakan dirimu!" ( Ucap Sanvu )


"Tidak, ini demi guru!" ( Madini masih menyerang Yahiko dengan sisa tenaga nya )


"Kuakui semangatmu tinggi, tapi kemampuan berpedangmu sangatlah rendah. Bahkan kau tidak bisa menyentuhku" ( Ucap Yahiko )


"Masih belum!" ( Sepurga menciptakan pedang dari apinya dengan harapan bisa mengalahkan Yahiko )


"Kau membuat pedang dari api yang dapat ditembus, sebaiknya kau gunakan saja pedang dari besi mu itu yang lebih berguna" ( Ucap Yahiko )


"Mungkin karena kau terlalu bodoh untuk memikirkan itu" ( Lanjut Yahiko )


"Aku hanya memikirkan segala kemungkinannya, sialan!" ( Sepurga menyerang dengan kedua pedangnya )


"Dorong dia..." ( Kedua pedang utama Yahiko menjadi perisai dan mendorong Sepurga )


"Sepurga!" ( Sanvu menangkap Sepurga yang terpental )


"Baiklah, karena kalian sudah mencapai batas..., Disinilah batas kalian. Sekarang matilah..." ( Yahiko bersiap untuk mengakhirinya )


"Bagaimana ini, aku harus menyembuhkan Turva..." ( Batin Enka )


"Sudah cukup, Yahiko..." ( Yahiko mendengar suara Champ )


"Ternyata kau, apa yang ingin kau lakukan? Menggangguku? ( Tanya Yahiko )


"Tentu saja tidak, kita dipanggil segera. Jika kau tidak ingin posisi itu, maka habisi saja mereka" ( Jawab Champ )


"Cih, baiklah..." ( Yahiko kemudian mengikuti Champ )


"Dan juga, Azfa telah terbunuh" ( Lanjut Champ )


"Begitu, baguslah. Sainganku berkurang, semoga saja kau selanjutnya" ( Balas Yahiko )


"Jangan bercanda, aku lebih kuat darimu" ( Ucap Champ )


"Apa!" ( Yahiko sedikit marah, tapi sepertinya ia merasa Champ benar )


"Kalau begitu, cepat kita berangkat" ( Yahiko menuruti Champ yang bukan rekannya tapi orang yang hanya satu tujuan dengannya )


"Jangan harap kalian akan selamat selanjutnya!" ( Yahiko lalu pergi )


"Sebelum itu, aku harus meminta tuan ******* untuk membuka penghalang ini..." ( Champ kemudian melakukan sesuatu seperti berbicara dengan seseorang )


"Apa yang dia lakukan?" ( Batin Sanvu )


"Baiklah..., Kalian semua! Ujian kami telah selesai, sekarang kalian boleh bertemu satu sama lain. Aku juga ingin berterima kasih karena telah menjadi orang yang ingin menemani keempat orang bodoh itu menjalani ujian mereka..." ( Setelah itu, Champ pergi )


"Dia langsung menghilang begitu saja..." ( Ucap Madini )


"Baguslah jika begitu, kita tidak perlu bertarung lagi..." ( Lanjut Sanvu )


"Benar juga, aku harus membawa Sepurga" ( Sanvu membawa Sepurga ke Enka )


"Aku melupakan guru!" ( Madini mengikuti Sanvu )

__ADS_1


"Apa dia sudah bisa bangun?" ( Tanya Madini )


"Sebentar lagi, dia akan sadar..." ( Jawab Enka )


"Begitu..." ( Madini lalu menghampiri putri Dian Haka )


"Aku tidak tau seberapa beraninya anda untuk berhadapan dengan guru, tapi aku akui..., Anda adalah orang yang hebat" ( Batin Madini )


"Sakit!" ( Sanvu menoleh ke arah suara itu )


"Tigra?" ( Ucap Dubas yang membentu Tigra )


"Dubas?" ( Tigra juga tidak percaya karena tiba-tiba saja Dubas berada di depannya )


"Akhirnya aku menemukanmu!" ( Tigra memeluk Dubas )


"Ya, mungkin ini keajaiban..." ( Balas Dubas tersenyum lega )


"Kalian berenam?" ( Tanya Dubas yang melihat Tigra bersama Dunza, Limzy, Seberma, Delta dan putri Maryam )


"Sebenarnya tadi aku hanya bersama Limzy dan Delta. Tapi kami bertemu mereka bertiga saat bertarung dengan orang yang sangat kuat..." ( Jelas Tigra )


"Kami juga bertarung dengan orang seperti yang kau bicarakan..." ( Balas Dubas )


"Kesampingkan soal itu, kau bersama siapa?" ( Tanya Dunza )


"Oh, disana. Sema dan Emily sedang berbaring mengumpulkan tenaga mereka" ( Jawab Dubas menunjuk ke arah Sema dan Emily )


"Begitu, syukurlah. Berarti, tersisa..." ( Tigra melihat Turva tidak ada )


"Kalian sudah kembali?" ( Mereka berenam mendengar dan menoleh ke arah Sanvu )


"Sanvu!" ( Mereka semua berlari ke arah Sanvu )


"Apa kau sendirian?" ( Tanya Dubas )


"Tidak, aku bersama mereka..." ( Sanvu menunjuk ke arah Sepurga dan Madini )


"Putri Dian Haka terlihat lemas..." ( Ucap Dunza )


"Apa yang kau lakukan Enka?" ( Tanya Delta )


"Aku sedang menyembuhkan Turva. Dia terluka parah..." ( Jawab Enka )


"Apa!" ( Tigra dan Limzy segera ke arah Turva )


"Biarkan kami ikut menyembuhkannya" ( Enka menuruti perkataan mereka berdua )


"Dimana Sema dan Emily?" ( Tanya Enka )


"Benar juga. Sepurga dan Seberma, bawalah mereka berdua kesini" ( Ucap Dubas )


"Baiklah!" ( Mereka berdua lalu membawa Sema dan Emily meskipun mereka akan sadar tak lama lagi )


"Turva..." ( Tigra mencoba menyembuhkan lebih kuat lagi )


"Jangan menyerah bodoh! Siapa yang akan mengajari muridmu! Nanti Mikomi akan melampauinya jika kau tidak bangun!" ( Ucap Limzy )


"Dia mendapatkan luka yang menembus badannya..." ( Jelas Sanvu )


"Ini bahaya, kita harus kembali dulu ke Malona..." ( Saran Dunza )


"Aku mengerti, disini sangat berbahaya..." ( Lanjut Sepurga )


"Biar aku yang menunjukkan jalannya. Aku masih mengingatnya..." ( Ucap Madini )


"Baiklah, kami menyerahkannya kepadamu..." ( Mereka lalu kembali ke Malona untuk mempersiapkan diri lebih baik lagi )


( Di kerajaan Malona... )


"Bukan begitu, kau harus fokus dengan sasaran mu!" ( Ucap Leona )


"Maafkan aku!" ( Mikomi meminta maaf. Entah kenapa, Mikomi dan Leona menjadi guru dan murid sejak Limzy pergi )


"Sudah cukup untuk hari ini Leona..., Sepertinya Mikomi merasa kelelahan" ( Ucap Youen )


"Tidak, ini masih belum! Kau harus menunjukkan sesuatu yang menakjubkan kepada gurumu!" ( Ucap Leona )


"Baik! Aku mengerti!" ( Setelah itu Mikomi kembali berlatih memanah )


"Huh..., Terserah kau. Aku menyerahkannya padamu" ( Ucap Youen )


"Bagaimana dengan latihannya?" ( Tanya pangeran Goslancart yang baru datang )


"Pangeran, Mikomi sudah..." ( Youen berusaha menutupinya )


"...dia masih belum berkembang sama sekali" ( Jawab Leona )


"Leona, jangan menurunkan semangat Mikomi seperti itu..." ( Ucap Youen )


"Tapi bukannya itu kenyataannya?" ( Balas Leona )


"Bukan sepeti itu maksudku...." ( Youen tidak ingin menambah masalah lagi )


"Jadi seperti itu, baiklah. Biarkan aku melihat apa yang kurang darinya..." ( Pangeran Goslancart kemudian menyuruh Mikomi untuk membidik sebuah buah yang berada di pohon )


"Baiklah, itu...." ( Pangeran Goslancart tidak bisa berkata-kata )


"Maafkan aku, maafkan aku!" ( Panah yang dilepaskan Mikomi bukannya mengenai buahnya, tapi bergerak ke arah yang sangat jauh dari jalur ke buah itu )


"Sepertinya kau gugup lagi..." ( Ucap pangeran Goslancart )


"Apa maksud pangeran?" ( Tanya Leona )


"Ini seperti waktu Mikomi berlatih dengan Limzy..." ( Jawab pangeran Goslancart )


"Begitu, salah satu teman Turva yang hebat itu" ( Ucap Leona )


"Anda benar. Mikomi, jika kau tidak bisa mengatasi trauma mu, maka ceritakan lah kepada gurumu. Dia pasti akan membantumu" ( Ucap pangeran Goslancart )


"Baik, aku akan mengikuti perintah pangeran..." ( Mikomi merasa pangeran Goslancart tahu apa yang menimpanya di masa lalu... )


"Tidak usah kau fikirkan. Sekarang aku akan mengajarkanmu sebuah sihir hebat yang bisa kau tunjukkan ke gurumu" ( Ucap pangeran Goslancart berusaha menyemangati Mikomi )


"Sihir yang hebat?" ( Mikomi merasa penasaran )


"Latihan panah nya dimulai nanti, kalian berdua silahkan kembali ke kamar kalian dan beristirahat..." ( Pangeran Goslancart mempersilahkan mereka )


"Uhmmm..., Baik" ( Leona dan Youen hanya menurutinya )


"Jadi, sihir hebat apa yang pangeran maksud?" ( Tanya Mikomi )


"Sebelum itu, kau harus tahu bahwa ini akan membutuhkan fokus yang tinggi. Tapi, menggunakan tenaga sihir yang sedikit, jadi kau dapat menggunakannya berkali-kali dalam sehari" ( Jawab pangeran Goslancart )


"Begitu..., Aku mengerti!" ( Mikomi pun mengikuti pelatihan pangeran Goslancart )


"Dan juga, apa nama dari sihir hebat ini pangeran?" ( Tanya Mikomi lagi )


"Benar juga aku belum memberitahumu. Nama sihir ini adalah Fulmine Continuamente!" ( Mikomi belum pernah mendengar sihir sepeti itu )


( Latihan untuk menguasai Fulmine Continuamente pun dimulai! )

__ADS_1


< Berlanjut ke chapter 48! >


__ADS_2