
Nasha mengusap keringat di dahinya yang terus bercucuran. Hari ini ia telat rapat karena harus mengerjakan tugasnya yang harus dikumpulkan. Ya, salah Nasha karena disaat yang lain mengerjakan ia malah tidur.
“Sial.” Hanya kata itu yang terus menerus ia ucapkan dalam hatinya. Hari ini ia merasa sangat sial.
Setelah tadi pagi mendapat hukuman karena datang terlambat, Nasha juga harus mengerjakan tugasnya dengan buru-buru karena teman satu kelasnya sudah marah-marah karena hanya ia yang terlambat.
Lalu sekarang, ia akan kena semprot Ketua Osis karena datang terlambat. Padahal, semua pengurus OSIS sudah diwajibkan untuk datang tepat waktu.
Tok tok tok
Nasha menghembuskan nafasnya kasar. Ia mencoba menetralkan nafasnya yang terengah-engah setelah berlari cukup jauh dari kelasnya menuju ruang OSIS. Degup jantungnya masih belum stabil, tetapi ia tidak bisa menunda lagi untuk masuk. Dia sudah sangat telat!
Nasha membuka pintu sambil menunduk, takut melihat wajah Ketua OSIS yang terkenal sinis ketika ada seseorang yang tidak patuh pada peraturan.
Setelah melangkahkan kakinya untuk masuk, Nasha langsung menutup pintunya kembali. Tetapi, suasananya sangat hening hingga ia penasaran dengan apa yang ada di depannya.
Nasha memberanikan diri untuk mengangkat kepalanya. Dan…
Hanya ada Rival — Ketua OSIS — yang sedang berdiri bersandar sambil melipat kedua tangannya. Nasha menelan ludahnya kasar. Kini, siap-siap saja ia hanya akan menerima cacian, makian, dan amarah dari Rival. Sudah biasa.
“Arumi Nasha Andara. Siswi kelas XI IPA 3. Jabatan sebagai seksi bidang empat. Dan kebiasaannya adalah datang terlambat” ucap Rival dengan tenang sambil memajukan langkahnya mendekati Nasha.
Nasha diam. Ia hanya bisa menunduk saat Rival mendekatinya. Demi Tuhan, ia menyesal telah masuk ke ruangan ini.
“Lo tau udah berapa kali lo telat?!” tanya Rival. Nada bicaranya mulai naik.
Nasha diam. Ia bahkan lupa sudah berapa kali ia terlambat. “Maaf, kak.” Hanya itu yang bisa Nasha ucapkan, dan hal itu yang membuat emosi Rival semakin naik.
“Gue udah bilang sama lo, gue gak suka sama pengurus yang gak bisa taat peraturan. Kalo lo gak bisa taat peraturan kecil gini, gimana lo bisa jadi contoh buat yang lain?!”
Nasha bergetar. Ia takut dan sangat ingin menangis sekarang. Tetapi, ini benar-benar salahnya. Dan Nasha harus terima itu.
“Maaf, kak.”
“Gak usah minta maaf!” balas Rival setengah berteriak.
Nasha terkejut. Ia semakin menunduk dan takut untuk membalas lagi ucapan Rival.
“Ketimbang lo minta maaf, apa lo gak bisa berubah sedikit pun? Apa lo gak bisa berubah jadi lebih baik lagi?! Kalau lo gak bisa, kenapa lo masih bertahan di kepengurusan ini? Lo sadar kalau tingkah lo selama ini buat nama OSIS tercoret, lo sadar?!”
Nasha benar-benar ingin menangis. Ucapan Rival barusan benar-benar mematahkan semangatnya untuk berubah.
Memang, Nasha selalu terlambat dan pantas untuk dimarahi tetapi, apa Rival tau bagaimana perjuangan Nasha untuk berubah? Dan juga, apa Rival tau bahwa perkataannya bisa membuat semangat Nasha untuk berubah menguap begitu saja?
Tiba-tiba pintu terbuka. Air mata Nasha sudah menggenang dan bersiap untuk jatuh. Tetapi, Nasha tidak ingin orang lain melihatnya. Nasha berusaha sekuat tenaga supaya air matanya itu tidak jatuh begitu saja.
__ADS_1
“Gue rasa, lo udah keterlaluan.”
Nasha kenal dengan suara itu. Itu Galih. Kakak kelas sekaligus wakil ketua OSIS.
Rival mendesis, “Keterlaluan? Gue atau dia yang keterlaluan?” tanya Rival sambil menunjukan jari telunjuknya pada Nasha.
“Lo tenangin diri lo dulu. Biar gue yang ngomong sama Nasha,” ucap Galih sambil menarik lengan Nasha.
Saat keluar dari ruang OSIS, Nasha sudah tidak bisa lagi menahan air matanya. Ia menangis dalam diam di belakang punggung Galih dengan tangannya yang masih ditarik lembut.
“Kak…” panggil Nasha. Suaranya serak karena menangis.
Galih menghentikan langkahnya. Ia lalu berbalik dan menatap Nasha dengan iba. Rasanya, Galih lebih cocok menjadi Ketua OSIS ketimbang Rival yang tempramental.
“Apa gak bisa lo lawan Rival, hm?”
Nasha terkejut. Ia menatap Galih dengan bingung. “Maksud kakak?”
“Lo sadar, kan? Ucapan Rival, tuh, keterlaluan dan lo malah diem aja? Dihina gitu lo diem aja?”
Nasha menghapus air matanya. Ia lalu tersenyum manis menatap Galih yang sangat baik terhadapnya. Ia lalu menggeleng pelan, “Aku yang salah, kak. Kak Rival emang pantes marah sama aku.”
Galih diam menatap Nasha. Setelah di hina seperti tadi, Nasha masih saja menyalahkan dirinya dan menganggap perlakuan orang lain terhadap dirinya benar. Padahal jelas kalau Rival berbuat salah.
“Aku boleh tau temen-temen aku kemana, kak?”
Nasha hanya diam sambil memainkan tali sepatunya. Kini ia sedang duduk sila dipojok Aula. Teman-temannya dan pengurus yang lain sedang sibuk membahas kepanitiaan sambil mempersiapkan apa yang perlu dibeli dan dibuat.
Namun, ada dua orang yang tiba-tiba duduk di dekatnya. Nasha hanya memutar malas bola matanya. Itu temannya. Teman kelas sekaligus teman OSIS-nya. Agatha Fiona Lansonia dan Aulia Calista Jasmine.
Nasha sedang tidak ingin diganggu, ia juga ingin sendiri. Tetapi, ia tidak bisa mengacuhkan teman-temannya itu. Sudah untung masih ada yang perhatian pada dirinya.
"Lo dimarahin lagi sama Kak Rival, Sha?" tanya Fiona.
Nasha hanya menggangguk pelan membenarkan.
"Tapi lo gak diapa-apain 'kan sama Kak Rival?" tanya Calista
Nasha menoleh menatap lemas pada Calista, "Gue disuruh ngundurin diri, Cal."
Fiona dan Calista saling tatap. Mereka bingung harus menanggapi seperti apa. Apakah mereka harus senang karena nanti Nasha tidak akan dimarahi lagi oleh Rival, atau mereka harus sedih karena secara tidak langsung Nasha dipecat?
"Gue dulu kesurupan apa, sih, sampe bisa nyalonin OSIS kaya gini? Mana kepilih juga."
"Seinget gue, lo yang paling semangat daftar OSIS, deh, Sha. Gue hampir mundur dulu tapi lo bujukin gue terus," jawab Fiona.
__ADS_1
"Lo juga yang paling rajin sampe baca-baca buku tentang kepengurusan OSIS sebelum tes tulis," tambah Calista.
Nasha menghela nafasnya. Ia mengacak rambutnya frustasi. Benar apa yang dikatakan teman-temannya itu. Ia 'pun masih ingat bagaimana ia mengajak kedua temannya untuk pergi ke perpustakaan dan membaca buku-buku tentang OSIS.
"Sial!"
Galih bersama Rival masuk ke dalam aula. Tetapi, Nasha tidak mau tau soal itu. Ucapan Rival tadi — saat rival memintanya untuk keluar dari kepengurusan — masih terngiang di telinganya.
Beragam pertanyaan tiba-tiba saja muncul di benaknya. “Mengapa ia menjadi pengurus OSIS? Mengapa ia bisa lolos seleksi pengurus OSIS? Mengapa ia ada disini dan menjadi bagian dari kepengurusan OSIS?”
Nasha menghela nafasnya. Terdengar samar-samar suara Kak Tasya—sekretaris OSIS yang sangat ramah.
“Kami sudah berdiskusi bahwa, acara ini akan dipimpin langsung oleh kalian, kelas sebelas. Dan kami, hanya akan mengawasi dan membantu bila kalian menemukan kesulitan.”
Fiona, Calista, dan Nasha saling tatap. Semua teman-teman seangkatannya terlihat sama terkejutnya dengan mereka. Tetapi, ada pula yang senang karena hal ini dijadikan ajang untuk membuktikan diri.
Namun, lagi-lagi Nasha tidak mau tau soal itu. Sudah sangat jelas Nasha telah diusir dari kepengurusan ini langsung oleh ketua OSIS nya. Lalu, yang seharusnya Nasha lakukan hanyalah memberikan surat pengunduran diri dan menunggu sidang pemecatan.
Fiona mendekat pada Nasha dan Calista, "Liat, deh, itu si Liana. Yang lain pada kebingungan dia malah seneng. Aneh gak, sih?" bisiknya.
Nasha hanya menggeleng pelan. Malas untuk menanggapi.
"Dia 'kan mau jadi inti OSIS tahun depan. Ya, wajar aja kali kalau dia caper dari sekarang," balas Calista membuat Fiona mengangguk paham.
Nasha hanya menunduk lesu. Ia tidak peduli dengan apa yang sedang dibicarakan oleh kedua temannya itu. Yang ia pikirkan sekarang adalah bagaimana cara membuat surat pengunduran diri yang baik dan benar hingga tidak menimbulkan kontroversi.
Rival tiba-tiba saja naik ke panggung membuat Tasya mau tidak mau untuk mundur dan menyerahkan mic pada Rival.
“Untuk susunan panitia, gue serahin semua sama kalian. Tapi, gue punya satu permintaan. Boleh, ya?” tanya Rival dengan ramah.
Nasha memutar malas bola matanya. Rasanya Nasha sangat enek mendengar suara Rival yang dibuat-buat ramah. Pada kenyataan nya, Rival tidak se-ramah itu.
“Boleh,” jawab mereka kompak.
“Gue pingin, ketua divisi acara kegiatan ini dipimpin oleh...” ucapnya menggantung sambil tersenyum sok-tampan pada pengurus OSIS dihadapannya, "Nasha."
Nasha mendongak saat namanya dipanggil. Ia masih linglung dengan apa yang dikatakan oleh Rival barusan. Ia menoleh pada Fiona dan Calista, dan mereka 'pun sama bingungnya dengan Nasha.
Nasha mendesah tidak percaya. Jelas, Rival sangat ingin menyiksanya. Semua pengurus OSIS, bahkan satu sekolah pun tau kalau Nasha suka terlambat. Baik itu terlambat masuk sekolah, maupun terlambat mengikuti rapat. Tetapi, sekarang...
"Sial lo, Rival." Gerutu Nasha dalam hati.
“Gimana Nasha? Lo gak akan nolak, kan?”
Nasha benar-benar enek mendengar suara Rival yang dibuat selembut mungkin. Ia lalu menarik sedikit sudut bibirnya secara terpaksa. Dan hal itu membuat Rival menepuk tangannya sendiri.
__ADS_1
“Bagus, Nasha! Gue menantikan konsep acara yang luar biasa.”