VACILANTE : IMPERFECT

VACILANTE : IMPERFECT
33 - The Real Imagination


__ADS_3

Beberapa siswa kini berlalu lalang dengan kesibukannya masing-masing. Sebagian besar dari mereka memakai kemeja putih bercorak hitam bertuliskan 'Seni Musik', beberapa lainnya memakai kemeja biru bertuliskan 'Paduan Suara', dan sisanya memakai kaos berwarna merah, dengan sampur di pinggangnya.


Cuaca hari ini cukup cerah, seakan mendukung keberlangsungan acara hari ini. Panggung sekolah pun sudah dihias sedemikian rupa, menampilkan panggung yang begitu indah dan seni khas Sunda yang tidak ditinggalkan. Dan kini, Alvin beserta teman-teman satu grupnya sedang sibuk mempersiapkan alat musik di atas panggung. Penampilan pertama akan diisi oleh Alvin dan grupnya.


"Gimana? Semuanya udah lengkap?" tanya Alvin pada beberapa temannya, yang kini sama-sama sedang sibuk memeriksa alat musiknya masing-masing.


"Aji belum ada kabar," jawab Doni—teman satu grup band Alvin.


Alvin berdecak sambil berkacak pinggang. Sisa waktu menuju tampil hanya tinggal satu jam lagi. Jika Aji datang terlambat, kemungkinan semuanya akan kacau. Aji belum memeriksa alat musik yang akan ia pakai. Apalagi jika Aji tidak berniat hadir pada acara hari ini. Alvin dan teman-teman satu grupnya yang akan kena imbasnya.


"Alvin," panggil seseorang dari pinggir lapangan.


Alvin menoleh, wajahnya tiba-tiba saja mengulas sebuah senyuman. Rasa penat sekaligus kesal tiba-tiba hilang setelah melihat senyuman manis dari seseorang yang akhir-akhir ini memenuhi hatinya. Alvin lalu meletakkan gitar yang sedari tadi berada di bahunya. Kakinya melangkah, mendekat pada seseorang dengan kaos kebesaran berwarna putih, dan jeans hitam yang melekat di tubuhnya.


"Nasha," panggil Alvin membuat senyum Nasha semakin merekah.


"Lo tampil kapan?" tanyanya sembari memerhatikan Alvin yang mencoba turun dari panggung.


"Gue tampil pertama, Sha," jawabnya. Tangannya terangkat menyentuh dadanya sendiri, "Deg-degan."


"Jangan deg-degan. Lo kan udah biasa tampil sambil nyanyi. Kalau lo deg-degan artinya lo gugup. Kalau lo gugup, bisa-bisa ada sesuatu yang bakal terjadi."


Alvin tersenyum tipis, "Ya, meskipun udah biasa, kesalahan itu bisa terjadi kapan aja, kan?"


Nasha mengangguk, "Ya tapi lo gak boleh buat kesalahan, kan ada gue yang nonton lo."


Deretan gigi Alvin yang rapih kembali menghiasi wajah Alvin. Tangannya terulur, mengacak-acak rambut Nasha gemas, "Tadi berangkat sama siapa?"


Sebelum menjawab, Nasha memutar kepalanya kesana kemari mencari seseorang yang tadi sudah berbaik hati mengantarnya, "Sama pacar baru."


"Pacar baru?" Jantung Alvin tiba-tiba saja berpacu dengan cepat. Ia takut, alasan Nasha menolaknya karena Nasha ingin bersama Galih, bukan bersama dirinya. Ia juga takut, bahwa ketakutan itu akan menjadi kenyataan. Ia tidak siap. Ia tidak siap melihat Nasha dimiliki orang lain.


Bisa Alvin lihat Devan kini sedang melangkah mendekati Alvin dan Nasha membuat Alvin mengernyit kebingungan. "Tadi berangkatnya sama Devan," jawab Nasha.


Alvin berkacak pinggang sembari menatap Devan yang kini sedang tertawa pelan. Ia juga memerhatikan Nasha yang kini sedang tertawa kegelian. Nasha merasa begitu lucu melihat Alvin, baru dibercandakan sedikit, wajahnya sudah memerah karena kebingungan.


"Gak lucu, ya, Nasha!"


Nasha menghentikan tawanya. Ia lalu menatap Alvin dengan lekat, "Lo takut gue dateng sama siapa, Vin?"


"Sama yang bener-bener bisa jadi pacar lo."


"Kak Galih?" tanya Nasha membuat Alvin hanya diam menatapnya, "Setelah selesai acaranya, balik sama gue ya? Gue mau bilang sesuatu sama lo," tambahnya.


Detik selanjutnya Nasha menarik Devan untuk pergi menemui teman-temannya yang lain, dan duduk di kursi penonton. Alvin yang kini diliputi rasa penasaran, kembali pada teman-temannya untuk mempersiapkan penampilannya. Ia ingin segera menyelesaikan acaranya. Ia ingin dengar apa yang hendak dibicarakan oleh Nasha.


"Selamat pagi, para penonton kami yang terhormat," sambut MC.


"Van," panggil Nasha.


Sang pemilik nama menoleh, meminta Nasha untuk melanjutkan perkataannya. Nasha menoleh menatap Devan sebelum melanjutkan perkataannya, "Kalau ada pengurus yang pacaran, lo gak masalah?"


Devan terdiam sebentar sembari berpikir, "Jujur, gue gak masalah. Lagian kita juga udah pada gede. Rasanya kurang pantes kalau urusan pribadi kaya pacaran itu diatur-atur sama orang lain. Gue gak masalah mau ada pengurus yang pacaran atau apapun, asalkan dia bisa profesional sama tugasnya."


"*Penampilan pertama ini akan diisi dari ekstrakurikuler seni musik. Dan pastinya, kalian tau deh siapa yang akan tampil."


"Grup band ini udah cukup dikenal ya di sekolah kita, apalagi semenjak salah satu personelnya menjadi bagian dari kepengurusan OSIS."


"Oke, kayaknya kita gak perlu lama-lama lagi, langsung kita panggilkan,"


"THE JUSTICE*!"


Nasha, dan teman-temannya yang lain bertepuk tangan dengan meriah saat Alvin dan teman-temannya naik ke atas panggung. Alvin sebagai vokalis sekaligus gitaris langsung menempati posisi paling depan. Dan dari atas panggung, ia dapat melihat Nasha dengan sangat jelas.


"Tes," ucapnya memeriksa mic yang ada di hadapannya, "Kami dari The Justice, dan kami akan membawakan sebuah lagu yang menarik. Selamat menikmati, semoga teman-teman semua suka dengan lagunya. Imagination oleh Shawn Mendes."


Alvin mulai memainkan gitarnya sebagai nada intro. Tubuhnya ia arahkan pada teman-temannya, dan setelah nada intro telah selesai, ia menghadap ke arah depan sembari menatap Nasha dengan senyuman manis di wajahnya.


*Oh, there she goes again


Every morning it's the same


You walk on by my house


I wanna call out your name


I want to tell you how beautiful you are from where I'm standing


You got me thinking what we could because


I keep craving, craving, you don't know it but it's true

__ADS_1


Can't get my mouth to say the words they want to say to you


This is typical of love


Can't wait anymore, I won't wait


I need to tell you how I feel when I see us together forever


In my dreams you're with me


We'll be everything I want us to be


And from there, who knows, maybe this will be the night that we kiss for the first time


Or is that just me and my imagination*


"Kalau lo suka sama Alvin, jangan ditahan," ucap Devan tiba-tiba, membuat Nasha menoleh sembari mengernyit.


"Maksud lo?"


"Apapun keputusan lo, gue dukung. Tapi bukannya lebih baik kalian bersama, ya?"


"Terima Alvin maksudnya?"


Devan mengangguk mantap, "Lo juga keliatan suka, tuh."


We walk, we laugh, we spend our time walking by the ocean side


Our hands are gently intertwined


A feeling I just can't describe


All this time we spent alone, thinking we could not belong to something so damn beautiful


So damn beautiful


"Bersama," ucap Alvin disela-sela nyanyinya.


I keep craving, craving, you don't know it, but it's true


Can't get my mouth to say the words they want to say to you


*This is typical of love


Can't wait anymore, I won't wait


I need to tell you how I feel when I see us together forever


In my dreams, you're with me


We'll be everything I want us to be


And from there, who knows, maybe this will be the night


That we kiss for the first time


Or is that just me and my imagination


Imagination


Imagination


(Whoa, whoa, whoa*)


"Iya, Van. Gue suka sama Alvin, dan gue gak bisa nolak Alvin."


*In my dreams, you're with me


We'll be everything I want us to be


And from there, who knows, maybe this will be the night


That we kiss for the first time


Or is that just me and my imagination


I keep craving, craving, you don't know it, but it's true


Can't get my mouth to say the words they want to say to you*


Suasana kini digantikan dengan tepuk tangan yang begitu meriah dari penonton. Alvin menjauhkan dirinya dari stand mic. Teman-temannya juga menghampirinya ke tengah panggung. Beberapa detik selanjutnya mereka menunduk bersama sebagai rasa terima kasih atas apresiasi dari penonton.

__ADS_1


Alvin dan teman-temannya turun setelah MC naik ke atas panggung. Dapat Nasha lihat Alvin yang sedang tersenyum puas pada teman-temannya. Ia ingin sekali menarik Alvin dan membawanya pergi dari sini. Hal yang ingin ia bicarakan sebelumnya, ingin segera ia katakan pada Alvin, ia tidak bisa menunggu lagi.


Namun, baru saja Nasha bangkit dari duduknya, ia sudah melihat Alvin berjalan ke arahnya. Devan dan teman-temannya yang lain pun ikut bangkit, menyambut Alvin yang tampil sangat keren.


"Lo keren banget, Vin!" puji Fiona sembari mengacungkan kedua jempolnya.


"Gue jadi ngefans sama lo, Vin," tambah Liana.


Alvin tertawa pelan, "Bisa aja kalian!"


"Lainkali, bikin project bareng, yu?" tawar Liana.


"Nanti bikin band OSIS, sekalian!" sindir Devan.


"Nah, bagus. Nanti tampilnya di pinggir jalan, sekalian tambah-tambah buat pensi," balas Angel membuat semua teman-temannya tertawa.


Perkataan teman-temannya itu seakan tidak ada apa-apanya bagi Alvin. Ia kini sibuk memandangi Nasha yang juga menatapnya. Nasha tidak ingin berkomentar apapun, ia ingin memuji Alvin, namun tidak sekarang.


"Kayaknya ada yang harus lo beresin, Vin," ucap Devan memberi kode.


Alvin mengangguk, detik berikutnya ia meraih lengan Nasha, "Ayo!"


°°°


Nasha dan Alvin kini berjalan beriringan, di sebuah jembatan, dengan teras berwarna-warni, di tengah kota bandung. Cuaca hari ini memang begitu pas. Meskipun di siang hari, Alvin dan Nasha tidak merasa kepanasan. Mungkin, karena sedikit berawan.


Alvin menghentikan langkahnya, dan bersandar pada pagar pembatas. Ia kemudian memerhatikan gedung dan toko di sekitarnya. Ia juga memerhatikan pemandangan kota Bandung yang begitu indah. Tiba-tiba hatinya merasa tenang, juga ada sedikit rasa senang.


"Vin," panggil Nasha, dan Alvin menoleh.


"Tunggu-tunggu," ucap Alvin sembari menunjukkan telapak tangannya, "Gue belum siap!"


Nasha tertawa pelan, "Belum siapnya tuh kenapa, Vin?"


Alvin memerhatikan wajah Nasha yang kini masih berhiaskan sebuah senyuman, "Lo gak akan minta gue buat jauhin lo, kan?"


"Umm...," ucap Nasha sembari memainkan jari telunjuknya pada dagunya.


"Gue kan gak lakuin apa-apa. Emang gue bikin kesalahan, ya, Sha?"


Nasha tertawa pelan. Alvin terlalu negative thinking. Semua ketenangan dan senyumnya hari ini ternyata palsu. Di balik itu semua, Alvin sedang bersusah payah menutupi kegugupannya karena ucapan Nasha yang sakral. "Gue mau bilang sesuatu sama lo."


"Vin," panggil Nasha. Alvin hanya diam meminta Nasha untuk melanjutkan perkataannya.


"Gue udah mutusin, gue gak mau jadi temen lo."


Alvin mengernyit, "Setelah lo tolak gue jadi pacar, lo nolak gue jadi temen juga? Lo tega banget, Sha."


Nasha menggeleng pelan, "Gue kan udah bilang, gue gak pernah nolak lo."


"Maksud, lo?"


"Gue gak mau jadi temen lo, gue maunya jadi pacar lo."


Mendengar hal itu membuat bibir Alvin mengulas sebuah senyuman. Senyuman malu-malu. Bahkan wajah Alvin sedikit memerah. Penantiannya selama ini akhirnya membuahkan hasil.


"Waktu itu lo nanya kan sama gue? So would—"


"Would you be mine?" potong Alvin membuat Nasha mengulum senyumannya.


"I'm yours, Vin."


-


*Pertemuan kita begitu mudah, hingga semua orang mungkin pernah mengalami hal serupa.


Dan hal itu pula yang membuatku takut.


Takut dengan kemungkinan bahwa perpisahan kita, akan semudah pertemuan kita.


Namun, aku boleh memiliki sebuah keinginan, kan?


Sampai pada kita akhirnya memilih berpisah, aku ingin menghiasi hubungan kita dengan hal-hal menyenangkan. Berbagi canda, tawa, kesedihan, juga saling bergantung satu sama lain.


Aku yakin, hubungan yang kami jalin tidak akan mudah. Kita harus saling memahami satu sama lain, dan terikat dengan tanggungjawab dari jabatan yang kita emban.


Sampai pada akhir kisah ini, aku harap, pilihanku tidak menimbulkan penyesalan.


-


**Selesai***.

__ADS_1


__ADS_2