VACILANTE : IMPERFECT

VACILANTE : IMPERFECT
10 - Mungkin Diterima


__ADS_3

"Vin, sorry, ya. Gue gak bisa pulang bareng lo. Lo duluan aja. Hati-hati, ya!"


Kalimat itu terus saja terulang di benak Alvin. Baru lima menit Alvin membiarkan Nasha pergi, rasanya ada yang tidak beres. Perasaannya tidak enak, dan ia takut terjadi sesuatu hal pada Nasha.


Alvin langsung menyimpan sapu dan beranjak pergi ke ruang OSIS untuk mengambil tas dan helmnya. Setelah itu, ia langsung pergi dan berniat mengejar Nasha. Beruntung, Galih tidak membawa motornya dengan kecepatan tinggi sehingga Alvin masih bisa mengejar mereka.


"Lo, kan, lagi ada masalah sama dia. Kenapa lo terima ajakan dia? Kalau lo kenapa-napa gimana coba!"


Alvin menggeleng pelan. Ia harus menepis pemikiran seperti itu. Mau bagaimanapun, Galih dan Nasha saling kenal lebih dulu ketimbang dirinya dan Nasha. Yang seharusnya berhati-hati itu bukan Nasha terhadap Galih, tapi Alvin terhadap Nasha. Alvin seharusnya takut, kalau ia akan menghancurkan hubungan yang akan terjalin.


Galih menghentikan motornya di depan sebuah taman. Alvin 'pun menghentikan motornya cukup jauh dari keberadaan mereka. Takut, kalau Nasha akan melihat perkelahian antara Galih dan dirinya.


"Sha, maaf."


Alvin semakin mendekatkan dirinya. Ia memilih bersembunyi di balik pohon yang berada cukup dekat dari posisi Galih dan Nasha sekarang.


"Udah buat kamu kesulitan akhir-akhir ini."


Alvin tertawa dalam hati, "Kalau lo tau kenapa masih deketin Nasha sekarang?" bisiknya.


"*Gak 'pa-pa, kok. Kenapa minta maaf coba?"


"Kalau aja aku gak kasih saran ke Rival, kamu gak akan kesulitan, Sha. Maaf, ya?"


"Gak 'pa-pa, Kak. Ya, berkat kakak aku jadi tau banyak hal. Mulai dari kerjasama tim, kekompakan, komunikasi, dan keseriusan dalam melakukan sesuatu. Kalau bukan karena kakak, mungkin sampai akhir jabatan aku gak akan pernah tau arti dari sebuah 'pengurus OSIS' itu apa*."


"Maaf juga udah salah paham soal kamu sama Alvin."


Alvin membulatkan matanya saat namanya disebut, "Sialan lo, Lih. Malah bawa-bawa gue!"


"*Sha,"


"Aku pingin lindungi kamu dimasa depan, aku pingin jadi seseorang yang kamu andalkan, dan aku pingin jadi orang yang berhak cemburu kalau kamu deket sama orang lain."


"Jadi pacar aku, ya*?"


Alvin menjauhkan badannya dari pohon. Ia lalu menatap Nasha dan Galih yang kini saling pandang. Ia tersenyum kecut. Harusnya ia tidak datang ke sini. Harusnya ia membiarkan Nasha dan Galih berduaan. Siapa dia sampai-sampai ia mengganggu momen ini.


"Kak? Serius?"


Alvin melangkahkan kakinya kembali ke tempat motornya disimpan. Ia tidak boleh mendengar hal itu lebih jauh. Mereka perlu privasi. Apalagi dari orang seperti Alvin, bukan siapa-siapa.


°°°


Alvin berjalan gontai mengitari sekolah. Kejadian kemarin malam membuat mood-nya hilang. Program kerja kemarin adalah program kerja terakhir dari angkatan Rival. Sudah bisa dipastikan bahwa akan ada kumpul lagi hanyalah sidang pemecatan anggota tidak aktif, dan presentasi laporan pertanggung jawaban oleh inti OSIS. Setelah itu, akan ada pelantikan OSIS baru. Dan dengan begitu, tidak ada lagi alasan untuk Alvin dekat dengan Nasha.


Alvin menendang batu-batu kecil di sekitarnya. Lapangan hari ini sangat sepi, maka dari itu ia bisa bebas menendang apa saja yang ada di sana. Tidak akan ada yang protes juga.

__ADS_1


"Aw!"


Alvin membulatkan matanya terkejut. Ia langsung mencari letak seseorang yang tadi memekik kesakitan. Dan ia menemukan seorang cewek yang sedang duduk di bangku taman sambil mengusap-usap kepalanya.


"Ah, sial!"


Alvin mendekat pada cewek itu. Jantungnya tiba-tiba saja berpacu dengan cepat. Ia gugup. Cewek yang biasa ia jahili kini sudah milik orang lain. Dengan begitu ia harus tau batasan. Ia harus menjauh dari cewek itu.


"Sorry, gue gak sengaja."


Nasha menoleh dan tersenyum pada Alvin, "Lo ngapain pake nendang batu segala sih Vin? Kurang kerjaan banget!" canda Nasha.


Alvin memalingkan tatapannya. Ia tidak mau membalas candaan Nasha. Bisa-bisa nanti ia akan mengobrol panjang dengan Nasha, dan membuat ia tidak bisa melepaskan Nasha untuk dimiliki orang lain.


"Gue kan udah minta maaf," kata Alvin dingin. Ia lalu berlalu pergi meninggalkan Nasha yang keheranan.


Nasha mengernyit kebingungan. Ternyata apa yang dipikirkannya benar. Setelah acara kemarin, Alvin akan kembali menjadi Alvin yang sesungguhnya. Alvin yang tidak mengenal dirinya, dan Alvin yang dingin.


Lalu sekarang, apa alasan Ia menunggu Alvin? Bukankah sudah jelas bahwa Alvin tidak menyukainya? Apakah Ia harus pasrah, dan pergi meninggalkan Alvin begitu saja?


Nasha merapikan buku-buku yang sebelumnya ia baca, dan bangkit dari duduknya. Baru beberapa meter ia melangkahkan kakinya, Galih datang menghampirinya sambil tersenyum manis. Ia bingung, perasaannya sedang kacau. Ia tidak bisa tersenyum seperti biasanya. Tapi, Galih tidak salah. Ia hanya menyukainya meskipun ia menyukai orang lain.


"Mau ke kelas?" tanya Galih sambil berjalan di samping Nasha.


Nasha hanya mengangguk sambil tersenyum.


Nasha menggeleng cepat, "Gak usah, Kak. Gak 'pa-pa. Aku juga bisa sendiri, kok."


Galih mengangguk paham sambil tersenyum, "Kamu belum mau kasih jawaban, ya, Sha?"


Mendengar hal itu, Nasha menghentikan langkahnya. Ia lalu menoleh menatap Galih dengan lekat. Ia sadar, bahwa ada seseorang yang menyukainya, mengapa ia perlu repot untuk menyukai orang lain yang jelas tidak menyukainya?


Nasha mengangguk, "Iya, kak."


Galih mengernyit, "Iya? Maksudnya kamu belum punya jawaban?"


Nasha tersenyum manis, "Maaf, kak. Tapi aku gak bisa."


Galih tersenyum kecut, "Kenapa?"


"Mungkin ini terdengar seperti alasan, tapi ini perasaan aku sebenarnya. Aku suka sama orang lain. Maaf, Kak."


Galih tersenyum tipis, dan menggeleng, "Gak 'pa-pa, gak ada yang perlu dimaafin. Perasaan itu gak ada yang tau. Tapi, Sha," ucap Galih menggantung, meminta Nasha untuk menoleh padanya, "Aku boleh, kan, berusaha buat kamu suka sama aku?"


Nasha tersenyum. Ia bingung harus menjawab apa, "Tapi aku gak yakin dengan perasaan aku di masa depan."


"Gak 'pa-pa, sekarang ayo ke kelas!" ajak Galih dan dijawab anggukan.

__ADS_1


Galih dan Nasha berjalan beriringan. Semua siswi memperhatikan mereka dengan saksama. Mata mereka juga tak lepas dari Nasha. Galih terbilang populer. Bahkan, saat MOS kemarin, yang paling populer bukan ketua OSIS, melainkan Galih. Katanya, Galih lebih terlihat boyfriendable karena tubuhnya yang tegap, badannya yang tinggi, wajahnya yang tampan, dan senyumnya yang manis.


"Nanti sepulang sekolah ada pembagian formulir untuk OSIS baru. Kamu ikut, kan?" tanya Galih saat mereka sampai di depan kelas Nasha.


Nasha menggeleng lemah, "Gak tau, aku bingung."


Galih mengernyit, "Bingung kenapa?"


"Semua temen-temen aku katanya mau nyalonin diri jadi inti OSIS. Kalaupun aku ikut nyalonin jadi inti OSIS, aku bingung jadi apa. Dan, kalau aku gak nyalonin jadi inti OSIS..." ucapnya menggantung, "Kakak tau sendiri kan perbedaan sikap inti OSIS ke pengurus biasa kayak gimana."


"Mereka emang keliatan beda, tapi sebenernya engga, kok. Apalagi, ke temen sendiri," balas Galih sambil mengingat-ngingat, "Kalau kamunya mau lanjut gak jadi pengurus OSIS? Kalau kamunya gak mau, ya, jangan dipaksa. Tapi kalau kamunya mau, dateng aja nanti."


Nasha mengangguk paham, "Aku coba pikirin dulu, ya?"


Galih mengangguk paham. Detik berikutnya ia melambaikan tangannya dan menjauh dari kelas Nasha. Nasha hanya tersenyum dan berbalik untuk masuk ke kelasnya sendiri. Dan, ia disambut tatapan jahil dari kedua temannya, Fiona dan Calista.


"Cie... bau-bau jadian, nih!" goda Fiona sambil terkekeh.


Calista melingkarkan tangannya di tangan Nasha, dan membawanya masuk ke dalam kelas, "Lo jadian sama kak Galih, Sha?"


Nasha tersenyum tipis dan menggeleng membuat kedua temannya menatap sedih.


"Tapi, Sha," ucap Calista menggantung, "Lo ngerasa gak, sih, kalau Alvin suka sama lo?"


Nasha diam saat Calista menyebut nama Alvin. Ia 'pun bingung harus menjawab apa. Jika apa yang dikatakan Calista benar, lalu mengapa Alvin berubah.


"NASHA!"


Baru saja Nasha akan duduk di kursinya, ia sudah dikejutkan oleh teriakan seseorang yang memanggil namanya. Matanya menyilik ke arah pintu dan beberapa detik setelahnya, matanya membulat karena terkejut dengan siapa yang datang.


Dengan cepat Nasha menghampiri orang itu, "Alvin?"


Alvin tersenyum tipis, "Gue mau ngomong sesuatu sama lo." Nasha mengangguk mempersilahkan Alvin untuk melanjutkan perkataannya.


"Gue mau mencalonkan diri jadi ketua OSIS," ucapnya membuat Nasha menutup mulutnya yang setengah terbuka.


"Serius? Lo serius mau jadi ketua OSIS?" tanya Nasha tidak percaya. Namun, Alvin mengangguk begitu pasti.


"Gue dukung lo, Vin. Lo emang pantes jadi ketua OSIS. Semangat ya, Alvin."


Alvin mengangguk, "Makasih. Tapi, bukan itu aja yang mau gue omongin ke lo."


Nasha mengernyit, "Terus? Apa lagi?"


Alvin menghela nafasnya, "Gue pingin lo jadi sekretarisnya, Sha."


"Karena gue mau, lo selalu ada di samping gue."

__ADS_1


To be Continued


__ADS_2