
"Nasha!"
Nasha mengerjap. Ia terkejut dengan panggilan yang tiba-tiba itu. Kakinya yang sebelumnya melangkah menuju ruang kelas juga terhenti. Itu temannya, salahsatu teman kelasnya sekaligus teman OSIS-nya, Fiona.
Fiona sedikit berlari menghampiri Nasha yang masih terdiam di depan pintu ruang kelas. Di belakangnya terdapat Calista yang juga ikut berlari mengejar Fiona. Nasha sudah memastikan bahwa yang akan dibahas Fiona adalah masalah kemarin, saat Nasha mengatakan 'maaf' pada pernyataan cinta Alvin.
"Lo yakin sama jawaban lo kemarin, Sha?" tanya Fiona sesaat setelah sampai di hadapan Nasha, "Lo nolak Alvin? Bukannya lo juga sama Alvin?"
"Meskipun lo temen gue, lo tega banget, Sha. Alvin udah ngilangin rasa malunya demi ungkapin perasaannya dia ke lo. Tapi, lo kok malah gitu, sih?" tambah Calista.
Nasha menghela nafasnya. Ia lalu kembali melangkahkan kakinya menuju ruang kelas. Memangnya siapa yang tidak akan menyukai Alvin jika Alvin bersikap semanis itu? Nasha hanya perlu waktu untuk menyelesaikan kesalahpahaman antara dirinya dengan Galih.
"Sha...," panggil Fiona sembari duduk di hadapan Nasha. Nasha menyimpan tasnya dan duduk di kursinya. Ia lalu menatap Fiona yang kini menatapnya penuh harap.
"Gue tau, gue salah karena gak kasih jawaban bagus buat Alvin. Tapi, kalian kan temen gue, Fi, Cal. Harusnya kalian dukung gue, bukan dukung Alvin kayak gitu."
Calista dan Fiona saling tatap, detik selanjutnya mereka menghela nafasnya karena bingung harus bersikap apa pada Nasha agar Nasha mau menceritakan alasan ia menolak Alvin.
"Iya, sorry, Sha. Harusnya kita dengerin dulu alasan lo nolak Alvin," ucap Calista sembari menunduk.
"Lagian kita kaget, lo sama Alvin udah deket banget. Dan gue pikir, gak ada alasan buat lo nolak Alvin. Kecuali lo punya cowok lain," tambah Fiona.
Nasha menghela nafasnya dan menggeleng pelan, "Emang gak ada alasan gue nolak Alvin. Tapi, itu kalau gue hanya memikirkan hari ini, dan hanya hidup untuk hari ini."
Fiona mengernyit, "Maksud, lo?"
Nasha terdiam. Meskipun ia ingin menceritakan alasan ia menolak Alvin, ia rasa apa yang dipikirkannya lebih baik disimpan dalam dirinya sendiri. Teman-temannya sudah kesulitan dengan permasalahan hidupnya masing-masing, dan Nasha sebagai teman yang baik tidak perlu menambah masalah itu. Nasha sudah dewasa, umurnya bahkan hampir menginjak tujuh belas tahun.
"Gak, Fi," jawabnya setelah beberapa menit terdiam.
Fiona dan Calista menghela nafas bersamaan. Detik berikutnya mereka memutar badannya, dan duduk dengan lebih baik. Jika dipaksa pun, Nasha tidak akan menceritakan apa yang menjadi alasan ia menolak Alvin. Maka dari itu, lebih baik mereka menunggu sampai Nasha sendiri yang akan menceritakannya.
"Nasha," panggil seseorang dari ambang pintu. Nasha yang baru saja mengeluarkan catatan biologinya, menoleh.
"Alvin," gumamnya.
Nasha menyimpan catatan biologinya di atas meja. Ia kemudian bangkit, menghampiri Alvin yang kini tersenyum manis. Ada apa dengan Alvin? Sudah ditolak kenapa masih bisa tersenyum? Apa Alvin tidak serius dengan perkataannya kemarin? Apa pernyataan cintanya itu hanya bualan semata?
"Nasha," panggilnya lagi.
"Lo ngapain kesini, Vin?"
__ADS_1
Alvin mengernyit, "Gak boleh emangnya?"
Nasha menggeleng pelan, "Bukan gitu."
"Terus?"
Nasha terdiam. Bingung pertanyaan apa yang pantas ia lontarkan pada seseorang yang kemarin baru ia tolak pernyataan cintanya, "Gak jadi, deh."
Alvin tertawa pelan, ia tau maksud Nasha, "Meski lo nolak gue kemarin, bukan berarti pertemanan kita udahan, kan?"
Nasha mengangguk pelan, "Iya, sih. Tapi gak canggung gitu? Kok, gue canggung, ya?"
Alvin lagi-lagi tertawa pelan. Sejujurnya ia canggung, sangat. Tetapi, ia harus tau konsekuensi dari pernyataan cinta. Jika diterima maka ia akan senang, jika ditolak ia tidak boleh benci.
"Gak, dong, emangnya lo."
Fiona mendekatkan dirinya pada Calista yang kini tatapan matanya tak lepas dari Alvin dan Nasha, "Gue yakin Nasha ada masalah, makanya nolak Alvin."
Calista mengangguk setuju, "Setiap gue liat mereka, gue gak pernah merasa liat cinta bertepuk sebelah tangan."
"Btw, Vin, lo mau ngapain kesini? Ada sesuatu?" tanya Nasha.
"Cuma mau kasih ini," jawab Alvin sembari memberikan sebungkus sandwich, "Lo tumben banget dateng pagi tanpa gue jemput, gue khawatir lo gak sarapan dulu."
"Makasih, ya, Vin."
"Sama-sama, Nasha," balas Alvin dengan senyum yang tak lepas dari wajahnya, "Gih, sana masuk. Gue mau ke kelas."
Nasha mengangguk. Detik selanjutnya Nasha memutar badannya untuk kembali ke tempat duduknya. Namun, baru satu langkah, Nasha sudah kembali memutar badannya dan menatap Alvin yang kini mengernyit kebingungan.
"Lo salah paham, Vin. Gue gak nolak lo, gue cuma butuh waktu."
°°°
Hembusan angin yang cukup kencang seakan menyapu isi pikiran yang begitu runyam. Rambut yang terurai bergerak kesana-kemari seakan menari dalam kesejukan. Kemeja putih juga rok abu pendeknya juga tidak ingin ketinggalan untuk menari.
Nasha memejamkan matanya, menikmati angin yang berhembus di siang hari yang panas ini. Atap sekolah akhir-akhir ini sedang menjadi tempat kesukaannya. Karena ia tau, ketenangan dan kesejukan hanya akan didapat jika ia berdiri di pinggir pembatas atap sekolah.
"Udah lama?" sapa seseorang membuat Nasha membuka matanya. Ia kemudian memutar badannya, menemukan sosok tegap yang sedang tersenyum manis ke arahnya, "Maaf, ya?" ucapnya lagi.
Nasha merapikan rambutnya yang berantakan karena terpaan angin. Tak lupa, ia menyelipkan sanak rambutnya pada belakang telinganya, sembari mengulum bibir sebelum menjawab, "Gak 'pa-pa, Kak."
__ADS_1
Galih melangkahkan kakinya mendekati Nasha yang kini sedang menunduk malu, "Tumben ngajak ngobrol disini, ada apa?" tanya Galih sembari menyandarkan tubuhnya pada pagar pembatas.
Nasha masih diam. Ia kesulitan merangkai kata-kata yang pas untuk membicarakan perihal hubungannya. Ia takut menyakiti perasaan Galih dan berakibat buruk ke depannya.
"Lo tau sendiri, kan, waktu istirahat itu gak lama?"
Nasha mengangguk membenarkan, "Karena itu, aku mau to the point."
Galih masih diam menunggu Nasha melanjutkan perkataannya. "Aku boleh tanya, perihal hubungan kita?"
Galih mengernyit, "Hubungan? Kita?" tanyanya ragu, dan Nasha mengangguk sebagai jawaban.
"Gue kira lo udah anggap kita gak ada hubungan apa-apa sejak masalah kemarin."
Nasha terdiam sebentar, "Tapi aku bukan tipe cewek yang lari dari masalah."
"Yah, i know."
"Masalah waktu itu—"
"Iya gue suka sama lo, Sha," potong Galih membuat Nasha menatapnya sendu. Nasha semakin dibuat bingung dengan pernyataan Galih yang tiba-tiba. Sekarang, ia harus apa? Tidak mungkin kan ia bilang kalau Alvin juga menyatakan cinta padanya?
"Tapi, entah perasaan darimana, gue tau lo gak punya perasaan yang sama kaya perasaan gue ke lo," tambah Galih membuat Nasha menunduk.
Galih tertawa pelan saat ia menyadari bahwa prediksinya ternyata benar, bahwa pikiran negatifnya selama ini menjadi kenyataan, "Gue kurang apa, sih, Sha? Semua orang suka sama gue, rebutin gue, dan pingin gue jadi pacarnya. Tapi, lo? Alasan lo gak suka gue apa?"
Nasha semakin bingung saat diberi pertanyaan bertubi-tubi oleh Galih. Ia semakin tidak bisa berbicara apa-apa karena takut menyakiti hati Galih.
"Karena Alvin? Bukannya kita lebih dulu deket?"
"Ini rumit, Kak," jawab Nasha setelah beberapa menit bungkam, "Cinta itu rumit, Kak," jawabnya lagi sembari menatap Galih dengan sendu, "Aku gak tau alasan aku gak menyimpan perasaan sama kak Galih. Aku juga gak bisa salahin soal kedekatan aku sama Alvin yang bisa ngalahin kedekatan aku sama kak Galih. Aku hanya tau apa kata hati aku."
"Dan hati lo bilang suka sama Alvin?"
"Sejujurnya aku pernah suka sama kak Galih, tapi perasaan itu hilang saat aku menemukan kenyamanan bersama kak Galih. Rasanya, aku gak mau kehilangan kak Galih."
Klise. Itu alasan yang dipakai kebanyakan orang saat menolak pernyataan cinta seseorang. Tapi mau bagaimana lagi, hanya itu yang bisa keluar dari bibir Nasha.
"Kedekatan aku dan Alvin kalau dibandingkan dengan kedekatan kita memang gak ada apa-apanya. Karena itu aku gak bisa nyimpen kak Galih disembarang tempat. Kak Galih punya tempat khusus di hati aku, dan aku gak bohong soal ini."
Nasha meraih tangan Galih dan mengusapnya lembut, sedangkan sang empunya hanya menatap Nasha dengan sendu, "Kak Galih selalu ada disaat aku sedih, senang, susah, dan gak pernah sekalipun ninggalin aku. Dan aku harap, Galih yang ada di hadapan aku ini akan tetap menjadi Galih yang aku kenal sebelumnya, untuk hari ini dan selamanya."
__ADS_1
To be Continued