
Hari ini hari yang indah. Sinar mentari begitu terik, namun angin tetap berhembus membuat tubuh tetap sejuk. Semua siswa kini telah berbaris di lapangan, menunggu acara program pertama OSIS yang baru terlaksana. Sumpah Pemuda.
Berbeda dari upacara yang lainnya, hari ini semua siswa memakai pakaian adat kesukaan ataupun kebanggannya. Dengan begitu, dapat dilihat bahwa warga SMA Genmi bukan hanya dari satu daerah, melainkan dari banyak daerah.
Seperti program-program OSIS yang lainnya, program hari ini pun akan dimulai dengan opening ceremony. Semua siswa telah mendengar rumor yang beredar, katanya OSIS bekerja sama dengan salah satu eksktrakurikuler seni untuk menampilkan sebuah parade.
"Acaranya ngaret, gak?" tanya Devan membuat Nasha yang sedari tadi sibuk membaca susunan acara menoleh.
"Ngaret 5 menit, tapi gak 'pa-pa. Katanya, penampilannya gak akan lama."
Devan mengangguk. Lantas ia kembali memperhatikan ekstrakurikuler seni yang sedang menampilkan parade bertemakan hari Sumpah Pemuda. Dapat Devan lihat bahwa semua siswa begitu antusias. Ia juga bisa melihat tidak satupun siswa yang tidak memakai pakaian adat.
Alvin menghampiri Nasha yang sekarang matanya tak lepas dari pandangan di hadapannya. Ia memberikan Nasha sebotol minum air putih, "Sha, minum dulu."
Nasha tersenyum, ia pun menyimpan susunan acara yang ia bawa sebelumnya di meja di dekatnya, "Makasih, Vin."
Baru saja Nasha hendak mengambil sebotol minuman itu, Alvin menarik tangannya kembali membuat Nasha mengernyit. Beberapa detik setelahnya ia tertawa pelan. Kebiasaan Alvin membukakan tutup botol minuman untuk dirinya.
"Lo harus hemat tenaga, Sha."
Nasha tertawa sembari menggeleng pelan, "Ada-ada aja lo, Vin." Nasha mengambil air minum yang diberikan Alvin, ia meneguknya sebentar dan kembali menatap Alvin yang masih setia menatapnya sembari tersenyum, "Lo juga udah minum, Vin?"
Alvin mengangguk pelan, "Udah tadi sebelum kesini."
Riuh tepuk tangan seketika memenuhi lapangan membuat Nasha dan Alvin menoleh. Devan pun tersenyum sembari menepuk tangannya, puas dengan hasil karya ekstrakurikuler yang ia percaya.
"Devan!" teriak seseorang dari ujung koridor.
Devan yang terkejut langsung menoleh, tak lupa dengan Nasha dan Alvin yang sedang berada di dekatnya.
"Liana," balas Devan. Senyum yang sedari tadi merekah tiba-tiba menghilang karena melihat raut wajah Liana yang berbeda.
"Ada masalah."
Alvin menghela nafasnya, "Sekarang apalagi, Li?"
Devan yang tak mengerti hanya menoleh kebingungan pada Alvin.
"Sekarang bukan gue, tapi juri."
Nasha mengernyit tidak mengerti, "Juri? Maksud lo guru-guru?"
Liana mengangguk membenarkan, "Tadi Bu Lili bilang kalau KBM harus tetap terlaksana. Sedangkan untuk lomba-lombanya diseling-selingkan aja."
__ADS_1
"Maksudnya?" tanya Devan tak mengerti.
"Jadi yang ikut lomba, dapet dispensasi. Sedangkan yang gak ikut lomba, harus tetap di kelas dan ikut KBM."
Nasha, Alvin, dan Devan menghela nafasnya bersamaan. Detik berikutnya mereka saling tatap, bingung dengan apa yang harus dilakukan. Masalah lagi-lagi selalu muncul di saat yang tidak tepat. Padahal, tidak satupun yang menginginkan, namun masalah datang tanpa diundang.
"Pertama, kita umumkan dulu pada seluruh siswa untuk masuk ke dalam kelasnya masing-masing. Setelah itu, pengurus OSIS kumpul di ruang OSIS," perintah Devan dan dijawab anggukan oleh ketiga temannya. Devan lalu menoleh menatap Liana yang masih menetralkan nafasnya, "Li, urus surat dispensasi."
°°°
Devan menggerakkan beberapa jarinya untuk memijat pelipisnya. Perubahan yang mendadak ini membuat kepalanya terasa berat. Ia harus cepat memutuskan, jika tidak semuanya akan berantakan. Mungkin masalah yang lain akan muncul, seperti tidak adanya perlombaan di hari peringatan Sumpah Pemuda ini.
"Gue lebih setuju apa kata Nasha tadi. Perlombaan pidato, dan tahap pertama cerdas cermat di istirahat kedua. Untuk membuat karangan essay, dan poster saat pulang sekolah," ucap Alvin buka suara setelah beberapa menit hening.
Amanda mengangguk setuju, "Untuk panitia cerdas cermat sepertinya harus bekerja ekstra karena harus langsung menilai dan mengumumkan siapa saja yang lolos ke tahap selanjutnya. Dan, untuk tahap akhir cerdas cermat kita adakan sepulang sekolah."
Devan mengangguk-angguk kecil. Ia lalu menoleh pada Liana yang fokus dengan laptopnya dengan Nasha yang berada di sampingnya membantunya, "Surat dispensasi panitia udah beres?" tanyanya.
"Sebentar lagi," jawab Liana tanpa mengalihkan fokusnya dari layar laptop.
"Oke," kata Devan sembari membenarkan posisi duduknya, "Perlombaan akan tetap berlangsung dengan sistem yang tadi dijelaskan oleh Alvin dan Amanda. Untuk perlombaan pidato, tahap pertama dan kedua cerdas cermat, akan dilaksanakan saat istirahat kedua. Sedangkan untuk perlombaan karangan essay, dan poster dilaksanakan sepulang sekolah," ucapnya memberi keputusan.
Semua pengurus OSIS mengangguk paham atas apa yang dibicarakan oleh Devan. Selanjutnya mereka memulai membaca kembali tentang prosedur pelaksanaan perlombaan. Meski waktunya berubah, semuanya harus berjalan sesuai rencana.
Liana mengangkat tangannya dan berdiri, "Perwakilan panitia perlombaan yang dilaksanakan saat istirahat kedua silahkan datangi setiap kelas untuk menanyakan siapa perwakilan kelas yang akan mengikuti perlombaan tersebut. Setelah itu, serahkan ke saya. Akan saya buat surat dispensasinya," tambah Liana.
Nasha menyandarkan punggungnya pada kursi. Pikirannya yang sedang mumet bertambah karena suasana ruang OSIS yang begitu bising. Namun, tiba-tiba ada sepasang tangan yang menutup telinganya membuat Nasha menoleh.
"Lo ngapain, Vin? Tingkah lo makin kesini makin aneh aja!"
Alvin tertawa pelan, "Gue tau lo gak suka suasana kayak gini, kan? Gue gak mau, ya, kepala lo pecah."
Kedua mata Nasha membulat dan tangannya refleks memukul bahu Alvin, "Sembarangan!"
"Alvin," panggil Devan membuat Alvin melepaskan tangannya dari Nasha dan menoleh, "Ayo, ke bu Lili buat kasih tau hasil rapat."
Alvin menghela nafasnya sembari menatap Nasha yang sedang menahan tawanya, "Oke," jawabnya malas.
Alvin bangkit dari bangkunya. Namun sebelum melangkahkan kakinya pergi, dengan cepat Alvin mengacak-acak rambut Nasha, membuat sang pemilik hanya menutup matanya menahan geram.
"Lo gak akan jadian aja sama Alvin, Sha?" tanya Liana. Matanya tetap saja fokus pada laptop.
Nasha menggeleng pelan, "Gak tau, deh. Gue aja gak tau perasaan Alvin gimana."
__ADS_1
Liana mengernyit dan menoleh, "Bukannya keliatan kalau Alvin suka sama lo?"
"Gue gak tau, sikap Alvin itu menunjukkan dia suka sama gue, atau cuma nganggep gue sebagai teman. Gue takut terlalu berharap, Li."
Liana mengangguk paham. Lantas ia kembali memainkan jari-jemarinya diatas keyboard, dan matanya kembali fokus.
"Gue kira, lo suka sama Alvin, Li."
Jemari Liana tiba-tiba terhenti dari aktivitasnya, "Hah?" tanyanya sembari menatap Nasha dengan terkejut.
"Waktu dulu sebelum pencalonan OSIS baru, lo kayak kaget waktu denger gue pacaran sama Alvin. Gue kira lo suka sama Alvin."
Liana menggeleng cepat, "Maksud gue waktu itu ya gue kaget aja. Gak ada hal lain. Dan, seganteng-gantengnya Alvin, gue gak akan bisa nyimpen perasaan sama dia."
Nasha mengernyit, "Kenapa?"
"Karena semua orang tau, Alvin sukanya sama lo, bukan sama orang lain."
°°°
Suasana ruangan kini begitu hening, yang tersisa hanya suara derap langkah panitia, dan suara jari yang bersentuhan dengan keyboard. Semua orang yang ada di ruangan ini terlihat sangat fokus. Panitia yang fokus mengawasi, dan peserta yang fokus mencari ide dari setiap kata demi kata dalam essaynya.
"Waktunya tinggal lima menit lagi," ucap Windi—pengurus OSIS sekaligus panitia perlombaan karangan essay.
Nasha yang semula bersandar pada tembok belakang ruang kelas kini memperbaiki posisinya menjadi lebih tegap, tak lupa ia memperbaiki jas OSIS kebanggaannya. Ia kemudian melangkahkan kakinya, dan matanya tetap fokus memeriksa setiap peserta.
"Jika ada yang sudah selesai, bisa beritahu kami agar datanya bisa kami salin pada flashdisk," ucap Nasha dengan suara tegas yang ia buat-buat.
Nasha mendekati salah satu panitia perlombaan, ia kemudian memberikan beberapa flashdisk padanya, "Saya titip, ya."
Dinanda—seseorang yang tadi diberi flashdisk oleh Nasha—mengangguk sembari tersenyum segan. Nasha kembali melangkahkan kakinya, dan dengan perlahan ia membuka pintu ruang kelas. Suasana di luar ruang kelas begitu berbeda. Di sini sangat ramai karena banyaknya siswa yang belum pulang ke rumahnya masing-masing.
"Udah beres?" sambut Alvin saat Nasha keluar dari ruang kelas.
Nasha tersenyum dan menggeleng, "Sebentar lagi."
Alvin lalu memberikan sebuah plastik hitam pada Nasha. Nasha yang kebingungan hanya menerimanya dan langsung membukanya. Terdapat beberapa bungkus roti di dalamnya.
"Ini buat siapa?"
"Buat kamu, lah, buat siapa lagi."
"Kok, banyak banget?"
__ADS_1
Alvin tersenyum manis. Ia lalu melipat kedua tangannya di depan dada, "Berpikir sembari berjuang juga perlu tenaga."
To be Continued