VACILANTE : IMPERFECT

VACILANTE : IMPERFECT
23 - Pemilihan


__ADS_3

Sekolah kini begitu ramai. Hiasan yang terbuat dari kertas kini tergantung menghiasi lapangan dengan tali yang diikat dari pohon ke pohon. Tenda besar dengan dekorasi kain kilap berwarna merah dan biru sudah berdiri dengan cantiknya. Beberapa kursi juga sudah ditata sedemikian rupa agar tampak rapi.


Para siswa berlalu-lalang dengan pakaian batik bebasnya. Senang karena hari ini pembelajaran tidak akan efektif. Rival dan para inti yang lain sudah meminta izin kepada sekolah untuk satu hari penuh tidak diadakan kegiatan belajar mengajar. Hari ini adalah hari yang menegangkan, khususnya untuk Alvin.


Hari-hari sebelumnya merupakan hari yang melelahkan sekaligus menyenangkan. Suka dan duka dilewati bersama. Pulang malam, menyusun program kerja beserta visi dan misinya, membagikan pamflet kepada seluruh siswa agar memilih Alvin menjadi ketua OSIS, dan banyak hal lainnya. Namun hari ini, tidak ada yang tau akan berakhir bahagia atau sedih. Yang pasti, Alvin berharap mendapatkan hasil yang terbaik.


Nasha, Fiona, Calista, Liana, dan Angel berdiri di dekat tenda. Memperhatikan Alvin yang tampak gugup dengan Reyhan yang duduk di sampingnya sebagai wakilnya. Di samping mereka terdapat Amanda yang memutuskan mencalonkan diri menjadi wakil ketua OSIS dengan Devan sebagai pasangannya. Tentu, hal itu membuat persaingan semakin sulit. Devan yang terkenal, dan dulunya pernah menjadi ketua OSIS, berpasangan dengan Amanda yang tak kalah terkenal.


Alvin menoleh menatap teman-temannya yang sedang tersenyum padanya. Ia lalu bangkit dan melangkahkan kakinya mendekati kelima teman-temannya.


Nasha tersenyum, "Lo gugup, Vin?" tanyanya.


Alvin mengangguk lemah. Cahaya matahari yang terik membuat wajahnya mengernyit. Entah memang karena cahaya matahari, atau karena rasa tidak percaya diri.


"Kata Rival nanti setelah acara selesai satu tim sukses ikut penghitungan suara."


Nasha dan teman-temannya saling tatap, "Disini yang tim sukses gue doang, ya?" tanya Nasha memastikan, mereka mengangguk sebagai jawaban.


"Lo boleh ninggalin kursi lo, Vin?" tanya Fiona.


"Bosen gue diem mulu disana. Udah panas, ditambah liat saingan, makin aja panas."


"Terus, lo mau kemana sekarang?" tanya Liana.


Alvin menggeleng, "Gak, tau."


"Ya udah, kita foto-foto aja dulu," ajak Angel.


Alvin yang sudah malas, makin menatap malas pada Angel. Entah mengapa, mood-nya hari ini sangat buruk. Ia sedang malas berbicara, apalagi berfoto. Mungkin karena rasa tidak percaya diri sekaligus gugup yang sedari pagi menghantuinya. Ia perlu dihibur, bukan foto-foto.


Ia lalu memegang lengan Nasha membuat Nasha membulatkan matanya dan menatap Alvin penuh tanya. "Kalian aja yang foto-foto, gue lagi males."


"Ya, lo males apa sambungannya sama megang tangan gue, Vin?"


"Ayo, ke kantin. Gue laper. Kalian jangan ikut!"


Liana, Fiona, Calista, dan Angel mengernyit bersamaan sembari memperhatikan Alvin yang menarik Nasha pergi. Mereka saling tatap, bingung dengan sikap Alvin.


"Padahal gue juga laper," keluh Calista.


"Kantin kan bukan punya dia. Ngapain pake larang-larang kita coba!" tambah Angel.


Fiona menggeleng, "Apa cuma gue yang paham disini?"


"Gue paham, kok," balas Liana. Ia lalu menoleh sambil tersenyum penuh arti pada Fiona, "Kita satu pemikiran, kan?"


°°°


Nasha kini masih diam, menatap Alvin yang masih menunduk. Sudah beberapa menit mereka berada di kantin namun Alvin tak kunjung mengajaknya berbicara. Nasha 'pun bingung harus melakukan apa. Takut kalau Alvin sedang sensitif dan nantinya Nasha malah membuat mood Alvin semakin rusak.


"Tadi malem gue mimpi," ucap Alvin memulai, "Gue kalah."


Nasha diam menanggapi cerita Alvin. Yang ia lakukan sekarang hanya menatapnya, berharap bahwa Alvin bisa sedikit tenang.


"Di mimpi gue, Devan sama Amanda jadi ketua dan wakil ketua yang keren. Program kerja yang mereka buat jadi program kerja yang besar, yang jadi gebrakan baru di angkatan kita," Alvin menoleh menatap Nasha, "Dan, entah kenapa gue ngerasa tenang."


"Tenang?" tanya Nasha tidak mengerti.


"Setidaknya, OSIS gak jatuh ke tangan pemimpin yang salah."


Nasha semakin tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan Alvin, "Kalau pada kenyataannya lo yang kepilih gimana, Vin? Lo kan bukan pemimpin yang salah."


Alvin hanya tersenyum kecut menanggapi pernyataan Nasha. Ia lalu menyeruput minumannya, mencoba memperbaiki mood-nya sendiri.


"Jadi, yang bikin lo gak mood dari pagi tuh, ini, Vin?"

__ADS_1


Alvin menghela nafasnya, "Gue gak percaya diri, Sha."


Nasha tersenyum sembari menampilkan deretan giginya. Ia lalu menangkup wajah Alvin membuat Alvin membulatkan matanya terkejut, "Lo ngapain, Sha?" tanya Alvin. Suaranya tidak jelas karena kesulitan berbicara.


"Aduh, Vin. Udah, ya badmood nya? Lo jelek makin jelek kalau badmood!"


Alvin menggelengkan kepalanya, membuat Nasha menjauhkan tangannya, "Lo yang bikin gue jelek!" kata Alvin tidak terima.


"Kok, gue? Yang punya wajahnya kan lo, Vin!"


"Gue tanpa lo ganteng, gue bareng lo jadi jelek."


Wajah Nasha yang semula mengulas senyuman kini berubah. Ia menatap malas pada Alvin yang kini malah tersenyum dengan polosnya.


"Lo mau mati di sini atau di lapangan, Vin?"


Alvin terkekeh, "Gue kan udah pernah bilang. Gue maunya mati di hati lo aja."


Nasha memutar bola matanya malas, "Gue gak terima cowok jelek!"


"Gue kan ganteng, Sha."


"Tadi lo bilang lo jelek kalau bareng gue."


"Gue ganteng, titik. Gak pake koma!"


Nasha menggeleng tidak setuju, "Gak, ya!" Nasha kemudian bangkit dari duduknya. Ia tidak mau menanggapi Alvin lebih jauh lagi.


"Gue ganteng, Sha!" teriak Alvin saat Nasha berlari menjauh dari Alvin.


"Nasha," panggil seseorang membuat Nasha menghentikan langkahnya. Alvin yang juga melihat seseorang itu, buru-buru menghampiri Nasha. Takut kalau Nasha akan kembali sakit hati.


"Kak Galih," sapa Nasha sembari tersenyum canggung.


"Lo kenapa disini, Vin?" tanya Galih, tatapannya beralih pada Alvin yang menatapnya tidak suka.


"Pemungutan suara udah beres. Lo harus tunjuk salah satu tim sukses lo buat ikut penghitungan suara."


Alvin mengangguk paham. Detik berikutnya Galih meninggalkan Nasha yang sedari tadi menatap ke arah sembarang. Nasha tidak mau menatap Galih. Hatinya masih sakit karena perkataan Galih tempo hari.


Setelah Galih benar-benar pergi, Nasha menoleh menatap Alvin yang sedang menatapnya sembari tersenyum. Matanya mengecil, tanda ia tersenyum sangat lebar. Nasha tidak tau apa alasan Alvin tersenyum sangat lebar seperti itu.


"Lo sama gue aja disini. Biar gue tunjuk yang lain buat ikut penghitungan suara."


"Kok, gitu? Bukannya udah sepakat gue yang ikut?"


Alvin diam, ia sedang berpikir mengingat-ngingat waktu yang sudah mereka lewati, "Gue gak pernah iya-in lo yang ikut penghitungan suara, ya, Sha."


"Ya, terus?"


"Lo disini aja. Sama gue. Titik!"


Nasha menggeleng cepat. Ia lalu melangkahkan kakinya meninggalkan Alvin menuju ruangan tempat penghitungan suara, "Gak mau, Vin! Gue mau ikut penghitungan."


"DIEM DI TEMPAT, NASHA!"


Bukannya berhenti, Nasha malah terus berjalan seakan tidak pernah mendengar teriakan Alvin. Ia berbalik dan melihat Alvin yang sedang menahan emosinya karena perkataannya tidak digubris. Detik berikutnya, ia menjulurkan lidahnya, mengejek Alvin yang tidak mampu menghentikan keinginannya.


"DASAR ALVIN JELEK!"


°°°


"VIN, OPER KE GUE!"


Alvin tidak mendengarkan perkataan seseorang pemilik nama Reyhan Alif Agnino yang tak lain adalah pasangannya di pencalonan ketua dan wakil ketua OSIS. Tangannya masih sibuk men-dribble bola, kakinya masih sibuk berlari menghindari lawan, dan tatapannya masih fokus pada ring basket yang terletak lebih tinggi darinya.

__ADS_1


"LO MAIN SENDIRI AJA, VIN! JANGAN AJAK GUE!" kesal Reyhan saat melihat Alvin yang tidak menggubrisnya.


Alvin memegang bolanya, kakinya melangkah bersiap melakukan lay up. Matanya fokus, dan pada langkah ketiga ia mulai loncat dengan bola yang berada di tangannya. Detik berikutnya kakinya sudah kembali menginjak tanah, dan bolanya sudah memantul tidak beraturan. Ia menghela nafasnya frustasi, sudah beberapa kali ia mencoba, namun ia tak kunjung mencetak skor.


Ia lalu duduk di pinggir lapangan sembari mencoba menetralkan nafasnya. Bibirnya mengulas senyuman saat melihat Reyhan yang menatapnya kesal.


"Sorry, bro. Gue keasikan tadi."


Reyhan duduk di samping Alvin, "Awas aja lo ajak gue main lagi."


"Loh, emangnya lo gak mau main sama gue lagi?"


"Gak!"


Alvin terkekeh melihat Reyhan yang sudah benar-benar marah. Tatapannya tiba-tiba beralih pada kelima temannya yang sedang membawa plastik besar. Ia lalu bangkit dan menghampiri teman-temannya itu.


"Pas banget, Vin!" ucap Fiona membuat Alvin menatapnya bingung. "Nih, bawain!"


Fiona segera memberikan plastik besar itu pada Alvin. Alvin yang bingung segera membuka plastik itu. Ia semakin bingung saat melihat beberapa kertas nasi yang sudah dibentuk.


"Nasi padang, Alvin," ucap Calista, menjawab rasa penasaran Alvin.


"Kalian gak akan nunggu Nasha?"


"Gue udah laper banget nungguin Nasha daritadi," keluh Calista.


"Lo gak setia kawan banget, Cal!" sindir Alvin membuat Calista menatapnya tajam.


"TEMEN-TEMEN!"


Alvin dan kelima temannya menoleh pada sumber suara yang terdengar begitu familiar. Wajah mereka mengulas senyuman saat tau siapa yang datang. Orang yang sedari tadi mereka tunggu akhirnya datang.


Nasha berlari menghampiri Alvin dan teman-temannya dengan wajah ceria, membuat Alvin menjadi lebih bersemangat, "Jangan lari-lari, Sha, nanti jatuh!"


"Ya ampun, Vin. Gue gak bisa pura-pura gini!"


"Lo dateng di waktu yang tepat banget, Sha. Ayo, kita makan dulu. Udah laper gue nunggu lo daritadi," ajak Calista.


Nasha menggeleng, "Kalian aja. Gue udah makan tadi."


Senyum yang sedari tadi terpancar di wajah Alvin tiba-tiba menghilang saat melihat wajah Nasha dari dekat. Nasha mungkin tersenyum sangat lebar, tetapi matanya begitu sendu. Apa mimpinya itu akan menjadi kenyataan?


"Lo juga, Vin. Lo belum makan, kan?"


Alvin menggeleng, "Belum."


"Ya udah, lo makan dulu gih."


"Lo juga ikut, Sha. Masa lo mau diem di tengah lapangan gini?" ucap Fiona.


"Ayolah, gue udah laper banget," keluh Calista.


Nasha tertawa pelan, "Gue gerah daritadi di dalem ruangan. Kalian duluan aja, gih!"


Fiona dan teman-teman yang lain akhirnya mengangguk setuju dan meninggalkan Nasha menuju koridor. Namun Alvin tetap bertahan di posisinya. Ia masih setia menatap Nasha yang kini terlihat ceria namun sendu. Ia sedang menguatkan dirinya sendiri dengan menatap Nasha.


"Lo gak ikut juga, Vin?" tanya Nasha saat sadar Alvin tidak mengikuti teman-temannya.


Alvin duduk dan meminta Nasha untuk ikut duduk di sampingnya. Perasaan Nasha tidak enak karena sikap Alvin, meski begitu ia tetap menuruti perkaatan Alvin dan duduk di sampingnya.


"Lo gak pinter bohong, Sha."


"Maksud lo?"


"Gue tau," jawab Alvin. Ia lalu menoleh menatap Nasha yang menunduk, "Hasilnya gak sesuai ekspetasi kita, kan?"

__ADS_1


To be Continued


__ADS_2