VACILANTE : IMPERFECT

VACILANTE : IMPERFECT
17 - Hasil


__ADS_3

Seluruh siswa kelas Nasha kini sedang sibuk kesana-kemari. Bukan sibuk mengerjakan tugas, namun sedang sibuk mencari hal yang bisa mereka kerjakan untuk mengisi kekosongan kelas. Ada yang mengambil gitarnya lalu bernyanyi di belakang kelas, ada yang kumpul bersama teman-temannya, ada yang sedang sibuk bercanda bersama pacarnya, dan ada juga yang memilih kegiatan seperti Nasha, yakni tidur.


Karena jam kosong, kelas menjadi sangat ramai. Tetapi hal itu bukan menjadi penghalang Nasha untuk tidur nyenyak. Entahlah apa yang dipikirkan Nasha sekarang. Ia hanya ingin tidur dan tidak mau bertemu dengan teman-temannya. Ia juga tidak mau berbicara dengan teman-temannya karena dia masih sangat malu.


Fiona mencoba menggoyangkan tubuh Nasha untuk membangunkan Nasha. Usaha itu Fiona lakukan beberapa kali. Namun, tampaknya Nasha sengaja untuk tidak bangun.


"Kita tinggalin lagi aja gitu, Fi?"


Fiona menggeleng, "Jangan. Dia juga perlu liat pengumumannya."


"Gue gak tau isi pengumumannya apa, tapi kalau ternyata gak ada nama dia bukannya buat dia makin drop?"


Fiona diam. Ia sedang berpikir apa yang terbaik yang harus ia lakukan. Disatu sisi, Fiona yakin kalau mengetahui hasilnya oleh mata kepala sendiri akan lebih baik ketimbang mengetahuinya dari orang lain. Namun disisi lain, ia tidak akan tau bagaimana sedihnya Nasha saat ia mengetahui kalau hasilnya buruk.


"Aduh! Gue bingung."


"Fiona, Calista!" panggil seseorang dari ambang pintu.


Fiona dan Calista menoleh bersamaan. Beberapa detik selanjutnya mereka mulai melangkahkan kedua kakinya untuk mendekati seseorang tersebut.


"Nasha mana?" tanya Liana.


Fiona menoleh ke tempat dimana Nasha sedang tidur, "Dia tidur, Li."


"Bangunin, Fi. Tadi gue liat pengumumannya udah ada."


"Kita udah coba bangunin, Li. Tapi kayanya Nasha emang gak berniat bangun."


Liana mengernyit, "Kok, gitu?"


"Lo lupa kejadian sabtu kemarin?" balas Fiona mencoba tenang karena Liana yang tidak mudah peka.


Liana mengangguk paham. Mereka kini saling diam karena bingung apa yang harus mereka lakukan. Liana yang tadinya bersemangat untuk melihat hasilnya bersama, sepertinya harus mengurungkan niatnya. Ia tidak ingin melihat Nasha kembali bersedih. Ia juga merasa bersalah karena menekan Nasha untuk lebih menonjol ketimbang dirinya.


"Kalau gitu, kita liat duluan aja, gimana?" saran Liana setelah berpikir beberapa menit.


Fiona dan Calista mengangguk setuju. Tanpa basa-basi lagi mereka menuju koridor tempat mading dipajang. Jarak dari kelas Nasha menuju mading tidak terlalu jauh. Dan mereka bertiga mendapatkan Alvin yang sedang serius membaca pengumuman.


"Vin, lo udah daritadi?" sapa Liana membuat Alvin menoleh.


"Gak juga."


"Pengumumannya gimana, Vin? Bagus?" tanya Calista ragu.


Alvin kini masih sibuk menggerakkan matanya ke bawah, mencari nama seseorang di daftar nama yang lolos seleksi OSIS. Beberapa detik kemudian ia menoleh pada ketiga temannya sambil tersenyum tipis.

__ADS_1


"Nasha mana?"


"Dia tidur, Vin. Tadi gue coba bangunin, tapi dia mungkin pura-pura tidur biar gak liat pengumuman. Lagian kalau hasilnya buruk kasian juga," jawab Fiona.


Alvin mengangguk paham, "Gue, dan kalian semua lolos."


Mereka mengangguk bersamaan. Alvin tidak menyebutkan nama Nasha, bukankah sudah jelas bahwa ini kabar buruk bagi Nasha? Mereka sebagai teman-teman seperjuangan Nasha ikut merasakan sedih. Ingin sekali mereka berteriak karena senang akhirnya bisa sampai ke tahap terakhir. Tetapi, jika mereka berteriak terlalu senang, apa yang akan dirasakan oleh Nasha?


"Muka kalian kenapa sedih gitu?" tanya Alvin.


"Ya, lo bayangin aja, Vin. Kalau kita seneng, apa yang bakal dirasain Nasha? Dia pasti bakal pura-pura senyum, pura-pura seneng temen-temennya lolos. Tapi, mungkin aja dia bakal gak pulang kaya sabtu kemarin," jawab Calista.


"Kok Nasha sedih? Harusnya dia seneng juga, dong?" tanya Alvin membuat mereka semua menatap Alvin tidak mengerti, "Nasha juga harus berjuang lagi bersama kita."


"Maksud lo, Nasha lolos, Vin?" tanya Fiona memastikan.


"Kalau lo gak percaya, lo cek aja sendiri, deh!"


°°°


"Gue gak mau liat pengumumannya, Fio. Kalo kalian mau liat, ya liat aja sendiri. Gak usah ajak gue!"


Fiona diam tak menjawab. Tangannya masih terus menarik tangan Nasha untuk berjalan menuju koridor tempat mading disimpan. Nasha yang ternyata sedari tadi menangis di dalam tidurnya, hanya menghela nafasnya. Ia menyerah jika harus adu kekuatan dengan Fiona. Yang ia lakukan sekarang hanya menggerakkan kakinya dengan sangat terpaksa.


Nasha hanya tersenyum tipis sebagai jawaban. Ia kini sudah berdiri dengan Fiona, Calista, Alvin, Liana, dan Angel yang berdiri mengitarinya. Nasha hanya menghela nafasnya. Ia juga tidak menatap teman-temannya itu. Mungkin sebentar lagi, ia akan mendengar pernyataan senang dari semua teman-temannya.


"Lo harus liat pengumumannya sendiri, Sha!" titah Liana.


Nasha menggeleng pelan, "Gue udah tau jawabannya. Jadi, gue ke kelas dulu, ya?" jawab Nasha sembari mencoba untuk pergi dari lingkaran yang dibuat teman-temannya. Namun, usaha itu tidak berhasil.


"Liat dulu, Sha!" titah Alvin sembari merangkul bahu Nasha dan mengajaknya untuk berdiri di depan mading.


Nasha menghela nafasnya. Ia lalu mulai menggerakkan matanya mencari namanya.


"Udah pasti gak ada, kenapa masih maksa, sih!" gumam Nasha.


Alvin tersenyum, "Ketemu? Perlu gue bantu?"


Nasha menggeleng. Matanya membulat kala ia menemukan namanya di salah satu daftar nama yang lolos tahap interview.


"Eh? Ini gak salah, kan? Nama gue ada dua kali ya di sekolah ini?"


Alvin mengacak-acak rambut Nasha gemas, "Nama lo itu cuma satu. Udah gue cek tadi ke bagian tata usaha."


Nasha menoleh pada Alvin, "Gue gak percaya lo seniat itu, Vin."

__ADS_1


"Lagian kalaupun sama, di kelas kita kan yang namanya Nasha cuma lo. Dan liat tuh kelasnya. Kelas 11 IPA 3."


Nasha memejamkan matanya. Ia lalu mencubit kedua pipinya sendiri, "Gue pasti mimpi," gumamnya.


Teman-temannya saling tatap dan menggeleng tidak percaya dengan sikap Nasha. Sudah mereka katakan berapa kali pada Nasha bahwa tidak ada yang salah dengan jawaban Nasha. Tetapi karena overthinking, Nasha malah sedih berlebih sebelum melihat pengumuman.


"Gue boleh teriak gak, sih?"


"Boleh!" jawab Calista.


"AAA GUE LOLOS TEMEN-TEMEN," teriaknya sembari menghambur ke dalam pelukan teman-temannya.


"Gue boleh ikut pelukan juga gak, nih?" tanya Alvin. Namun, tidak ada satupun yang menggubris pertanyaan Alvin. Alvin menanyakan pertanyaan yang sudah pasti jawabannya. Tidak.


"Setelah ini kita harus berjuang lebih keras lagi, ya? Semangat!" ucap Liana.


"SEMANGAT!"


"Nasha."


Nasha menoleh karena panggilan itu. Ia tersenyum saat mengetahui bahwa pemilik suara itu adalah Galih. Ia lalu melangkahkan kakinya mendekati Galih, dan meninggalkan teman-temannya. Alvin yang melihat hal itu hanya tersenyum kecut.


"Gue duluan, ya?" ucap Alvin dan langsung berlari meninggalkan teman-temannya.


Nasha menoleh saat Alvin meninggalkannya. Ia bingung mengapa Alvin tiba-tiba pergi. Ia kira, Alvin akan menraktir dirinya dan teman-temannya.


"Nasha," panggil Galih, membuat Nasha menoleh dan tersenyum, "Selamat, ya?" ucapnya sembari mengulurkan tangannya.


Nasha membalas jabatan tangan Galih sembari tersenyum, "Makasih, Kak," jawabnya canggung. "Buat sabtu kemarin, aku minta maaf ya, kak?"


Galih mengernyit, "Minta maaf? Buat apa?"


"Udah malu-maluin kak Galih di depan temen-temennya kak Galih."


Galih menggeleng, "Engga, kamu keren, kok!"


"Nasha," panggil Calista, Nasha menoleh, "Ayo ke kelas," ajaknya.


Nasha mengangguk dan kembali menoleh pada Galih, "Kak, aku ke kelas dulu, ya?" Galih mengangguk sebagai jawaban.


Nasha kemudian menghampiri kedua temannya yang kini sedang tersenyum canggung pada Galih. Mereka lalu meninggalkan Galih yang kini masih menatap punggung Nasha.


"Kalau gak ada gue, gue gak yakin lo bisa lolos, Sha."


To be Continued

__ADS_1


__ADS_2