VACILANTE : IMPERFECT

VACILANTE : IMPERFECT
7 - Day min one


__ADS_3

Suasana sekolah kini sangat riuh, padahal hari sudah menunjukkan pukul 16.00, waktunya para siswa untuk beristirahat di rumah. Namun, tidak untuk para pengurus OSIS. Mereka kini sudah berganti pakaian, dari yang semula memakai seragam, kini memakai kaos bebas dengan celana olahraga. Mereka akan pulang malam hari ini.


"Kanan dikit, Za! Gak lurus, tuh!" ucap Alvin. Tangannya kini sibuk menahan ujung tali rapia, sedangkan Reza kini sibuk meluruskan tali itu.


"Ini udah belum, Vin?" tanya Reza sambil mengira-ngira bahwa ujung tali yang dipegangnya lurus dengan ujung tali yang dipegang Alvin.


Alvin memfokuskan penglihatannya, ia lalu mengangguk, "Udah, Za. Lo paku dulu gih talinya, entar udah itu lemparin ke gue."


Reza mengangguk. Ia kemudian melihat kesana-kemari mencari palu dan paku. Namun ternyata, kedua benda itu berada cukup jauh darinya.


"Vin, kalo gue lepas nanti susah lagi lurusin nya."


Alvin yang sedikit bingung hanya menolehkan kepalanya kesana-kemari mencari benda yang sebelumnya dicari oleh Reza. Ia lalu mendesah frustasi. Kesal karena nanti ia harus memfokuskan matanya untuk melihat tali yang lurus atau tidak.


"Siapapun tolong ambilin paku sama palu!" teriaknya. Namun, apadaya. Semua orang kini tengah sibuk dengan urusannya masing-masing. Mau tidak mau ia harus melepaskan pegangan pada talinya dan beranjak mengambil palu dan paku.


"BIAR GUE AJA, VIN!" teriak Nasha dari kejauhan.


Alvin yang mendengar teriakan itu menoleh dan tersenyum sambil memperhatikan Nasha yang berlari ke arahnya sekarang. Rambutnya yang dikuncir tidak serapih sebelumnya. Pakaiannya juga terlihat acak-acakan. Wajahnya apalagi, sudah sangat berkeringat. Tetapi menurut Alvin, Nasha sangat cantik dengan tampilan seperti itu. Seperti lebih berkharisma, mungkin?


Nasha buru-buru mengambil paku dan palu, dan menyerahkannya pada Alvin. Alvin tersenyum dan langsung mengambil kedua benda itu dari tangan Nasha.


"Makasih, ya, Sha."


Nasha mengangguk, "Semangat, ya!"


Alvin mengangguk, "Pasti, dong! Apalagi di semangatin sama lo kaya gitu."


Nasha memutar bola matanya malas. Kadang, Alvin kalau bercanda suka kelewatan.


"Mading udah beres, Sha?" tanya Alvin. Kini ia sedang jongkok dan memalu paku di lapang rumput—tempat tadi ia memasang tali.


"Belum, Vin. Gue sama yang lain belum kepikiran idenya. Aduh, gue takut banget kita bakal pulang lebih malem gara-gara gue."


Alvin bangkit setelah memastikan tali yang ia pegang tadi sudah terikat di palu yang ditancapkan di lapang rumput. Ia lalu memberikan paku dan palunya pada Reza yang sedari tadi masih setia menunggunya. Selesai dengan itu, Alvin menghampiri Nasha yang sedang berkacak pinggang. Tatapan matanya sedang tidak fokus. Mungkin sedang memikirkan konsep mading yang bagus dan menarik.


Alvin merangkul Nasha, dan mengajaknya untuk pergi ke koridor—tempat mading di simpan.


"Biar gue bantu."


Alvin kemudian mengambil beberapa lembar koran, doubletip, dan beberapa kertas foil berwarna gold. Tak lupa dengan pensil, dan gunting. Ia tampak yakin dengan apa yang terbesit di pikirannya.


"Lo mau bikin apa, Vin?"


Alvin menoleh, "Bantu gue nyimpen madingnya di lantai sini."


Nasha mengangguk. Ia kemudian membantu Alvin mengangkat madingnya dan menyimpannya di lantai. Selesai dengan itu, Nasha dibuat bingung karena Alvin yang tiba-tiba membuka lipatan kertas koran satu-persatu.


"Kertas korannya dijadiin dasar, Sha," ucap Alvin seakan membaca tatapan bingung Nasha.


Nasha kemudian jongkok di samping Alvin dan mulai membantunya, "Rencana nya mau lo apain, Vin?"


"Gue ma-" ucap Alvin terpotong.


"Alvin!" panggil Liana membuat Alvin dan Nasha menoleh bersamaan.


Liana dan Angel yang sebelumnya berada di lapangan, kini berlari kecil menghampiri Alvin dan Nasha. Tak mau ambil pusing, Alvin melanjutkan kegiatannya. Ia mulai menempelkan kertas koran menutupi permukaan mading.


"Lo ngapain disini, Vin? Bukan nya ini bagiannya Nasha, Irda, sama Wilda, ya?"


"Lo gak liat gue lagi ngapain?" balas Alvin dingin.


Nasha memperhatikan Alvin yang tiba-tiba menjadi dingin. Seingatnya, Alvin bukan orang yang dingin. Apalagi, jika mengobrol dengan seorang wanita. Dengan begitu dapat Nasha simpulkan bahwa ia belum benar-benar mengenal Alvin.


"Ya, maksud gue kenapa lo yang kerjain madingnya? Kenapa Nasha malah diem aja merhatiin lo?"


Nasha menatap kesal pada Liana. Ia tidak terima dibilang 'diam saja' olehnya. Siapa yang bilang Nasha diam saja? Jika bukan karena kedatangannya, Nasha pasti sudah dengan cekatan membantu Alvin.


"Nasha, lo tempelin koran nya di ujung sana, biar gue tempelin bagian sini," ucap Alvin. Ia sedang malas ribut, apalagi mempermasalahkan hal sepele seperti ini.

__ADS_1


"Vin!" Kesal Liana karena omongannya tidak digubris.


"Apa?" balas Alvin tanpa menoleh sedikitpun pada Liana.


Liana menatap Alvin dan Nasha tidak suka. Ia lalu beranjak pergi meninggalkan mereka berdua. Nasha juga tidak ingin ambil pusing. Daripada memikirkan Liana, lebih baik ia membantu Alvin agar pekerjaannya cepat selesai.


"Sha, ada yang perlu gue bantu?" tanya Angel sambil jongkok di samping Nasha.


Nasha tersenyum dan mengangguk cepat, "Lo bantu tempel-tempelin juga korannya biar semua permukaannya ketutup."


Angel mengangguk dan mulai mengerjakan apa yang dikatakan oleh Nasha, "Irda sama Wilda kemana, Sha?" tanyanya.


"Tadi gue suruh mereka istirahat dulu sambil pikirin konsep. Kasian, keliatan stres banget mereka."


Alvin diam-diam menyunggingkan senyumnya. Sifat Nasha membuat Alvin geleng-geleng kepala. Kalau karena stres sedikit memikirkan konsep sudah disuruh istirahat, lalu bagaimana jika stres karena memikirkan program kerja yang lainnya? Apakah akan disuruh pulang oleh Nasha?


Nasha lalu menoleh pada Alvin yang masih sibuk menempelkan kertas koran, "Vin, lo belum jelasin konsep madingnya."


Alvin menoleh dan mengangguk, "Tadi kan mau gue jelasin keburu kepotong sama Liana," ucapnya sambil menyimpan doubletip nya, "Jadi, gini, sha," ucapnya sambil duduk di dekat mading. Nasha dan Angel pun mengikuti Alvin untuk duduk dan mulai memfokuskan telinganya, bersiap mendengarkan penjelasan Alvin.


"Madingnya, kita tutupin dulu pake kertas koran. Abis itu, kita hias pake pulau-pulau Indonesia. Nah, nanti tinggal pake tulisan nama acara kita aja. Simpel aja, lah, gak usah neko-neko,"ucapnya sambil terkekeh pelan. Idenya tiba-tiba saja buntu.


"Gimana kalo ditambahin foto-foto pahlawan? Biar gak kosong banget," tambah Angel membuat Alvin dan Nasha mengangguk setuju.


"Mungkin nanti kita kasih ruang buat nyimpen bagan perlombaannya. Kayak gitu cukup mungkin, ya?" tanya Alvin sambil menatap Nasha yang kini sedang bertopang dagu, memikirkan hiasan mading yang lainnya, "Atau ada tambahan lagi? Menurut lo gimana, Sha?"


Nasha masih diam, bergelut dengan pikirannya. Tapi sepertinya, kreativitas memang salah satu kekurangan terbesar bagi Nasha. Sekeras apapun ia berpikir, ia tidak kunjung menemukan ide. Bahkan, untuk hal sesederhana yang seperti dipikirkan oleh Alvin pun, sama sekali tak terbesit di pikirannya.


Nasha akhirnya mengangguk setuju, "Udah, cukup kok!"


Alvin, Nasha, dan Angel kini mulai mengerjakan apa yang tadi didiskusikan oleh mereka. Teman-temannya yang lain satu persatu mulai selesai akan pekerjaannya. Ada juga yang sudah pamit lebih dulu untuk pulang.


Namun, konsep mading dengan hiasan pulau Indonesia sepertinya salah. Alvin, Nasha, dan Angel harus bekerja lebih keras sekaligus cepat karena itu. Menggambar pulau, mengguntingnya, menempelnya, belum jika ada yang salah gambar.


I'm like ** ~


Just like ** ~


Alvin, Nasha, dan Angel sama-sama mengerjap karena terkejut. Suara musik yang keras itu tiba-tiba berbunyi memecah keheningan dan keseriusan yang tercipta di antara mereka bertiga. Mereka bertiga lalu menoleh, mendapati sebuah nama yang tertera pada salah satu handphone mereka.


"Itu dari hp lo, ngel. Telepon dari mama," ucap Nasha sambil menahan suaranya agar tidak terlihat marah setelah tadi dikejutkan.


Angel cengengesan dan sedikit menundukkan kepalanya meminta maaf, "Sorry, ya. Gue angkat dulu."


Alvin dan Nasha sama-sama mengangguk dan mempersilahkan Angel untuk mengangkat dulu telepon dari Mamanya. Nasha lalu meregangkan seluruh tubuhnya yang terasa kaku setelah lama duduk. Ia juga mengambil handphone-nya, menyalakannya dan terkejut dengan angka yang tertera di layar.


"Vin, udah jam 6!"


Alvin yang sedari tadi sibuk menggunting kertas foil menoleh, "Oh, iya bener. Sebentar, gue suruh mereka pulang dulu," ucapnya sambil bangkit.


"Pulang?" tanya Nasha membuat Alvin mengurungkan langkahnya.


"Emang lo mau nginep disini?"


Nasha menggeleng cepat, "Gila aja lo, Vin!"


"Terus?"


"Terus madingnya gimana, Vin? Kan, belum selesai."


Alvin diam sebentar sambil berfikir. Ia juga melipat kedua tangannya di depan dada. Ia benar-benar tampak serius mencari solusi tentang permasalahan itu.


"Gini, Sha," ucapnya menggantung sembari kembali jongkok di dekat Nasha. Nasha mengangguk bersiap mendengarkan.


"Tugas mading sebenernya tugas lo, kan? Ya, berarti lo kerjain aja sendiri. Kan, gue udah bilang jangan pulang sebelum tugasnya selesai."


Nasha menjauhkan badannya dan menatap Alvin tajam. Lagi-lagi ia kena tipu Alvin. Yang ditatap hanya tertawa kecil sambil menunduk. Tidak berani menatap wajah Nasha yang pasti sudah memerah karena marah.


"Cuma itu solusi yang lo pikirin daritadi, Vin?"

__ADS_1


Alvin mengangguk mantap membuat Nasha makin melotot karena kesal. Tanpa pikir panjang lagi, Nasha memukuli Alvin yang malah tertawa sangat keras.


"Lo ngeselin banget, Vin! Gila aja lo nyuruh gue kerjain sendirian sampe malem! Lo tuh pingin gue mati kedinginan apa?! Ngeselin banget lo, Vin!" kesal Nasha sambil terus memukuli Alvin.


Alvin lalu berhenti tertawa dan memaksa tangan Nasha untuk berhenti memukulinya, "Gue belum selesai ngomong, Sha!" ucapnya membuat Nasha terdiam kebingungan.


"Maksud lo?"


"Gue masih punya tanggungjawab anterin lo pulang, pastiin lo selamat sampe ke rumah. Otomatis gue harus nungguin lo dulu baru gue bisa pulang. Sambil nungguin lo, ya gue sekalian aja bantuin lo. Gue pinter, kan?"


"Maksud lo, kita berdua disini sampe malem?"


Alvin mengangguk mantap, "Baru kali ini Nasha pinter!"


°°°


Nasha menguap sambil meregangkan seluruh tubuhnya. Badannya semakin terasa kaku, bahunya terasa sangat sakit, begitupula dengan lehernya. Kakinya juga keram karena sudah lama duduk. Ia menatap mading yang kini sudah selesai. Ia juga menatap jam di ruang OSIS yang terpajang di dinding.


21.00


Ia tidak terkejut dengan jam itu. Ia sudah memperkirakan bahwa ia akan pulang sangat malam. Ini pertama kalinya dalam sejarah hidup Nasha, Nasha masih di sekolah jam selarut ini. Beruntung pilihannya dengan Alvin untuk membawa mading ke ruang OSIS tepat. Jika tidak, mungkin ia sudah merinding karena dingin sekaligus takut.


"Ayo, pulang!" ajak Alvin dan Nasha pun mengangguk.


Nasha bangkit dari duduknya dan menggendong tasnya. Sebelum keluar dari ruang OSIS ia memilih untuk bercermin, memastikan bahwa penampilannya baik-baik saja.


"Astaga!" ucapnya terkejut membuat Alvin menoleh keheranan.


"Rambut gue kenapa bisa gini?" tanyanya kebingungan melihat rambutnya yang sangat acak-acakan. Nasha tidak sadar, bahwa saat ia kesal karena kelelahan tadi, ia banyak menggaruk kepalanya membuat ikatan rambutnya semakin tidak rapi.


Alvin hanya tersenyum sambil geleng-geleng melihat tingkat Nasha, "Lo gak bawa jaket, Sha?" tanya Alvin setelah memperhatikan Nasha yang tak kunjung memakai jaket.


Nasha menggeleng, "Gue kan biasa telat, jadi kalo pagi-pagi gue pake jaket, kadang suka gak sempet buat lepas jaketnya."


Alvin menghela nafasnya gusar. Ia lalu merangkul Nasha dan mengajaknya untuk segera pulang. Nasha terkesima melihat pemandangan sekolahnya di malam hari. Sungguh gelap gulita.


"Ruang OSIS ke parkiran jauh ya, Vin?" tanya Nasha.


"Kenapa? Lo cape, Sha? Lo mau nunggu disini?"


Nasha membulatkan matanya dan menggeleng cepat, "Gak gitu, Vin!"


"Terus?"


Nasha mendekatkan dirinya pada Alvin membuat Alvin mengernyit tidak mengerti, "Gue pernah denger cerita serem sekolah kita, Vin."


Alvin berdeham. Sejujurnya daritadi Alvin sudah takut. Apalagi saat Nasha bertanya jarak dari ruang OSIS ke parkiran. Ia tidak bisa membayangkan jika ia berjalan sendiri ke parkiran. Mungkin bukannya berjalan, ia akan berlari secepat yang ia bisa.


"Mitos!" sanggahnya.


Nasha menggeleng, "Enggak, Vin! Gue denger dari ibu kantin katanya-"


"Sstt!" potong Alvin, "Entar dia dateng lo juga yang cape teriak-teriak!"


Nasha mengangguk setuju, "Iya, sih."


Jarak ruang OSIS ke parkiran entah mengapa hari ini terasa sangat jauh. Mungkin karena Alvin dan Nasha berjalan perlahan-lahan karena sedikit takut dengan lingkungan sekolah yang gelap gulita. Dan, Nasha pun merasa bahwa suasananya semakin tegang, tubuhnya juga semakin dingin, membuat ia mau tidak mau lebih merapatkan dirinya pada Alvin.


Alvin sadar bahwa Nasha kedinginan. Salah Nasha sendiri yang tidak membawa jaket, padahal sudah jelas ia diantar jemput oleh Alvin menggunakan motor. Alvin lalu membuka bagian depan jaketnya, dan merangkulkan jaketnya itu pada Nasha. Membuat mereka seperti memakai jaket berdua.


"Gue pernah nonton film, cowoknya kayak gini. Jadi, lo jangan kegeeran gue punya niat terselubung dari ini," terang Alvin.


Nasha menatap Alvin tidak percaya sambil geleng-geleng, "Gue gak ada nyuruh lo jelasin apa-apa kok, Vin."


Alvin berdeham. Akhirnya setelah memakan waktu cukup lama, mereka sampai di parkiran. Alvin buru-buru melepaskan jaketnya dan mengalungkan jaketnya pada Nasha.


"Lo yang bawa motornya kok gue yang pake jaketnya, Vin?"


Alvin memakai helmnya dan mulai naik ke motornya, "Terus gue harus biarin lo kedinginan gitu?" tanyanya membuat Nasha diam tidak bisa menjawab, "Ayo, cepetan naik! Keburu malem."

__ADS_1


Nasha pun naik ke atas motor, dan Alvin mulai menyalakan mesinnya. Sebelum melajukan motornya Alvin menoleh pada Nasha yang sedang menunduk sambil menahan dingin.


"Lo mau tau cara efektif buat gak dingin?" tanya Alvin. Nasha menatap Alvin meminta Alvin untuk melanjutkan perkataannya, "Lo peluk gue aja, Sha."


__ADS_2