
Alunan musik di tengah remang-remang lampu membuat hati yang sebelumnya gundah, dan pikiran yang sebelumnya berantakan, menjadi tenang. Pikiran yang tegang, dan fisik yang lelah seketika menghilang terbawa oleh alunan musik yang begitu nyaman di telinga. Alvin dan teman-temannya kini sedang berada di sebuah cafe di tengah kota Bandung.
Alvin meregangkan seluruh tubuhnya, tak lupa, bibirnya yang terbuka lebar karena menguap. Badannya terasa pegal-pegal, mungkin karena ia banyak bergerak hari ini tanpa istirahat yang cukup. Tetapi, ia tidak sendirian. Teman-temannya yang lain pun merasakan hal yang sama dengan dirinya.
"Selesai!" ucap Calista sembari menyandarkan punggungnya pada kursi. Tak lupa, ia meregangkan tubuhnya, merasakan rasa nikmat yang tidak terdefinisikan.
Devan menaikkan pandangannya dan menatap Calista yang kini sedang menyimpan kedua tangannya di atas kepala, dengan mata yang masih fokus pada layar laptop, "Udah selesai, Cal?" tanyanya.
Calista mengangguk sembari tersenyum, "Udah, Dev."
Devan mengangguk, "Maaf, ya? Jadi ngerepotin MPK."
Calista menggeleng pelan, "Gak 'pa-pa, kok. Lagian emang udah seharusnya kita saling bantu, kan?"
"Kedepannya, ajak lagi kita, ya. Entah untuk diskusi atau bantu-bantu hal kayak gini," tambah Sherina.
Rangga mengangguk, "Iya, gue setuju banget! Apalagi, MPK punya ahli komputer kayak Calista."
Nasha yang semula fokus pada layar laptop bersama Liana kini meregangkan tubuhnya dan menyandarkan diri pada kursi, "Hasil karangan esai juga udah selesai. Udah ada juaranya juga."
Devan dan teman-temannya yang lain menghela nafas. Akhirnya, setelah bergelut beberapa jam dengan tugasnya, semua kebutuhan pengumuman pemenang lomba akhirnya selesai. Terakhir, hanya tinggal mencetak piagam penghargaan yang desain-nya baru saja diselesaikan oleh Calista.
Amanda melirik jam tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Harusnya ia tidak berada di sini sekarang. Harusnya ia sudah pulang. Jika begini, mungkin orang tuanya akan marah karena ia pulang terlalu larut.
"Kita mau pulang kapan, temen-temen?" tanya Amanda yang hanya mendapat tatapan bingung dari semua orang.
Fiona mendekatkan dirinya pada Nasha. Tak lupa ia menoleh ke arah belakang, berusaha agar gerakan bibirnya tidak diketahui siapapun, "Baru juga selesai, udah nanya pulang aja!" bisiknya.
Nasha tertawa pelan. Jika dulu Fiona tidak suka pada Liana, kini ia berganti target. Tapi, sebenarnya Fiona bukannya tidak menyukai, ia hanya suka sekali membicarakan hal-hal yang tidak ia sukai. Dan sebagai temannya, Nasha beruntung karena tidak perlu repot meminta Fiona untuk terbuka padanya.
"Sebentar!" jawab Alvin sembari menunjukkan telapak tangannya. Ia kemudian bangkit dari duduknya, tak lupa tersenyum pada Nasha yang kini sedang menatapnya keheranan, "Gue mau kasih tau kalian sesuatu."
"Lo mau ngapain, Vin?" tanya Liana.
Alvin hanya memicingkan matanya sembari tersenyum penuh arti, "Tunggu aja. Nanti juga tau, kok!"
Alvin kemudian melangkahkan kakinya menuju panggung cafe yang terletak tidak jauh dari tempat ia dan teman-temannya duduk. Ia kemudian berbincang-bincang pada pemilik cafe membuat teman-temannya saling tatap karena bingung dengan apa yang akan dilakukan oleh Alvin.
"Alvin mau traktir kita apa, ya?" terka Angel.
"Lo tau Alvin mau ngapain, Sha?" tanya Fiona pada Nasha yang hanya dijawab gelengan.
Alvin kemudian naik ke atas panggung sembari menampilkan deretan giginya yang rapih. Rambutnya yang setengah berantakan, dan kemeja sekolahnya yang sudah keluar dari tempatnya membuat Alvin setengah keren. Sekarang mungkin setengah, tetapi yang dilakukan Alvin di detik selanjutnya membuat Alvin ganteng maksimal.
Alvin mengambil salah satu gitar di dekatnya dan mengalungkan talinya pada bahunya. Ia mulai memetik senar gitar, mencoba untuk mengetes suara yang keluar. Tangannya terangkat untuk memegang mic di hadapannya. Ia kemudian berdeham sebelum memulai, tak lupa dengan senyuman manis yang tak hilang dari wajahnya.
"Lagu ini gue persembahkan untuk temen-temen gue yang ada di sana," ucapnya sembari menunjukkan telapak tangannya pada teman-temannya yang tersenyum sambil geleng-geleng kepala, "Dan juga, lagu ini untuk seseorang yang selama ini memenuhi hati dan pikiran gue. Tapi seberapa kuat gue coba, dia gak peka-peka."
__ADS_1
Ucapan Alvin sukses membuat gelak tawa pengunjung cafe memenuhi ruangan. Ia juga tertawa pelan karena menyadari perkataannya yang begitu konyol, "Lagu ini sama dengan pernyataan cinta gue. Gue harap, lo paham maksud gue nyanyiin lagu ini, Sha."
Nasha membulatkan kedua matanya saat Alvin menyebutkan namanya. Teman-temannya hanya senyum-senyum sembari menatap Nasha penuh arti. Apa tadi? Pernyataan cinta? Apa Alvin tidak salah sebut nama?
Alvin mulai memainkan gitarnya, beberapa personel band cafe juga mulai memainkan alat musiknya. Alunan musik yang tampak tak asing dari telinga. Musik yang akhir-akhir ini sedang disukai oleh sebagian orang.
*Cantik
Ingin rasa hati berbisik
Untuk melepas keresahan
Dirimu
Ooh cantik
Bukan kuingin mengganggumu
Tapi apa arti merindu
Selalu*
*Walau mentari terbit di utara
Hatiku hanya untukmu
Ada hati yang termanis dan penuh cinta
Tentu saja 'kan kubalas seisi jiwa
Tiada lagi tiada lagi yang ganggu kita
Teman-teman Nasha kini menatap Nasha yang bibirnya kini sedang setengah terbuka karena terkejut. Ia lalu teringat perkataan Alvin tadi sebelum memulai pertunjukkan. "Lagu ini sama dengan pernyataan cinta gue."
"Ya ampun, Sha. Alvin lagi nembak lo?" tanya Angel tidak percaya.
"Gue gak tau kalian udah sedekat itu," tambah Amanda.
Nasha menggeleng pelan, "Gue gak tau."
"Kan udah gue bilang, Alvin tuh suka sama lo," ucap Liana sembari menepuk bahu Nasha pelan.
"Alvin cuma nyanyi aja, kok," jawab Nasha mencoba tetap tenang.
*Cantik
Bukan ku ingin menganggumu
__ADS_1
Tapi apa arti merindu
Selalu
Walau mentari terbit di utara
Hatiku hanya untukmu
Ada hati yang termanis dan penuh cinta
Tentu saja 'kan kubalas seisi jiwa
Tiada lagi tiada lagi yang ganggu kita
Ini kesungguhan, sungguh aku sayang kamu
Ada hati yang termanis dan penuh cinta
Tentu saja 'kan kubalas seisi jiwa
Tiada lagi tiada lagi yang ganggu kita
Alvin tersenyum dengan pandangan yang tak lepas dari Nasha yang sedang menatapnya bingung. Sebelum mengakhiri lagu, ia meminta kepada personel band untuk memanjangkan instrumennya, karena ia perlu waktu lebih untuk mendekatkan dirinya pada Nasha.
Alvin melangkahkan kakinya untuk turun dari panggung dengan gitar yang masih setia berada di bahunya. Melihat hal itu, teman-temannya tiba-tiba memiliki ide untuk membawa Nasha lebih dekat pada Alvin. Mereka menarik lengan Nasha untuk maju, sedangkan Nasha hanya pasrah dengan apa yang dilakukan oleh teman-temannya. Ia terlalu bingung dengan sikap Alvin hingga ia tidak bisa berfikir jernih.
"Ini kesungguhan, sungguh aku sayang kamu."
Alvin menghentikan alunan musiknya dengan petikan terakhir pada gitarnya. Ia lalu menatap Nasha yang kini sedang menatapnya. Dapat Alvin lihat wajah Nasha yang merona karena malu. Bagaimana tidak, mereka kini sedang dilihat oleh banyak orang.
"Gue sayang sama lo, Sha. Gue emang bukan cowok baik-baik, gue juga gak bisa janji jadi yang terbaik buat lo. Yang bisa gue lakuin, gue hanya akan selalu berusaha setiap harinya untuk buat lo merasa bahagia. Bahkan kalau perlu, gue akan berusaha sekuat tenaga untuk jadiin lo manusia paling bahagia di dunia."
Nasha menunduk sembari mengulum bibirnya. Ia terlalu malu untuk menatap Alvin sekarang. Ini terlalu tiba-tiba. Pikiran yang sedari tadi berantakan sekarang ditambah semakin berantakan karena pernyataan cinta Alvin.
"Gue boleh pinjem tangan lo?" tanya Alvin membuat Nasha mengangkat kepalanya menatap Alvin. Detik selanjutnya Nasha mengangguk dan kembali menunduk.
Alvin meraih tangan Nasha. Diusapnya punggung tangan Nasha dengan lembut membuat Nasha yang sedari tadi gugup, kembali menaikkan pandangannya, dan menatap Alvin.
"Would you be mine?"
Ingin sekali rasanya Nasha berteriak sembari mengatakan 'Ya' dan memeluk Alvin dengan erat. Namun, ia harus sadar karena mereka sedang berada di hadapan umum. Nasha menahan senyumnya sembari berpura-pura berpikir. Ia hendak mengangguk, namun sebuah kalimat tiba-tiba memenuhi kepalanya.
"Gue kira hubungan dekat kita selama ini bisa menang ketimbang kedekatan lo sama Alvin. Tapi, kayanya gue salah, ya, Sha? Hubungan kita gak ada artinya buat lo."
Perkataan Galih saat camping kembali terngiang di telinganya. Ia lupa. Ia belum menyelesaikan hubungannya dengan Galih. Akan timbul masalah jika ia memulai hubungan dengan Alvin tanpa membuat kejelasan pada hubungannya dengan Galih.
"Sorry, Alvin. Gue perlu waktu untuk memulai hubungan sama lo."
__ADS_1
To be Continued