
"Gue gak boleh ikut camping temen-temen," ucap Angel dihadapan teman-temannya yang sekarang sedang kumpul rutin sepulang sekolah.
"Lo serius, ngel?" tanya Liana.
Angel mengangguk lemah membuat semua teman-temannya menghela nafas. Mereka bingung karena mereka sudah sepakat untuk berjuang bersama-sama, tetapi Angel tiba-tiba mengatakan tidak bisa ikut. Apakah harus mereka lepaskan, atau mereka perjuangkan.
"Gue juga gak boleh lanjut dikepengurusan OSIS."
Mereka makin frustasi dan mengusap wajah dengan kasar. Jika sudah menyangkut izin orang tua, siapa yang bisa menantang? Jawabannya, kuasa Tuhan.
"Tapi lo sebenernya mau lanjut atau engga, ngel?" tanya Nasha.
Angel mengangguk, "Awalnya gue ragu lanjut diseleksi ini, tapi setelah gue ketemu lo, Fiona, Calista, dan Alvin, gue yakin sama diri gue sendiri kalau gue mau lanjut di kepengurusan selanjutnya."
Mereka diam. Bingung sikap apa yang harus mereka tunjukan pada Angel. Meminta Angel untuk tetap mengikuti camping? Lalu bagaimana jika Angel mendapat masalah di rumahnya? Ataukah, melepas Angel begitu saja? Lalu bagaimana dengan keinginan Angel untuk tetap melanjutkan dikepengurusan OSIS? Sebenarnya, izin orang tua, atau keinginan yang lebih penting?
"Kalian berani ambil resiko ga?" tanya Liana tiba-tiba.
"Resiko apa?" tanya Fiona tidak mengerti.
"Persyaratan camping udah ada di tangan kita, dan batas kita ngumpulin semua persyaratannya nanti malem, kan?" ucap Liana. Mereka semua mengangguk membenarkan pernyataan Liana, "Gimana kalau kita bagi-bagi? Tapi dalam hal ini, biar Angel gak ikut."
"Tapi entar waktu Angel nya mau camping gimana? Kan, tetep harus keluar rumah," balas Calista.
Liana mengangguk. Ia menoleh pada Angel yang sedang cemberut memikirkan kelanjutan hidupnya, "Lo udah biasa nginep di rumah gue, kan? Lo bilang sama nyokap bokap lo buat nginep di rumah gue aja, gimana?"
Angel tiba-tiba saja tersenyum. Mengapa ia tidak kepikiran hal itu daritadi, "Tapi gak akan apa-apa, Li? Gue takut nyokap bokap gue datengin rumah lo karena gak percaya sama gue."
"Buat hal itu, kita pikirin nanti aja, oke?"
"Sekarang kita bagi-bagi tugas, takut keburu sore," titah Alvin.
Mereka semua mengangguk. Mereka langsung mendekatkan diri untuk berdiskusi. Fiona yang sebelumnya tidak suka pada Liana kini terlihat nyaman berdiskusi dan duduk dekat Liana. Calista yang sibuk memikirkan cara membagi dengan baik dan benar, Liana yang sibuk mencatat, Nasha yang sibuk mengangguk-angguk seolah setuju, dan Alvin yang sibuk tersenyum sambil tidak memikirkan apa-apa.
"Oke, gue rasa pembagiannya udah cukup," ucap Liana sambil meregangkan tubuhnya. Ia lalu melirik jam tangannya, "Udah jam 4, ayo kita bergerak."
"Gue bosen sama lo terus, Vin," ucap Nasha sambil berjalan meninggalkan Alvin yang kebingungan.
Alvin buru-buru menghampiri Nasha, "Emang lo kira gue mau sama lo terus?"
Nasha menghentikan langkahnya dan menatap Alvin tajam, "Lo kasar banget jadi cowo!"
__ADS_1
Nasha kembali berjalan sembari menghentak-hentakkan kakinya karena kesal pada Alvin. Jika seorang cewe kesal, harusnya seorang cowo tidak membalas sekasar itu. Tidak, mungkin cowo lain tidak sekasar Alvin.
"Emang bener, ya, jadi cowo itu serba salah!"
°°°
"Pasien Angel," panggil salah satu perawat.
Angel menoleh pada Liana, "Lo yakin,
Li?"
Liana mengangguk yakin dan bangkit dari duduknya. Ia lalu menautkan kancing cardigannya, takut namanya itu terbaca oleh dokter.
"Surat sehatnya buat apa, ya?"
"Buat persyaratan camping, dok."
Liana menoleh pada Angel yang sedang gelisah sambil menunggunya. Angel gelisah karena takut apa yang dilakukan oleh dirinya dan teman-temannya itu salah. Ia takut ada malapetaka yang menunggunya karena mencoba membohongi kedua orang tuanya. Apalagi sekarang kebohongannya itu bertambah. Liana dengan sukarela menyamar menjadi Angel dan membuat surat sehat.
Beberapa menit setelahnya, Liana kembali pada Angel yang sedang menunduk dengan tangan mengepal di atas kedua kakinya. Angel sedang berdoa, semoga tidak ada malapetaka gara-gara kebohongannya.
"Lo gak usah ketakutan gitu, Angel," ucap Liana sembari mengusap bahu Angel, "Kalau lo kenapa-napa lo punya gue dan temen-temen yang lain yang siap bantu lo. Lo gak perlu khawatir untuk sesuatu yang belum terjadi."
Liana menggeleng, "Gak masalah."
Berbeda dengan Angel dan Liana yang kini sedang duduk di dalam ruangan yang teduh, Alvin dan Nasha kini harus merelakan tangannya selalu bergerak menghapus keringat di dahi dan pelipisnya. Mereka juga harus kuat menahan bau amis, dan pandai memilih jalan agar tidak mengotori sepatunya. Mereka sedang berada di pasar sekarang.
"Yang terakhir, kita beli jeruk," ucap Nasha sembari membaca daftar yang harus dibeli.
"Beli buah gak ke supermarket aja?" tanya Alvin risih sambil memperhatikan sekitarnya.
Nasha menyunggingkan senyumnya, "Kenapa emangnya? Lo gak mau makan makanan pasar?"
"Gak gitu, Sha. Gue kira akan lebih baik kalau beli buah-buahan di supermarket. Lebih hiegenis juga, kan?"
Nasha mengangguk membenarkan, "Lebih mahal juga."
Alvin menghela nafasnya. Ia mengalah kali ini. Ia tidak ingin berdebat dengan Nasha di tengah pasar seperti ini. Nanti, pasar yang ramai akan semakin ramai karena sibuk menonton perdebatan antara dirinya dan Nasha.
Nasha tersenyum dan menyuruh Alvin untuk membawa sekantung jeruk yang sudah dibelinya. Ia senang karena meskipun Alvin risih dengan keadaan pasar, Alvin tetap diam dan menurut apa yang dikatakan oleh Nasha.
__ADS_1
Alvin dan Nasha keluar dari pasar sesaat setelah mereka menyelesaikan daftar pembelian. Mereka langsung menuju motor Alvin yang terparkir di depan pasar.
"Vin, lo mau minuman dingin gak? Biar gue yang traktir."
Alvin mengangguk, "Tapi gue gak mau beli disini, oke? Nanti aja dipinggir jalan."
Nasha mengangguk setuju. Ia kasian pada Alvin jika lagi-lagi ia tidak menuruti kemauan Alvin. Alvin menyerahkan kantung belanjaan pada Nasha dan menaiki motornya. Nasha pun langsung mengikuti Alvin untuk menaiki motornya.
"Sha, gue pingin cingcau."
Nasha mengernyit, "Susah carinya, Vin."
Alvin menggeleng, "Selagi kita usaha, pasti ada jalan."
Nasha memutar bola matanya, malas jika Alvin sudah mengeluarkan kata-kata bijak di waktu yang salah. Ya meskipun mereka berusaha sangat keras, kalau tukang cingcaunya memilih libur, ya mau bagaimana lagi?
"Vin, itu tukang cingcau nya!" ucap Nasha sembari menepuk bahu Alvin untuk menghentikan motornya.
Alvin mengangguk dan memutar balik motornya. Ia lalu menghentikan motornya tepat di depan tukang cingcau yang kini sibuk mengipasi wajahnya dengan kardus.
"Panas, ya, mang?" tanya Alvin sambil terkekeh.
"Iya, juragan. Padahal udah jam setengah lima tapi masih panas aja."
Nasha terkekeh geli saat mendengar interaksi Alvin dengan tukang cingcau yang terkesan sudah saling mengenal sejak lama, "Mang, pesen dua, ya? Yang satu sirupnya sedikit aja."
"Kenapa sedikit neng? Nanti gak manis, atuh," jawab tukang cingcau itu.
"Dia gak pake gula juga udah manis, mang," balas Alvin.
Tukang cingcau itu terkekeh sembari tangannya sibuk menyiapkan pesanan yang diminta Nasha. Beberapa detik setelahnya, ia memberikan segelas cingcau dengan es krim putih di atasnya, dan sirup yang sedikit pada Nasha. Nasha tersenyum karena tukang cingcau itu mendahulukannya ketimbang Alvin yang mengajaknya bercanda sebelumnya. Mungkin karena beliau memegang prinsip ladies first.
"Kalian adik kakak?" tanyanya tiba-tiba.
Alvin dan Nasha saling pandang karena bingung.
"Adik kakak darimana, mang? Kalau beneran adik kakak yang ada rumah dan seisinya kacau," jawab Alvin.
"Muka kalian mirip."
Nasha tertawa pelan mendengar perkataan itu. Ia lalu menoleh pada Alvin dan memperhatikan wajah Alvin, "Kita mirip darimananya, Vin?"
__ADS_1
"Katanya, kalau yang mukanya mirip tapi bukan adik kakak, tandanya kalian jodoh."
To be Continued