VACILANTE : IMPERFECT

VACILANTE : IMPERFECT
24 - Reason


__ADS_3

"Aku minta maaf."


Langkah Nasha terhenti saat mendengar suara yang dikenalnya. Ia memutar badannya, mendapatkan Galih yang sedang bersandar di tembok koridor. Detik berikutnya Galih menegakkan tubuhnya, berdiri dan menatap Nasha dengan sendu. Tatapannya begitu dalam hingga membuat Nasha yakin bahwa Galih sedang serius dengan perkataannya.


Galih melangkahkan kakinya, mendekati Nasha yang masih diam tak berkutik. Tatapan Nasha juga masih setia pada kedua bola mata berwarna coklat yang teduh itu. Hatinya juga sakit melihat Galih yang tidak seperti biasanya. Ia juga sedih saat mengingat perkataan Galih yang ternyata benar-benar serius dengan perasaannya.


"Aku minta maaf, Sha."


"Buat apa, Kak?"


"Kejadian tempo hari."


Nasha mengangguk kecil. Ia mengulum bibirnya dan menunduk. Ia juga bingung harus membalas apa perkataan Galih.


"Kak Galih gak salah."


Galih menggeleng. Ia lalu meraih lengan Nasha membuat pemilik lengan menoleh menatap Galih, "Harusnya aku lebih ngerti dan gak ngomong sembarangan. Maaf, Sha."


"Itu semua emang salah aku. Kak Galih bener. Kalau aku gak bisa tahan orang berbicara buruk tentang aku, harusnya aku lebih jaga sikap. Dan harusnya aku lebih berterimakasih karena Kak Galih udah bantu aku lolos."


Galih menghela nafasnya, "Aku cuma lagi emosi aja waktu itu."


Nasha mengangguk pelan. Ia kemudian mencoba melepaskan tangan Galih dari tangannya. Ia mencoba selembut mungkin, takut akan menyakiti hati Galih lagi.


"Aku mau ketemu sama temen-temen aku dulu, Kak."


Galih mengangguk mempersilahkan. Lantas, Nasha kembali melangkahkan kakinya meninggalkan Galih yang sedang menatap punggungnya. Ingin sekali Galih menghentikan Nasha, meminta Nasha untuk tetap tinggal. Ingin sekali ia menghabiskan hari ini dengan canda tawa bersama Nasha. Tetapi, hal yang tidak mungkin itu semakin mustahil karena kesalahannya.


Di wajah Nasha kini mengulas sebuah senyuman saat ia melihat teman-temannya sedang berkumpul di lapang basket. Ia harus menjaga mulutnya agar informasi yang ia ketahui tidak bocor sebelum waktunya. Ia juga harus berpura-pura senang, padahal ia sangat sedih karena pertemuan sendu dengan Galih tadi.


"TEMEN-TEMEN!"


Alvin dan kelima temannya menoleh pada sumber suara yang terdengar begitu familiar. Wajah mereka mengulas senyuman saat tau siapa yang datang. Orang yang sedari tadi mereka tunggu akhirnya datang.


Nasha berlari menghampiri Alvin dan teman-temannya dengan wajah ceria, membuat Alvin menjadi lebih bersemangat, "Jangan lari-lari, Sha, nanti jatuh!"


"Ya ampun, Vin. Gue gak bisa pura-pura gini!"


"Lo dateng di waktu yang tepat banget, Sha. Ayo, kita makan dulu. Udah laper gue nunggu lo daritadi," ajak Calista.


Nasha menggeleng, "Kalian aja. Gue udah makan tadi."


Senyum yang sedari tadi terpancar di wajah Alvin tiba-tiba menghilang saat melihat wajah Nasha dari dekat. Nasha mungkin tersenyum sangat lebar, tetapi matanya begitu sendu. Apa mimpinya itu akan menjadi kenyataan?

__ADS_1


"Lo juga, Vin. Lo belum makan, kan?"


Alvin menggeleng, "Belum."


"Ya udah, lo makan dulu, gih!"


"Lo juga ikut, Sha. Masa lo mau diem di tengah lapangan gini?" ucap Fiona.


"Ayolah, gue udah laper banget," keluh Calista.


Nasha tertawa pelan, "Gue gerah daritadi di dalem ruangan. Kalian duluan aja, gih!"


Fiona dan teman-teman yang lain akhirnya mengangguk setuju dan meninggalkan Nasha menuju koridor. Namun Alvin tetap bertahan di posisinya. Ia masih setia menatap Nasha yang kini terlihat ceria namun sendu. Ia sedang menguatkan dirinya sendiri dengan menatap Nasha.


"Lo gak ikut juga, Vin?" tanya Nasha saat sadar Alvin tidak mengikuti teman-temannya.


Alvin duduk dan meminta Nasha untuk ikut duduk di sampingnya. Perasaan Nasha tidak enak karena sikap Alvin, meski begitu ia tetap menuruti perkaatan Alvin dan duduk di sampingnya.


"Lo gak pinter bohong, Sha."


"Maksud lo?"


"Gue tau," jawab Alvin. Ia lalu menoleh menatap Nasha yang menunduk, "Hasilnya gak sesuai ekspetasi kita, kan?"


"Lo emang kepingin banget jadi ketua OSIS, Vin?"


Alvin mengangguk. "Kenapa?"


Alvin menghela nafasnya, ia tidak bisa memberitahu Nasha alasan sebenarnya, "Gak tau. Cuma pingin jadi ketua OSIS aja."


Nasha mengernyit, "Kalau lo kalah gimana, Vin?"


Alvin terdiam. Ia lalu memalingkan wajahnya dari pandangan Nasha, berusaha berpikir jawaban apa yang sesuai dengan hatinya di masa depan.


"Gue udah yakin kalah sih, Sha."


"Gue gak nanya itu ya, Vin."


"Ya kalau gue kalah, ya gak 'pa-pa. Calon ketua OSIS kan dipilih dari siswanya langsung, artinya kalau gue kalah, gue emang gak dipercaya buat jadi ketua OSIS selanjutnya," jawab Alvin berusaha yakin dengan apa yang baru saja ia katakan.


"Hati lo? Perasaan lo? Gimana? Gak sedih atau sakit hati emangnya?"


Alvin menatap Nasha datar. Sedangkan yang ditatap masih pada tatapan seriusnya, meminta Alvin untuk menjawab segala pertanyaannya. Setelah mengetahui hasil sebenarnya, Nasha menjadi ingin tau tentang beberapa hal. Dan, ia ingin mengetahuinya langsung dari Alvin.

__ADS_1


"Sha, gue bela-belain gak makan demi hibur lo yang keliatan sedih tapi lo malah introgasi gue? Tau gini gue makan aja sama yang lain."


Nasha memutar bola matanya malas, "Gue kan udah nyuruh lo makan tadi. Tapi kan lo nya yang kekeuh pingin nemenin gue!"


"Ya udah, sekarang bagian lo cerita kenapa lo keliatan sedih. Gak usah nanya-nanya mulu!"


Nasha bangkit dari duduknya. Ia lalu menoleh mendapati Alvin yang sedang menatapnya kebingungan, "Kepo, lo!"


°°°


"Udah sampe," kata Alvin membuat Nasha turun dari motor ninja merahnya sembari berpegangan pada bahu Alvin.


Nasha tersenyum sembari menatap Alvin, ia lalu memukul pelan bahu Alvin, "Makasih, ya!"


Alvin mengangguk. Detik selanjutnya Nasha berbalik dan melangkahkan kakinya memasuki rumah bergaya vintage kesayangannya. Ia rindu masakan ibunya, dan ia tidak bisa lagi menahan rindu pada kasurnya. Ia ingin sekali istirahat.


"Sha," panggil Alvin.


Langkah Nasha terhenti tepat sebelum ia membuka gerbang rumahnya, "Kenapa, Vin? Ada yang ketinggalan?"


Alvin menggeleng pelan, "Bukan itu."


"Terus? Lo mau mampir dulu? Tapi gue gak nerima tamu lewat jam 6, Vin."


"Bukan itu, Nasha," jawab Alvin sembari menghela nafasnya, "Tebakan lo gak ada yang bener!"


Nasha mengernyit. Ia kembali melangkahkan kakinya mendekati Alvin, "Terus lo mau apa?"


"Gue mau nanya," jawab Alvin menggantung, "Kalau gue gak kepilih jadi ketua OSIS, lo masih mau jadi temen gue, kan?"


Nasha menghela nafasnya. Ia tersenyum lega karena Alvin tidak bertanya yang aneh-aneh. "Lo gak inget jawaban lo sendiri, Vin?"


Alvin sempat terdiam. Ia berfikir tentang jawaban apa yang Nasha maksud. "Ya, itu kan jawaban gue buat lo, bukan dari lo buat gue," jawab Alvin setelah mengingat kejadian Nasha tidak pulang sehabis interview.


Nasha meraih lengan Alvin membuat Alvin menatap lengannya, "Ini yang lo lakuin waktu gue down," ucap Nasha sembari mengusap punggung tangan Alvin.


"Lo udah mencoba yang terbaik dan gak ada yang salah dengan itu. Mau lo jadi ketua OSIS, mau engga, lo tetep Alvin. Lo tetep seorang Devian Alvin Ervano. Gak akan ada yang berubah di diri lo karena lo udah berusaha sebaik mungkin. Lo gak perlu khawatir tentang hal yang gak mungkin terjadi, karena gue akan tetap di sini, di samping lo."


Alvin tersenyum. Ia tiba-tiba teringat betapa memalukannya dia saat berbicara sebijak itu. Ia kemudian menatap lengannya yang masih mendapat usapan lembut dari Nasha, ia lalu mengusap tangan Nasha tak kalah lembut, "Lo emang paling jago ya ngikutin kata orang."


Nasha terkekeh, "Vin, lo gak perlu khawatir sama hal yang belum terjadi. Mau bagaimanapun lo tetep temen gue, dan gue gak akan jauhin lo hanya karena lo gagal jadi ketua OSIS."


"Temen aja, nih? Gak lebih?"

__ADS_1


To be Continued


__ADS_2