VACILANTE : IMPERFECT

VACILANTE : IMPERFECT
28 - Atlet Basket


__ADS_3

Suasana lapangan sekolah kini ramai dipenuhi para siswa yang mengikuti ekstrakurikuler. Ada yang sedang pemanasan sebelum berlatih basket, ada yang sudah mengeluarkan jurus yang dipelajarinya, dan ada juga yang berbaris rapi dengan satu komando di hadapannya. Sama halnya di lapangan, ruangan pun tak kalah ramai. Seperti ruang OSIS contohnya. Namun, di ruang OSIS tak seramai di lapangan, mereka kini sedang serius memperhatikan teman-temannya presentasi secara bergantian.


Sepertinya hari ini akan menjadi awal yang buruk untuk Nasha. Jika teman-temannya sudah duduk di posisinya masing-masing, berbeda dengan Nasha yang kini masih sibuk mencari kertas berisi standar operasional prosedur pengurus OSIS.


Setelah mengeluarkan semua barangnya dari tas beberapa kali, akhirnya ia menemukan kertas berwarna putih itu. Ia langsung melipatnya dan menyelipkannya pada buku OSIS-nya. Setelahnya, ia langsung keluar dari kelasnya dan berlari menuju ruang OSIS yang cukup jauh itu.


Angin kencang yang berhembus di sore hari seperti ini rasanya sangat segar. Apalagi jika ditemani dengan jajanan kantin, baso tahu misalnya. Tetapi, keinginan itu harus ditunda karena tanggungjawab untuk kumpul lebih besar ketimbang keinginan makan baso tahu.


Suasana lapangan yang ramai ini membuat Nasha tidak fokus. Ia tidak suka keramaian yang berlebihan karena ia memiliki beberapa masalah di telinganya. Saat ia melewati lapangan basket, ia tidak sengaja menabrak salah satu pemain basket yang sedang bermain, membuat keseimbangannya terganggu, dan berakhir tidak bisa menahan diri.


"Aw!" pekiknya.


Karena suara itu, semua anggota basket memandang ke arahnya. Kini ia sadar, hal yang paling menyakitkan adalah menahan rasa malu ketimbang menahan rasa sakit.


"Lo gak 'pa-pa?"


Nasha menoleh mendapati seorang cowok berbadan tinggi dengan kaus basketnya. Ia mengernyit karena ia tidak mengenali wajah cowok itu. Tangan cowok itu tiba-tiba terulur, membuat Nasha mau tidak mau membalas uluran itu. Detik selanjutnya, Nasha dibantu untuk berdiri.


"Lo gak 'pa-pa?" tanyanya lagi.


Nasha menggeleng pelan, "Lutut gue sakit, tapi gak 'pa-pa. Sorry ya, gue gak sengaja nabrak lo tadi."


Cowok itu menggeleng pelan, "Gak pa-pa, kok. Harusnya gue yang minta maaf karena gak liat lo tadi."


Nasha tersenyum canggung. Rasa sakit di lututnya membuat ia harus beberapa kali memejamkan matanya karena menahan rasa sakit. Namun, ia tiba-tiba teringat. Ini bukan waktunya untuk berbasa-basi. Ia harus menghadiri rapat OSIS sekarang juga. Jika tidak, mungkin Devan akan bersekongkol dengan Rangga untuk memarahinya.


"Kalau gitu gue duluan, ya?" pamit Nasha dibarengi senyum manis.


Cowok itu mengangguk, "Semangat ya kumpul OSIS-nya!"


Nasha tersenyum canggung, ia bingung mengapa laki-laki di hadapannya tau bahwa ia seorang pengurus OSIS. Setelahnya ia mencoba menggerakkan kakinya meski terasa perih. Meski berjalan tertatih-tatih, Nasha tetap mencoba untuk mempercepat langkahnya untuk sampai di ruang OSIS.


Tok tok tok


Nasha menghela nafasnya sebelum masuk. Sejujurnya ia tidak ingin masuk karena merasa malu datang terlambat. Tetapi, lebih baik menghadapi rasa malu itu kan ketimbang menghindarinya? Apalagi Nasha yang sudah diberi tanggungjawab sebagai sekretaris.


Perlahan, Nasha membuka pintu menimbulkan decitan yang membuat semua orang menoleh ke arahnya. Nasha hanya tersenyum kecil, dan berjalan sedikit cepat untuk duduk di tempatnya, di dekat Alvin.


Alvin yang melihat Nasha berjalan tertatih seperti itu mengernyit, ia menoleh pada Nasha dan meminta Nasha untuk menjelaskan apa yang terjadi. Tetapi, Nasha malas untuk itu. Ia memilih untuk memalingkan wajahnya dan tidak menggubris Alvin.


"Pendapat lo gimana, Sha?" tanya Devan tiba-tiba.


"Hah?"


Nasha hanya membuka mulutnya dengan tatapan penuh kebingungan. Ia baru datang tetapi sudah ditanyai pendapat? Apa yang harus ia beri pendapat kalau ia saja tidak tau?


"Gue bercanda," balas Devan sembari terkekeh.


Alvin yang mendengar hal itu tertawa pelan. Ia lalu menoleh mendapati Nasha yang kini sedang menampilkan wajah malas khasnya, "Hukuman buat pengurus inti lebih sulit ketimbang yang lain," bisiknya.

__ADS_1


"Gue telat juga karena ini!" balas Nasha tak terima sembari menunjukkan kertas yang menjadi alasan ia terlambat.


Alvin kembali menampilkan deretan giginya. Beberapa dari pengurus mungkin sadar dengan senyuman itu. Jika ada yang sadar, mungkin jantungnya sedang berpacu dengan cepat. Itu senyuman khas Alvin. Senyuman yang membuat Alvin menjadi siswa paling dicari akhir-akhir ini.


"Alasan!"


Nasha memutar bola matanya malas, "Ya udah, sih! Gue gak minta lo percaya juga."


Tiga orang pengurus yang sedari tadi mempresentasikan rencana program kerja seksi bidangnya, kini sudah kembali ke tempat duduknya. Devan menoleh pada Amanda dan Reyhan bergantian, dan berdeham sebelum memulai.


"Semua program kerja yang dipresentasikan hari ini semuanya sangat bagus. Hanya perlu banyak koreksi. Dengan begitu, akhirnya mungkin tidak akan semua program kerja akan terlaksana. Tetapi, saya pribadi benar-benar mengapresiasi kerja keras kalian untuk menghasilkan program-program baru."


"Dan, saya ingatkan kembali bahwa peringatan hari sumpah pemuda akan dilaksanakan sebentar lagi. Karena itu saya minta seksi pembinaan terkait bisa memberikan rencana acaranya kepada saya, nanti setelah didiskusikan dan disetujui baru dapat direalisasikan," tambah Amanda.


Devan tersenyum sembari menatap teman-temannya yang duduk berjajar di dekatnya, "Ada tambahan lagi?"


"SOP?" tanya Nasha.


"Lo darimana aja, Sha? SOP udah daritadi dibacain," bisik Alvin.


Nasha menatap kebingungan pada Alvin. Teman-temannya hanya tertawa kecil sembari menggelengkan kepalanya. "Kan, kertasnya ada di gue. Kok bisa udah dibacain?"


"Oke sekarang kita akhiri kumpul hari ini. Sesuai hasil diskusi tadi, kumpul rutin akan dilaksanakan setiap rabu. Jadi saya mohon kesadarannya untuk kumpul, terima kasih."


Selesai dengan perkataannya, Devan segera bangkit dari duduknya dan mempersilahkan para pengurus untuk pulang terlebih dahulu. Melihat hal itu, Nasha hanya menghela nafasnya. Ini benar-benar awal yang buruk. Ia harusnya datang lebih cepat, bukan datang disaat akan selesai seperti tadi.


Alvin bangkit dari duduknya, "Nasha ikut gue!"


Mendengar penolakan Nasha, Alvin membulatkan matanya membuat Nasha terkekeh, "Ikut atau gue gendong?"


"Sembarangan!"


"Ya udah makanya ikut gue!"


Nasha menghela nafasnya. Ia lalu merapikan kembali buku dan kertas yang ia bawa sebelumnya. Ia bangkit dan mengikuti Alvin yang sudah berjalan lebih dulu.


"Mau kemana Alvin?" tanyanya saat Alvin berjalan cepat tanpa menoleh ke arahnya. Ia kesal. Alvin menyuruhnya mengikutinya, tetapi Alvin sendiri yang meninggalkannya.


Baru saja Nasha ingin mengumpat, Alvin memutar tubuhnya dan berjalan menghampirinya, membuat langkah Nasha terhenti. Ia menatap bingung pada Alvin yang dengan cepat sudah berada di hadapannya sekarang.


"Lutut lo kenapa bisa berdarah?"


Nasha mengernyit, "Berdarah?" Ia lantas menunduk mencoba melihat lututnya sendiri yang tertutup rok sekolahnya, "Oh ini...."


"Kenapa?"


Nasha memerhatikan sekitar. Mereka kini sedang berada di tengah lapangan basket. Dan, anggota basket kini sedang sibuk memasukkan bola ke dalam ring. Alvin benar-benar tidak tau waktu dan tempat.


"Nanti aja gue jelasinnya. Sekarang lo mau ajak gue kemana?"

__ADS_1


"Gak ada nanti-nanti, Nasha!" balas Alvin, suaranya mulai naik karena menahan kesal.


"Lo marah sama gue, Vin? Lo kok marah? Emang gue salah apa sama lo? Kalo gue jatoh emang bikin dosa ya ke lo? Gue yang jatoh kenapa lo yang marah, Vin?"


Alvin mengacak rambutnya frustasi. Nasha tidak mengerti bahwa dirinya sangat khawatir. Ditinggal sebentar saja Nasha sudah mendapatkan luka padahal kaki yang terkilir tempo hari belum sembuh total.


"Jawab, Vin. Lo kok marah sama gue? Emang gue buat salah apa sama lo?"


Alvin menghela nafasnya, "Gak marah, cantik. Cuma kesel."


"Engga, lo gak keliatan kesel, Vin. Lo keliatan marah sama gue. Lo marah sama gue, Vin? Emang gue buat salah apa sama lo sampe lo marah, Vin?"


"Berisik!"


Alvin meraih lengan Nasha dan membawanya pergi. Yang tadi meminta penjelasan itu Alvin, lalu kenapa pada akhirnya Nasha yang meminta Alvin untuk menjelaskan?


Nasha mengernyit saat Alvin membawanya masuk ke UKS. UKS tidak seperti biasanya. Sekarang UKS sangat sepi, mungkin karena dokter sekolah dan petugas UKS lainnya sudah pulang.


"Vin, lo mau ngapain bawa gue kesini? Lo mau macem-macem ya sama gue?"


Alvin memegang bahu Nasha dan meminta Nasha untuk duduk. Ia lalu mencari kotak P3K yang ia tidak tau pasti dimana keberadaannya. Nasha yang tidak mengerti hanya menatap nanar punggung Alvin. Dan kini Nasha sadar bahwa Alvin memiliki bahu yang lebar.


Alvin berjongkok di hadapan Nasha sembari menyimpan kotak P3K di dekatnya. Ia kemudian meneteskan alkohol pada kapas, dan mengusapnya perlahan pada lutut Nasha.


"Aw, perih, Alvin!"


Alvin hanya diam mendengar protes Nasha. Ia masih kesal karena Nasha tidak mau menjelaskan apa yang terjadi dan malah berbalik marah padanya. Meskipun Alvin sangat kesal, ia tidak bisa mengabaikan luka yang sedari tadi menganggu konsentrasinya.


"Vin, lo marah sama gue?"


Alvin meneteskan obat merah pada kapas dan kembali mengoleskannya pada luka Nasha. Ia tidak mau lagi menjawab pertanyaan Nasha. Bisa-bisa ia kembali di hujani pertanyaan seperti tadi.


Sadar bahwa Alvin marah, Nasha menghela nafasnya, "Gue tadi jatuh karena tabrakan sama anak basket," ucapnya membuat Alvin menoleh padanya.


"Tabrakan? Sama anak basket?"


Nasha menyunggingkan senyumnya, berhasil membuat Alvin tidak jadi marah, "Kepo, ya?"


"Sha...."


"Iya-iya, jangan marah lagi, dong! Tadi waktu mau ke ruang OSIS gak sengaja nabrak anak basket yang lagi main di lapangan."


"Siapa anak basketnya?" tanya Alvin sembari menutup luka dengan plester.


"Gak tau."


Alvin mengusap lembut pada luka Nasha. Ia lalu menengadah menatap Nasha dengan lekat.


"Kalau gak ada gue, lo jangan sampe terluka lagi."

__ADS_1


To be Continued


__ADS_2