VACILANTE : IMPERFECT

VACILANTE : IMPERFECT
9 - Masalah


__ADS_3

Sudah satu jam berlalu semenjak acara perlombaan dimulai. Hanya satu perlombaan yang sudah selesai dengan cepat, yakni make-up dan modelling. Semua perlombaan tidak ada hambatan, juga tidak ada masalah. Hanya makin ramai karena sorakan dari teman-teman kelasnya untuk menang.


Alvin yang memiliki posisi menjadi ketua pelaksana dan komisi disiplin pun kembali merangkap jabatan, bertambah menjadi wasit tarik tambang. Benar kata Nasha, mereka harusnya masuk ke salah satu perlombaan, apalagi tarik tambang. Beruntung semuanya terkendali, hingga membuat Alvin bisa membantu panitia tarik tambang.


Suara peluit berbunyi, dan salah satu kelas bersorak karena berhasil melewati tahap penyisihan, "Salaman dulu, biar gak ada dendam, bro!" ucap Alvin mengajak perwakilan kedua kelas.


Mereka mulai bersalaman sambil tertawa dan memastikan bahwa tidak ada dendam di antara mereka. Ini hanya permainan, jika hasil akhirnya terdapat dendam, bukankah terlalu berlebihan?


Alvin lalu mendekati meja panitia tarik tambang. Ia lalu tersenyum saat mendapati Nasha berada di sana. Nasha juga tersenyum, bahkan sekarang jantungnya berdetak kencang karena melihat Alvin yang tampak berbeda hari ini. Rambutnya yang sudah berantakan, kaos OSIS-nya yang sudah kotor terkena tepung, dan pelipisnya yang sudah dipenuhi keringat.


"Ini, minum dulu. Lo gak inget sama minum, kan?" ucap Nasha sambil memberikan sebotol air minum.


Alvin tersenyum dan mengangguk, "Makasih, ya, udah diingetin."


Calista melihat adegan itu dan terkejut karena suara Alvin dibuat sangat lembut saat berbicara dengan Nasha, "EKHEM, BUCIN!"


Alvin dan Nasha menoleh bersamaan, "Bucin apanya, sih? Gue, kan, cuma ngasih minum doang!" ucap Nasha tak terima.


"Ya, kalau gak bucin, kenapa gak kasih minum juga ke gue?"


Nasha memutar bola matanya malas, "Serah lo, deh! Gak akan ke sini lagi gue. Kesel ya gue punya temen kaya lo!" ucap Nasha sambil beranjak pergi.


Calista hanya tertawa pelan karena sukses membuat Nasha kesal. Alvin juga hanya geleng-geleng kepala melihat Nasha yang mudah sekali kesal.


"Dia gampang banget kesel, aneh!" ucap Calista pada Alvin.


Alvin mengangguk setuju, "Tapi, kalo lagi kesel gitu dia lucu, ya?" tanyanya membuat Calista enek dengan kebucinan Alvin pada Nasha.


"Lo suka beneran sama Nasha?"


"I—" baru saja Alvin akan menjawab, ia sudah melihat Liana yang sekarang sedang ngos-ngosan karena habis berlari.


"Vin...," ucapnya lemah. Ia lalu menetralkan nafasnya dan berdiri memandang Alvin, "Ada masalah."


Mendengar hal itu, Alvin langsung melepaskan peluit yang sedari tadi menggantung di lehernya, "Tolong telepon Nasha, suruh dia cari gue," ucapnya pada Calista dan dijawab anggukan.


Alvin berjalan lebih dulu, dan Liana langsung mengikutinya, "Vin, maafin gue. Gue gak sengaja beneran."


Alvin menghentikan langkahnya tiba-tiba, "Gak sengaja? Emang lo ngapain?"


"Tadi gue ubah metode lombanya, dan sekarang kak Kevin terluka di dahinya."


Alvin mengernyit tidak mengerti. Ia lalu merogoh sakunya dan mencari nama Nasha di kontaknya. Tetapi, setelah nada hubung mulai terdengar, Nasha tak kunjung menjawabnya.


"Ayolah, Sha. Lo dimana?" gumamnya.


"Mending lo liat keadaan Kak Kevin, dulu, deh!"


Alvin mengangguk, namun matanya masih terfokus pada handphone-nya dan mencoba kembali menghubungi Nasha. Ia lalu membuka aplikasi pesan dan mengirimi pesan kepada Nasha. Setelahnya, ia langsung berlari mendatangi UKS.


Alvin terkejut melihat Kevin yang kini sedang terbaring di ranjang UKS dengan tidur menyamping. Kepalanya masih diobati oleh dokter sekolah. Dapat Alvin lihat, bekas-bekas darah di sekitar pelipisnya.


"Dia kenapa bisa gitu, Li?"


"Dia gak apa-apa, kok. Cuma kita gak punya suntik tetanus, sedangkan dia harus di suntik tetanus. Kalau enggak, takutnya dia kena infeksi. Jadi, dia harus segera dibawa ke rumah sakit."


Selesai diobati, Kevin langsung bangkit dari tidurnya dan duduk di pinggir ranjang UKS. Ia lalu tersenyum ramah mendapati Alvin dan Liana yang menatapnya khawatir sekaligus merasa bersalah.


"Kalian udah denger sendiri, kan? Gue gak apa-apa, kok! Jadi, kalian gak usah natap gue kayak gitu, gue risih," ucapnya sambil terkekeh.


Tiba-tiba pintu UKS terbuka dan memperlihatkan Nasha yang sedang ngos-ngosan habis berlari. Alvin mendekat dengan tatapan kesalnya pada Nasha.


"Lo darimana aja sih, Sha? Gue teleponin berkali-kali kenapa gak diangkat?" tanya Alvin. Nada suaranya berbeda dari sebelumnya. Ia terdengar sangat marah.


Nasha kesal pada Alvin. Ia baru datang mengapa langsung dimarahi seperti itu? Di depan orang lain pula. Apa tidak bisa, Alvin menahan amarahnya sampai hanya mereka berdua?

__ADS_1


Bukannya menjawab, Nasha malah berjalan melalui Alvin dan mendekat pada Kevin, "Lo gak 'pa-pa, kak? Sakit, kak?" tanyanya sambil meringis melihat perban di kepala Kevin.


Kevin mengangguk cepat, "Gue gak apa-apa, kok. Ya, kalau gue gak sakit, aneh, kan?" tanyanya sambil terkekeh, "Udah, ya? Gue izin mau ke rumah sakit, semua perizinan di urus sama panitia, kan?"


Nasha mengangguk cepat, "Iya, kak. Kami akan urus perizinannya. Saya mewakili seluruh panitia yang bertugas memohon maaf yang sebesar-besarnya, Kak."


Kevin menggeleng, "Gak 'pa-pa."


Ia lalu turun dari ranjang UKS dan beranjak pergi meninggalkan mereka bertiga. Kini tatapan Nasha beralih pada Liana yang sedang menunduk karena merasa bersalah. Nasha lalu mendekat dan mengusap punggung Liana, mencoba memberi sedikit ketenangan kepada Liana.


"Lo belum bisa cerita sekarang, ya?"


"Ya, kalau dia gak bisa cerita sekarang, kita tau darimana, Sha?" sanggah Alvin.


Nasha menoleh dan membulatkan matanya pada Alvin, "Gue gak ngomong sama lo, ya, Alvin!"


Nasha lalu merangkul Liana dan membawanya keluar dari ruang UKS. Alvin memang laki-laki yang tidak pengertian. Orang lain yang melihat raut wajah Liana pasti mengerti bahwa Liana sedang terkejut setengah syok. Bagaimana bisa Alvin memaksanya untuk cepat bercerita?


"Alvin! Nasha!"


Alvin dan Nasha menoleh bersamaan mendapati Tasya di belakangnya, "Kalian berdua di panggil Rival di ruang OSIS, sekarang!" ucapnya tegas dan berlalu meninggalkan mereka bertiga.


Kini Alvin dan Nasha saling tatap. Apalagi Nasha yang tau bagaimana amarah Rival, membuatnya menunduk lemah. Pasrah dengan apa yang akan terjadi selanjutnya. Alvin lalu melepas rangkulan Nasha pada Liana dan membawa Nasha ke ruang OSIS.


"Bentar, Vin! Gue belum siap!"


"Cuma ketemu Rival gak perlu persiapan. Emangnya lo mau nge-date sama Rival?"


Mereka kini berada di depan ruang OSIS. Nasha harus menetralkan nafasnya dulu sebelum benar-benar siap kena semprot ketua OSIS. Alvin lalu memutar knop pintu dan membukanya. Mereka dikejutkan dengan apa yang ada di ruang OSIS. Ternyata bukan hanya ada Rival, melainkan semua pengurus inti OSIS beserta MPK.


Nasha dan Alvin masuk. Mereka melihat Arya—ketua MPK—sedang duduk memimpin rapat. Sedangkan di sampingnya terdapat Rival yang sedang duduk sambil bertopang dagu.


"Alvin dan Nasha?" panggil Arya memulai dan dijawab anggukan oleh mereka berdua.


"Siap, betul, kak," jawab Nasha.


"Boleh saya tau apa yang terjadi? Seingat saya, kalian juga merangkap sebagai komisi disiplin."


Nasha menatap Alvin cemas. Ia salah karena tadi tidak membiarkan Alvin menanyakan apa yang terjadi pada Liana.


"Orang yang terluka adalah Kevin dari kelas 12 MIPA 4. Ia terluka dibagian kepala karena tertusuk oleh paku. Ia juga sudah mendapat penanganan pertama dari dokter sekolah, dan ia harus ke rumah sakit mendapatkan suntik tetanus," terang Alvin membuat Arya mengangguk paham.


"Sebelumnya sudah kamu pastikan tidak akan ada yang terluka seperti ini?"


Alvin mengangguk pasti, "Siap, sudah."


"Lalu mengapa bisa terjadi kejadian seperti ini?" tanya Arya, suaranya mulai naik karena marah sekaligus kesal.


"Saya hanya menjaminnya, bukan berarti tidak akan ada kejadian seperti ini."


Arya tertawa sinis. Ia lalu menatap Rival dan Galih yang duduk berdekatan dengannya, "Pengurus seperti ini yang kalian percaya sebagai ketua pelaksana?"


Galih menoleh pada Rival dan Arya bergantian, "Maaf, seharusnya saya tidak menyarankan Alvin sebagai ketua pelaksana."


Arya mengangguk, "Jadi dia ditunjuk dan bukan berdasarkan kemauan sendiri? Pantas saja acaranya begitu berantakan."


Mendengar hal itu, Nasha membulatkan matanya tidak terima. Ia lalu menoleh dan mendapati Alvin yang kini sedang memejamkan matanya menahan amarah. Diam-diam Nasha mengusap lengan Alvin, berusaha agar Alvin lebih tenang dan tidak membuat semuanya menjadi lebih kacau.


"Tidak. Semua keputusan kepanitiaan itu sepenuhnya hak saya. Saya juga tidak memilih Alvin karena saran dari wakil saya, tetapi itu semua karena pemikiran saya sendiri," ucap Rival. Ia lalu menoleh pada Alvin dan Nasha sambil tersenyum, "Kalian boleh pergi. Mau bagaimanapun kalian masih tanggungjawab saya. Silahkan kembali dan selesaikan acaranya. Biar masalah ini, saya yang urus."


Arya kini menatap serius pada Rival yang masih tertunduk menahan kesal. Arya menyunggingkan senyumnya sinis. Ia tidak menyangka Rival berbuat sesuatu di luar izinnya.


"Kenapa lo usir mereka?" tanya Arya dingin.


"Bukannya gue udah bilang, keseluruhan acara ini tanggungjawab gue. Mereka belum pegang jabatan, jadi lo gak bisa seenaknya nyeret mereka ke masalah ini," balas Rival tegas.

__ADS_1


Arya tertawa pelan, "Bukan gue yang nyeret dia ke masalah ini, tapi pihak kalian sendiri."


Rival mengernyit tidak mengerti. Ia lalu menoleh pada Galih yang kini sedang memainkan bolpoinnya.


"Harusnya lo gak ngomong kaya tadi, Lih!"


Galih menoleh dan mendapat delikan tajam dari Rival, "Gue cuma gak enak, Val. Gue yang nyaranin mereka megang posisi sepenting itu. Dan, udah seharusnya kan gue minta maaf?"


Rival menggeleng tidak percaya. Bibirnya menyunggingkan senyum sarkas, "Kalo lo merasa bersalah, harusnya lo bela mereka. Bukan jatuhin mereka!" ucap Rival kesal. Nada bicaranya pun mulai naik.


"Tapi, mereka juga gak sepenuhnya benar, Val. Mereka udah dikasih tanggungjawab sama lo harusnya mereka bisa pegang dengan baik. Bukannya lo sendiri yang bilang, kalau acara ini sebagai penilaian pertama buat mereka? Kenapa lo malah bela mereka habis-habisan, sih, Val?" imbuh Nazla—sekretaris MPK.


"Itu kalo mereka melakukan kesalahan yang besar, Naz. Ini cuma kesalahan kecil, gak seharusnya mereka disudutkan kaya tadi. Kalau mereka down dan gak mau melanjutkan di kepengurusan, kalian mau tanggungjawab?"


Galih menggeleng tidak percaya, "Lo gak usah ketakutan gak punya penerus, Val. Masih banyak siswa di sekolah ini yang pingin geser lo dari posisi lo sebagai ketua OSIS. Kehilangan satu gak akan buat kepengurusan bangkrut."


Rival diam mendengar ucapan Galih. Sebenarnya, yang dikatakan Galih itu tidak salah. Rival bisa saja melepaskan Alvin dan Nasha untuk tidak melanjutkan di kepengurusan selanjutnya. Namun, hati Rival menolak hal itu. Ia percaya bahwa akan banyak perubahan besar jika Alvin yang menjabat sebagai ketua OSIS selanjutnya. Ia tidak tau apakah perasaan itu akan benar, atau itu hanya sebatas keinginan dirinya sendiri.


"Tapi, mereka juga udah bertanggungjawab. Tadi gue liat mereka langsung lari waktu tau ada yang terluka," imbuh Tasya—sekretaris OSIS.


"Gue rasa, mereka gak perlu sampai kena sidang," tambah Clara—wakil sekretaris OSIS.


Arya mengangguk-ngangguk paham mendengarkan perdebatan orang-orang di hadapannya. Meskipun ia emosi karena Rival membelanya terlalu berlebihan, dan menurutnya kesalahan yang membuat orang sampai terluka itu fatal, ia harus bersikap adil. Ia juga mengerti niat apa yang Rival coba sampaikan. Mungkin istilahnya, Alvin dan Nasha itu masih anak bawang.


"Oke," ucap Arya mulai memutuskan, "Alvin dan Nasha tidak akan mengikuti sidang pendisiplinan. Keputusan ini bersifat final."


°°°


Alvin kini duduk sambil menopang kepalanya. Sesekali ia memijat pelan pelipisnya. Keseluruhan acara sudah selesai, semua siswa juga sudah dibolehkan untuk pulang ke rumah masing-masing. Kecuali pengurus OSIS. Apalagi karena masalah tadi, Alvin dan Nasha dijatuhkan di depan mata, padahal mereka tidak tau masalah yang sebenarnya.


Pengurus OSIS memilih untuk meminjam salah satu kelas. Mereka takut, pengurus inti MPK dan OSIS masih berdiskusi di ruang OSIS. Mereka juga perlu diskusi, meski waktu sudah menunjukkan pukul 17.00.


Alvin meluruskan lengannya di atas meja. Ia lalu menatap satu-persatu teman-temannya yang tampak kecapekan karena acara yang begitu meriah.


"Sebelumnya, makasih banget buat temen-temen semua yang udah mau kerjasama bareng gue. Yang udah mau terima konsep acara gue sama Nasha," ucapnya memulai, "Gue selaku ketua pelaksana disini, memohon maaf yang sebesar-besarnya karena gue belum bisa jadi ketua yang baik."


Mereka semua tersenyum sambil mengangguk-ngangguk, "Tapi, sebelum kita benar-benar berhenti mengurus acara ini, ada satu hal yang pingin gue tau. Dan mungkin beberapa orang disini ada yang tau masalahnya apa. Tapi, gue gak mau denger berita yang simpang siur. Gue cuma mau denger berita yang sebenarnya dari yang bersangkutan."


Alvin menoleh menatap Liana yang sedang menunduk. Mungkin, Liana merasa sangat merasa bersalah. Tidak biasanya ia seperti ini, tetapi ia mengaku bahwa ia sudah sangat ceroboh.


"Gue minta maaf," ucap Liana memulai. Semua orang yang ada di ruangan itu menoleh, meminta Liana untuk melanjutkan perkataannya, "Gue minta maaf karena gue udah ceroboh hari ini."


"Jangan dipaksain, Liana," bisik Nasha membuat Alvin menoleh dan memelototinya. Nasha tidak mau kalah, ia balik memelototi Alvin. Alvin terlalu jahat membiarkan Liana bercerita dihadapan semua orang seperti ini.


"Tadi, kak Galih datengin gue, tepat sebelum insiden itu terjadi. Dia kasih saran, buat perlombaan memecahkan balon itu, peserta di tutup matanya. Katanya, biar lebih rame dan menantang."


"Tapi, dari awal kita diskusi, kita udah perkirakan resiko kalau ditutup mata, kan?" balas Fiona kesal.


Liana mengangguk paham, "Gue juga mau nentang kak Galih waktu itu. Tapi, gue punya hak apa? Gue sadar jabatan gue apa. Mau gimanapun kak Galih yang lebih berkuasa di sini," balas Liana, suaranya melemah, hampir seperti akan menangis.


Alvin mengangguk paham, "Ini bukan sepenuhnya salah lo, Li. Kalo gue jadi lo, gue juga bakal bingung antara pertahanin apa yang udah kita diskusikan atau mengikuti kata-kata senior. Tapi, Li..." ucapnya menggantung. Alvin lalu mendekat pada Liana, "Harusnya lo diskusikan dulu sama kita. Harusnya lo tanya pendapat gue dulu. Lo bilang kalau lo sadar diri sama jabatan lo, kan? Lo gak anggep gue, Li? Disini yang jadi ketuanya, kan, gue."


Liana menggeleng cepat, "Gak gitu, Vin. Gue tadi bener-bener gak bisa mikir," balas Liana. Air matanya menetes, ia sudah tidak bisa menahan lagi rasa penyesalannya.


Nasha menepuk pelan bahu Liana. Liana kini menangis sesenggukan. Ia lalu memelototi Alvin, meminta pertanggungjawaban Alvin telah membuat Liana menangis seperti itu. Alvin yang tidak mengerti hanya menggidikan bahunya. Tidak tahu menahu alasan Liana menangis. Ia tidak menekannya, ia hanya berbicara apa adanya.


"Udah, Li. Lagian udah terjadi juga, kan? Lo jangan nangis lagi, ya?" ucap Nasha menenangkan.


"Bener apa yang dibilang Nasha. Lo jangan nangis lagi, Li," tambah Angel, lalu mendekati Liana dan memeluknya dari belakang.


Alvin mengacak rambutnya. Ia lalu memperhatikan teman-temannya yang sangat kelelahan. Ia harus menyelesaikan semuanya, lalu bergegas pulang. Kasian teman-temannya itu. Besok mereka masih harus sekolah, tetapi sudah kecapekan gini belum juga disuruh pulang.


"Oke. Sebelum kita pulang, jangan lupa kita beres-beres lapangan dulu. Karena besok masih sekolah, sekolah harus seperti semula. Tidak ada peralatan yang tertinggal, dan tidak ada sampah. Setelah itu, mari kita pulang dan beristirahat."


To be Continued

__ADS_1


__ADS_2