VACILANTE : IMPERFECT

VACILANTE : IMPERFECT
20 - Lost


__ADS_3

"Apa lo bilang? Nasha hilang?"


Liana mengangguk lemah, "Tadi Nasha bilang dia capek, kak. Tapi aku gak dengerin Nasha, karena kita semua harus cari pos yang lain. Dan, aku kira Nasha cuma ngeluh dan tetep ngikutin. Tapi, dia tiba-tiba gak ada."


Galih mengacak rambutnya frustasi. Ia lalu melirik jam tangannya, "Udah malem lagi!"


Alvin bangkit dari duduknya sembari membawa senter. Ia lalu menghampiri Liana yang sedang berbincang bersama panitia.


"Biar gue yang cari."


Baru saja Alvin melangkahkan kakinya, tangannya sudah ditahan oleh Rival, "Lo masih peserta disini. Lo diem aja, biar panitia yang urus. Lebih baik lo balik ke tempat lo sekarang."


Alvin tertawa sinis, "Diem aja lo bilang? Meskipun gue peserta disini, apa gue harus diem aja liat temen gue hilang?"


"Tapi kalau lo ikut hilang, kita juga yang repot!" balas Rival, suaranya mulai naik karena kesal dengan gaya bicara Alvin yang tidak sopan.


"Gue ini laki, Val. Gue gak selemah itu! Yang harus lo pikirin sekarang, Nasha! Dia cewe, sekarang udah malem, dan dia sendirian di sana!"


Rival dan panitia yang lain saling diam. Bingung dengan apa yang harus mereka lakukan. Mereka ingin sekali mengizinkan Alvin untuk mencari Nasha. Tetapi, Alvin tetap seorang peserta yang tanggung jawabnya masih dipegang oleh panitia.


Silvia—calon pengurus OSIS kelas sepuluh— tiba-tiba saja datang menghampiri mereka. Tatapannya sedih sekaligus bingung membuat Clara menghampirinya.


"Kak..." ucap Silvia. Suaranya parau karena menahan tangis, "Kak Amanda juga gak ada."


Mendengar hal itu, mereka semua saling tatap. Mereka sudah bingung dengan permasalahan Nasha, kini ditambah dengan Amanda yang tiba-tiba hilang. Alvin memejamkan matanya geram. Ia harus menyelamatkan kedua temannya.


"Gue gak bisa tinggal diam. Gue harus cari mereka!" ucap Alvin sembari berlari dengan menyalakan senter.


Tanpa pikir panjang Galih dan Rival langsung mengambil senter dan berlari mengejar Alvin. Alvin terlalu gegabah. Ia pergi tanpa membuat rencana yang matang. Sedangkan Alvin, ia sedang kalut. Memikirkan kedua temannya sendirian di tempat yang gelap membuatnya kesal sekaligus marah karena tidak bisa menjaga kedua temannya dengan baik.


"Lo kemana, sih, Sha?"


°°°


"Amanda, kaki lo berdarah!"


Amanda menatap Nasha yang kini sedang menutup mulutnya yang setengah terbuka. Mereka kini sedang duduk bersama di dekat sebuah pohon yang besar untuk bersandar. Masing-masing dari mereka bukan ketua kelompok, itu sebabnya mereka tidak bisa meniup peluit dan meminta pertolongan. Yang bisa mereka lakukan hanyalah diam sembari menunggu seseorang menjemputnya.


"Iya, tadi gue kesandung. Jalanannya gelap banget soalnya," jawab Amanda. Tatapannya tiba-tiba saja beralih pada kaki Nasha yang membiru, "Kaki lo kenapa, Sha?"


Nasha tertawa pelan, "Gue tadi jatoh waktu denger orang teriak-teriak. Kayanya terkilir."


Amanda menghela nafasnya gusar, "Gara-gara gue teriak, ya? Maaf."


Nasha menggeleng cepat, "Gue tadi terlalu seneng waktu denger ada yang teriak. Ternyata gue gak sendirian, dan itu buat gue tenang."


Amanda tersenyum dan tertawa pelan. Ini pertama kalinya Nasha berbincang seperti ini dengan Amanda. Ia hanya tau bahwa Amanda berasal dari kelas yang sama dengan Alvin, Amanda terkenal sejak MOS, dan Amanda selalu ramah pada semua orang, termasuk dirinya. Meski sebelumnya tidak pernah mengobrol, mereka pernah saling tersenyum saat tidak sengaja saling tatap.


Nasha mengeluarkan kotak P3K yang sedari tadi berada di dalam tasnya. Ia lalu meraih kaki Amanda secara perlahan, berusaha agar Amanda tidak kesakitan. Luka di kaki amanda cukup parah, apalagi karena dibagian lututnya dengan celana yang sobek, membuat Nasha linu sendiri.


"Gue obatin, ya?" tanya Nasha dan dijawab anggukan.


Nasha mengeluarkan kapas dan membasahinya. Ia lalu membersihkan luka Amanda dari pasir-pasir yang menempel. Setelahnya, ia mengeluarkan alkohol untuk mensterilkan luka Amanda, "Kalau perih, teriak aja. Kali aja ada orang yang denger teriakan lo."


Amanda tertawa pelan mendengar penuturan Nasha, "Sha," panggilnya membuat Nasha berdeham tanpa menoleh, "Lo mau jadi dokter, ya?"


Nasha tersenyum dan mengangguk. Ia lalu mengambil obat merah dan meneteskan obat itu pada kapas. Setelahnya ia mengusapkan obat itu pada luka Amanda, "Tapi gue gak yakin, otak gue gak sepintar itu buat jadi dokter."


"Lo belum nyoba, kenapa gak yakin? Yang jadi dokter itu, bukan cuma soal pintar. Mereka juga harus kuat dalam segala hal. Kuat otak, kuat mental, kuat fisik, dan kuat batin."

__ADS_1


Nasha tertawa pelan, "Semua pekerjaan juga gitu kali, Manda."


Selesai dengan mengusapkan obat merah pada luka Amanda, Nasha beralih mencari perban untuk menutupi luka. Namun, ia tidak menemukan keberadaan benda itu. Ia bahkan mencarinya di dalam tas, takut kalau kotaknya sempat terbuka dan perbannya jatuh di dalam tas. Namun, ia tetap tidak menemukannya.


"Perbannya gak ada. Kayaknya gue lupa masukin, deh."


Amanda menarik kakinya yang semula berada di atas kaki Nasha, "Gak 'pa-pa, seenggaknya luka gue udah dapet pertolongan pertama dari calon dokter."


Ucapan Amanda sukses membuat Nasha terkekeh malu. Ia selalu malu saat mengungkapkan mimpinya menjadi seorang dokter. Dan, ini pertama kalinya ia mengungkapkan mimpi itu pada orang lain. Ia tidak menyangka bahwa ia mendapat respon yang baik soal mimpinya.


"AMANDA. NASHA."


Amanda dan Nasha saling tatap. Meski hanya samar-samar, mereka mendengar suara seseorang. Nasha mencoba untuk bangkit, tetapi usahanya gagal karena kakinya yang begitu nyeri karena terkilir.


"GUE DISINI," teriak Nasha sambil melambai-lambaikan tangannya.


"Tangan lo gak akan keliatan, Sha. Lo gak liat suasananya gelap gitu?" ucap Amanda. Detik selanjutnya ia merogoh tasnya dan mengeluarkan senter. Ia menyalakannya dan menggerakkan senter ke sembarang arah.


"Brilliant!" puji Nasha.


"Amanda, Nasha!" panggil seseorang.


Nasha tersenyum saat ia mendapati Galih sedang berlari ke arahnya. Tetapi, pikirannya tiba-tiba saja melayang memikirkan cara Galih membawa dirinya dan Amanda sekaligus. Kakinya terluka dan sudah pasti ia tidak bisa berjalan sendiri. Begitupun dengan Amanda yang terluka lebih parah dari dirinya.


"Kalian darimana aja?" tanya Galih sedikit kesal.


"Maaf, kak," ucap Nasha dan Amanda bersamaan.


Galih menghela nafasnya gusar, apalagi setelah melihat luka di kaki Amanda. Ia mengacak rambutnya frustasi. Pilihannya untuk berpencar dengan Rival sepertinya salah. Ia harus membawa Amanda, tetapi ia tidak bisa meninggalkan Nasha sendirian.


"Lo gak 'pa-pa, Sha?"


Amanda membulatkan matanya menatap Nasha. Meski lukanya belum ditutup perban, ia yakin ia bisa berjalan sendiri. Berbeda hal dengan Nasha yang terkilir. Sudah pasti, Nasha akan lebih kesulitan untuk berjalan. Namun, Nasha memejamkan matanya pada Amanda, seolah memberi tanda bahwa Amanda harus diam.


"Lo yakin?" tanya Galih memastikan, "Lo beneran gak 'pa-pa, kan?"


Nasha mengangguk pasti, "Kak Galih kan liat sendiri aku gak 'pa-pa. Gak ada luka juga, kan?"


Galih mengangguk setuju. Ia lalu jongkok di hadapan Amanda, dan meminta Amanda untuk naik ke punggungnya. Sebelum naik, Amanda menatap Nasha, dan Nasha hanya mengangguk meyakinkan Amanda bahwa semuanya akan baik-baik saja.


Galih berdiri sembari menggendong Amanda di punggungnya. Ia menoleh mendapati Nasha yang sedang berusaha untuk berdiri. Diam-diam Nasha memejamkan matanya menahan sakit di pergelangan kakinya.


"Lo bawa senter, kan, Sha? Ikutin gue dari belakang, ya?"


Nasha mengangguk mengerti. Galih lalu melangkahkan kakinya. Namun, Nasha masih diam karena rasa sakit yang semakin menjadi kala ia mencoba untuk menggerakkan kakinya. Ia mencoba melangkahkan kakinya, namun rasa sakit itu membuat tubuhnya tidak seimbang. Ia memejamkan matanya, bersiap untuk berbenturan dengan tanah.


"Aw!"


Nasha masih memejamkan matanya, saat dirinya sudah tertidur di lantai dengan sempurna. Ia mencoba mencari rasa sakit di tubunya karena ia harus bersiap untuk bangun. Namun, ia tidak merasakan rasa sakit itu. Ia meraba kepalanya, dan ia mendapati sebuah tangan di bawah kepalanya.


"Sha, bangun. Sakit semua badan gue lo tindih."


Nasha membulatkan matanya karena terkejut. Ia sadar sekarang. Ia berada di atas tubuh seseorang yang sedang telungkup.


"Alvin? Kok, lo ada disini?" tanya Nasha setelah ia menjauhkan tubuhnya dari Alvin.


Alvin bangkit dan langsung mendapati luka di bagian lututnya. Ia mengerang kesakitan sembari menahan perih, "Gue gak nyangka badan lo berat juga, Sha."


Nasha menatap Alvin tajam. Ia memang bersyukur ia terjatuh namun tidak bersentuhan langsung dengan tanah. Namun, ia ingin mengeluh. Mengapa yang menolongnya harus Alvin diantara sekian banyak manusia?

__ADS_1


"Lo selamatin gue buat hina gue, kan?"


Alvin membulatkan matanya, "Astaga, Nasha! Gue udah khawatir sama lo, tapi lo malah kayak gitu ke gue?" ucap Alvin sambil menggeleng tidak percaya, "Udah, lo pulang aja sendiri! Anggap aja gue gak pernah dateng kesini!"


Nasha terkekeh, "Iya, Alvin, maaf. Lo, sih, bawa-bawa berat badan. Lo gak tau dua hal yang sensitif buat gue apa? Tinggi badan, dan berat badan."


"Gak penting!" balas Alvin membuat Nasha menatapnya malas.


Alvin lalu memperhatikan Nasha yang kini masih duduk diam, "Lo gak 'pa-pa, Sha?"


Nasha menggeleng, "Gue yang harusnya nanya. Tadi gue nimpa lo, lo gak 'pa-pa?"


"Lo gak liat? Lutut gue luka, nih!"


Fokus Nasha beralih pada lutut Alvin yang mengeluarkan darah. Ia menutup mulutnya yang setengah terbuka, "YA AMPUN, ALVIN!" ucapnya sembari menatap Alvin yang kebingungan, "Kaki lo berdarah, tuh!"


Alvin memutar bola matanya malas, "Ya kan gue yang kasih tau lo, tadi."


Nasha terkekeh, "Sini gue obatin dulu. Gue bawa P3K."


Alvin menggeleng tidak setuju, "Kita balik ke tenda dulu. Lo bisa jalan?"


Nasha diam. Ia ingin sekali bilang bahwa ia tidak bisa berjalan karena kakinya terkilir. Namun, ia takut merepotkan Alvin. Alvin sudah repot-repot menyusulnya, dan sekarang ia harus menggendong Nasha. Tidak. Nasha tidak ingin menjadi teman yang merepotkan. Tetapi, ia juga tidak bisa berjalan sendiri. Saat tadi ia mencobanya, kakinya terasa sangat sakit.


Alvin yang tau Nasha sedang mencoba berbohong langsung jongkok di hadapan Nasha. Ia lalu meraih tangan Nasha dan memaksa Nasha untuk naik ke punggungnya.


"Gue tau lo mau pura-pura baik-baik aja, kan? Sekarang mending lo naik, keburu makin gelap."


Nasha hanya mengikuti apa yang diminta Alvin. Ia juga semakin dingin karena waktu semakin malam. Tubuhnya sudah sangat lelah, dan ia ingin beristirahat.


Alvin bangkit dengan Nasha yang berada di punggungnya. Tangan Nasha melingkar sempurna di leher Alvin. Kepalanya ia sandarkan pada bahu Alvin, rasanya hari ini berjalan dengan sangat lambat, membuat kepalanya terasa berat.


"Vin, makasih."


Alvin tersenyum, "Setelah sekian lama berteman, akhirnya seorang Nasha mengucapkan kata 'makasih'."


"Gue serius, Alvin!"


Alvin tertawa pelan, "Lo gak usah makasih, Sha. Gue tadi bener-bener khawatir sampe gak bisa mikir apa-apa. Bayangin lo sendirian di sini dengan suasana yang gelap kaya gini bikin gue kalut. Dan, gue bersyukur banget gue bisa nemuin lo. Jadi, lo gak perlu makasih."


Nasha memajukan lehernya, berusaha untuk melihat wajah Alvin, "Cie...."


"Gue serius, Nasha!"


Nasha mengangguk pelan, "Iya, gue tau lo serius, Vin," jawabnya sambil terkekeh, "Kalau lo gak serius, lo gak akan bisa bilang kata-kata kayak gitu."


Alvin menghentikan langkahnya. Ia lalu menggerakkan tubuhnya kesana kemari membuat Nasha semakin erat berpegangan karena takut jatuh.


"Lo liat ada sungai di sekitar sini ga, Sha?"


Nasha menahan nafasnya sembari menahan amarahnya, "Lo kira gue kucing apa yang bisa liat jelas kalo malem?"


"Kali aja lo liat."


"Mau apa lo nyari sungai? Lo haus? Ini gue bawa min-"


"Buat jeburin lo ke sungai," potong Alvin membuat Nasha terdiam beberapa saat sembari memikirkan apa yang baru saja Alvin katakan.


"Lo ngeselin banget, Alvin!"

__ADS_1


To be Continued


__ADS_2