VACILANTE : IMPERFECT

VACILANTE : IMPERFECT
21 - Written In The Stars


__ADS_3

"Nasha!"


Nasha tersenyum saat Fiona memanggilnya, begitu juga dengan Alvin. Raut wajah Fiona sangat khawatir membuat ia tampak lucu. Fiona langsung mendekati Nasha yang kini masih setia diam di punggung Alvin.


"Lo darimana aja, Sha? Kok, lo bisa tiba-tiba hilang, sih?"


"Jelasinnya nanti aja, ya? Nashanya biar gue bawa ke tenda dulu."


Fiona mengangguk setuju. Alvin kembali melangkahkan kakinya menuju tenda Nasha. Ia berjongkok dan Nasha turun dengan hati-hati. Kakinya masih sakit karena ia belum dapat pengobatan. Alvin lalu bergegas, mencari panitia yang bisa mengobati kaki terkilir.


"Nasha," panggil Liana membuat Nasha menoleh dan tersenyum mendapati teman-temannya yang menghampirinya, "Maafin gue, Sha. Gue ceroboh."


Nasha menggeleng, "Bukan salah lo, Liana. Guenya aja yang ceroboh, malah diem tapi gak manggil lo," jawabnya sambil terkekeh.


"Lo gak 'pa-pa, Sha?" tanya Fiona memastikan.


"Kakinya biru, tuh," balas Angel.


"Ya ampun, Nasha. Lo kenapa? Kaki lo kenapa bisa kayak gini, sih?" tanya Calista.


Nasha tertawa pelan. Melihat teman-temannya khawatir seperti ini membuatnya senang. Ternyata, mereka bukan hanya teman yang selalu ada di saat senang, melainkan ada di saat sedih pula.


"Minggir dulu kalian, kaki Nasha biar diobatin dulu!" ucap Alvin sambil menyuruh teman-temannya untuk berpindah tempat.


Nasha yang melihat itu membulatkan matanya, "Gak usah kasar, Alvin!"


Alvin hanya diam mendengar ucapan Nasha. Ia lalu mempersilahkan Pak Arif untuk mengobati Nasha. Katanya, Pak Arif ini spesialis pengobatan kaki terkilir, ia juga ahli dalam bidang urut-mengurut.


"Aw, Pak. Sakit," rintih Nasha saat kakinya diobati oleh Pak Arif.


Alvin duduk di samping Nasha, "Lo jangan nangis, Sha."


"Gimana gue gak nangis. Sakit banget, Alvin!"


Beberapa kali Pak Arif mengusap kaki Nasha. Pak Arif lalu membungkus beberapa es yang dibawanya tadi. Ia menyimpannya di atas kaki Nasha membuat Nasha meringis karena sakit sekaligus dingin.


"Tahan, Sha. Lo pasti bisa," ucap Alvin dan Nasha hanya diam karena sibuk menahan rasa dingin dari es.


Setelah beberapa menit, Pak Arif kembali menyimpan esnya dan mengambil perban elastis. Ia lalu membelit perban pada pergelangan kaki Nasha untuk mencegah pembengkakan.


Pak Arif tertawa pelan melihat Nasha yang menangis, "Udah, udah selesai."


"Makasih, Pak," ucap Alvin dan mempersilahkan Pak Arif untuk kembali ke tenda guru.


"UNTUK SELURUH PESERTA, KUMPUL DI LAPANGAN SEKARANG."


Fiona, Calista, Liana, dan Angel saling tatap saat mendengar pengumuman itu. Pasalnya, Nasha baru saja mendapat pengobatan pada kakinya. Rasanya pasti masih sangat sakit. Mereka juga tidak mungkin memaksa Nasha untuk ikut ke lapangan. Tetapi, mereka juga tidak mungkin meninggalkan Nasha sendirian.


"Kalian ke lapangan aja, gue gak 'pa-pa, kok."


"Gak 'pa-pa gimana, Sha? Kalo lo diculik gimana?" sanggah Fiona.


Nasha tertawa pelan, "Kalian kan bisa liat gue dari lapangan," ucap Nasha. Ia lalu mengangkat salah satu tangannya dan menunjuk ke arah lapangan, "Tuh, liat. Gue masih bisa denger kok apa yang ada di lapangan."


"Lo yakin, Sha? Perlu gue gendong lagi ga?"


Nasha menggeleng, "Lo juga harus ke sana. Kalo lo gendong gue lagi, entar punggung lo bermasalah," jawabnya sambil tertawa pelan.


Alvin dan teman-temannya itu mengangguk. Mereka lalu meninggalkan Nasha yang kini sedang tersenyum, namun perlahan senyum itu semakin memudar. Ia kesal. Karena kakinya ia tidak bisa mengikuti acara camping dengan baik.


Alvin memisahkan diri dari teman-temannya karena ia harus bersama dengan teman satu kelompoknya yang sebenarnya. Liana dan yang lainnya juga menghampiri para peserta putri. Mereka kini sedang berdiri melingkari sebuah tungku besar yang terbuat dari kayu.


Arya dan Rival berjalan ke tengah-tengah lingkaran, disusul dengan panitia putra yang lainnya, bersiap untuk menyalakan api unggun.


"Periksa lagi teman-temannya, ada yang tidak hadir?" tanya Arya.


Liana mengangkat tangannya, "Nasha, kak."


Arya mengangguk, "Nasha dan Amanda dibebaskan dari acara ini karena kakinya terluka. Selain mereka berdua, ada lagi yang tidak hadir?"


"Siap, tidak."


Para panitia putra kini sibuk menumpahkan beberapa liter bensin. Beberapa menit setelahnya, mereka mulai menyalakan api, dan api langsung menjalar membakar kayu-kayu yang sudah ditumpuk sedemikian rupa. Rasa dingin yang sedari tadi menyelimuti, kini mulai terkurangi sedikit demi sedikit.


"Silahkan duduk," titah Arya. Para peserta camping menurut dan langsung duduk sesuai etika. "Acara ini dibuat khusus untuk mendekatkan kalian satu sama lain. Jadi, kalian santai saja di acara ini, namun tetap memakai etika saat berbicara. Paham, ya?"


"Siap, paham."


Rival maju satu langkah mendekati Arya yang sudah selesai berbicara, "Kami membawa gitar. Ada yang mau menyumbang lagu?"


"Ayo maju, Liana. Nyanyian lo kan bagus," bisik Angel.


Liana menggeleng, "Tapi gue gak bisa main gitar."


Alvin tiba-tiba saja bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri Rival yang sedang membawa gitar, "Lo mau tampil atau protes, Vin?" bisik Rival.


"Mau tampil, dong. Gue kan anak musik. Liat tuh adik kelas gue di ekskul musik. Mau ditaruh dimana muka gue kalo gue ga tampil?"


"Di atas leher lo," jawab Rival membuat Alvin terkekeh.


"Ada yang mau nemenin Alvin nyanyi?" tanya Rival membuat Alvin membulatkan matanya.


"Gue bisa sendiri, Val."

__ADS_1


Rival menggeleng, "Gak. Gue gak mau denger suara lo, ya, Vin. Kalo mereka pada sakit perut, lo mau tanggung jawab?"


Alvin menggeleng tidak percaya, "Lo belum pernah denger artis nyanyi, ya, Val?"


Liana bangkit dari duduknya dan menghampiri Alvin yang sedang berbisik-bisik dengan Rival, "Aku, kak."


"Oke, Alvin dan Liana akan menampilkan sebuah lagu. Tolong di dengarkan baik-baik, ya," titah Rival. Detik selanjutnya Rival dan Arya melangkahkan kakinya menjauh dari tempatnya semula, mempersilahkan Alvin dan Liana untuk memulai pertunjukan.


Alvin segera duduk dan memposisikan gitarnya dengan nyaman. Setelahnya, ia mulai memetik senar, dan Liana bersiap untuk bernyanyi.


Seems like we've been here before


Your eyes are seeing straight right through my core


It's kinda strange, but I like it


Ain't no reason tryna' fight it, yeah


Might be Déjà vu


First time we met, but I remembered you


We were creepin' in the night time


Maybe in another lifetime


Liana menoleh sembari tersenyum pada Alvin. Alvin pun melakukan hal yang sama, meski tangannya masih tetap fokus memetik senar gitar.


Don't tell me you don't feel what I feel right now


Ooh, it's written all over you


Don't tell me you don't feel what I feel somehow


Ooh, I keep findin' my way back to you


You can go anywhere, babe, wherever you want


Because I know we're written in the stars


You can go any which way, don't matter how far


*Because I know we're written in the stars


No question that we're written in the stars*


Alvin memejamkan matanya dan menghembuskan nafasnya perlahan sebelum bernyanyi. Detik berikutnya, matanya menyilik ke arah depan, berusaha mencari keberadaan Nasha. Dan, ia mendapatkan Nasha sedang tersenyum ke arahnya.


*The moment you looked at me


Felt myself moving towards ya'


I just wanted to get closer, oh!


When you say hello


I know there is no limit where we'll go


I want you to be ready


I'll hold your heart if you'll let me, oh*!


Nasha mengulas senyuman di bibirnya. Hatinya tiba-tiba merasa tenang sekaligus tenang saat mendengar lagu yang dinyanyikan oleh Alvin dan Liana. Namun, senyumnya hilang seketika.


*Don't tell me you don't feel what I feel right now


Ooh, it's written all over you


Don't tell me you don't feel what I feel somehow


Ooh, I keep findin' my way back to you


You can go anywhere, babe, wherever you want


Because I know we're written in the stars


You can go any which way don't matter how far


Because I know we're written in the stars


No question that we're written in the stars*


"Andai gue bisa nyanyi di samping lo kaya Liana, Vin."


And I promise every day


To make you feel this way


So that you know it's written in the stars


Lagu Written In The Stars yang dengan merdu dinyanyikan oleh John Legend dan Wendy berhasil di-cover dengan baik oleh Alvin dan Liana, membuat mereka mendapatkan tepuk tangan yang sangat meriah.


Pandangan Alvin yang sempat terlepas dari Nasha kini kembali. Dahinya tiba-tiba saja berkerut karena bingung. Nasha tiba-tiba hilang dari pandangannya. Sebenarnya, apa yang dipikirkan Nasha? Kakinya itu belum sembuh tetapi Nasha sudah mencoba untuk berjalan. Alvin lalu meletakkan gitarnya dan bangkit dari duduknya. Ia tidak mau membiarkan Nasha sendiri dalam kegelapan lagi.

__ADS_1


"Nasha!" panggilnya sembari berlari kesana kemari.


Alvin menghela nafasnya kasar. Ia tidak bisa menemukan Nasha lagi. Harusnya, saat Nasha memintanya untuk membiarkannya sendiri di tenda tidak ia turuti. Nasha punya sifat seperti ini. Suka sekali diam-diam menghilang.


"Nas-" Alvin menyipitkan kedua matanya, berusaha memastikan bahwa seseorang yang kini tengah berdiri sambil bersandar pada pohon adalah orang yang dicarinya. Ia lalu melangkahkan kakinya mendekati sosok tersebut.


"Nasha?"


Nasha menoleh. Ia terkejut mendapati Alvin dengan raut wajah khawatir, "Lo ngapain disini, Vin?"


"Gue yang harusnya nanya, lo ngapain disini? Kaki lo itu belum sembuh. Lo dibebasin dari acara ini biar lo bisa istirahat, bukan jalan-jalan kaya gini!"


Nasha menggeleng tidak percaya, "Vin, lo emang pantes jadi penerus emak-emak, deh!"


Alvin memutar bola matanya malas. Ia lalu lebih mendekatkan dirinya pada Nasha, "Gue kaget lo tiba-tiba hilang."


Nasha berdecih, "Care banget lo sama gue!"


"Ya, lo kan temen gue. Aneh, kan, kalo gue gak care sama lo?"


Nasha mengangguk setuju, "Gue bosen, Vin. Makanya gue cari tempat yang bagus. Ya, disini lumayan bagus, sih."


Alvin diam. Wajahnya menggambarkan bahwa ia sedang berpikir. Mengingat sesuatu yang baru saja ia lupakan, "Sini naik ke punggung gue lagi. Gue tau tempat yang bagus," ucapnya sembari jongkok di hadapan Nasha.


Nasha melingkarkan tangannya di leher Alvin. Tenaga Alvin sepertinya memang kuat. Ia masih bisa menggendong Nasha tanpa merasa kelelahan, membuat Nasha tidak enak hati. Alvin melangkahkan kakinya dalam diam. Berusaha mengingat jalan yang pernah ia tempuh untuk mendapatkan suatu tempat yang indah. Nasha 'pun ikut diam, bingung dengan apa yang sedang dicari Alvin.


Pohon-pohon tinggi semakin lebat, seakan memberi tanda bahwa mereka masuk lebih jauh ke dalam hutan. Mereka bergerak kesana kemari karena hembusan angin yang cukup kencang. Jaket yang dipakai Nasha dan Alvin sepertinya tidak cukup untuk membuat mereka hangat. Bahkan, dengan tidak sadar, Nasha lebih mendekatkan dirinya pada Alvin untuk mencari sedikit rasa hangat.


Alvin menghentikan langkahnya. Ia kemudian berjongkok, dan Nasha turun dari punggungnya. Nasha duduk di batang pohon yang tumbang sembari mengernyit karena bingung. Tidak ada yang menarik disini. Tetapi, mengapa Alvin menyebutnya ini tempat yang indah?


Alvin duduk di samping Nasha sembari tersenyum, "Indah, kan?"


Nasha mengernyit, "Lo sehat? Indah sebelah mana, Vin? Gelap semua."


Alvin tertawa pelan. Ia kemudian menunjukkan jarinya ke langit, "Bintang dari sini lebih kelihatan bagus ketimbang tempat tadi."


Nasha mengikuti kemana arah yang ditunjuk Alvin. Mulutnya tiba-tiba saja terbuka karena takjub dengan apa yang sedang ia lihat sekarang. Suasana sekitar memang gelap, namun hal itu yang membuat bintang lebih terlihat mengkilau. Jika Nasha melihat bintang di rumahnya, ia hanya akan melihat satu atau dua bintang yang paling terang. Tetapi, sekarang ia melihat semua bintang sangat terang.


Nasha mengangguk setuju, "Lo tau tempat ini darimana? Lo pernah kesini?"


"Waktu gue nyari lo tadi, gue sempet nyerah nyari lo karena ga nemu-nemu. Terus gue istirahat dulu di sini, dan liat ke arah langit. Tiba-tiba aja gue pingin bawa lo ke tempat ini. Karena itu, gue makin semangat untuk cari lo."


Nasha menoleh dan menatap Alvin dalam, "Cie...."


Alvin terkekeh pelan. Meski, ia yakin apa yang ia lakukan ini salah. Ia hanya ingin melakukannya. Ia tau bahwa Nasha telah dimiliki orang lain, rasanya ia tidak pantas membawa Nasha tanpa seizin kekasihnya itu. Tetapi, ia tidak tau apakah kesempatan seperti ini akan datang lagi atau tidak. Maka dari itu, ia memutuskan untuk melakukan apa yang seharusnya terjadi.


"Sha," panggil Alvin membuat Nasha kembali menatapnya, "Gue mau nanya, tapi lo jangan kesinggung, ya?"


Nasha mengangguk dan meminta Alvin untuk melanjutkan perkataannya, "Hubungan lo sama Galih baik-baik aja, kan?"


Nasha mengangguk, "Ya, kaya biasa aja gimana, Vin. Kenapa emangnya?"


Alvin menggeleng pelan sembari tersenyum tipis, "Gue bawa lo kesini gak bikin Galih salah paham, kan?"


"Gue gak tau dia bakal salah paham atau engga, Vin. Pikiran orang, kan, gak ada yang tau."


"Terus lo gak takut dia salah paham?"


Nasha menggeleng," Hak dia, Vin, buat salah paham. Gue gak bisa batasin orang buat berpikir. Orang yang akan salah paham pasti salah paham. Orang yang akan mengerti pasti mengerti. Jadi, gue gak takut."


"Nasha," panggil seseorang membuat Nasha menoleh menatap Alvin.


"Ada yang panggil gue?"


Alvin memejamkan matanya mencoba menghilangkan rasa takut. Tubuhnya yang merinding ia pastikan hanya karena dingin, bukan karena takut hal-hal mistis. Ia lalu menatap Nasha dan mengangguk pelan.


"Alasan lo nolak gue karena Alvin, Sha?"


Nasha kembali menoleh dan mendapati Galih yang kini sedang menatapnya sendu," Kak Galih?"


Alvin mengernyit kebingungan, "Nolak?" gumamnya.


Galih menyunggingkan senyumnya, "Gue kira hubungan dekat kita selama ini bisa menang ketimbang kedekatan lo sama Alvin. Tapi, kayanya gue salah, ya, Sha? Hubungan kita gak ada artinya buat lo."


Nasha menggeleng cepat. Ia mencoba melangkahkan kakinya yang masih terasa sakit, dan mendekati Galih. Namun, belum sempat Nasha mendekat, Galih sudah mundur beberapa langkah. Ia tidak ingin dekat-dekat dengan Nasha.


"Gue kira lo beda, Sha. Tapi, ternyata gue salah. Lo sama aja kaya yang lain."


"Gak gitu, Kak Galih."


"Terus apa? Gue udah berusaha buat lo suka sama gue, meski gue tau lo suka sama orang lain. Tapi, lo bahkan gak mau tau soal perasaan gue? Lo gak mau ngerti perasaan gue yang bakal salah paham sama hubungan lo dan Alvin? Lo tega, Sha."


"Maksud aku gak gitu, Kak. Aku emang gak bisa tahan pikiran salah paham kamu karena itu hak kamu."


"Kalo lo gak bisa tahan pikiran salah paham itu, harusnya lo bisa tahan diri lo sendiri buat ga bikin salah paham."


Nasha diam. Ia tau ia salah karena berbicara seperti itu. Maksud Nasha, ia hanya tidak ingin mencampuri urusan orang lain. Jika orang lain tidak suka padanya, ya, silahkan. Nasha tidak ingin memaksa seseorang untuk berpikir yang baik-baik tentangnya. Hanya itu.


Galih tertawa pelan, "Gue lupa. Gue salah minta hal itu karena gue gak berarti apa-apa buat lo."


Nasha diam dan menunduk. Ia tidak bisa membalas perkataan Galih lagi.


"Gue nyesel bantu lo buat lolos tahap interview, Sha."

__ADS_1


To be Continued


__ADS_2