
Nasha masuk ke dalam rumahnya. Ia disambut senyuman oleh ibunya yang langsung dipeluk oleh Nasha. Hari ini rasanya sangat lelah. Memikirkan rencana masa depan memang tidak semudah itu. Ia juga harus memikirkan konsekuensi dari langkah yang akan ia ambil.
"Kamu kenapa cantik?" tanya Fina-ibu Nasha.
Nasha menggeleng dalam pelukannya membuat Fina hanya menghela nafasnya, mengerti bahwa anak keduanya itu tidak bisa menceritakan apa yang ia rasakan. Fina juga sadar bahwa yang diperlukan oleh Nasha sekarang hanyalah sebuah pelukan hangat.
"Papa kemana, Ma?" tanyanya sambil melepas pelukan.
"Papa lagi di kamar, main sama Nabil."
Nasha mengangguk paham, "Kalau gitu Nasha ke kamar dulu, ya? Ada yang perlu Nasha urus," ucapnya sambil melangkah pergi.
Fina menghela nafasnya. Sudah beberapa hari terakhir Nasha selalu pulang larut. Dan sekarang, urusan yang dia urus selama di sekolah tidak kunjung selesai, dan malah ia bawa ke rumah. Jika dibiarkan terus, Nasha akan melupakan istirahatnya, juga tugas utama seorang pelajar, yakni belajar.
Nasha masuk ke dalam kamar. Ia lalu duduk di kursi belajarnya dan termenung. Ia masih saja memikirkan tanggung jawab yang nantinya akan ia pegang. Ia ingin sekali bilang kepada teman-temannya bahwa ia tidak bisa, dan ia tidak sanggup.
Namun, saat melihat tatapan penuh harap Alvin tadi, ia semakin tidak enak jika harus mematahkan semangat Alvin dengan tidak mencalonkan diri sebagai sekretaris.
"Ah, pusing!" gerutunya sambil mengacak rambutnya frustasi.
Tok tok tok
Nasha menoleh ke arah pintu dan diam sambil menunggu seseorang yang mengetuk pintu itu masuk. Ternyata, Fina disana, dengan tangan yang membawa sepiring buah.
"Mama boleh masuk, kan?"
Nasha tersenyum dan mengangguk, "Boleh, dong, Ma."
Fina meletakan sepiring buah itu di atas meja belajar Nasha. Ia lalu mengusap lembut rambut anak kesayangannya itu, "Belum mandi, cantik?"
"Sebentar lagi, Ma. Kaki Nasha masih pegel-pegel."
Fina mengangguk sembari tersenyum, "Nasha..." panggilnya, "Mama mau ngomong sesuatu tapi kamu jangan tersinggung, ya?"
Nasha hanya diam menatap mamanya yang tampak ragu melanjutkan perkataannya.
"Beberapa hari ini kamu pulang larut, kamu ngapain aja di sekolah?"
Nasha menghela nafasnya. Lega, karena hanya itu yang diragukan mamanya, "Setelah acara agustusan, seleksi OSIS udah dimulai, Ma. Nasha sama temen-temen kumpul karena mau bahas kedepannya gimana. Tadinya, Nasha gak akan ambil pusing dan memilih untuk tidak mencalonkan diri lagi di kepengurusan OSIS. Tapi, salah satu teman Nasha meminta Nasha untuk menjadi sekretaris OSIS."
Fina mengangguk paham, "Terus, jadinya kamu lanjut atau engga?"
Nasha menggeleng lemah, "Nasha bingung, Ma. Nasha pingin fokus belajar buat masuk ke universitas. Tapi, Nasha juga gak bisa nolak teman Nasha. Dan juga, Nasha gak punya pengalaman di bidang kesekretaris-an. Mau bagaimana OSIS nanti kalau Nasha yang jadi sekretarisnya."
__ADS_1
Fina tersenyum. Ia lalu mengusap bahu Nasha, "Mama sebenernya pingin kamu berhenti dan gak ikut lagi jadi pengurus OSIS di kelas 11 ini. Tapi, mama selalu keingat penyesalan kakak kamu, Nadhif."
Nasha mengernyit, "Penyesalan? Kak Nadhif punya penyesalan? Dia, kan, masuk universitas top, kenapa punya penyesalan, Ma?"
Fina duduk di kasur dekat kursi belajar Nasha, "Karena dia gak manfaatin masa SMA-nya dengan baik. Kamu tau sendiri, kan, kalau kakak kamu itu selalu belajar dan jarang bergaul?" Nasha mengangguk. "Dia nyesal, katanya, 'kalau aku bisa ulang waktu, aku pingin jadi pengurus OSIS. Setidaknya, aku ingin menjadi pengurus biasa jika tidak bisa menjadi ketua OSIS'."
Nasha diam. Ia semakin tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh ibunya itu. "Kehidupan SMA itu bukan hanya tentang belajar masuk universitas, tapi kehidupan SMA itu masa-masa paling indah. Bukan hanya soal percintaan yang ada di masa SMA, tapi soal kamu mencari jati diri kamu, mencari banyak pengalaman, dan mempunyai banyak relasi."
"Mama gak nyesal, dulu kehidupan SMA mama dipenuhi dengan kegiatan organisasi. Karena makna berorganisasi itu bukan hanya dirasakan satu atau dua tahun, tapi seumur hidup. Kalau perlu bukti, mama buktinya."
Nasha menunduk. Ia bingung harus berkomentar seperti apa. Apa yang dikatakan Mamanya itu memang benar. Perbedaan hidupnya saat SMP jauh berbeda dengan kehidupannya saat SMA karena di SMA ia mengikuti OSIS.
"Jadi sekarang, kalau kamu mau mencalonkan diri lagi, mama akan dukung kamu. Jangan permasalahin hal-hal yang belum terjadi. Siapa yang tau kalau akan ada hal-hal mengejutkan saat kamu menjabat sebagai sekretaris OSIS?"
"Mama beneran dukung aku?"
Fina mengangguk pasti, "Mama juga gak masalah kalau kamu memilih untuk tidak melanjutkan. Hanya mama ingin, kamu melakukan yang terbaik untuk diri kamu sendiri, untuk masa depan kamu. Dan pesan mama satu, jangan pernah lupa dengan belajar. Karena tugas wajib kamu itu satu, belajar."
°°°
Alvin menghentikan motornya sesaat setelah ia sampai di parkiran rumahnya. Ia tidak langsung masuk, melainkan menatap rumah yang cukup besar itu. Tiba-tiba saja mood-nya menjadi hilang. Ia malas berada di rumah. Pasti disuruh belajar lagi agar bisa masuk ke universitas top.
Ting
Nashabcde
Kalian udah sampai rumah?
Gue udah izin, dan nyokap gue dukung gue buat jadi sekretaris
Fiona jutek
Gue juga udah, nyokap gue bolehin gue juga
Callista
Gue boleh setelah perdebatan panjang
Nashabcde
Gue tau lo baca, Vin. Cepetan, bales !!!
Alvin mengulas senyuman. Ternyata daritadi Nasha menunggu jawabannya. Atau mungkin, Nasha hanya pura-pura saja bertanya di grup, padahal sebenarnya ingin langsung menanyakan pada Alvin.
__ADS_1
Alvin
Gue baru sampe depan rumah
Alvin lalu mematikan handphone-nya dan melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam rumah. Ia disambut hangat oleh bibi yang bekerja di rumahnya. Alvin yang menyayangi bibi itu tersenyum dan memeluknya. Ia lebih dekat dengan bibinya ketimbang kedua orang tuanya.
"Mama ada, Bi?" tanya Alvin pada Astri.
Astri mengangguk, "Ada, den. Ada tuan juga. Mereka lagi di ruang TV."
Alvin mengangguk paham. Ia lalu kembali melangkahkan kakinya menuju ruang TV yang letaknya cukup jauh dari ruang utama. Tumben sekali kedua orang tuanya itu berada di ruang TV. Biasanya, keberadaan ruang TV itu hanya formalitas. Tidak pernah ada seorangpun yang berada disana.
"Kamu dari mana Alvin?" tanya ibunya—Linda—sambil menghampiri Alvin yang masih berdiam di depan pintu ruang TV.
"Tadi Alvin kumpul sama temen-temen dulu, Ma," jawab Alvin sembari tersenyum.
"Kamu gak punya kerjaan lain selain kumpul sama temen-temen kamu?" tanya Ayahnya tanpa menoleh pada Alvin.
Alvin mengulas senyumannya, "Alvin gak kumpul sama temen-temen Alvin yang biasa, Pa."
Pernyataan Alvin sukses membuat Mamanya itu menatapnya kebingungan, "Maksud kamu apa, Vin?"
Alvin mengusap lembut bahu ibunya, "Alvin mau jadi ketua OSIS, Ma. Jadi, Alvin harus ngurus semuanya dari sekarang."
Ayahnya itu langsung bangkit mendengar pernyataan Alvin yang tampak asing di telinganya. Apa tadi? Ketua OSIS?
Ardi—ayah Alvin—kini menarik lengan Alvin untuk duduk di kursi depan TV. Linda dengan setia mendampingi Alvin. Ia takut kalau Alvin akan berbicara yang bisa menyulut emosi ayahnya yang tempramental.
"Tadi kamu bilang apa? Ketua OSIS?"
Alvin mengangguk pasti, "Iya, Pa."
"Bukannya ketua OSIS untuk orang-orang pintar? Kamu, kan, tidak pintar."
Alvin menelan ludahnya kasar, "Nih bokap bukannya dukung anaknya malah ngehina gue, *****!" batinnya.
"Itu mungkin sekolah lain, tapi sekolah Alvin beda, Pa. Siapa yang merasa dirinya sanggup, dia boleh mencalonkan diri. Gak harus pintar kaya yang dibicarakan oleh Papa tadi."
Ardi mengangguk paham, "Kamu yakin? Kamu benar-benar akan menjadi ketua OSIS yang benar, kan? Bukan hanya bermain-main, lalu menimbulkan masalah, kan?"
"Curigaan mulu sama anak!"
"Iya, Pa. Karena Alvin punya satu alasan kuat kenapa Alvin mau jadi ketua OSIS."
__ADS_1
To be Continued