
Nasha kini duduk di kursinya. Tangannya ia lipat dan disimpannya di atas meja. Kepalanya ia sandarkan pada tangannya itu dan matanya terpejam. Sinar matahari yang menyilau dari jendela membuat tidurnya terusik, namun tidak membuatnya ingin bangun. Angin berhembus cukup kencang membuat rasa gerah yang sedari tadi dirasakannya hilang begitu saja.
"Sha," panggil Revi—teman sebangku Nasha—sambil menggoyangkan tubuh Nasha. Tidak ada jawaban dari Nasha, ia masih sibuk dengan cerita indah alam bawah sadarnya.
"Nasha!" teriaknya membuat tubuh Nasha mengerjap.
Nasha membuka matanya yang langsung disambut oleh silaunya cahaya matahari. Ia lalu menoleh mendapati Revi yang sedang menatapnya kesal. Yang Nasha lakukan hanya tersenyum, dan menampilkan deretan giginya.
"Eh, Revi. Kenapa?"
"Lo lupa sekarang ulangan, Sha?"
Nasha menggeleng, "Gue inget makanya gue tidur sekarang. Kalau gue gak tidur, entar yang ada malah tidur pas ulangan. Bener, kan?"
"Lo kebo amat, Sha. Untung lo pinter!"
"Itu pujian atau hinaan?" tanya Nasha sambil memandang datar pada Revi.
Revi tertawa pelan, "Lo gak akan belajar dulu?"
Nasha menggeleng cepat, "Nanti aja, 15 menit sebelum ulangan."
"Gila lo, Sha! Gue yang SKS aja masih gak cukup apalagi ini yang 15 menit."
"Gue ngantuk, Vi. Kemarin gue kecapean tapi masih harus belajar. Ya udah, sekarang aja tidurnya," balas Nasha sambil kembali menyandarkan kepalanya di atas meja dan memejamkan kembali matanya. Ia harus menghilangkan rasa kantuknya dulu agar bisa fokus mengerjakan ulangannya nanti.
"NASHA!" teriak seseorang.
Nasha masih diam tidak bergeming. Sudah ia katakan tadi pada Revi bahwa ia tidak mau diganggu.
"NASHA!" teriaknya lagi.
"ARUMI NASHA ANDARA!"
Nasha bangun sambil mengacak rambutnya frustasi. Ia hanya ingin tidur mengapa teman-temannya tidak mengerti dengan selalu mengganggunya. Apa salah dirinya sampai ia tidak diizinkan untuk tidur.
"Apa?!" kesalnya pada Revi.
Revi mengernyit, "Bukan gue yang manggil, tuh, liat depan pintu. Pacar lo!"
Nasha menoleh dan mendapati Alvin disana. Sudah ia duga, yang memiliki sifat seperti itu hanya Alvin. Calista dan Fiona juga tidak akan tega membangunkan Nasha dengan cara seperti itu. Bahkan, sepanjang sejarahnya satu kelas bersama Calista dan Fiona, mereka berdua tidak pernah membangunkan Nasha.
Nasha bangkit dari duduknya menghampiri Alvin yang cengengesan karena penampilan Nasha yang begitu berantakan.
"Ada perlu apa tuan Alvin?!" tanya Nasha sarkas.
Alvin tertawa pelan, "Lo kebo amat," ucapnya sembari mengacak rambut Nasha.
Nasha menjauhkan lengan Alvin dari kepalanya, "Rambut gue udah acak-acakan gak usah lo bikin makin acak-acakan!"
"Iya-iya bawel. Lo gak liat handphone lo?"
Nasha mengernyit. Ia lalu merogoh handphone-nya yang berada di saku roknya. Dapat ia lihat tiga puluh panggilan tidak terjawab dari Alvin.
"Tiga puluh," gumamnya. Ia lalu menoleh menatap Alvin, "Lo ngapain telepon gue sebanyak itu, Vin?"
"Kita semua dipanggil Liana ke kantin. Katanya mau bahas sesuatu yang penting."
__ADS_1
"Tapi kan sekarang belum jam istirahat?"
Alvin tertawa. Benar kata kedua temannya, Nasha kalau tidur suka tidak ingat waktu dan tidak ingat semuanya. Suara apapun tidak akan terdengar. Yang mampu membangunkannya hanyalah sebuah teriakan. Maka dari itu, ibunya selalu kewalahan membangunkannya di pagi hari.
"Lo baru keluar dari goa, Sha? Istirahat udah daritadi kali!" jawabnya sambil terkekeh.
Nasha lalu menoleh kesana-kemari berniat mencari kedua temannya. Namun, setelah ia mencari dengan baik, ia tak kunjung menemukan kedua temannya.
"Lo cari Fiona sama Calista?" tanya Alvin memastikan. Nasha mengangguk sebagai jawaban. Kepalanya masih saja bergerak kesana-kemari mencari kedua sosok itu.
"Mereka udah sama Liana di kantin," ucap Alvin membuat Nasha menatapnya datar. Benar saja kalau mereka tidak tega membangunkan dirinya demi bisa meninggalkan dirinya sendirian.
"Ya, udah, ayo!"
°°°
"Kalian inget apa yang kemarin dijadikan PR sama kak Rival?" tanya Liana dengan suara pelan. Ia takut pembicaraannya itu di dengar oleh siswa lain yang juga mencalonkan diri menjadi pengurus OSIS.
Alvin, Nasha, Fiona, Calista, dan Angel yang berada di sekelilingnya itu mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Liana.
"Gue tau jawabannya."
"Apa?" tanya mereka bersamaan membuat seisi kantin memperhatikan mereka.
Liana memperhatikan sekitar sambil tersenyum malu. Ia lalu menoleh menatap teman-temannya itu dengan tatapan tajam.
"Pelan-pelan, dong! Gimana kalau ada yang denger?"
"Sorry-sorry gue kaget lo tau jawabannya," ucap Fiona.
Liana mengangguk, "Gue kemarin nonton video salah satu bimbel online."
Alvin menggeleng-gelengkan kepalanya, "Gue masih gak ngerti."
"Gue juga," tambah Fiona.
Nasha masih diam. Ia mencoba mencerna apa yang dimaksud ucapan Liana itu. Detik berikutnya ia menoleh pada Liana. Liana yang paham akan tatapan itu hanya mengangguk sambil tersenyum.
"Sekarang, kita tentukan siapa yang nanti akan berbicara tentang PR itu saat kumpul."
Ucapan Liana sukses membuat Alvin dan Fiona semakin bingung. Yang tadi saja belum mereka pecahkan, kenapa sekarang sudah harus menentukan siapa yang berbicara?
Liana, Nasha, Calista, dan Angel menatap Alvin dengan diam. Alvin yang tau dirinya ditatap penuh arti, buru-buru melambaikan tangannya. Tanda bahwa ia tidak mau berbicara hal yang tadi tidak ia mengerti.
"Lo yang harus ngomong, Vin," bujuk Nasha.
Alvin menggeleng, "Gue gak mau. Apa yang mau gue omongin kalau gue aja gak tau apa maksud kalian."
"Disini cuma lo yang mau jadi ketua," balas Angel.
Calista mengangguk setuju, "Lo harus menonjolkan diri lo, Vin. Biar mereka tau kalau lo gak bisa dikalahkan."
Alvin diam. Ia ingin menjadi ketua OSIS. Ia bahkan sudah bilang pada kedua orang tuanya. Apa jadinya jika ia gagal menjadi ketua OSIS padahal kedua orang tuanya sudah berbaik hati mengizinkannya? Bukankah ia hanya akan mengecewakan kedua orang tuanya untuk kesekian kalinya?
"Tapi gak gitu caranya. Gue mau menang. Gue udah mau banget jadi ketua OSIS. Gue seneng karena kalian dengan sukahati kasih dukungan ke gue. Tapi, gue cuma pingin lakuin apa yang menurut gue bisa. Gue cuma pingin buktiin apa yang menurut gue patut gue buktiin."
Mereka semua terdiam. Mereka bingung harus membantu Alvin dalam hal apa lagi. Ia tau bahwa tingkat popularitas Alvin masih kalah jauh dan itu yang membuat mereka khawatir. Sistem pemilihan ketua OSIS tahun ini tidak seperti sebelumnya. Mereka yang mencalonkan menjadi ketua OSIS nantinya akan dipilih melalui pemungutan suara oleh seluruh siswa dan staf sekolah. Dan hal itu membutuhkan kepopularitasan.
__ADS_1
Nasha menepuk bahu Alvin, "Gue gak salah percaya sama lo, Vin. Lo emang udah pantes jadi ketua. Mau apapun keputusannya nanti, gue dan temen-temen akan selalu disamping lo."
Teman-temannya semua mengangguk setuju dengan apa yang baru dibicarakan oleh Nasha. Alvin tersenyum senang. Ia senang bisa berada di tengah-tengah cewek hebat seperti mereka. Meski, saat kumpul seperti ini menimbulkan kontroversi karena hanya ia cowok satu-satunya, tetapi tidak apa. Ia senang, setidaknya ada yang percaya bahwa dirinya bisa.
"Oke, kita beralih ke pembahasan lain," ucap Liana membuat semua teman-temannya mengernyit kebingungan.
"Jadi, ada berapa pembahasan di waktu istirahat yang singkat ini, nona Liana," kata Fiona dengan sinis.
"Cal, lo udah belajar buat ulangan nanti?" tanya Nasha saat ia ingat ia belum membaca kembali bukunya.
Calista menggeleng, "Cuma ulangan satu bab ini. Yang kemarin dijelasin juga masih inget."
"Ya ampun! Gue belum belajar sama sekali hari ini!" ucap Nasha frustasi.
"Makanya, lo jangan kebanyakan tidur, Sha. Jadi gini, kan!" balas Fiona menimbulkan gelak tawa dari teman-temannya. Nasha yang kesal dengan ucapan Fiona hanya mendelik tajam sambil menyandarkan kepalanya di atas meja.
"Udah-udah, kita langsung bahas aja biar kalian yang mau ulangan bisa belajar dulu," balas Liana, "Jadi gini, nanti kita 'kan camping, dan gue yakin banget camping ini akan sama kaya tahun-tahun sebelumnya. Kalian inget gak apa yang spesial di tahun sebelumnya?"
Mereka semua menggeleng sambil pikiran yang masih menerawang ke masa lalu, mencoba untuk mengingat apa yang dulu pernah terjadi. Mereka hanya ingat waktu itu pulang sekolah, mereka disuruh kumpul, namun terlambat karena harus memastikan semuanya kumpul terlebih dahulu, lalu mereka dihukum di lapang utama. Tidak ada yang spesial.
"Gue inget," ucap Angel tiba-tiba, "Tahun kemarin kita dikasih persyaratan tepat satu hari sebelum pelaksanaan. Gue masih inget banget betapa repotnya gue buat nyiapin semuanya."
Liana mengangguk, "Lo emang temen gue, ngel. Mereka semua lemot," balasnya sambil terkekeh.
"Ya, lo kasih clue-nya spesial, mana kita inget, coba!" kesal Fiona sambil mendelik pada Liana.
"Gue bercanda kali, Fi. Serius amat, sih!"
"Iya, lo baperan banget, Fi!" imbuh Alvin.
Mendengar hal itu, Nasha menatap Alvin dan memukul bahunya. Jika dibiarkan, mungkin Fiona akan marah sampai menangis. Dan, sebagai teman yang baik, dirinya dan Callista akan kesulitan untuk menghiburnya karena Fiona sendiri punya mood yang tidak bisa dijelaskan oleh semua orang.
"Itu temen gue, ya! Lo jangan macem-macem!"
"Gue bercanda kali, Sha. Serius amat!" balas Alvin sambil menjauhkan lengan Nasha dari tubuhnya.
"Terus, kenapa lo bilang spesial?" tanya Angel tidak mengerti.
"Gue bilang spesial karena menurut gue, cuma tahun kemarin yang akan dikasih persyaratannya satu hari sebelum pelaksanaan."
"Maksud lo?" balas Calista.
"Angkatan sebelum angkatan kita kemarin, mereka bilang kalau mereka dikasih persyaratan pulang sekolah. Dan harus kembali paling telat pukul 16.30."
"Cuma 1 jam dari bel pulang sekolah," gumam Angel.
Liana mengangguk membenarkan, "Maka dari itu," ucapnya menggantung. Ia lalu membuka buku OSIS nya, "Gue masih punya daftar kebutuhan camping. Setidaknya, kita siapkan beberapa hal yang pasti dibawa disetiap tahun."
Mereka semua saling tatap. Benar kata orang-orang, Liana memang orang yang sangat ambis. Apalagi, dengan hal-hal yang dia mau. Jika Liana masih menyimpan catatan itu, teman-temannya mana sempat ingat untuk menyimpan catatan itu.
"Lo yakin, Li? Kok, gue ngerasa ini curang, ya?" ucap Alvin dengan ragu.
Liana menggeleng, "Bukan curang, Vin. Ini strategi. Siapa yang tau diluar sana ada yang punya strategi yang lebih curang dari kita?"
Waktu istirahat telah selesai. Semua siswa harap memasuki ruang kelasnya masing-masing.
Bel sekolah sudah berbunyi. Mereka semua mulai bangkit dari duduknya, termasuk Liana yang buru-buru merapikan bukunya.
__ADS_1
"Pulang sekolah kita kumpul lagi disini, ya!"
To be Continued