VACILANTE : IMPERFECT

VACILANTE : IMPERFECT
2 - Diskusi Pertama


__ADS_3

Nasha mengikat rambutnya menjadi kuncir kuda, poni rambutnya ia kepinggirkan, dasi sekolahnya ia lepas, dan tangannya tidak bisa berhenti mengipas wajahnya yang kepanasan. Nasha kepanasan bukan karena ia dijemur di bawah terik matahari. Ia hanya merasa stres karena harus membuat konsep acara yang menarik seperti yang ditantang oleh Rival.


Nasha lebih memilih menyendiri di taman belakang sekolah, di bawah pohon beringin. Sedikit sejuk, namun tetap saja panas. Ia menyandarkan kepalanya di meja karena merasa tidak menemukan jalan keluar dari pemikirannya. Ia juga menjambak-jambak rambutnya karena merasa sangat bodoh.


“Ayolah, berpikir berpikir berpikir! Kenapa sulit sekali menemukan konsep acaranya!”


Tiba-tiba ada tangan yang menggenggam tangannya. Nasha terkejut dan secara refleks menepis tangan orang itu. Nasha bangun dan melihat seseorang yang tidak asing namun tidak begitu dekat dengan dirinya. Dia Alvin, salah satu pengurus yang aktif-tidak-aktif.


“Ngapain pegang-pegang tangan gue, Vin?”


Alvin tertawa pelan. Ia lalu duduk di samping Nasha sambil memberikan minuman botol, “Stres amat, lo. Santai aja kali.”


Nasha menatap Alvin dengan sinis, “Ya, lo bisa aja bilang gitu. Coba sini gantian, lo yang jadi ketua divisi acaranya.”


“Kalau gitu, lo mau jadi ketua pelaksananya?”


Nasha mengernyit tidak mengerti.


“Bukan lo doang kali yang disiksa sama si-Rival-sialan itu,” lanjut Alvin.


Nasha menahan tawanya, “Jadi lo disuruh jadi ketua pelaksana, Vin? Hahaha. Ya ampun, gue seneng banget lo kesiksa juga.”


Nasha tertawa sangat keras, bahkan air matanya mulai keluar. Ia sebenarnya tidak bermaksud untuk tertawa diatas penderitaan orang. Ia hanya senang karena ia tidak menderita sendirian. Setidaknya ia punya teman — untuk berdiskusi—yang sama-sama membenci Rival.


Nasha lalu menoleh mendapati Alvin yang sedang memandangnya datar. Nasha lalu diam dan tersenyum.


“Sorry, gue cuma seneng karena gue gak kesiksa sendirian.”


Nasha mengambil minuman botol yang diberikan oleh Alvin tadi, “Thank you, ya!”


Galih hanya diam memandang tidak suka saat melihat Alvin tersenyum pada Nasha yang sedang meminum minumannya. Ia salah karena memberi saran pada Rival untuk menjadikan Alvin sebagai ketua pelaksana.


Kakinya tiba-tiba saja ingin melangkah maju saat melihat Alvin duduk begitu dekat dengan Nasha. Tangannya mengepal dan ingin sekali meninju Alvin yang berbuat macam-macam pada Nasha. Namun, citranya sebagai wakil ketua OSIS harus dijaga. Ia tidak boleh sembarang memukul Alvin di depan umum.


Alvin duduk dekat dengan Nasha yang sedang menulis urutan waktu. Alvin dengan serius membaca apa yang ditulis oleh Nasha.


“Jadi, Vin, gue sebenernya bisa nyusun waktunya dengan baik. Tapi buat konsep, kayak tema dan sebagainya, gue gak bisa. Gue boleh gak, sih, minta bantuan temen-temen yang lain?”

__ADS_1


“Bo—” ucap Alvin terpotong.


“Nasha,” panggil Galih.


Nasha menoleh menatap Galih. Ia tersenyum kikuk karena kedapatan sedang bersama Alvin. Tapi, ia yakin ia tidak perlu merasa bersalah karena faktanya ia dan Alvin hanya membicarakan tentang acara.


“Gue mau bicara sesuatu sama lo, penting!”


Galih berjalan lebih dulu. Nasha lalu merapikan alat tulisnya dan tersenyum pada Alvin, “Gue duluan, ya, Vin. Entar disambung lagi.”


Nasha berjalan sambil memeluk buku dan alat tulis, ia juga menunduk karena takut. Galih tampak marah. Ia tidak biasanya berbicara sedingin itu. Tanpa sadar, Nasha menabrak punggung Galih yang berhenti secara tiba-tiba.


Galih berbalik dan menatap serius pada Nasha, “Gue gak suka lo deket-deket sama Alvin.”


Nasha mengernyit, “Kamu salah paham, Kak. Aku gak deket-deket, kok. Aku cuma bahas apa yang perlu dibahas. Itu aja!”


“Tapi tadi gue liat dengan mata kepala gue sendiri, lo deket-deket sama Alvin, Nasha,” ucapnya mencoba setenang mungkin.


Nasha menghela nafasnya, “Sebelum aku perjelas, aku mau tanya sesuatu sama kakak.”


Galih mengangkat dagunya tanda ia meminta Nasha untuk melanjutkan perkataannya. “Aku jadi seksi acara, bener-bener karena pemikiran Kak Rival, atau kamu yang kasih saran, kak?”


Nasha mengangguk. “Dan, gue gak mau lo masuk ke sidang pemecatan, Sha. Karena itu, gue kasih saran buat lo jadi ketua divisi acara.”


Nasha menghela nafasnya tidak percaya. Apa maksud Galih memberi saran itu? Ketimbang menjadi ketua divisi acara yang begitu berat, Nasha lebih memilih mengikuti sidang pemecatan. Nasha yakin bahwa Galih pasti tau betul bagaimana konsekuensi menjadi bagian dari divisi acara. Dan untuk seseorang seperti Nasha? Menjadi ketua divisi acara? Astaga!


“Biar aku perjelas, ya, Kak Galih. Pertama, aku deket sama Alvin juga karena kakak sendiri, kan? Kedua, aku dan kakak itu gak ada hubungan apa-apa. Jadi, Kak Galih gak perlu batasi aku mau bergaul dengan siapapun. Maaf, Kak.”


Nasha berlalu meninggalkan Galih. Waktu sudah sangat sore dan ia benar-benar ingin pulang. Ia kesal karena Galih menunjukkan kekhawatiran, namun Galih pula yang membuat kesengsaraan Nasha semakin bertambah. Meski, Nasha tidak tau maksud Galih baik atau buruk, tetap saja Nasha kecewa dengan keputusan Galih.


•••


Alvin mengendarai motornya dengan santai. Ia sangat menikmati pemandangan di dekat sekolah. Pohon-pohon masih sangat rindang, ditambah ada taman untuk bermain. Maklum, karena di dekat sekolahnya ada sebuah Taman Kanak-Kanak.


Alvin tiba-tiba saja mengerem motornya saat ia sadar ada sesuatu di ayunan dekat pohon. Ia menatap spion motornya, tetapi tidak menemukan sesuatu yang ia lihat tadi.


“Astaga, mana udah mau malem lagi, ah!” gerutu Alvin dan ia memutar balik motornya.

__ADS_1


Meski Alvin orang yang terlihat Cool, ia sebenarnya sangat takut dengan hal-hal mistis. Contohnya, sekarang. Ia menjalankan motornya sangat pelan. Ia menggerutuki dirinya sendiri yang takut tapi masih kepo.


“Semoga bukan mba kunti. Semoga bukan mba kunti.” Hanya itu yang ia ulang-ulang sambil mendekat pada sesuatu yang sedang bersandar di tali ayunan.


Alvin mendekat dengan perlahan dan bisa mendengar isakan tangis. Bahunya juga bergetar. Namun, sebelum Alvin mendekat lebih jauh lagi, ia jongkok dan memperhatikan kaki seseorang tersebut.


“Nginjek lantai! Astaga, lega…”


Nasha merasa ada seseorang di belakangnya. Ia kesal karena seseorang tersebut sangat berisik padahal Nasha sangat sedih. Ia berbalik dan terkejut melihat seseorang disana.


“Alvin?”


“Nasha?”


“Lo ngapain disini?” tanya Nasha, “Sambil jongkok gitu. Jangan-jangan lo ngintip gue, ya?!”


Alvin segera bangkit. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, “Lo jangan ngomong sembarangan, ya! Ngapain juga gue ngintip lo!”


Nasha mengernyit, “Terus? Lo ngapain disini?”


Alvin melangkah mendekat. Ia juga duduk di ayunan disamping Nasha. Ia bisa melihat ada bekas air mata di wajah cewek yang tingginya dibawah rata-rata itu.


“Harusnya gue yang nanya. Udah malem gini lo masih disini ngapain? Mana sambil main ayunan lagi. Kan, gue kira mba kunti!”


Nasha tertawa pelan, “Ada-ada aja lo, Vin."


Nasha dan Alvin kembali diam. Nasha yang kembali menunduk sambil bersandar pada tali ayunan, dan Alvin yang penasaran ingin memastikan bahwa Nasha benar-benar habis menangis.


“Lo nangis, Sha?”


“Emang gue mba kunti beneran apa?” canda Nasha.


“Serius, Nasha!”


Nasha bangkit dari duduknya, dan merapikan rambut beserta seragamnya. Ia lalu tersenyum pada Alvin sebelum meninggalkan Alvin sendirian.


“Kepo, lo!”

__ADS_1


To be Continued


__ADS_2