VACILANTE : IMPERFECT

VACILANTE : IMPERFECT
4 - Presentasi


__ADS_3

Nasha kini gelisah. Kakinya tidak berhenti berjalan kesana-kemari. Alvin yang sedari tadi memperhatikan gerak-gerik Nasha hanya menggeleng tidak percaya. Ia kesal melihat Nasha yang sedari tadi tidak bisa diam menunggu, namun apa daya. Alvin tidak bisa membuat Nasha tenang. Bukan tidak mau, Alvin sudah mencoba, namun Nasha tetap Nasha.


"Vin! Lo bantu mikir juga, dong!" ucap Nasha kesal saat melihat Alvin malah sibuk bermain game.


"Bantu apaan?" tanyanya tanpa melepaskan pandangannya dari layar handphone-nya 


Nasha yang gelisah semakin kesal karena Alvin malah bersikap tidak peduli. Ia kemudian mengambil paksa handphone Alvin dan mematikan game-nya membuat Alvin menatap handphone-nya frustasi.


"Lo apa-apaan, sih, Sha?" tanya Alvin, suaranya berubah, tidak sesantai sebelumnya.


Nasha hanya tersenyum. Ia lalu menyimpan handphone Alvin dan duduk di sampingnya. Ia kembali meletakkan laptopnya diatas kedua kakinya dan kembali memeriksa bahan materi untuk presentasinya hari ini.


Alvin yang kesal karena sudah diganggu bermain game, malah mengacak-ngacak rambut Nasha, membuat Nasha memejamkan matanya menahan amarah. Melihat raut wajah Nasha yang berubah, bukannya berhenti, Alvin justru tertawa keras sambil terus mengacak-ngacak rambut Nasha


"Alvin," panggil Nasha. Suaranya ia buat setenang mungkin.


"Ya, Nasha?" jawab Alvin tenang.


Nasha menoleh, mendapati Alvin yang sedang tersenyum polos ke arahnya, "Lo mau mati disini atau di lapangan?"


Alvin hanya tersenyum, "Gue mati di hati lo aja," jawabnya santai.


Nasha hanya geleng-geleng dan memutar bola matanya, malas menanggapi Alvin yang semakin Nasha kenal, semakin tidak waras. Alvin hanya tertawa kecil, memperhatikan Nasha yang tampak lucu saat kesal. Apalagi kalau sudah sok tenang seperti tadi.


Tok tok tok


Alvin dan Nasha menoleh bersamaan dengan suara ketukan pada pintu. Beberapa detik setelahnya, Alvin dan Nasha saling pandang. Bingung dengan siapa yang datang. Pintu tiba-tiba saja terbuka, menampilkan sosok tegap dengan jas berwarna navy di tubuhnya.


"Kak Galih?"


Yang dipanggil hanya tersenyum singkat, seakan ada rasa tidak suka saat melihat pemandangan di depannya. Ia melangkahkan kakinya mendekati Nasha yang kini bangkit dari duduknya.


"Presentasi kamu sama Alvin lima menit lagi," ucapnya, lalu memberikan sebuah flashdisk berwarna hitam pada Nasha, "Bahan materi presentasi nya pindahkan ke situ, biar nanti pake laptopnya Tasya."


Nasha menerima flashdisk itu dan mengangguk paham. Ia kemudian memindahkan file-file yang dirasa perlu ke dalam flashdisk. Alvin yang merasa punya tanggung jawab yang sama dengan Nasha, mendekat pada Nasha dan mulai membantunya. Hal itu membuat Galih naik darah, sehingga Galih harus bersusah payah menahan lengannya agar tidak memukul Alvin yang kini duduk sangat dekat dengan Nasha.


Selesai memindahkan file, Nasha langsung memberikan kembali flashdisk itu pada Galih, "Ini, kak," ucapnya sambil tersenyum.


Bukannya membalas Nasha dengan tersenyum, Galih malah mendelikkan matanya dan berlalu pergi membuat Nasha terkejut. Galih benar-benar berubah. Ia menjadi orang yang berbeda dalam sekejap.


"Sha," panggil Alvin sambil menarik lengan Nasha untuk duduk.


Yang dipanggil hanya menoleh meminta Alvin untuk melanjutkan perkataannya.

__ADS_1


"Lo emang deket, ya, sama si Galih itu?"


Nasha diam. Ia lalu memperhatikan punggung Galih yang semakin lama semakin menghilang.


Nasha mengangguk, "Tapi, itu dulu. Sekarang engga."


Alvin mengernyit, "Kok, bisa engga?"


Nasha mengangkat kedua bahunya, "Dia tiba-tiba berubah. Lo tadi liat sendiri, kan, gimana juteknya dia sama gue?"


Alvin diam. Ia tiba-tiba teringat kejadian di taman belakang sekolah waktu itu, "Gara-gara gue, ya, Sha?"


Nasha tersenyum dan menggeleng, "Gak, kok. Kalaupun karena lo, emang lo punya salah apa sama dia sampe-sampe dia harus jauhin gue?"


"Ya, engga, sih. Kali aja dia cemburu gara-gara lo deket sama gue."


Nasha tertawa pelan, "Gue, kan, deket sama lo karena lo ketua pelaksananya. Aneh banget kalau dia jauhin gue cuma gara-gara itu."


Alvin tiba-tiba saja mendekatkan dirinya pada Nasha membuat Nasha membulatkan matanya, "Lo ngapain, Vin?"


Alvin tersenyum, "Kalau lo sama gue udah gak jadi apa-apa disini, emangnya lo gak mau deket sama gue?"


Nasha diam. Ia bingung harus menjawab apa. Ia juga tidak tau maksud Alvin tiba-tiba berbicara seperti itu apakah serius atau bercanda. Namun, meskipun Nasha baru mengenal Alvin sebentar, ia tau kalau Alvin suka sekali bercanda. Dan, pasti sekarang pun Alvin sedang bercanda. Pasti.


"Alvin, Nasha," panggil Tasya dari ambang pintu membuat Alvin mau tidak mau menjauhkan tubuhnya, "Kalian dipanggil sama Rival, presentasinya dimulai sekarang."


Nasha bangkit dari duduknya dan menoleh pada Alvin yang sedang tersenyum ke arahnya. Tiba-tiba saja jantung Nasha berdetak cepat. Tolong, senyum Alvin terlalu manis.


"Gue deg-deg an banget, Vin!" ucap Nasha sembari menepis apa yang sedang ia pikirkan sekarang.


Alvin bangkit dari duduknya dan merangkul Nasha, "Tenang aja, lo aman kalau sama gue," ucapnya membuat Nasha berdecih sebal.


°°°


"Oke temen-temen pengurus semua. Gue rasa, kalian semua udah tau alasan gue ngumpulin kalian semua disini," ucap Rival di hadapan seluruh pengurus yang kini sedang senyum-senyum menatapnya.


"Ada yang mau kasih tau alasan kita kumpul disini ngapain?" tanyanya.


Liana mengangkat tangannya membuat Rival menunjuknya. Liana bangkit dari duduknya sambil tersenyum, "Sekarang ada presentasi dari ketua pelaksana dan ketua divisi acara tentang pelaksanaan acara 17-an."


Rival mengangguk mantap. "Ya, bener banget apa yang dikatakan Liana. Hari ini ada presentasi dari ketua pelaksana dan ketua divisi acara. Gue ingetin lagi, ya, bahwa presentasi ini bukan penentuan final konsep acara 17-an. Tapi, presentasi ini hanya untuk bayangan dasar, apa-apa yang perlu direncanakan dan dipersiapkan untuk acara 17-an mendatang. Dengan begitu, gue berharap temen-temen semua disini tidak menyudutkan, baik kepada Alvin selaku ketua pelaksana, maupun Nasha selaku ketua divisi acara. Bisa dimengerti, ya?"


"Siap, bisa!" jawab mereka kompak.

__ADS_1


Nasha yang sedari tadi berdiri di dekat pintu tertegun mendengar apa yang dibicarakan oleh Rival. Ia tiba-tiba saja tersadar bahwa sebenarnya Rival memang pantas menjadi ketua OSIS. Nasha mengetahui bahwa Rival tidak menyukainya, namun tidak disangka Rival masih bersifat adil dan tegas. Ia salut karena Rival tidak mencampurkan urusan pribadi dengan organisasi.


"Oke gak perlu menunggu lama lagi, kita langsung panggil aja, ya? Ini dia ketua pelaksana dan ketua divisi acara pelaksanaan 17 agustus, Alvin dan Nasha."


Nasha menghela nafasnya mencoba untuk tenang dan lebih percaya diri. Alvin yang menganggap bahwa presentasi itu biasa saja, langsung merangkul Nasha untuk maju ke depan ruangan.


Setelah berdiri di hadapan para pengurus yang lainnya, jantung Nasha berdetak sangat cepat. Ia tidak biasa berbicara dan menjelaskan materi di depan banyak orang seperti ini. Alvin yang tau Nasha sedang gugup hanya mengusap lembut punggung Nasha.


"Lo santai aja kali, Sha. Jangan gugup gitu," bisik Alvin.


Nasha tersenyum kikuk, "Keliatan banget, ya?" bisik Nasha sambil menoleh pada Alvin dan mendapat anggukan kecil.


"Selamat siang temen-temen semua," buka Alvin sambil tersenyum.


"Siang," jawab mereka kompak.


"Perkenalkan nama gue Devian Alvin Ervano. Akrab disapa Alvin."


"Gue Arumi Nasha Andara. Akrab disapa Nasha."


"Sebelum kami memulai, gue dan Nasha memohon maaf apabila banyak kekurangan dalam presentasi. Dan seperti yang tadi diucapkan oleh Riv- maksud gue kak Rival, presentasi ini hanya bayangan dasar. Jadi, kalau ada pendapat, kritik, atau saran yang membangun, silahkan, kami terbuka."


Alvin melirik pada Nasha dan menyentuh lengan Nasha, meminta Nasha untuk melanjutkan pembukaannya. Hal itu sukses membuat Nasha gelagapan karena bingung apa yang harus ia bicarakan.


"Umm... sekarang kita mulai aja, ya,  presentasinya?" tanya Nasha dan mendapat respon anggukan dari Rival.


Layar proyektor kini menampilkan power point yang sudah dibuat oleh Nasha. Tampilan itu sukses membuat semua penonton memperhatikan dengan seksama. Nasha yang semula sangat gugup pun menjadi tenang saat mendapatkan respon yang baik dari penonton, ditambah Alvin yang selalu berada di sampingnya. Setiap kali Nasha gugup karena lupa harus berbicara apa, Alvin menambahkannya dengan baik tanpa membuat Nasha terlihat tidak tau apa-apa.


"Oke, tidak ada yang ditanyakan, kan?" canda Alvin membuat Rival dan pengurus yang lain tertawa pelan.


Liana mengangkat tangannya membuat Fiona dan Calista menatapnya.


"Dia berniat nanya atau berniat caper?" bisik Fiona pada Calista.


Calista menggidikan bahunya, "Gak ada yang tau niat asli dia itu kayak gimana."


"Perkenalkan nama saya Liana Nayra Natalie, akrab disapa Liana. Saya mau bertanya, apakah ada jaminan bahwa rencana perlombaan-perlombaan yang tadi dijelaskan itu tidak akan ada kecelakaan? Terima kasih."


Fiona memutar bola matanya malas, "Dia mikir apa, sih? Emang ada, ya, jaminan gak terjadi kecelakaan? Asuransi kesehatan aja gak bisa jamin kita gak kecelakaan!" bisik Fiona pada Calista.


"Gue gak tau sistem asuransi kesehatan gimana, Fi. Jadi gue no comment," balas Calista.


Alvin mengangguk paham pada pertanyaan yang dilontarkan Liana. Nasha menoleh pada Alvin karena bingung harus menjawab apa. Alvin mengangguk menenangkan Nasha. Ia hanya akan menjawab apa yang terbesit di pikirannya.

__ADS_1


"Yang bisa jamin tidak akan ada kecelakaan, hanya kekompakan kita dan komunikasi yang baik saat pelaksanaan."


To be Continued


__ADS_2