
Waktu istirahat rapat telah selesai. Liana telah menyelesaikan keinginannya untuk membuat susunan kepanitiaan, dan semua orang telah duduk di tempatnya semula untuk mendengar hasil pemikiran Liana.
Alvin kini duduk di kursinya dengan kacamata yang bertengger di hidungnya. Matanya fokus bergerak ke kanan dan kiri, membaca hasil pemikiran Liana. Dalam hati, Alvin takjub pada Liana yang bisa menyusun kepanitiaan dengan cepat. Hanya sepuluh menit, namun bisa tersusun dengan baik.
"Oke," ucap Alvin memulai. Ia kemudian meletakkan kertas berisi rencana susunan kepanitiaan di atas meja dan menatap Liana lalu tersenyum manis, "Sebelumnya makasih buat Liana yang udah mau menyusun kepanitiaan, dan mohon maaf jikalau nantinya ada beberapa susunan yang tidak terpakai. Karena kita juga perlu menyesuaikan dengan karakter dan kemauan orang tersebut." Liana mengangguk paham.
Alvin beralih pada teman-temannya yang ada di hadapannya, "Dan karena angkatan kita sedikit, akan ada beberapa orang yang nantinya akan menjabat dua posisi sekaligus. Tapi tenang, kalau ada yang terlalu berat, kita harus saling bantu. Kalau perlu, nanti gue bicara sama angkatannya Rival."
"Gue akan sebutkan dulu semuanya, jika sudah selesai dan ada yang keberatan, silahkan acungkan tangan dan beri alasan mengapa keberatan."
Alvin kembali mengambil kertas yang tadi sempat ia simpan. Ia membenarkan kacamatanya dan berdeham sebelum memulai,
"Devian Alvin Ervano sebagai ketua pelaksana, Arumi Nasha Andhara sebagai ketua divisi acara. Gue dan Nasha akan merangkap sebagai komisi disiplin atau komdis. Liana Nayra Natalie sebagai sekretaris sekaligus koordinator permainan memecahkan balon, Agatha Fiona Lansonia sebagai bendahara sekaligus koordinator permainan makan kerupuk, Aulia Calista Jasmine sebagai koordinator permainan tarik tambang, Angelina Daisy sebagai koordinator perlombaan make-up dan modelling. Re-" ucapnya terpotong.
Alvin melirik handphone-nya yang berada tak jauh dari kertas yang sedang ia pegang. Beruntung handphone-nya dalam mode getar, jadi semua orang tidak terkejut karena nada dering yang tiba-tiba.
Alvin melepas kacamatanya dan menyimpannya di atas meja, "Sebentar, gue angkat telepon dulu. Dari Rival."
Semuanya mengangguk mempersilahkan. Liana hanya geleng-geleng kepala sambil tersenyum saat Alvin bangkit dari duduknya.
"Lo kenapa, Li?" tanya Angel—teman Liana.
Liana menoleh. Ia sadar senyum yang terukir di bibirnya terlalu lebar hingga membuat temannya sadar.
Liana menggelengkan kepalanya, "Lucu aja, jelas-jelas kak Rival tuh senior kita, Alvin malah dengan gamblang manggil nama kak Rival hanya dengan nama."
Angel mengangguk paham, "Gue juga ngakak sih dengernya. Apalagi kemarin waktu presentasi, dia hampir keceplosan manggil Rival tanpa 'kak'."
Liana mengangguk setuju. Beberapa menit kemudian Alvin kembali duduk dan segera memakai kacamatanya untuk melanjutkan apa yang tadi sempat tertunda. Nasha yang duduk di samping Alvin bingung, mengapa Alvin tidak memberitau apa yang dikatakan Rival di telepon.
"Tadi kak Rival bilang apa, Vin?" bisik Nasha.
Alvin menoleh dan tersenyum. Ia lalu mendekatkan dirinya pada Nasha. Nasha sudah bersiap mendengarkan. Ia juga bahkan ikut mendekatkan dirinya pada Alvin. Takut, bisikan Alvin tidak akan terdengar.
"Kepo, lo!" balas Alvin sambil terkekeh.
Nasha langsung menjauhkan tubuhnya dari Alvin dan menatap tajam ke arah Alvin yang kini malah tertawa pelan. Ia ingin sekali memukul Alvin sekarang juga, namun ia ingat sekarang sedang rapat. Apa kata orang tentang dirinya nanti?
"Oke, gue lanjut, ya? Tadi sampai Angel, ya?" tanyanya.
"Iya, tadi sampai Angel," balas Liana cepat membuat Nasha, Fiona, dan Calista menoleh.
"Ini cewe udah berulah lagi aja!" bisik Fiona membuat Calista terkekeh.
"Lo julid banget jadi cewe!" balas Calista sambil terkekeh.
"Yang tadi itu untuk koordinator setiap perlombaan. Sekarang kita beralih ke anggota setiap perlombaannya. Reza Pahlevi dibagian memecahkan balon, Graciella Windi di bagian makan kerupuk, Irda Jasmine dibagian tarik tambang, dan terakhir Wilda Olivia dibagian make-up dan modelling."
__ADS_1
"Sekarang, ada yang keberatan?"
Nasha mengacungkan tangannya, "Gue keberatan."
Alvin mengernyit, "Sorry, Sha. Kalau lo gak bisa berubah lagi. Lo gak inget lo ditunjuk langsung sama Rival?"
Nasha menggeleng cepat, "Bukan itu, Vin. Di setiap perlombaan kita cuma dua orang, dan gue sama lo gak masuk. Khususnya lomba tarik tambang itu perlu banyak orang, dan pasti perlombaan itu akan memanas. Gimana kalau lo sama gue masuk juga?"
Alvin menggeleng, "Lo mungkin bisa masuk, tapi engga dengan gue. Kalau gue masuk, nanti yang bagian ngawasin keseluruhan acara siapa?"
Nasha mengangguk paham, "Ya udah, gue masukin aja ke perlombaan tarik tambang, Vin."
Alvin menggeleng membuat Nasha dan semua teman-temannya mengernyit.
"Lo kenapa geleng-geleng, Vin? Nasha gak boleh masuk?" tanya Fiona.
Alvin mengangguk membenarkan, "Tadi gue udah sebutin, kan, gue dan Nasha akan merangkap menjadi komisi disiplin, dan tugas komdis, jika ada kericuhan mereka yang maju menghadapi. Dan, ada yang belum gue sampein sama kalian. Tadi Rival telpon gue dan bilang kalau angkatan dia nanti akan ikut juga jadi panitia. Rival bilang buat gak publish siapa aja orang-orangnya, dan dibagian apa kalau dari angkatan dia. Jadi, Sha, lo tenang aja dan tetep jadi ketua divisi acara, oke?"
"Sampai sini, ada yang mau ditanyakan? Atau ada yang keberatan lagi?"
Mereka saling tatap dan menggeleng bersamaan. Alvin lalu melepas kacamatanya dan menyimpannya di atas meja.
"Kalau gitu, kita akan mulai pembuatan propertinya. Untuk yang beli bahan-bahan biar gue sama Nasha. Kalian istirahat dulu" ucap nya lalu melangkah pergi diikuti Nasha.
Baru saja Nasha melangkahkan kakinya, tangannya sudah di tahan oleh Fiona yang menatapnya penuh arti.
"Cie Nasha...."
"Cie Nasha...." tambah Calista.
Nasha memutar bola matanya malas, "Kalian kenapa, sih?"
"Pantesan sekarang udah gak pernah terlambat lagi," goda Fiona.
"Ternyata alasannya ini, toh!" tambah Calista.
"Kalian ngomongin apa, sih? Gue gak ngerti!"
"Alvin kan jadi ketua, jadi pacarnya gak boleh telat demi menjaga nama baik," terang Fiona sambil terkekeh.
Mendengar hal itu, Liana langsung menoleh dan mendekat pada Nasha, Fiona, dan Calista yang sedang mengobrol. Fiona yang tidak suka pada Liana hanya mendelik tajam saat Liana mendekatinya dan teman-temannya.
"Mau ngapain lo kesini?"
"Tadi lo bilang apa? Alvin pacaran sama Nasha?"
Nasha membulatkan matanya. Ia lalu melambaikan tangannya dan menggeleng cepat, "Engga, kok! Gue gak pacaran sama Alvin, mereka aja yang tukang gosip."
__ADS_1
"Lo ngapain jawab pertanyaan dia, Sha? Mau lo pacaran kek, mau jadi istrinya kek, itu semua gak ada hubungan nya sama lo, Liana."
"NASHA! LO DIMANA, SIH? BUKANNYA NGIKUTIN GUE MALAH NGOBROL!" teriak Alvin dari luar ruangan OSIS.
Nasha mengerjap karena terkejut. Ia lalu buru-buru meninggalkan teman-temannya dan menghampiri Alvin yang kini sedang berkacak pinggang sambil menatapnya tajam. Yang ditatap hanya nyengir sambil menunduk.
"Masa iya tangan lo sama tangan gue harus gue pakein tali biar lo bisa ngikutin gue?"
Nasha tertawa, lalu detik kemudian merubah raut wajahnya menjadi serius, "Gak lucu!"
"Lo kira gue ngebadut apa!"
°°°
Liana kini sedang sibuk membelah beberapa bola plastik menjadi dua bagian. Ia dibantu dengan Reza yang kini sedang sibuk memasang paku di bagian puncak setengah bola itu.
"Nanti waktu hari-h, lo jangan sampai telat ya! Kalau bisa kita lebih subuh," ucap Liana. Tangannya masih fokus membelah bola.
Reza mengernyit, "Emangnya mau ngapain?"
"Niup, sama ngisi air di balonnya. Kalau di hari sebelumnya takut nanti pada pecah, jadi kurang kan bahaya."
Reza mengangguk paham.
"ALVIN! SINI, DEH!" teriak Windi yang kini sedang duduk berdua dengan Angel.
Alvin yang semula sedang mengukur lapangan, beralih mendekat pada Windi.
"Kenapa?"
"Menurut lo, lomba makan kerupuk mending pake kecap atau engga, ya?"
Nasha memperhatikan Alvin yang tampak kelelahan karena tadi mengukur lapangan, lalu sekarang ia harus bulak-balik memenuhi panggilan para pengurus yang lain. Anehnya, pengurus yang lain tidak ada yang mau memanggil Nasha dan meminta saran darinya. Membuatnya semakin tidak percaya diri.
"Nasha!" panggil Alvin. Nasha menoleh dan tersenyum. Ia lalu berlari kecil menghampiri Alvin. Akhirnya, setelah sekian lama menunggu, ada juga yang memanggil namanya.
"Kalau lo butuh saran hal-hal yang gitu, ke Nasha aja. Gue mau ukur lapangan dulu, oke? Pendapat Nasha pendapat gue juga, kok!"
Nasha tersenyum senang saat ia diberi kepercayaan lebih oleh Alvin. Ia tidak menyangka bahwa Alvin bisa sebijak itu. Ia lalu menoleh mendapati Windi yang sedang menatapnya penuh arti.
Nasha berdeham, "Lo minta saran apa tadi?"
"Ini, makan kerupuk mending pake kecap atau engga, ya?"
Nasha diam, ia berpikir sebentar sebelum menjawab, "Kalau rame, sih, rame pake. Soalnya jadi lebih menantang gitu gak, sih? Nanti kecapnya ada yang netes ke muka atau ke mana, dan itu yang bikin lucu, kan?" jawab Nasha mantap.
Windi mengangguk, "Dan gue sepemikiran sama lo."
__ADS_1
Nasha mengangguk senang. Ia kemudian meninggalkan Windi dan kembali ke tempat asalnya, duduk di pojokan. Nasha memperhatikan suasana ruangan OSIS yang begitu riuh karena berbagai kelompok yang sedang berdiskusi. Entah perasaan darimana, Nasha hanya senang hari ini. Perjuangannya mengorbankan rasa malasnya tidak sia-sia. Dan rasanya ia ingin tetap tinggal dikepengurusan ini. Tidak ingin dipecat, atau mengundurkan diri.
"Semangat, lo pasti bisa, Sha!"