VACILANTE : IMPERFECT

VACILANTE : IMPERFECT
16 - My Friend


__ADS_3

"Sha, udah..." bujuk Fiona kala Nasha tak kunjung menghentikan tangisnya.


Waktu sudah sangat sore namun Nasha, Fiona, dan Calista masih berada di sekolah. Nasha enggan pulang karena masih merasa sedih sekaligus marah pada dirinya sendiri. Ia telah menghancurkan interview-nya. Ia yakin, ia tidak akan terpilih menjadi sekretaris umum OSIS selanjutnya.


Calista mengusap punggung Nasha, "Lo jangan nangis terus, Sha. Liat, tuh, mata lo! Udah bengkak gitu."


"Gue kesel, Cal. Gue kesel sama diri gue sendiri. Liana tadi udah percaya dan minta gue buat lebih menonjol. Tapi, gue malah ngancurin semuanya."


"Lo gak salah, Sha. Kak Tasya yang terlalu keras sama lo," sanggah Fiona.


"Baik, untuk Tasya silahkan memberi pertanyaan pada Nasha, dan setelah itu, Nasha diperbolehkan untuk meninggalkan ruangan."


Tasya mengangguk, "Seorang sekretaris itu harus selalu bersama dengan ketuanya. Ia juga harus rela untuk mengorbankan jam belajarnya untuk membuat surat-surat yang diperlukan. Selain itu, seorang sekretaris juga perlu datang lebih awal untuk mengabsensi setiap pengurus yang hadir. Apakah kamu siap? Dilihat dari pengalaman, kamu bukan seseorang yang bisa memenuhi kriteria sebagai sekretaris. Apa hal yang bisa kamu yakinkan kepada saya untuk bisa memilih kamu sebagai penerus saya?"


Nasha diam. Ia tidak bisa menjawab pertanyaan Tasya. Sudah Nasha duga kalau Tasya akan mempertanyakan hal itu. Tetapi, setelah berpikir cukup lama pun, Nasha tak bisa menemukan jawabannya.


"Kenapa diam? Saya, kan, sedang bertanya."


Nasha menoleh menatap Tasya yang sedang menampilkan tatapan intimidasinya. Ia tidak pernah ingat bahwa Tasya memiliki sifat seperti itu. Yang ada diingatannya hanyalah sifat Tasya yang begitu baik dan ramah hingga membuatnya mengaguminya. Tetapi, hari ini ia pastikan untuk tidak lagi mengagumi Tasya.


"Saya memang tidak punya ambisi yang besar seperti teman-teman saya. Bahkan, saya memiliki niat menjadi sekretaris hanya beberapa hari sebelum pemilihan OSIS baru dimulai. Saya tidak bisa meyakinkan kak Tasya untuk memilih saya sebagai sekretaris umum selanjutnya karena saya pun tidak yakin dengan apa yang saya lakukan sekarang," jawab Nasha sambil menunduk.


"Sha," bisik Liana.


Nasha tidak ingin menggubris perkataan temannya. Hari ini adalah penentuan pemilihan OSIS selanjutnya, dan ia akan membicarakan apapun yang ia pikirkan. Terserah jika nanti ia tidak lolos, ia hanya ingin keluar dari ruangan ini tanpa penyesalan.


"*Kak Tasya tau ajaran apa yang dianut oleh Machiaveli dalam teori pembentukan negara?" tanya Nasha.


Tasya memutar bola matanya malas, "Saya yang harusnya bertanya, bukan kamu*!"


Nasha menyunggingkan senyumnya, "Saya tidak terlalu pintar untuk memahami hal tersebut. Saya hanya mengambil sisi positif dari teori tersebut. 'Yang kuat yang berkuasa'. Saya mungkin tidak memiliki kemampuan yang pantas untuk dijadikan sekretaris umum OSIS selanjutnya. Pengalaman saya selama OSIS juga buruk. Jadi, saya hanya akan kuat untuk kesuksesan saya di masa depan."


"Saya tidak tau hal yang saya katakan ini bisa menjadi jawaban dari pertanyaan kak Tasya tadi atau tidak. Saya hanya membicarakan apa yang terlintas di benak saya."


Nasha lalu menoleh pada Rival yang masih setia tersenyum padanya, "Kak Rival, golden ticket tadi masih berlaku, kan? Boleh saya keluar sekarang?"


Tangis Nasha kembali pecah saat ia mengingat dengan lancangnya ia keluar dari ruang OSIS. Tidak ada yang salah dengan pertanyaan Tasya, mengapa ia harus keluar dari ruang OSIS secepat itu? Ia juga sudah berkata bahwa ia akan melanjutkan interview-nya, lalu mengapa ia memilih untuk keluar?


Love is the moment~


Nasha dan Calista mengerjap karena terkejut ada lagu yang tiba-tiba terputar, dengan suara kencang pula. Fiona menampilkan deretan giginya lalu merogoh saku roknya dan mengambil handphone-nya.


"Nyokap gue telepon, bentar ya?" ucapnya meninggalkan Nasha dan Calista yang masih diam seribu bahasa.


"Udah berapa kali gue suruh dia buat ganti nada deringnya, gak digubris juga. Gak ngerti apa kalau lagunya bikin orang lain jantungan!" kesal Calista mengingat ia beberapa terkejut karena nada handphone milik Fiona.

__ADS_1


Nasha tertawa pelan membuat Calista menoleh, "Akhirnya lo berhenti nangis juga, Sha."


Nasha tersenyum tipis, "Makasih, ya, udah nemenin gue sampe sore gini."


Calista menggeleng cepat, "Kan kita temen, Sha. Masa gue tinggalin lo sendirian padahal lo lagi sedih gitu?"


Fiona kembali mendekat pada Nasha yang kini sedang tersenyum menampilkan deretan giginya. Ia juga ikut senang karena akhirnya Nasha menghentikan tangisnya setelah sekian lama.


"Cal, nyokap gue nyuruh gue pulang sekarang. Gimana, dong?"


"Ya, kita pulang sekarang lah, masa nginep? Lagian Nasha juga udah berhenti nangisnya."


"Ya, tapi Nasha gimana pulangnya Calista."


Calista diam saat memikirkan Nasha yang tidak membawa motor sendiri. Tidak mungkin jika Calista harus membonceng kedua temannya itu sekaligus. Bisa-bisa besok motornya masuk bengkel, lalu ibunya pun marah. Membayangkan ibunya marah karena dengan sengaja ia merusak motornya saja sudah membuat ia bergidik ngeri.


"Gak 'pa-pa, kalian duluan aja. Gue naik ojek aja nanti."


°°°


Nasha kini sedang sibuk menggerakkan kakinya mendorong tanah agar ayunan bisa bergerak. Tangannya ia eratkan pada tali ayunan, dan kepalanya ia coba menahannya untuk tetap tegak. Ia masih tidak berniat untuk pulang ke rumah. Ia masih ingin sendiri, meratapi kebodohannya.


Handphone-nya tiba-tiba saja bergetar membuat lamunannya hilang seketika. Tangannya bergerak masuk ke dalam saku jaketnya dan mengambil handphone-nya. Tertulis nama Galih disitu. Ia ragu untuk mengangkat telepon dari Galih atau tidak. Ia takut, Galih akan membahas kebodohannya tadi.


"Halo, Kak?" tanyanya lemah.


"Udah pulang?"


Nasha lagi-lagi menghela nafasnya, "Udah."


"Boleh aku tanya sesuatu?"


"Maaf, Kak. Aku lagi gak enak badan. Nanti aku hubungi lagi, ya?"


Tanpa pikir panjang ia langsung mematikan sambungan teleponnya. Ia sedang tidak ingin ditanya, ia sedang ingin dihibur. Ia juga malu berbicara pada Galih karena tadi Galih secara langsung melihat kebodohannya.


"Daritadi gue teleponin, bukannya diangkat malah ngelamun disini. Seneng banget bikin orang lain khawatir?"


Nasha menoleh ke belakang mendapati Alvin yang sedang memarkirkan motor ninja merahnya. Ia lalu kembali menatap pepohonan dihadapannya. Ia juga malu pada Alvin.


"Seengganya kabarin orang tua lo, Sha. Liat, udah jam berapa sekarang? Jam 7, Sha. Dan lo masih berkeliaran disini? Gimana kalau ada yang nyulik lo, hah?"


Nasha memutar malas bola matanya, "Berisik!"


"Malah ngatain! Dengerin gue, Sha..."

__ADS_1


Belum sempat Alvin melanjutkan kata-katanya, ia sudah mendapatkan tatapan tajam dari Nasha membuat ia mau tidak mau harus menghentikan perkataannya. Ia lalu duduk di ayunan di samping Nasha, memperhatikan raut wajah Nasha yang begitu sedih.


"Lo gak takut apa sendirian disini?"


Nasha menggeleng lemah, "Gue lebih takut sama ular, Vin."


"Depan lo itu pohon-pohon semua. Selain makhluk yang gak dikenal, ada ular juga, Sha."


"Buktinya daritadi gak ada ular, Vin."


Alvin diam. Ia bingung harus berbicara apalagi. Yang ia pikirkan sekarang, hanya mengajak bicara Nasha sampai Nasha melupakan kejadian pagi tadi.


"Eh, gue baru inget tadi ada ular," ucap Nasha membuat Alvin menoleh kesana-kemari.


"Mana, Sha? Lo gak digigit 'kan? Mana ularnya biar gue bawa."


Nasha tertawa pelan, "Ini, disamping gue."


Alvin memandang Nasha datar. Ia sudah serius dengan baik hati menjemput Nasha malam-malam, tetapi ini yang ia dapatkan?


"Sha, gue gak jadi jemput lo, ya! Anggap aja gue gak pernah dateng kesini, oke?"


Alvin hendak beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan Nasha sendirian karena kesal. Namun, Nasha langsung menahan lengan Alvin membuat Alvin menatapnya tidak mengerti.


"Gue tadi keliatan bodoh banget ya, Vin?"


Alvin kembali duduk di dekat Nasha. Ia lalu menggeleng sambil tersenyum, "Menurut gue, lo keren banget. Gue aja gak tau ada teori pembentukan negara kaya gitu," jawab Alvin sambil terkekeh.


"Serius, Vin."


"Gue emang keliatan becanda, Sha, tapi apa yang gue omongin ini bener. Lo keren, lo keren banget. Rival aja kalah keren dari lo, Sha."


Nasha berdecih, "Keren apanya."


Mereka kini saling diam. Nasha yang sedang sibuk dengan pikirannya yang menerawang kemana-mana, dan Alvin yang sedang sibuk mencari cara menghibur Nasha.


"Gue udah pasrah, Vin. Gue yakin gue gak akan kepilih," ucap Nasha sambil menoleh pada Alvin, "Maaf, gue gak bisa penuhin keinginan lo."


Alvin menggeleng, "Gue gak masalah, Sha. Asal lo bahagia dengan keputusan hidup lo, gue gak 'pa-pa."


"Vin," panggil Nasha.


Alvin menoleh menatap Nasha yang menatapnya dengan sendu, "Kalau gue gak kepilih, lo masih mau temenan sama gue, kan?"


To be Continued

__ADS_1


__ADS_2