VACILANTE : IMPERFECT

VACILANTE : IMPERFECT
27 - Rapat


__ADS_3

Suasana ruang OSIS sangat berbeda dari sebelumnya. Biasanya kursi-kursi akan berjajar rapi seperti ruang les. Tetapi kini, kursi-kursi itu kini telah melingkar. Namun, tidak semua. Hanya dua belas kursi yang dipakai karena sekarang waktunya rapat pengurus inti. Suasana itu semakin berbeda saat rasa canggung menyelimuti setiap orang. Para pengurus inti yang baru, saling diam dengan kertas berisi tugas pokok dan fungsi yang berada di tangannya, dan sedang fokus dibaca.


Rangga melepas kacamatanya dan menyimpannya di atas meja. Ia kini memperhatikan teman-temannya yang masih diam padahal sudah selesai membaca. Ia lalu berdeham membuat semua orang menoleh padanya.


"Untuk ke depannya mungkin kita engga akan sering berkumpul bersama karena kalian tau sendiri bahwa OSIS dan MPK memiliki tugas dan fungsi yang berbeda. Dan juga...," ucapnya menggantung. Ia lalu tersenyum dan menampilkan deretan giginya yang tertutup kawat behel, "Ruangan kami bukan disini."


Devan dan teman-temannya tertawa pelan mendengar penuturan Rangga.


"Rapat pertama ini, gue rasa untuk kita, bukan untuk program kita. Sebelum membuat program lebih jauh, akan lebih baik jika masing-masing dari kita memahami tugas pokok dan fungsi jabatannya dengan baik," kata Devan mencoba setenang mungkin.


"Dan kita harus lebih mengakrabkan diri. Kalau kitanya masih canggung, program yang akan kita buat nanti juga akan canggung, kan?" tambah Amanda.


Alvin melepas kacamatanya sembari mengangguk, "Gue setuju. Sekarang lebih baik kita utarakan tugas dan pokok masing-masing agar nantinya tidak ada kesalahpahaman. Apalagi di kepengurusan OSIS, terdapat tiga ketua tetapi hanya ada dua sekretaris."


Devan mengangkat kertas yang sedari tadi ia pegang, "Tugas pokok dan fungsi ketua umum ini lebih menyeluruh. Ketua umum sebagai ketua di bidang eksternal dan internal. Dan menurut gue gak ada masalah. Lo, Amanda?"


"Ketua satu lebih mengurus bagian kegiatan dan operasional. Dari yang gue tangkep, kayaknya gue lebih dulu buat susunan program yang akan kita buat selama satu tahun masa jabatan. Kalau lo dan semua inti udah setuju bisa kita realisasikan pada pengurus seksi bidang dan menyelenggarakan program tersebut," terang Amanda.


Alvin kembali memakai kacamatanya. Ia lalu membaca bagian yang tadi sudah ia garis bawahi, "Ketua dua mengurus bagian eksternal dan internal. Seperti ekstrakurikuler dan kegiatan di luar sekolah."


Devan mengangguk paham. Lantas, tatapannya beralih pada Reyhan yang masih bertopang dagu sembari membaca kertas yang dipegangnya, "Kalau lo, Rey?"


Tatapan Reyhan beralih pada Devan yang sedang menunggu jawaban darinya. Ia lalu menggaruk tengkuknya karena kurang mengerti dengan tugasnya, "Kesimpulan yang gue dapet, gue ini ketua dari para koordinator seksi pembinaan," jawabnya ragu, "Seperti mengurus permasalahan di setiap seksi pembinaan, dan rencana-rencana program yang akan dibuat di setiap seksi pembinaan."


Devan manggut-manggut menanggapi perkataan teman sekelasnya itu, "Jadi nanti lo akan kerjasama dengan Amanda. Program yang dibuat setiap seksi pembinaan dikumpulkan di lo, dan lo serahkan ke Amanda. Amanda pun ikut andil dalam pemilihan waktu, konsep, dan segala yang berhubungan dengan acara tersebut. Baru rancangan program itu diserahkan ke gue."


Amanda, dan Reyhan mengangguk bersamaan tanda mereka paham dengan apa yang dibicarakan Devan. Devan menaikkan tangannya, menggaruk pelipisnya. Sekarang permasalahannya ada pada sekretaris.


"Liana, silahkan tugas pokok sekretaris umum apa saja."


Liana mengangguk, "Sekretaris umum lebih sering bersama ketua umum. Menjadi pendamping rapat, ikut andil dalam pengambilan keputusan, dan semuanya yang berhubungan dengan ketua umum," terang Liana.


"Kalau lo, Nasha?"


"Dari yang gue baca, wakil sekretaris lebih mengurus urusan internal organisasi, namun juga bisa fleksibel dimanapun. Mungkin, seperti mengurus absensi?"


Devan menghela nafasnya, "Liana udah pasti lebih mendampingi gue. Kalau Nasha...."


Sherina—wakil ketua MPK yang baru—mengangkat tangannya membuat Devan menoleh. Devan lalu mengangguk, mempersilahkan Sherina untuk berbicara.


"Gue kasih saran boleh, ya? Menurut gue, Amanda tadi udah punya temen kerjasama bareng Reyhan. Sedangkan Alvin, dia harus mengurus urusan eksternal sekaligus internal. Jadi gue rasa Alvin lebih membutuhkan Nasha ketimbang Amanda."

__ADS_1


Alvin menyunggingkan senyumnya. Ia lalu menatap Nasha yang duduk bersebrangan dengannya, "Gue sama lo lagi," ucapnya tanpa suara.


Nasha memutar bola matanya malas. Ia lalu beralih pada Devan yang sedang berpikir keras tentang pembagian tugas sekretaris.


"Oke, Nasha akan lebih mendampingi Alvin. Namun, Nasha juga perlu mendampingi Amanda," ucap Devan. Tatapannya beralih pada Nasha, "Lo gak terlalu berat, kan? Takutnya kalau Liana ikut mendampingi Amanda atau Alvin, tugasnya semakin berat. Gue gak tau, gue akan se-agresif apa nanti."


Nasha menggeleng cepat, "Gak 'pa-pa. Gak terlalu berat, kok."


Devan mengangguk mantap, tatapannya kini beralih menatap Fiona dan Angel secara bergantian, "Dari bendahara kayaknya gak ada masalah, kan?"


Fiona menatap Angel yang duduk tepat di hadapannya, "Menurut gue, gak ada. Di tugas pokoknya, gue pegang uang yang berhubungan dengan program. Seperti uang dari sekolah, sponsor, dan yang lainnya."


"Kalau gue pegang uang internal. Uang kas atau tabungan pengurus. Tapi, gue juga masih bantu Fio, kok."


Devan tersenyum sembari menampilkan deretan giginya. Ia lalu menyandarkan tubuhnya pada kursi sembari menatap Arya yang duduk berhadapan dengannya. Seolah diberi tanda, Rangga tiba-tiba menepuk tangan dan tersenyum sangat senang. Ia lalu menatap Amanda, dan sekarang mereka saling menatap penuh arti.


"Amanda, ikut gue dulu, yuk? Devan, gue pinjem Amanda dulu, ya?"


Sherina menahan lengan Rangga saat Rangga bangkit dari duduknya. Ia menatap Rangga penuh tanda tanya, "Lo udah punya wakil sendiri, kalau butuh sekretaris juga lo punya, kenapa minjem ke OSIS?"


"Gak pa-pa, Rin. Mungkin mereka lagi kesemsem," balas Devan.


"Ya, tapi kan rapatnya belum selesai."


"Iya, gak ada," jawab Liana sembari menyunggingkan senyumnya.


"Kalian semua tunggu disini, gue pergi sebentar sama Amanda."


Amanda dan Rangga beranjak keluar dari ruang OSIS, meninggalkan sebagian teman-temannya yang penuh tanda tanya. Alvin tiba-tiba saja bangkit membuat Nasha tidak berhenti memperhatikan gerak-gerik Alvin. Nasha kira, Alvin akan mengikuti kemana Rangga pergi. Namun ternyata, Nasha salah. Alvin tiba-tiba saja duduk di kursi Amanda yang tepat berada di samping Nasha, membuat Nasha menatap Alvin kebingungan.


"Mau ngapain lo kesini?"


Alvin menyunggingkan senyumnya. Ia memposisikan dirinya agar duduk lebih nyaman. Kemudian ia kembali memakai kacamatanya, dan menyisir ke belakang rambutnya yang sedikit gondrong, "Lo lupa? Tugas lo sekarang dampingi gue. Dan gue mau kasih tau, gue gak suka diskusi sambil teriak-teriak, jadi mulai sekarang lo duduk di samping gue."


Nasha mengernyit, "Ya, kalau masalah duduk, gue gak masalah. Tapi kan sekarang rapatnya udah beres."


"Kalau rapat keseluruhan iya. Tapi sekarang gue perlu rapat sama lo, sekretaris gue."


"Yang perlu lo garis bawahi, gue sekretaris OSIS, bukan sekretaris lo," balas Nasha penuh penekanan, "Lagian mau rapat apa, sih?"


"Rapat tentang hubungan kita."

__ADS_1


Ucapan Alvin sukses membuat semua orang menatap dirinya dan Nasha. Liana yang sedang minum 'pun sampai tersedak. Dan, Fiona yang duduk di samping Nasha hanya memandang tidak percaya.


"Gue gak denger, Vin. Gue pake headset!"


Alvin terkekeh. Ia lalu menatap Nasha yang kini sedang memalingkan wajahnya. Dapat Alvin lihat wajah Nasha yang memerah menahan malu. Tangannya tiba-tiba saja terangkat. Dengan perlahan, ia menyisipkan sanak rambut Nasha ke belakang telinganya, membuat Nasha membulatkan matanya terkejut.


"Kalau lo mau pacaran jangan di sini, Vin," ucap Reyhan sembari menggeleng tidak percaya dengan apa yang dilakukan Alvin sekarang.


Alvin tertawa pelan, "Emang kenapa?"


"Lo gak liat banyak yang iri sama lo?"


Wajah Nasha semakin memerah karena menahan malu sekaligus marah. Rasanya ingin sekali ia memukul Alvin dan menjambak rambutnya. Namun, ia tidak boleh merusak suasana. Ia harus menahan emosinya sampai waktunya pulang nanti.


"Gue cuma mau mastiin Nasha beneran pake headset atau engga."


"Sialan lo, Alvin!" gumam Nasha.


Happy birthday to you~


Happy birthday to you~


Happy birthday, happy birthday~


Happy birthday to you~


Nasha dan teman-temannya menoleh ke arah pintu, mendapati Amanda yang sedang bernyanyi dan Rangga yang sedang membawa kue dengan lilin menyala di atasnya.


"Siapa yang ulang tahun?" tanya Nasha pada Alvin yang sedang bertepuk tangan.


"Sherina. Rangga buat hal ini khusus buat Sherina. Kemarin dia tiba-tiba minta gue dan beberapa lainnya buat kerjasama."


Nasha mengangguk paham. Sherina yang terkejut ulang tahunnya diingat oleh teman barunya itu hanya menutup mulutnya yang setengah terbuka. Matanya mulai berkaca-kaca karena tidak menyangka dengan apa yang dilakukan Rangga.


"Maaf, ya, Sherin. Lain kali gue akan lebih terbuka sama lo. Tapi kalau hal ini gue terbuka sama lo, bukan suprise, kan, namanya?"


Sherina menggeleng pelan, "Gue gak nyangka kalian tau ulang tahun gue."


Amanda tersenyum sembari mengusap bahu Sherina lembut, "Rangga dari kemarin sibuk banget nyiapin ini. Semoga lo suka, ya?"


"Ayo bikin wish dulu sebelum tiup lilin," titah Rangga.

__ADS_1


Sherina memejamkan matanya, "Gue harap, kalian semua akan tetap jadi temen gue, bahkan saat setelah kita melepas jabatan ini."


To be Continued


__ADS_2