Waiting For Spring (Haru Wo Matteimasu)

Waiting For Spring (Haru Wo Matteimasu)
Episode 13 : Jika hatiku adalah rumah mu


__ADS_3

Matsuyama menatap sendu jalanan sepi yang ia tapaki, meninggalkan gadis itu dengan luka dihatinya bukanlah hal yang mudah. Berulangkali ia coba untuk membenci dan menjauhinya, namun seperti magnet Matsuyama seakan tertarik lagi dan lagi pada Yasmine, padahal akan lebih baik apabila mereka terpisah seperti ini.


Matsuyama menghela nafas panjang, lalu duduk sendirian di bawah pohon sakura tempatnya biasa.


"menjadi simfoni? membantuku? kau tak tau monster apa yang ada pada diriku" Batin Matsuyama sambil menatap cakrawala.


"l-lagian untuk apa aku memikirkan ataupun mengkhawatirkannya? p-pasti ada yang salah dengan ku" Maki nya pada diri sendiri.


"melindungi seseorang dengan cara menyakitinya , bukankah itu adalah cara yang konyol?" Ujar seseorang dari balik pohon.


"aku tahu apa yang aku lakukan, jangan sok tahu kau!" Ujar Matsuyama dingin.


Orang itupun akhirnya keluar dari persembunyiannya lalu duduk disamping Matsuyama.


"dan berhenti menguntitku!" Ujar Matsuyama lagi.


"Kau mulai menjijikan, jangan bilang kau suka sesama jenis?" ejek Matsuyama.


"aku tidak menguntit. Aku hanya khawatir dengan sahabat terbaikku" Ujar pemuda itu yang ternyata adalah Souzy, Matsuyama memutar bola matanya muak.


"kau pikir Yasmine akan selalu mengejarmu? tapi kau tau... suatu saat nanti dia pasti akan menyerah padamu, apalagi lelaki tak hanya kau saja" Ujar Souzy lagi.


"malah bagus bila dia pergi dariku" celetuk Matsuyama dingin sambil beranjak berdiri.


"kau yakin akan baik baik saja tanpanya? setidaknya dengarlah suara hatimu!" Ujar Souzy ikut berdiri.


"kau bisa melindunginya dengan kekuatanmu sendiri, bukan dengan kekuatan dari ramalan apa itu, kau bisa menjaganya dengan slalu disisinya dan menjadi dirimu sendiri" Ujar Souzy sambil menepuk pundak Matsuyama. Matsuyama termenung mendengar penuturan Souzy, yang dia katakan ada benarnya.


"berkata saja memang mudah" Ujar Matsuyama tak yakin.


"aku percaya kau bisa! kau kan samurai legendaris yang tak terkalahkan" Ujar Souzy yakin sambil kembali menepuk pundak Matsuyama, Matsuyama sedikit tersenyum.


"terkadang otakmu bisa encer juga ya" Ejek Matsuyama, Souzy tersenyum masam menanggapinya.


"Lagian dia bukan urusanku tak ada yang bilang aku pernah memperdulikan gadis pikun itu" Kata Matsuyama dingin.


"Sekarang saja kau berkata begitu, tapi nyatanya kau selalu melindunginya hihi" Souzy terkekeh.


"Urrusai! (berisik)".


Matsuyama akhirnya melangkah pergi hendak bertemu dengan Yasmine, sekadar meminta maaf.


Namun langkahnya terhenti karena didapatinya orang yang ia cari tengah bersama orang lain. Iapun memutuskan untuk bersembunyi dibalik pohon sakura dan mencuri dengar.


"kau akan aman bersamaku, kau tak akan pernah terluka lagi, kau akan bahagia..." ujar Jae hyun lagi.


"jadi apa jawabanmu?" Tanya Jae hyun akhirnya.


"Jae hyun-san sangat baik, perhatian dan juga lembut, j-jae hyun san juga begitu populer dan juga cerdas...aku" Yasmine mencoba merangkai kata dengan susah payah, mengutarakan apa yang ia rasakan bersama Jae Hyun selama ini.


"aku...." Yasmine tak bisa berkata lagi, ia masih belum yakin dengan keputusannya.


"tak apa jangan terburu buru menjawab. Bagaimana bila besok kita pergi kencan?" Ujar Jae hyun sambil tersenyum manis, ia paham bahwa Yasmine mungkin masih bimbang.


"ke... kencan?" Tanya Yasmine agar tidak percaya pemuda itu mengajaknya kencan, ini kali pertama dalam hidupnya.


"Iya. baiklah besok aku tunggu disini ya jam 8 pagi!" Ujar Jae hyun sambil mengusap kepala Yasmine, seakan tak membiarkan gadis itu menolaknya.


"tap..tapi...." Tak rampung kalimat Yasmine pemuda itu telah lebih dulu melangkah menjauh.


"Yosh... sampai ketemu besok! " Jae hyun akhirnya melangkah pergi.


Yasmine menatap punggung pemuda itu hingga akhirnya menghilang diujung jalan.


Tiba tiba seseorang datang entah dari mana, berdiri tepat didepannya. Pemuda itu menguncinya dengan satu tangan ia tempelkan di pohon belakangnya, orang jepang menyebutnya 'kabedon'.


"M... Matsuyama? s... sedang apa kau disini?" Yasmine amat terkejut sekaligus tersipu karena jarak mereka yang sangat dekat, jantungnya berdebar amat kencang.


"apa kau menyukai Jae hyun?" Tanya Matsuyama langsung ke intinya. Yasmine hanya diam, baru kali ini ia menatap manik safir biru pemuda itu sedekat ini, manik manik itu nampak entah mengapa...tak rela.


" diam artinya kau tak menyukainya kan? kau tak akan bisa berpaling dariku" Ujarnya lagi percaya diri, atau mungkin itu adalah ungkapan untuk dirinya sendiri agar percaya diri?.


"sejak kapan pemuda itu peduli soal siapa yang berurusan denganku? padahal biasanya dia bersikap kejam" begitu pikir Yasmine.


"U-untuk sekarang aku memang belum menyukai Jae hyun, tapi aku ingin menyukainya! dan aku pasti bisa melupakan orang dingin sepertimu!" Ujar Yasmine sambil melangkah pergi.


Matsuyama menatap sendu punggung Yasmine, itu memang salahnya wajar kalau Yasmine bersikap seperti itu setelah semua yang ia ucapkan.


Baru pertama kali ini ia merasa 'tertolak', dan baru kali ini pemuda itu merasa segusar ini hanya karena seorang gadis, apa yang terjadi padanya? mungkin ia sedang gila.


"Matakku! (ya ampun)" Keluh Matsuyama sembari mengacak kesal rambut hitam nya.


***


Esoknya setelah mentari keluar dari peraduannya, Yasmine segera bersiap.


tak seperti orang yang sedang berkencan biasanya, ia tak merasa senang sebaliknya, ia merasa gugup dan tak berniat, bagian dari dirinya yang lain seakan berontak.


" Jae hyun pemuda yang sangat baik, aku tidak bisa melukainya dengan tidak datang. Hanya aku gadis bodoh yang tak mengindahkan perasaan pemuda sesempurna Jae hyun" Gumam Yasmine sambil menyisir rambutnya.


Setelah selesai berdandan Yasmine akhirnya melangkah keluar dari kamarnya.


Di kejauhan nampak seorang pemuda bermata biru mengamatinya.


"Ohaiyo gozaimasu (selamat pagi)" sapa Jae hyun sambil tersenyum manis saat akhirnya Yasmine tiba.


"ohaiyo gozaimasu. apa aku terlambat?" Tanya Yasmine agak merasa bersalah.


"ahh... tidak akunya saja yang terlalu cepat" ujar Jae hyun sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"hari ini kau cantik sekali" puji Jae hyun, Yasmine tersenyum.


"arigato" pipi Yasmine memerah persik.


"Ikko!! (ayo)" Ujar Jae hyun sambil menarik lengan Yasmine.


"kita mau kemana?" Tanya Yasmine.


"kemanapun asal kau bahagia" Ujar Jae hyun.


Mereka berdua pergi kencan bersama, menikmati hari dengan canda tawa. Entah pergi ke Festival, taman ataupun kedai mereka lakukan bersama.

__ADS_1


"kau mau ringgo ame itu? (permen apel )?" Tawar Jae hyun pada Yasmine, Yasmine mengangguk.


"ini coba rasakan" Ujar Jae hyun sambil menyodorkan permen apel.


"hmmm... manis. aku suka" ujar Yasmine girang. "baru kali ini aku mencicipi makanan manis yang unik seperti ini! di Indonesia mungkin tak ada yang seperti ini!".


"syukurlah kalau kau suka, kalau aku lebih suka yang sedang memakannya" Jae hyun tersenyum menatap Yasmine.


"e-ehhh????" Yasmine sontak gelagapan menanggapi perkataan semanis gula yang keluar dari bibir pemuda bersurai emas itu.


"a-apa apaan maksud pemuda itu tadi?" Batin Yasmine malu malu.


Senja mulai menunjukkan semburat keemasan, tanda hari mulai petang. Jae hyun akhirnya menyudahi acara kencan mereka dengan mengantar Yasmine pulang ke padepokan, karena Ia sendiri harus kembali ke pusat intelijen desa.


"acara kencan hari ini sungguh menyenangkan, terima kasih ya" Ujar Yasmine sambil tersenyum manis.


"justru aku yang berterimakasih" Ujar Jae hyun sambil mengusap kepala Yasmine. Yasmine malah merasa kikuk.


"besok malam maukah kau datang ke pesta dansa bersamaku?"Ujar Jae hyun


"pesta dansa?" Tanya Yasmine memastikan, Jae hyun mengangguk.


"baiklah aku tunggu di resto Aino, itukan tempatnya?" Ujar Yasmine, Jae hyun mengangguk lagi.


Setelah mengucapkan selamat sore, Jae hyun akhirnya melangkah pergi, begitupun dengan Yasmine.


Di bawah lampu remang dan sinar rembulan Yasmine melangkah, namun tiba-tiba ia tersentak.


"jangan datang ke pesta itu" Ujar Matsuyama yang datang entah dari mana.


"kau tak punya hak untuk melarangku!" Ujar Yasmine sambil tetap melangkah pergi melewati pemuda itu begitu saja, kesal?.


"dasar keras kepala!!" gerutu Matsuyama menatap kesal punggung Yasmine yang mulai menjauh.


***


Seorang pemuda bersurai keemasan tengah menggerutu dengan tugas yang tiba-tiba diberikan padanya,


"Kau tak akan kabur lagi kan?" Ujar seorang berkaca mata nampak menatapnya dengan tajam.


"sial" pekik pemuda itu dalam hati.


Seorang pemuda bersurai hitam bak pohon Oak tak sengaja melihatnya lewat, ia pun menyadari sesuatu dan bergegas pergi.


Masa berganti begitu cepat, tiada terasa hari bergati hingga malam berikutnya. Seperti janjinya, Yasmine sudah bersiap untuk menghadiri pesta itu.


karena Jae hyun tak kunjung datang, akhirnya Ia memutuskan untuk masuk duluan ke resto itu.


"hei ! lihatlah! dia kan gadis payah berambut coklat" celetuk seseorang dari sisi lain resto.


"dia satu satunya gadis asing yang memiliki kekuatan aneh, bahkan dia juga berani kencan bersama Jae hyun san" sahut yang lain. Meskipun itu hanya gunjingan, tapi cukup keras untuk dapat Yasmine dengar.


"hei gadis payah! untuk apa kau kesini?! siapa yang mengundangmu huh?!! kau tidak diterima disini!!!" Ujar seorang gadis, Elize.


"aku... aku diundang oleh Jae hyun san" ujar Yasmine membela diri.


"mana dia? kau bohong kan? dasar pembohong!. tak ada orang yang mau berdansa denganmu disini! sana pergi!!" Ujar Elize sengit.


HAP!!


Untungnya seorang pemuda datang dan menangkap vas itu agar tidak mengenai Yasmine.


"aku yang akan berdansa dengannya" ujar pemuda itu.


"Matsuyama... " Yasmine benar benar tak percaya pemuda itu ada disini. Semua orang yang mengejek Yasmine seperti mati kutu, tak berani berulah lagi.


"ayo!" Ujar Matsuyama sambil menarik lengan Yasmine, dan mengajaknya berdansa.


"kenapa kau ada disini? dimana Jae hyun?" Tanya Yasmine disela dansa mereka.


"sudah diam saja!" Ujar Matsuyama dingin.


Jantungku berdegub kencang saat ini...


mengapa kau datang disaat aku menyerah padamu?


mungkin memang benar...


hatimu adalah rumah tempatku kembali pulang


mulai sekarang...


aku takkan pernah menyerah padamu...


Mata mereka beradu cukup lama, ditengah dansa pertama Yasmine. Yasmine merasa begitu bahagia malam itu.


You're the sky that I fell through


Kau adalah langit dimana aku terjatuh


And I remember the view


Dan aku ingat pemandangannya


Whenever I'm holding you


Tiap kali kudekap dirimu


The sun hung from a string


Mentari tergantung dari sebuah tali


Looking down on the world as it warms over everything


Memandang rendah dunia ini saat ia hangatkan segalanya


Chills run down my spine


Dingin menjalari tulang belakangku


As our fingers entwine

__ADS_1


Saat jemari kita saling menggenggam


And your sighs harmonize with mine


Dan nafasmu selaras dengan nafasku


Unmistakably


Tiada ragu


I can still feel your heart beat fast when you dance with me


Masih bisa kurasakan hatimu berdetak kencang saat kau berdansa denganku


We got older and I should've known


Kita bertambah tua dan harusnya aku tahu


(Do you feel alive?)


(Apakah kau merasa gembira?)


That I'd feel colder when I walk alone


Bahwa aku kan merasa dingin saat aku berjalan sendirian


(Oh, but you'll survive)


(Oh, tapi kau kan bertahan)


So I may as well ditch my dismay


Jadi mungkin harus kuabaikan rasa takutku


Bombs away, bombs away


Bom pun lepas, lepas


CHORUS


Circle me and the needle moves gracefully


Lingkari aku dan jarum pun bergerak dengan anggun


Back and forth


Maju mundur


If my heart was a compass you'd be north


Andai hatiku adalah kompas, maka kau kan jadi utara


Risk it all cause I'll catch you when you fall


Korbankan segalanya karena aku kan menangkapmu saat kau jatuh


Wherever you go


Kemana pun kau pergi


If my heart was a house you'd be home


Andai hatiku adalah sebuah rumah, kau pasti kan merasa nyaman


Ost. owl city ~ if my heart was a house


Malam telah melenggang, cakrawala telah memunculkan ratusan kerlip bintang. Yasmine memutuskan untuk menyudahi acara dansa mereka. Ia melangkah keluar dari resto dan berjalan bersama Matsuyama. Senyumannya tak bisa pudar, ia amat bahagia, seakan lupa akan kata kata kasar Matsuyama waktu itu.


"Jae hyun ada urusan mendadak jadi tidak bisa datang" ujar Matsuyama mencairkan suasana.


"oh..."ujar Yasmine singkat, susana entah mengapa menjadi agak sedikit canggung.


"kau tak bertanya darimana aku tahu?" Ujar Matsuyama sambil berkerut dahinya.


"jika aku bertanya, jawabanmu pasti dingin. Aku tak mau mengacaukan malam ini" Ujar Yasmine sambil tersenyum manis.


"terima kasih... sudah mau datang" Ujarnya lagi, Matsuyama mengangguk.


"Matsuyama...." panggil Yasmine sambil menarik lengan Matsuyama, Diapun menoleh.


"hai'?".


"soal perasaanku padamu... aku sudah memutuskan..." Ujar Yasmine mengumpulkan keberanian.


"aku tidak akan menyerah padamu lagi... aku akan bertahan dan berusaha membuatmu menyukaiku" Ujar Yasmine akhirnya, Matsuyama tersenyum menatapnya.


"tak kan ada gadis yang bisa berpaling dari pesonaku" Ujar Matsuyama percaya diri, Yasmine memukul bahunya.


"huhhh....dasar menyebalkan!!" Ujar Yasmine diikuti tawa Matsuyama.


"jadi... bagaimana perasaan mu padaku?" Tanya Yasmine.


"mmm... bagaimana ya... bagaimana jika aku membuatmu menderita dengan menunggu jawabanku?" Jawab Matsuyama sambil hampir tertawa.


"dasar pangeran kegelapan!!" Celetuk Yasmine kesal, sedang Matsuyama malah tertawa.


"hei bukankah itu meteor?" tunjuk Matsuyama pada cakrawala.


"wahhh... kau benar! ayo buat permohonan" ujar Yasmine.


"kau masih percaya dengan hal seperti itu?" Ujar Matsuyama tak habis pikir.


"sssstttt... diamlah " Ujar Yasmine sambil menutup mata.


"apa yang kau harapkan tadi?" Tanya Matsuyama.


"aku harap suatu saat... aku bisa melihat flamboyan bersama Rama lagi di Indonesia" ujarnya dengan senyuman diwajahnya, Matsuyama tertegun kemudian diam diam tersenyum.


"aku juga mengharapkannya" batin Matsuyama sambil menatap cakrawala.


to be continued

__ADS_1



__ADS_2